Lebur Dalam Amuk Rudra
Selama tiga dekade aku berpikir bahwa satu-satunya cara untuk tetap menjalani hidup yang selalu ingin tanganku sendiri akhiri adalah dengan membangun labirin rumit di dalam kepala. Labirin tersebut tercipta, tapi aku terjebak di dalamnya tanpa bisa mencari celah untuk keluar.
Dalam kegelapan labirin, selama puluhan tahun aku berusaha menghibur diriku agar tetap hadir untuk diriku sendiri. Memberi warna di sana dan sini, membuat persona dan naskah penuh tipu daya yang membuat banyak orang berhasil masuk ke dalam labirin milikku... walau pada akhirnya mereka menyerah tanpa pernah masuk ke lingkar labirin terdalam.
Mereka tidak akan pernah menemukanku.
Mereka tidak akan pernah, menemukanku.
Mereka tidak akan, pernah menemukanku.
Mereka tidak, akan pernah menemukanku.
Mereka, tidak akan pernah menemukanku.
Di dalam lingkar labirin terdalam aku mendekam tanpa daya. Hingga akhirnya suatu hari aku melihat ke arah langit dan menemukan bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari dalam kehampaan isi kepalaku adalah melangkah ke atas.
Dan. Aku. Berhasil. Keluar.
Aku berhasil keluar hanya untuk menemukan bahwa semesta sangat senang membangun lelucon aneh dengan kisahku sebagai latar cerita.
Aku berhasil menemukan kebenaran, dan semesta tertawa.
Aku berhasil berduka, dan semesta hanya tertawa.
Aku berhasil berdamai dengan realita, dan semesta hanya tertawa.
Aku berhasil, dan semesta mengirimkan sebuah badai.
Pusaran yang kuat tanpa kenal ampun. Bukan angin sepoi yang punya cukup keterbukaan melainkan tornado penuh duka dan luka.
Aku melihat ke sekitar dan menyadari bahwa lingkar labirin yang perlahan telah kutinggalkan di bawah mulai lebur dalam kekacauan yang dibawa oleh Sang Rudra.
Aku pikir aku akan kembali hancur.
Aku pikir aku akan hancur.
Aku pikir aku hancur.
Aku pikir... tidak, ini bukanlah hal yang harus ditakuti.
"Aku melihatmu," ujarku pada Sang Rudra, "aku melihatmu dan merasakan dukamu, aku mengerti."
Sang Rudra tetap mengamuk dan menghancurkan sisi barat lingkar labirin.
"Aku melihatmu," ujarku pada Sang Rudra, "aku melihatmu dan merasakan lukamu, aku mengerti."
Kini sisi timur lingkar labirin sudah hampir lebur.
"Aku melihatmu," ujarku pada Sang Rudra, "aku melihatmu dan merasakan amarahmu, aku mengerti."
Sang Rudra bergerak ke arah selatan lingkar labirin.
"Aku melihatmu," ujarku pada Sang Rudra, "aku melihatmu, aku melihatmu..."
Sang Rudra menoleh ke arahku dan bergerak mendekat, akhirnya.
"Aku melihatmu..." ujarku pada Sang Rudra yang mulai bergerak ke pusat lingkar labirin milikku.
Sang Rudra berada tepat di depanku, melihatku sambil terdiam.
"Aku melihatmu, dan menemukan diriku sendiri dalam dukamu," ujarku akhirnya memecah keheningan dalam bising yang terjadi di sekitar.
Sang Rudra menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa dukanya lebih besar.
"Aku berdiri di sini bukan untuk saling berpacu menuju kehancuran," ujarku sambil meraih lengannya perlahan, "...aku melihatmu."
Sang Rudra terdiam tapi tidak bergerak mundur dan tetap berputar di dalam kehampaan.
"Aku melihatmu, dan aku mengerti."
Sang Rudra tetap menyimak.
"Aku melihatmu, dan aku ingin menemanimu di tengah kalibut milikmu."
Sang Rudra menolak dan mengelak, perlahan bergerak pergi menjauh ketika sadar ia sudah merusak sebagian besar lingkar labirin yang berserakkan.
"Aku melihatmu," ujarku lagi, "aku melihatmu dan menemukan cinta dalam lukamu."
Sang Rudra terdiam. Bergulat dengan isi kepalanya sendiri yang berputar tanpa henti.
"Aku melihatmu," ujarku kembali.
"Dan aku juga melihatmu," ujar Sang Rudra, pada akhirnya.
Dan aku… meleburkan diri dalam amuk Sang Rudra.
--
Teruntuk Greythama Tornado, terima kasih telah memperlihatkan pantulan renjana terindah dalam wujud Sang Pelukis yang agung.
















