Angin dingin turut menyeruak masuk ke dalam ketika aku menutup pintu taksi. Hujan tak juga berhenti. Begitu si supir taksi memberitahu. Topik singkat cuaca menemani kami hingga taksi melaju melewati pos penjagaan karcis dan keluar dari Stasiun Tugu.
Lampu ulir tiga. Mataku menangkap visual yang memastikan bahwa jelas kini aku sudah berada di kotamu. Dalam kepalaku mengalun tembang ‘Kla Project’ mengenai setangkup rindu pada kota penuh kenangan ini. Rindu yang mereka nyanyikan kini tengah kurasakan.
Akupun telah pulang ke kotamu.
Kupandangi titik-titik bekas sisa air hujan yang menempel di jendela. Titik-titik itu membiaskan cahaya warna-warni lampu kota yang semarak. Merah, biru dan kuning berpadu dalam keriuhan langit jingga di angkasa.
“Sudah seminggu ini Jogja macetnya bukan main,” keluh supir taksi itu. “Sepertinya, liburan akhir tahun ini yang paling ramai para turis berdatangan. Apalagi hari ini tanggal 31, pasti macetnya semakin menjadi.”
Aku terkekeh mendapati supir taksi itu telah memberi label turis padaku karena datang ke Jogja setelah 8 jam perjalanan dengan kereta api. Dia tidak salah karena aku memang bukanlah orang yang lahir di kota ini. Namun entah mengapa, hatiku selalu kembali berlabuh kemari seperti memang sudah seharusnya. 5 tahun pernah mengadu ilmu di kota ini praktis menjadikanku beranggapan bahwa Jogja sudah sama hangatnya dengan kampung halaman.
Dan sebentar lagi, aku akan pulang pada ‘keluarga’ku yang lain.
Taksi ini telah mencapai tempat yang aku cari. Sebuah rumah pendopo besar yang berada di kawasan ‘Jeron Beteng’ atau bagian dalam benteng Kraton Jogja. Rumah itu masih sama seperti yang ku ingat ketika terakhir kali berkunjung. Halaman luas dengan pohon sawo kecik besar berdiri dengan gagah menaungi.
Meskipun matahari belum benar-benar hilang, namun teras rumah itu sudah dibanjiri cahaya lampu kekuningan. Aku mengagumi rumah tradisional yang kini disulap menjadi restoran impian Cahyono—si empu yang punya rumah. Mimpi untuk mendirikan sebuah restoran dan ruang berkomunitas kini telah mampu ia wujudkan hanya dalam beberapa waktu berselang setelah kelulusan. Aku salut padanya.
Langkahku memelan hanya untuk mengamati detil-detil apik yang Cahyono berikan pada restoran ini. Seperti tatanan kursi dan meja kayu besar dengan warna terang. Tambahan lampu-lampu sentir yang ia gantungkan pada pilar-pilar penyangga atap. Tegel dengan ornamen vintage. Ia benar-benar telah membawa rumah kuno ini melintas waktu menuju jaman baru.
“Radit!” suara berat familiar memanggil namaku. Cahyono nampak berdiri begitu melihat kedatanganku. Senyum melebar di wajahku begitu melihat sahabat lama yang kini nampak jauh lebih gemuk.
Cahyono melambaikan tangan menyuruhku untuk bergabung di meja makan besar yang berada di tengah-tengah pendopo. Selain sahabatku itu, ada wajah-wajah lain yang sama ku rindukan keberadaannya.
“Aku sudah pulang,” batinku dengan keharuan yang luar biasa dalam hati.
“Radit,” ujarku sambil bersalaman dengan dengan cowok ceking yang berasal dari Jogja. Ia balik memperkenalkan diri dengan nama Cahyono. Aku ingat dia cowok yang duduk di sebelahku ketika acara orientasi mahasiswa baru di Auditorium Fakultas. Rupanya ia pun teman seangkatanku di jurusan Arkeologi.
Kami ngobrol untuk saling mengetahui asal-usul masing-masing. Begitu tahu aku berasal dari Jakarta, ia sontak memberitahu bawa di angkatan ini juga ada beberapa teman yang berasal dari Jakarta sehingga ia merasa aku tidak bakal kesepian.
Aku tertawa sopan menanggapinya. Cahyono salah jika mengira aku ingin mencari teman yang berasal dari ibukota. Justru aku sudah dalam pelarian ratusan kilometer hanya untuk menjauhi sesaknya kesombongan ibukota yang merasuki orang-orangnya.
Tidak hanya Cahyono, aku juga berkenalan dengan Arda, Firman, Adit, Andrew, Haga, Adit—lagi-lagi nama yang sama dalam satu kelas, dan entah siapa lagi tadi yang ku salami. Otakku memang payah dalam hal-hal seperti ini. Hanya dalam waktu 30 detik aku bisa langsung lupa dengan nama orang yang tadi berkenalan.
Aku bisa mengingat nama Cahyono dengan baik karena entah mengapa aku punya perasaan kami bakal jadi teman baik selama bertahun-tahun. Kadang kala naluriku dapat diandalkan untuk hal-hal semacam ini.
Tanganku terangkat untuk memantau waktu dari jam tangan. Seharusnya sepuluh menit yang lalu dosen untuk mata kuliah perdana angkatanku sudah masuk dan mengajar di kelas. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan dosen untuk kuliah pagi ini.
Aku menguap lebar tak dapat menyembunyikan kantuk karena kurang tidurku ini. Takut tak dapat bangun pagi-pagi. aku merelakan jam tidur semalam untuk tidak tidur. Satu-satunya hal yang ku rindukan dari rumah hanyalah omelan ibu yang seperti alarm alami untuk membangunku pagi-pagi.
Tiba-tiba pintu kelas dibuka dengan cukup keras membuatku terlonjak di atas kursi. Kami semua menyangka bahwa yang masuk adalah ibu dosen yang akan mengajar. Alih-alih ibu dosen separo baya yang seharusnya mengajari kami mengenai ilmu purbakala, yang muncul malah sesosok bidadari basah kuyup karena keringat. Wajahnya putih diwarnai rona kemerahan yang mampu memenggal rasa kantukku.
“Kelasnya belum mulai ya?” tanyanya terengah-engah. “Tau gitu, nggak usah lari-lari kesini.”
Nafasku tiba-tiba saja terputus karena aku lupa bernafas. Jantung berhenti detak selama sepersekian detik mendapati bidadari cantik yang menerobos masuk begitu saja ke dalam ruang kelas.
Dalam sekejap, ketujuh belas cowok yang ada dalam kelas ini langsung kehabisan nafas. Namun, lagi-lagi intuisi yang menebakkan takdir untukku. Pada akhirnya, aku tahu bahwa dia akan bersamaku—entah kapan waktunya itu. Naluriku selalu dapat kuandalkan.
“RADIT..!!” lagi-lagi namaku diteriakan dengan suara lantang—sedikit melengking. Panggilan itu mengalihkan konsetrasi ku sebentar terhadap pembicaraan seru dengan Haga mengenai kompetisi Liga Inggris. Kepalaku menengok untuk mendapati 3 perempuan—yang jadi jenis kelamin langka, di angkatan kami.
Ketiganya memanggil namaku dengan antusiasme berlebihan khas mereka. Aku memberikan cengiran lebar yang biasanya mereka sebut sebagai salah satu jurus maut meluluhkan hati perempuan manapun.
Wanda, Almira dan Paramita. Ketiga perempuan itu kini nampak terlihat bagai bidadari. Usia memang tidak bakal mengingkarimu untuk kembali ke kodrat sebagai seorang perempuan yang suka berdandan.
Aku mengingat sebentar ketiga perempuan itu ketika mereka pertama kali masuk kuliah. Jeans belel, kaos kedodoran, dan kemeja flanel. Gaya berpakaian mereka hampir serupa dengan kami kaum laki-laki. Bahkan, kadang kala aku masih geli jika mengingat Wanda yang dengan enteng membabat habis rambutnya. Wanda terlihat seperti tentara yang baru masuk kamp pelatihan.
Wanda, Paramita, dan Almira berjalan menghampiriku dengan balutan baju yang menawan. Membuatku tak puas dengan hanya memandang mereka sebentar. Aku yang rakus bila menyangkut keindahan.
Wanda mengambil duduk di kursi sebelah tempatku berada. Ia tak tanggung-tanggung mengusir Haga yang sebelumnya sudah terlebih dahulu ada disana. Tentu saja ini membuatku tersanjung. Aku mengingat Wanda sebagai salah satu perempuan yang susah ditaklukkan. Aku ingat kerap menggodanya karena penolakannya pada kakak kelas yang membuahkan patah hati. Wanda kini memanjang rambut ikalnya yang menambah kesan seksi pada dirinya. Dan dia duduk di sebelahku tanpa malu-malu menunjukkan ketertarikannya padaku.
Sementara itu, Almira mengambil tempat di kursi yang berhadapan denganku. Aku melempar senyumku padanya. Dia balas dengan terkekeh. Suara tawa Almira sungguh memiliki kekuatan magis untuk turut tertawa bersamanya. Kamu tidak bisa hanya sekedar tersenyum melainkan turut tertawa terbahak-bahak dengannya. Almira kini memiliki potongan rambut seperti Carrey Mulligan yang makin menonjolkan struktur tulang pipinya dan sepasang bola mata yang berkilau seperti mutiara hitam. Ia nampak begitu berseri-seri mendengar pujianku itu namun berkata rayuan gombalku sudah kadaluarsa baginya. Aku selalu senang dapat menggodanya seperti ini.
Paramita mengambil kursi tepat di sebelah kiri Almira—bersebelahan dengan Adit yang nampak lupa menutupi ekspresi kekagumannya tatkala melihat kecantikan Paramita. Dia mengulum senyum di bibirnya yang tipis. Lembut dan anggun, Paramita selalu menjadi orang yang paling kalem diantara ketiga teman perempuanku itu. Aku melempar senyum padanya. Ia membalasnya, namun matanya mengelak untuk menatapku. Buah peristiwa masa lampau yang paling susah dihapus adalah rasa cinta. Sekilas, aku dapat menangkap rasa itu ada di dalam bola matanya. Namun ia tahu, rasa itu tak dapat muncul dalam mataku ketika aku melihat dia.
Hanya bidadari keringatan itu yang mampu membuatku begitu.
Semester demi semester berhasil kulewati dengan mulus. Kegiatan perkuliahan, penggalian ke situs-situs purbakala, dan pertemananku yang hangat dengan teman-temanku membuat betah tinggal di Jogja. Aku tidak banyak menemui kesulitan dalam bergaul karena aku tahu kapan harus menempatkan diri dalam segala situasi.
Bersama dengan teman-teman perantauan, seperti Andrew, Haga, Firman dan Adit, kami menyewa sebuah rumah untuk ditinggali bersama. Tiap malam kami lewati dengan bermain games komputer di kamar Firman. Rumah kontrakan kami menjadi markas kedua setelah kampus untuk disambangi.Termasuk ketiga bidadari angkatan kami, Wanda, Almira dan Paramita. Tugas kelompok dikerjakan bersama di rumah kontrakan, rapat angkatan hingga pesta syukuran kami selalu selenggarakan disini.
Aku menemukan rumah hangat yang selama ini kucari dan itu ada disitu bersama dengan mereka semua. Kedua puluh orang dalam satu angkatan ini. Dalam keluarga yang selama ini kudamba tak dapat kusangka dapat terwujud.
Ada Cahyono yang bertindak seperti ayah yang mengurusi anak-anaknya—ketika kami semua terkapar tak berdaya karena hangover. Wanda yang mengomel seperti ibu kami tatkala mengetahui bahwa kami mabuk-mabukan semalam suntuk. Paramita seperti kakak perempuan yang meladeni permintaan kami untuk diberi makan dengan masakannya yang enak luar biasa itu. Andrew yang seperti kakak laki-laki buatku.
Kedua puluh orang yang ku anggap seperti seorang saudara yang baru diberikan oleh Tuhan padaku kini. Keluarga yang memberikan surga bagiku di dunia ini. Semua berjalan dengan damai. Namun sayang keseimbangan itu goyah.
Satu hal yang paling tidak pernah kuharapkan akan terjadi. Satu hal yang dulu pernah membuatku menjadi bagian dari keluarga namun juga hal yang membuatku kehilangan keluarga—ayah dan ibu.
“Orang tuamu bercerai ya?” tanya Paramita. Malam itu entah mengapa ia belum pulang dari rumah kontrakan padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku sudah kepikiran untuk mengusir pulang Paramita dengan halus jika tidak mau rumah kontrakan kami digrebek oleh pemuda kampong. Bukannya menyuruh ia pulang, entah mengapa aku justru malah bercerita mengenai keluargaku.
Bukan karena tiba-tiba aku sedih. Hanya saja, sebagai saudara aku merasa harus berbagi cerita. Hampir semua sudah mengetahui cerita tersebut—entah mengapa aku lupa bercerita pada Paramita. Aku tidak mencoba mengambil simpati darinya. Tanpa maksud, tanpa tujuan. Aku hanya sekedar bercerita.
Namun justru simpati itu hadir dalam hati Paramita. Satu hal yang tak pernah ku rencanakan dan membuatku mengutuki diri sendiri. Seharusnya, aku tahu bahwa hati selembut itu akan serta merta luluh hanya dalam satu kedipan mata.
“Paramita suka sama kamu!” hardiknya padaku keesokan paginya. Seketika, bidadariku bertransformasi menjadi bidadari super jutek. Dengan gamblang, ia menunjukkan rasa tidak sukanya dengan ide bahwa sahabatnya menyukai cowok sepertiku.
Aku hanya mengangkat bahu tak berdaya. Bidadari rewel itu tak tanggung-tanggung untuk mengancamku. Bahwa bila memang tidak menyukai Paramita jangan sampai sikapku ini membuat gadis itu salah paham. Ia memaksaku untuk berjanji jangan membuat hati Paramita yang lugu itu menderita karena mencintai orang sepertiku.
Orang-orang yang dianggap oleh bidadari ku tadi sebagai cowok playboy yang tidak bisa dipercaya. Sayangnya, Ia bahkan tidak tahu bahwa hanya ada satu orang dalam hidupku sekarang.
Dan aku tidak pernah mempermainkan hati orang yang sudah kuanggap sebagai keluarga. Ku putuskan untuk merentang jarak dengan Paramita. Pada kedua bola mata Paramita, dapat ku lihat hati yang patah itu. Meskipun lukanya tak besar—namun itu akan selalu ada disana.
Memasuki umur ke-20, kedamaian surga itu perlahan mulai terkoyak. Cinta seharusnya tidak perlu membuat semua jadi serumit ini.
Tapi harus ku lakukan demi menuruti bidadari rewel yang satu itu. Aku melakukannya hanya karena tak ingin membuatnya berpikir bahwa cinta di mataku ini untuk Paramita.
Tempatku duduk menghadap langsung halaman restoran hingga membuatku dengan mudah melihat siapa saja yang hilir mudik di restoran Cahyono ini. Tiba-tiba, mataku menangkap sosok Firman yang muncul begitu saja dari kegelapan.
Ia nampak setengah berlari masuk ke dalam restoran. Aku mengangkat tangan dan melambai memanggilnya Firman. Ia langsung tersenyum lebar begitu melihatku. Dia tidak berubah banyak. Tinggi menjulang begitu gagah. Pria petualang, begitu para perempuan itu menempelkan label padanya.
“Gila nih Jogja sekarang macetnya sudah seperti di Jakarta. Jam 10 baru bisa sampai disini!” seru Firman begitu mendekati kami. Ia berjanji akan sampai ke restoran Cahyono sekitar pukul 8 malam.
Karena kursi di meja kami semua sudah ditempati, Firman terpaksa harus mengambil kursi kosong yang berada di meja belakang kami. Aku mengernyitkan dahi ketika ia menempatkan kursinya tepat di sebelah Almira.
Perasaan tidak enak itu hanya datang sebentar karena aku kembali menyambung pembicaraan. Segera saja arus obrolan kami mengalir tentang cerita kemacetan yang merupakan hal baru di Jogja. Semua orang menimpali, mengeluh, dan tak sedikit yang mencerca kemacetan di kota berhati nyaman ini.
“Besok kita reunian dengan camping di pantai pasir putih Gunung Kidul saja. Cari ketenangan!” seru Firman lagi.
Aku tertawa bersama yang lainnya mendengar ide Firman. Dia adalah master ide yang selalu menghasilkan gagasan-gagasan liar namun brilian. Tidak ada yang tidak menyukai Firman. Dia kawan setia yang selalu hadir setiap saat kita membutuhkannya.
Semua kawanku menganggap bahwa kami berdua partner in crime. Firman yang memiliki ide dan giliranku yang mengeksekusi. Selalu seperti itu. Tidak ada ide dari Firman yang tidak brilian sehingga aku dengan senang hati mewujudkannya.
Namun, satu-satunya ide dari Firman yang paling tidak ku suka ialah Firman ingin sekali memiliki bidadari basah kuyupku. Yang paling buruk tentu saja, ketika ia memintaku mewujudkan keinginannya itu. Firman tahu bahwa aku dekat dengan bidadari itu. Namun, Firman memang tak pernah dapat menebak bahwa hatiku pun jatuh pada orang yang sama.
Aku menggeser pandanganku untuk menatapi bidadari basah kuyupku yang kini tengah asyik berbincang. Geraknya, kerlingan matanya, anggukan kepalanya, senyumannya—tidak pernah ada satupun dari dirinya yang tidak membuatku terhenyak dan berdebar.
Keadaan kini tampak biasa-biasa saja. Badai yang kurasakan 5 tahun lalu seperti hanya mimpi. Ada kalanya aku menertawakan masa muda yang begitu bergejolak. Bila memandang diriku 5 tahun lalu dengan kacamataku sekarang, aku tidak bisa mengerti diriku sendiri yang di masa lalu. Ketika ada banyak kesempatan namun aku dengan enteng melepaskannya begitu saja.
Aku hanya membutuhkan waktu yang tepat. Itu satu-satunya keyakinanku hingga kini.
“Radit,” aku menengok dan mendapati bidadariku memanggil namaku dengan mudah. Aku tersenyum membalasnya.
Aku tak akan pernah menyesal tidak memburu waktu karena momen ini, hanya untuk melihat senyuman itu di wajahnya bagiku semua kini terasa tepat. Meskipun pernah hatiku remuk sebelumnya.
“Kami pacaran,” katanya padaku. Tak berapa lama hujan kemudan turun, baik mengguyur kota Jogja maupun di dalam hatiku.
Jantungku bergemuruh tak kalah serunya dengan guntur yang ada di balik awan sana. Entah bagaimana, senyumku dapat terkembang lebar. Aku mampu menyelamati mereka dengan tulus. Walaupun jauh dibalik hatiku terdapat lubang besar menganga lebar. Kosong dan berdarah. Tak mampu digantikan oleh apapun.
Lubang itu tetap ada disana. Hingga aku sendiri lupa bahwa aku pernah memiliki lubang di hati.
“Ternyata dia tidak seperti yang ku duga. Seperti katamu, dia orang yang dapat diandalkan,” ia tersenyum padaku. “Terima kasih sudah membukakan mataku untuk melihatnya.”
Dalam hatiku ingin menjerit agar ia sadar, bahwa tak tahukah ia pada kedua bola mataku jelas-jelas terpancar rasa yang sama seperti itu. Mungkin memang benar, cinta itu buta hingga ia hanya ingin melihat apa yang ingin ia lihat.
Pada akhirnya, Firman selalu menjadi konseptor dan akulah yang kemudian mengeksekusinya. Firman hanya ingin berpacaran dengan bidadariku dan dengan sedikit usaha aku mewujudkannya.
Sisa cerita kebersamaan mereka dengan mudah ku lupakan. Itu bagian sejarah dari ‘keluarga’ yang tidak pernah mau kuingat.
Rumah kontrakan yang dahulu merupakan surga kini langsung berubah menjadi neraka. Firman dengannya, selalu berdua, ada di seluruh penjuru rumah. Dalam kepalaku selalu berputar mencari cara agar rasa ini tersembunyi rapat dari mereka. Agar mereka tak pernah tahu bahwa cinta itu ada dalam binar bola mataku.
Dengan hati yang remuk redam aku membuat keputusan besar yang membuatku lulus kuliah paling awal dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Aku hanya ingin keluar dari kota Jogja ini dan pulang. Pergi bersembunyi dari bidadari itu.
Ketika aku kembali dari toilet, tampak semua orang sudah tidak lagi berada di tempat duduknya. Semua sudah berpencar. Masing-masing mengambil tempat dengan orang yang paling diinginkan untuk bersama melalui pergantian tahun. 10 menit lagi menuju tahun yang baru.
Adit dan Paramita sudah berdiri ujung meja—asyik bicara dengan satu sama lain dan tak mengacuhkan Andrew yang ada di dekat mereka. Firman sudah dikeliling oleh hampir kebanyakan orang. Pusat semesta begitulah dia dengan cerita-cerita dan guyonannya yang begitu memukau.
Mataku mencari-cari sosok bidadariku diantara orang-orang yang tengah mengelilingi Firman. Tak tampak bayangannya disana.
Ketika aku baru mau bergerak, tahu-tahu sosok Wanda sudah menghadang. Ia melemparkan senyumnya. Sungguh menggoda sebetulnya.
“Hai, ganteng,” sapa Wanda. Aku tersenyum dan merasa tersanjung dengan pujiannya. Wanda yang sekarang jauh lebih pintar dalam menghadapi kaum laki-laki dibandingkan ketika masih kuliah dulu. Perubahan yang menyenangkan.
“Kemana aja selama ini? Setelah hampir 5 tahun setelah lulus kuliah, mungkin ini baru pertama kalinya kamu balik lagi kesini. Ke Jogja,” Wanda kedengaran seperti merajuk manja padaku. Aku tergelak. Wanda rupanya kini tau benar memanfaatkan asetnya sebagai perempuan.
“Sibuk kerja dan berpetualang kesana-sini. Rupanya menjadi Indiana Jones itu benar-benar menyita hampir seluruh waktuku. Aku bahkan jarang banget bisa pulang ke rumah,” jawabku meminta pemakluman.
Wanda memicingkan matanya—kentara sekali tak percaya pada kata-kataku, “Sibuk berpetualang atau sibuk melarikan diri sih Dit?”
Aku tertawa grogi mendengar serangan Wanda tersebut. Dia memang tidak salah.
Rasanya aku memang melarikan diri. Ini pertama kalinya dalam 5 tahun aku kembali ke Jogja. Seperti anak yang minggat dari rumah, ada ketakutan besar dalam diriku untuk mengetuk kembali pintu rumah ini.
Apa mereka akan menerimaku kembali? Apa keadaan akan tetap sama seperti sebelum kutinggalkan? Pertanyaan itu terus membelitku. Aku tak mampu untuk kembali melihat perasaanku yang telah luluh lantak kutinggal pergi—ketika bidadariku bersama dengan dirinya.
Mataku tak sengaja mengarah pada Firman yang berada di pusat semesta itu. Pemahaman itu langsung muncul di mata Wanda. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Radit yang selalu jadi martir buat Firman dan berkorban perasaan.” Wanda mendecakkan lidahnya. “Ck..ck..ck. Sungguh luar biasa.”
Wanda tak barang setitikpun berusaha menyembunyikan rasa kasihannya padaku. Aku menarik kembali pujianku terhadap Wanda tadi. Gadis ini sama sekali tidak berubah—masih tetap sarkas dan nyinyir pada saat bersamaan. Sial!
Wanda tertawa puas begitu melihat wajah kekiku. Ia tampak puas berhasil mengejekku. Mau tak mau akhirnya aku ikut tertawa bersamanya.
“Sayang banget, aku udah punya pacar. Kalo aku jomblo pasti aku bakalan flirting habis-habisan sama kamu, Radit,” ujar Wanda diakhir tawanya. “Kamu kan selalu jadi idola buat kami bertiga.”
“Kami bertiga?” telingaku menangkap sepatah kata yang menarik.
“Iyalah, semua cewek angkatan pernah naksir kamu,” pandangan mata Wanda bergerak menuju sudut sepi yang berada jauh dari hingar keramaian.
“Apalagi dia,” mataku mengikuti tempat yang dituju oleh Wanda dan jatuh pada pemandangan yang mungkin paling indah dari yang selama ini pernah kulihat.
Entah karena permainan cahaya dari lampu sentir, namun bidadari rewelku terlihat begitu memukau bagai peri cahaya. Dia duduk begitu jauh dari kami semua. Tampak menikmati kesendiriannya tanpa terlihat canggung.
Seperti tersihir, kakiku melangkah mendekatinya. Dalam perjalananku menghampirinya, aku dapat melihat Firman dari sudut mataku. Firman berhenti bicara, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia kini mengubah posisinya—memunggungiku.
Aku anggap itu sebagai jawaban atas kerelaannya.
Aku melangkah untuk duduk di sebelah bidadari keringatanku yang tengah menyesap bir-nya.
“How’s life going?” tanyaku membuka pembicaraan.
Tawa Almira berderai mendengarku bertanya begitu. Aku turut tertawa.
“Itu kan biasanya kata-kata yang diucapkan jika kita reunian. Gimana kabar? Sibuk apa sekarang? Sudah punya pacar belum?” ujarku kalem.
Mata Almira mengerling padaku. Hatiku bergemuruh sama kencangnya seperti dahulu ketika ia memenggal hatiku. Tapi, gemuruh ini tidak akan menyakitkan seperti dulu.
Kepala Almira menggeleng pelan, “Nope, I am single.”
Satu alisku terangkat, “Kok bisa?”
Ia terkekeh. Tahu bahwa aku menanyakan tentang hubungannya dengan Firman. Ia hanya meneguk kembali bir-nya dan meninggalkan ku dalam kegilaan menunggu jawaban.
“Semuanya tinggal sejarah. Kami hanya pacaran sebentar,” jawabannya sungguh bagai sebuah kepingan terakhir dari puzzle teka-teki. “Nggak lama setelah kamu lulus dan kembali ke Jakarta, kami putus.”
“Aku kok nggak tau,” ujarku lirih.
Ia mengedikkan bahu, “Kamu menghilang hampir lima tahun lamanya. Kupikir bahkan kamu sudah ditelan bumi. Selain itu..”
“Selain itu?” aku membeo kata-katanya. Dia yang menegak bir, tetapi aku yang mabuk oleh pesonanya.
“Aku menunggu orang yang tepat dengan waktu yang tepat,” katanya lamat-lamat bagaikan pemantik buatku. Nafasku tertahan melihatnya bertransformasi dari bidadari rewel yang lugu menjadi sosok yang begitu menggoda.
“Dan dia bukan orang yang kutunggu,” kata-katanya selanjutnya membuat hatiku langsung tersetrum.
Cinta mungkin memang buta karena membuatnya melihat hal-hal yang ia inginkan saja. Namun begitu pula diriku. Aku pun turut buta karena tak dapat melihat apa yang seharusnya ku lihat pada kedalaman bola matanya. Bahwa baru saat ini aku dapat melihat dengan jelas rasa itu juga ada. Begitu jelas terpancar dari kedua bola matanya yang menghanyutkan.
Semua orang tiba-tiba bersorak menghitung waktu. Naluriku turut berteriak. Inilah momen yang harusnya sudah tercipta tahunan lalu.
“When the clocks strikes 12, kiss the one you love..” bisiknya padaku.
Aku ikut tertawa bersamanya, ketika ia menarik kerah kemejaku untuk mendekat.
Pernah diikut sertakan dalam lomba cerpen Nulis Kilat dari Plot Point. Katanya sih terus mau diterbitin jadi kumcer eh kabar terakhir yang kedengaran malah penerbitnya gulung tikar.