Belajar dari Nol
Sebenarnya, waktu itu aku masih belajar nulis sambil ikut pembelajaran daring di bidang lingkungan. Ya, aku masih punya ambisi untuk bisa berkarir sesuai dengan studi yang diambil sebelumnya.
Meski di sisi lain, aku si tipikal generalis (alias gampang penasaran untuk mengeksplor sesuatu) sebenarnya tidak punya portofolio yang kuat untuk bisa membangun karir di bidang lingkungan. Selain itu, masa kehamilan bikin aku galau kalau harus bekerja yang notabene basisnya di lapangan.
Aku gamang di antara ambisi dan harapanku bisa menjadi ibu yang dekat dengan anak.
Semakin dijalani, hatiku lebih condong agar aku fokus mempelajari skill menulis ini.
Ya, meskipun harus mulai dari nol, tapi aku melihat adanya prospek yang linear dengan prinsip yang hendak aku jalani terkait pengasuhan anak.
Sudah mulai dari nol, ditambah memasuki fase menjadi ibu! Duo-combo yang memaksaku untuk mengambil waktu ekstra, memotong waktu istirahat.
Merasa lelah? Pasti!
Tidak bisa dipungkiri ada saat-saat aku mau nangis. Tapi memang pesan suami yang selalu jadi pemacu diri menjaga konsistensi, “Kalau nyerah dan enggak konsisten, kamu enggak akan kemana-mana”. Dalam hal fokus dan konsistensi, aku memang banyak belajar dari Pak Su. Meski ya, ada masanya keras kepala juga.
Entah kekuatan dari mana, tapi ada momen di mana aku beritikad menjaga konsistensiku dan hendak meraih mimpi dalam hal menulis.
I know that I have to build my writing habit first, and it’ really hard!















