Kata Mereka, “Ijazahmu Buat Apa?”
Sumber gambar: AI chatgpt.com
Menapaki balik perjalanan kehidupan pasca mendapat gelar sarjana dan memasuki kehidupan sebagai seorang ibu yang memutuskan resign karena kehamilan, dulu kalimat ini sering memantik gelisah dalam hati. Seakan jika hidup tak bersanding dengan jabatan yang menarik, hutang itu akan dibawa mati. Ya, kalimat itu berbunyi, “kalau jadi ibu rumah tangga saja, ijazahmu buat apa?”
Ungkapan yang sudah jadi basa-basi umum itu pernah memberiku luka, serta pengaruh yang bikin aku juga mempertanyakan diri “ngapain ya, dulu sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya di rumah saja?” Seakan perempuan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan hanya berstatuskan “ibu rumah tangga” pada kartu identitasnya ini sudah melakukan kesalahan. Salah, karena sudah meraih gelar sarjana tapi kini tidak lagi bekerja di perusahaan manapun. Tidak menyanding jabatan apapun.
Menjalani Peran Tanpa Arah
Jika boleh bicara rasa saat itu, sebagai perempuan aku sempat kehilangan makna waktu menjalani peran, sebab merasa kalau menjadi ibu adalah peran yang membuatku harus memilih antara berkarir atau fokus di rumah saja. Hati terasa semakin berat karena sibuk membandingkan.
“Kenapa aku enggak bisa seperti dia, ya?”
Alih-alih melihat hal yang masih bisa disyukuri, aku malah sibuk menyesali diri. Mencari-cari apa yang bisa disalahkan demi sebuah validasi. Menumbuhkan keyakinan kalau aku hanya korban keadaan, dan hidup dengan angan-angan kalau seharusnya aku bisa menjadi ibu yang tetap bekerja.
Ambisi untuk bisa “membayar harga ijazah” pun tumbuh. Aku berusaha mencari pekerjaan dalam kondisi berbadan dua. Tapi perusahaan mana yang mau menerima pekerja baru, dan belum lama masuk akan minta cuti melahirkan?
Aku kalah dimakan ekspektasi. Tenggelam jauh dalam lautan pikiran yang membuatku merasa tidak berharga.
Aku merasa jadi perempuan berpendidikan yang gagal.
Mencari Makna dalam Gelapnya Perasaan
Tak ingin terus tenggelam dalam gelapnya perasaan, aku mencoba mencari cara untuk bisa menemukan harapan. Berdiskusi dengan diri sendiri, apakah benar standar keberhasilan ijazah adalah jabatan? Ataukah ia harus berupa cuan? Apakah salah kalau ibu yang cerdas, memutuskan untuk di rumah saja, untuk fokus mengasah keahlian dan mengasuh generasi harapan?
Aku mempertanyakan kembali makna secarik kertas yang dihasilkan mati-matian dengan perjuanganku dan orang tua. Butuh waktu untukku sendiri, memaknai ulang pendidikan tinggi bagi seorang perempuan, khususnya yang telah menjadi ibu.
Tak hanya itu, aku juga berusaha menyadari bahwa kondisi hidup memang tak selalu sesuai dengan harapan, entah itu harapan dari diri sendiri maupun orang lain. Aku bahkan berusaha jujur pada diri, sebenarnya yang bicara kalau seorang perempuan harus bekerja setelah mendapatkan gelar tinggi itu, aku atau ekspektasi orang lain?
Titik Balik Bertemu dengan Arah yang Baru
Berita baiknya, pengalaman ini justru membuka pikiranku tentang makna pendidikan yang lebih luas. Bukan sekadar jabatan, pendidikan seharusnya bertujuan mencetak generasi yang penuh harapan, punya kemandirian, dan berpegang pada nilai serta moral untuk menjalani keseharian. Dan ibu yang berpendidikan juga punya peran penting untuk hadir dalam pengasuhan, memastikan ia mewariskan ilmu yang dimilikinya untuk mencetak generasi peradaban.
Di sini aku mulai menemukan arah baru, bahwa ibu dengan pendidikan tinggi akan selalu memiliki semangat untuk senantiasa belajar. Semangat belajar yang tinggi tidak selalu dimiliki semua ibu, dan pendidikan tinggi punya peran dalam menanamkannya. Aku tidak lagi menyesal dan merasa gagal, justru semangat untuk belajar hal baru dan mengembangkan keahlian diri. Belajar menulis jadi pilihanku setelah menjadi ibu.
Masih berbicara tentang semangat, dari tulisan ini aku juga mau menyampaikan bahwa semangat itu menular. Keinginan ibu untuk selalu belajar, akan turut melindungi generasi suatu bangsa dari kebodohan. Kenapa? Sebab anaknya melihat bara api pembelajar dari sorot mata ibunya sendiri.
___
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026













