Malam ini, rasanya kayaknya keracunan sesuatu. Rasanya mual dan tidak menyenangkan--selain karena sakit gigi. Gara-gara kepo scrolling feed instagram, kepo sana sini dan rasanya menyebalkan. Ada yang pernah menyebutkan kalo instagram itu media sosial yang paling beracun dan menyebabkan ganggunan kejiwaan. Kayaknya aku perlu diet media sosial sih.
Hanya karena aku mulai membandingkan diriku sendiri dengan orang lain. Mulai mencari-cari apa yang paling menarik dari kehidupanku buat dipamerin ke khalayak. Belum lagi melihat sukses yang terlihat dalam feed mereka. Kaya, berlimpah harta, bisa jalan-jalan tanpa terlihat capek kerja, apalagi nyetrika. Sementara aku di sini? Kerja bukan di tempat bonafid, cuman jadi pegawai honorer keset, gaji gak seberapa, cantik biasa aja, capek ngurusin anak, payah ngurusin rumah tangga, dan jutaan kekurang yang kurasakan cuman melihat satu foto syahdu instagramble dari temen sma. Shit, man.
Pikiran buruk langsung menjelajah ke isi kepala ini. And i’m search the worthy of myself to feel how lucky i am with all the bless that i’ve got now. Sebuah privilege untuk bekerja mandiri, seorang wanita yang memiliki banyak pilihan, bisa punya uang untuk beli H&M walaupun nggak bisa tiap minggu. Tapi pantas nge-provide anaknya.
Lalu, aku menyadari, aku dididik dalam lingkungan keluarga yang jelas-jelas tidak ‘cantik’, bukan fisik tapi kami dididik untuk menjadi perempuan mandiri yang perkasa. Bukan sekedar cantik skincare. Kami bekerja, work till ass out, untuk mendapatkan yang ingin kami raih. Bisa pergi keluar negeri bukan sekedar uang orang tua yang dihamburkan barang tiga bulan sekali, tapi tabungan orang tua yang kami hargai yang ditabung rupiah demi rupiah. Semoga kelak aku bisa memberikan sama seperti yang diberikan oleh ibuku padaku.