Kenapa ya, yang seolah-olah lebih taat dan lebih mudah melangkahkan kaki di masjid, sangat tidak mudah untuk mendengarkan.
Lupa kah, setiap harinya telinga ini menjadi tempat mendengar 8jam yang terjadi padamu di luar sana?
Tapi apakah ada pertanyaan yang ditujukan kepadaku?
"Bagaimana hari ini, apakah anak-anak baik-baik saja?"
"Apa yang terjadi hari ini?"
Bahkan sekedar tanya sudah makan atau belum selalu diakhir bahkan lupa.
Kamu selalu bercerita dan aku membesarkan hatimu, tapi kamu lupa, ada hati yang juga butuh effort.
Semua kekacauan aku nikmati.
Kesenangan yang lama tak kunikmati aku relakan
Keinginan2 membelikan anak ini itu
Bahkan peralatan penunjang kerjaan rumah tangga rusak saja aku berpositif thinking, iya gapapa.
Multivitaminku sebagai busui pun aku skip, yang harusnya wajib aku konsumsi aku lewatkan
Aku sadari, sedang menemani lelaki yang baru dari minus.
Menahan malu ikut pinjam ke teman temanku , aku lakukan
Sampai aku dititik gak percaya diri berteman
Banyak hal yang aku pendam, aku nikmati
Tapi, semua bisa saja memuncak, aku tidak bisa terus-terusan memendam
Aku nerimo tapi aku dikritik
Batinku capek tapi aku dikomplain
Tapi sangat besar efeknya di penerimaan diriku
Lagi-lagi saat aku mengungkapkan lewat kemarahan
Tanganmu mencengkeram tanganku
Membukam mulutku dengan keras
Seolah olah aku hewan buruan yang siap dibunuh
Selalu dengan alasan aku yang memancing
Tapi apakah itu hal normal?
Melakukan kekerasan kepadaku yang menyuarakan isi hatiku hanya kamu merasa direndahkan
Dan seolah olah aku yang memulai
Matipun ditanganmu juga tidak apa apa
Karena hikmahnya saat itu juga aku sadar
Aku tidak boleh bersandar pada siapapun
Mencintai dengan lebih siapapun
Dan jauh lebih sadar bahwa kamu hanya orang lain
Semoga kasarnya kamu menyikapiku tidak ada yang tahu
Karena citramu adalah taat ,berdedikasi,cerdas, pemimpin yang bijak, serta bekerja di yayasan Islam
Pernah mendapat aduan warga yang di KDRT, bahkan kamu geram dengan pelaku
Aku sampai ragu, sampai kapan aku bisa bertahan
Sayangnya aku tak lagi memiliki siapa siapa
Hanya 1 putri dan putra yang menemani hari hariku
Bahkan , perpisahan pun membuatku tidak takut
Karena hanya aku ,diriku yang harus tetap berdiri tegak
Semoga kamu yang disana, entah jatahku menemanimu sampai kapan aku tidak tahu.
Bukan kematian, tapi semoga semua sehat dan baik baik saja karena anak anak masih butuh orang tua
Aku terima jika harus pergi, aku ingin bebas, aku ingin membahagiakan diriku, tak lagi mau menjadi beban.
Menemani mendampingi , mesuport dia yang sedang berjuang hanya karena kusuarakan ketidaksukaanku, aku disakiti.
Semoga Allah beri hidayah untukku