rumah pertama
kemarin, 1 juni 2025, aku merapikan barang-barang di kost baru dengan perasaan yang ngga karuan: sedih, rindu, tapi juga penuh harapan. semua barang yang aku sentuh seperti punya memori baiknya sendiri-sendiri. piring, ember, baju, semuanya.
per 1 juni 2025, aku dan suamiku resmi LDM. suatu yang aku perkirakan mungkin saja terjadi, tapi tidak kusangka akan sesedih ini.
semua kenangan setahun lebih belakangan terasa seperti film di otakku. aku membuka handphone, membuka google maps, menatap rumah kontrakan pertamaku dan suamiku di awal pernikahan yang berukuran satu petak namun terasa sangat nyaman itu. di dalam google maps itu terlihat masih terparkir mobil rush silver, kendaraan yang telah membawa kami melawan kemacetan jakarta. berlindung dari hujan dan panas. menjadi tempat bercakap-cakap yang melegakan setelah pulang kerja, menghadapi rush hour. tempat dimana kami terkadang tertidur di dalamnya karena kelelahan. mobil itu kini sudah berganti pemilik, tetapi kenangan kami berdua tertinggal abadi di dalamnya.
lalu aku menatap lamat-lamat pohon mangga yang tumbuh di depan rumah, yang buah matangnya sering jatuh namun tidak pernah berhasil kami makan karena terburu busuk. kami tidak sempat memungutnya karena terlalu sibuk bekerja. betapa ruginya kami berdua.
lalu kenanganku seolah membuka pintu rumah kontrakan itu. hanya ada 4 ruangan: 2 kamar tidur, kamar mandi, dan ruang tengah yang bergabung dengan dapur. semuanya punya memorinya sendiri. terutama tentang bagaimana aku dan suamiku membangun keluarga di masa-masa awal. tidak ada petunjuk ataupun manualnya. semuanya kami kerjakan secara mandiri.
dari rumah kontrakan ini aku belajar memasak dan membuat rumah terasa nyaman dan bersih. dari rumah kontrakan ini pula suamiku belajar memasang gas, mencuci baju dan piring. semua yang terasa asing bagi kami berdua perlahan dapat kami kuasai.
di ruang tengah, berdiri meja yang miring sebelah. tempat kami terbangun shubuh untuk belajar bahasa inggris bersama, merencanakan kuliah ke luar negeri, yang kini sudah terkabul satu demi satu. di meja itu pula sudah banyak motivation letter, CV, dan surat rekomendasi dibuat. berkali-kali gagal, berkali-kali pesimis. tapi kami terus mencoba. ah, terima kasih ya allah karena kami sudah merasakan jerih payah itu saat ini.
di kamar, yang hanya terdiri dari kasur dan lemari seadanya, di sana ada banyak kenangan kami berdua. tentang bagaimana kami saling berpelukan, menguatkan, dan meredakan kelelahan satu sama lain dengan ditemani kucing kesayangan kami, laksani. kamar ini menjadi saksi bagaimana pulasnya tidur kami karena lelah, berangkat pagi dan pulang malam. kadang sampai belum berganti pakaian karena saking lelahnya. kadang sampai terbangun dengan kaget karena kami harus buru-buru bersiap dan berangkat bekerja.
lalu memori loncat pada bulan februari 2025 lalu, dimana suamiku memperoleh pengumuman final beasiswanya. kebetulan aku sedang ada kegiatan NA dan menginap. dia menjengukku dalam kegiatan itu dan aku menangis haru. menangis karena akhirnya apa yang diperjuangkan suamiku tercapai setelah dia mencoba banyak pintu. sekaligus menangis karena mengetahui bahwa aku akan di sini sendiri untuk beberapa waktu. malam itu terasa lebih sejuk namun juga sedih karena menjadi pertanda perpisahan kami sebentar lagi.
kini waktu berlalu, semua berjalan dengan cepat. kami berdua harus mengemasi barang dari rumah pertama kami di pamulang, mengeliminasi beberapa barang, dan membawa yang benar-benar dibutuhkan. tujuanku adalah kost di dekat kantor, sementara tujuan suamiku adalah jerman.
aku yang semula sempat percaya diri bahwa akan baik-baik saja ternyata tangisku pecah di bandara, pada saat aku memeluk terakhir suami sebelum dia berlari memasuki pintu keberangkatan internasional. ternyata aku tidak baik-baik saja, ternyata aku perlu menangis. orang yang paling aku sayangi di dunia ini akan berada jauh dariku.
di sepanjang jalan dari bandara menuju kost jalanan terasa asing. mungkin karena suamiku tidak lagi di sampingku. kami biasa kemana-mana berdua, tapi kini tidak. aku menahan tangis dan menguatkan diri.
namun dari situlah aku tahu bahwa banyak orang menyayangi kami berdua. banyak orang peduli. tentang bagaimana keluargaku, keluarga suamiku memperhatikan kami berdua. bahkan orang lain. tanpa kebaikan mereka, tentu kami tidak akan sekuat ini.
semuanya terasa berat, tentu saja. bahkan hingga saat ini. bahkan untukku yang sudah terhitung terbiasa kemana-mana sendiri. doaku saat ini adalah agar kami berdua diberikan kesehatan dan kelancaran segala urusan, karena kami sudah berjanji akan secepatnya bertemu. aku berdoa agar waktu cepat berlalu, dan aku tenggelam dalam segala kesibukan yang mampu membunuh waktu.
namun di luar perasaan sedih dan tidak nyaman ini aku menyadari bahwa ada optimisme yang besar. aku dipercaya mampu memikul semua ini oleh allah. allah menitipkan banyak hal bahkan sebuah nyawa manusia lain kepadaku. dengan segala kesulitan yang kami hadapi, allah percaya pada kami berdua. aku percaya bahwa hal yang baik dan membahagiakan sudah menanti di ujung sana.
ya allah, kuatkan kami. ya allah, segera pertemukan kami bertiga.












