Selesailah apa yang harus selesai!
Waktu itu entah keberanian dari mana saya mengajukan diri untuk menemani mamahnya teteh berobat di Bandung. Sempat bingung nanti ngobrolin apa ya, bisa gak ya nyaman satu sama lain.
Kemudian hari itu tiba, saya menunggu di lobi dan tidak lama Mamahnya teteh dan Abah datang, baru sampai dari luar Bandung. Lalu dengan otomatis saya mengambil peran seorang anak seperti biasanya seorang anak pada umumnya, mengambilkan tiket antrian, mengisi ini itu, setelah administrasi selesai kami menunggu panggilan yang cukup panjang. Gak mungkin dong cuma diem, kami ngobrol ngaler ngidul, tapi sebenarnya ada satu pertanyaaan yang cukup mengganggu sejak luka itu bapak goreskan, yang pengen banget saya lontarkan dengan penuh tuntutan, mungkin berasal dari sisi jahat saya sebagai manusia.
"Apa kamu gak tahu kalau bapak udah punya keluarga. Apa kamu gak tahu kalau bapak udah punya istri dan anak? Apa kamu gak ngerasa jahat sudah menghancurkan hidup orang lain?"
Tapi sisi baik di dalam pikiran saya mencoba untuk mengendalikan dan berperang dengan ego.
"Untuk apa kamu tanya itu ju? Untuk mencari siapa yang salah? Terus kalau udah tahu kamu bakalan puas? Apa keuntungannya?"
Lalu saya menepis keinginan untuk bertanya perihal itu, toh buat apa juga sih, mamah dan bapak juga kan udah gak ada. Sekarang waktunya untuk memperbaiki jembatan yang putus. Nanti kalau udah waktunya bagian-bagian yang hilang ini bakalan ketemu sama jawabannya kok dan jadi cerita yang utuh.
Bak gayung bersambut, justru obrolan mamahnya teteh semakin menjurus ke masa lalu. Sembari mendengarkan saya terus mengola perasaan jangan sampai ada ekspresi yang kurang berkenan, sampai pada sebuah kalimat
".............Mamah gak tahu neng kalau bapak sudah berkeluarga............"
Pikiran saya langsung menyimpulkan "Waah bapak nih yang salah, bapak nih akarnya."
Kemudian cerita demi cerita disampaikan, kisah demi kisah dibagikan. Pikiran saya mengolah banyak keributan di kepala. Merespon dengan apa yang sepantasnya saya merespon. Lalu tiba panggilan untuk mamahnya teteh, karena tidak boleh ditemani maka mamahnya teteh lah sendiri yang masuk ke ruang pemeriksaan. Allah seperti memberi waktu untuk saya berpikir dengan jernih, mengola hati dengan nurani yang bersih. Saya duduk menunggu dengan pikiran yang berkecamuk.
Ingin sekali mengatakan bahwa ini adalah kesalahan bapak. Bapak yang jahat, bapak yang tersesat. Tapi....... Mama sering bilang:
Ketika bapak salah mengambil langkah. Mungkin ada andil dari kesalahan mama juga. Mungkin mama lupa mengingatkan. Mungkin ada kewajiban mama yang tidak tertunaikan dengan baik, mungkin ada hak bapak yang tidak terpenuhi sebagaimana harusnya.
Aaaaah terbuat dari apa hatimu maaaa?
Sepanjang hari itu cerita dari mamahnya teteh seperti sedang mencari tempat di dalam pikiran, memasangkannya dengan celah-celah yang hilang.
Saya seperti sedang dihidangkan banyak jawaban, lalu dituntut untuk mengambil pensikapan yang paling tepat. Allah tengah menguji.
Lama berpikir, meresapi. Tidak mungkin Allah menghadirkan ini tanpa hikmah yang harus saya maknai. Lalu saya berkata pada diri saya sendiri, berselirih dalam hati
"Pak, aku gak tahu keadaan bapak saat itu gimana. Aku gak tahu apa yang bapak dan mama lalui. Aku gak tahu pertimbangan apa yang bapak pikirkan. Aku juga gak tahu alasan apa yang membuat bapak mengambil keputusan itu. Tapi aku akan belajar untuk memahami kerumitan ini dan aku sekarang akan benar-benar memaafkan bapak, setulusnya, sepenuhnya. Biar, apapun nanti cerita dan fakta yang akan datang di masa depan. Aku tidak berhak menghakimi. Aku wajib mengimani, ini adalah bagian dari takdir-Nya. Kini, aku anggap selesai."
Hari itu selesailah apa yang harus selesai!