Sampai orang yang paling kita sayang seperti kedua orang tua kita juga punya potensi besar untuk mengecewakan dan memberikan rasa sakit, why? Becaus we are a human. Kita manusia, bahkan kita juga punya potensi untuk mengecewakan orang lain. "(
Namun, disaat kita merasa berat, begitu sakit, terpuruk, tak punya apa dan siapa, tak bisa bercerita bukan karena kata-kata habis, tapi karena tempat bercerita itu tidak ada.
Dititik ini, benar-benar hanya ada Allaah, sungguh hanya ada Allaah. Tak ada yang lain. Allaah selalu menerima kepulangan kita walaupun yang kita bawa hanyalah pikulan-pikulan dosa. Allaah yang menerima kita dengan penerimaan yang baik, Allaah yang menyambut kita dengan kalimat, "Wahai HambaKu yang melampaui batas". Walau kita sudah lewat batas Allaah tetap memanggil kita dengan panggilan penghambaan kepadaNya, kita masih dianggap disisiNya. Adapun Manusia? Jangan harap.
Begitulah coretan kehidupan kita, pahit manisnya sesungguhnya agar kita sadar dan betul-betul sadar hanya Allaah yang ada untuk kita. Benar-benar untuk kita. "(
Sampai ending dari semua ini adalah, Allaah adalah satu-satunya dzat, tempat segalanya ; meminta, menghamba, menangis, memohon, bercerita, merengek, sampai kita menyadari ternyata ini adalah buah dari Tauhid yang ada di dada kita.
Bagaimana kita menjadikan Allaah the only one, satu-satunya. Satu-satunya yang paling kita sayang, kita cinta, kita butuh, kita pulang, kita sedih, kita bahagia, kita sakit, kita sehat, kita hidup dan kita mati, semuanya hanya untuk Allaah. Hanyalah Allaah.
Allaahku, aku tak akan pernah menjadikan apapun dan siapapun berada diatasMu dan RasulMu, aku tak akan menyayangi siapapun melebihi rasa sayangku padaMu Duhai Rabbku. Aku cuma punya engkau tempat ku berpulang, air mataku, senyum sumringah ku, semuanya atas ketetapan Mu. Engkaulah yang paling aku sayangi Rabbku, maka aku mohon sayangilah aku, kini, dan selamanya sampai aku bisa bertemu dan melihat wajahMu di Surga.
11 Syawal, kursi kampus hujan di pipi