Mimpi melihat salju!
Kebanyakan orang yang berasal dari negara tropis seperti saya yang berasal dari Indonesia memiliki mimpi melihat salju! Ya mimpi ini terwujud ketika saya berusia 27 tahun untuk mengejar mimpi dan keinginan alm. papa saya. Sempat ada pikiran untuk berhenti mengejar mimpi tersebut, karena lelah menyelesaikan tesis yang tak kunjung usai (penyakit mahasiswa tua). Ketika kakak pertamaku diterima di Jepang dengan beasiswa Monbukagakusho untuk program teacher learning, muncullah api semangat yang sempat padam (sok puitis) dan selesailah tesisku dalam waktu 3 bulan (ini pun dengan paksaan dari dospem saat itu. Hehe).
Setelah lulus muncullah keinginan untuk study di luar negeri, terutama ke Jepang dimana sekali lagi kakakku mendapat beasiswa LPDP untuk program PhD. Selang 1 semester setelah kakakku di Jepang, aku pun diterima beasiswa Rusia. Sebenarnya tak ada satupun niatan untuk ke Rusia hanya keinsengan yang bener-bener lucky aja. Saat itu, aku mendaftar juga ke Korea (efek dari drama korea. Haha) tapi ya belum rejeki jadi lewat. Jepang pun begitu. Saat aku memberitahu keluargaku, kolegaku dan teman-temanku, banyak yang bertanya βWhy Russia?β. Dan kolegaku di kampus juga bilang, βCoba pikir lagi. Dingin lho disana. Ada kolega saya mereka cuma bertahan 3 bulan dan kembali ke Indonesia.β Dengan enteng aku pun menjawab βKalau ini rejeki saya ya pasti dikasih jalan pakβ dan memang benar Godβs way always amazing.
Lambat laut waktu keberangkatanku ke Russia pun semakin dekat. Mama yang selalu menemaniku dan menguatkanku untuk mantap berangkat. Berulang kali terucap kata, βMa, yakin aku ke Rusia?β, βMa, aku bisa gak ya?β, βMa, bisa gak ya bahasanya?β. Rengek-an tersebut hanya dijawab βMungkin ini jalan Allah untukmu.β sambil memegang tanganku dan tersenyum atau terkadang memelukku.
Hari keberangkatan pun tiba, selalu teringat jelas dalam memoriku ketika mamaku yang selama ini tegar, menitihkan airmata dan memelukku. Dalam pelukan eratnya, beliau berusaha menyembunyikan airmatanya dan membisikkan,Β βJaga diri, jangan lupa sholat! Mama sayang kamuβ. Airmataku pun, aku tahan sekuat tenaga dan sambil tersenyum aku berangkat.
Perjalananku menunju negari beruang merah ini dimulai dari Surabaya bersama Mbak Dika. Mbak Dika merupakan dosen di salah satu universitas swasta di Surabaya. Dan di bandara juanda merupakan pertama kalinya kami bertemu, walau jarak Malang-Surabaya tidaklah jauh, namun persiapan yang dibutuhkan cukup banyak dan menyita waktu. Perjalanan dari Subaya ke Jakarta kami lalui sambil menguatkan satu sama lain, terutama menguatkan Mbak Dika yang akan terpisah dengan suami dan anaknya. Dalam posisi ini kadang saya merasa bersyukur belum berkeluarga. Hehehe.
Di Jakarta kami bertemu dengan 3 teman lainnya penerima beasiswa dari pemerintah Rusia, sehingga kami pun berlima. Sebelum mencapai Moscow kami teransit terlebih dahulu di Bangkok sekitar jam 10 malam. Disini kami menunggu sekitar 10 jam dan masalah baru pun dimulai ketika kami kebingungan untuk beristirahat. Dimulai lah ide bodoh saya untuk mencari hotel terdekat dan murah dari sebuah aplikasi. Akhirnya, kami beristirahat di YHA hotel. Saat pagi pun menjelang dan kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Moscow. Perjalanan Thailand - Moscow butuh waktu sekitar 9,5 jam, tapi jangan khawatir disana udah include makan dan ada hiburan tv atau music.Sampailah kami di Moscow sekitar jam 5 waktu Moscow. Di Domodedovo ini kami berpisah, aku masih melanjutkan perjalanan ke Yekaterinburg dan Mbak Dika melanjutkan perjalanannya ke Rostov.
Jam 5 pagi waktu Yekaterinburg, pertama kali menginjak negeri beruang merah diluar bandara Koltsovo pada awal November 2017, aku disambut dengan hamparan tanah yang memutih karena salju dan terpana kagum melihatnya ditambah temperatur saat itu sekitar 0 derajat. Dalam hati hanya berkata βWow, 0 degrees! Wow, snow! Finally, one of my dreams and my parents dream come true!β. Iβm feel so blessing ^_^










