Aku Bukan Kehilangan Mimpi,
Aku Sedang Menemukan Diriku Kembali
Duduk di kursi, membuka galeri foto di ponsel mungilku. Sembari menikmati singkong goreng buatanku, dan segelas kunyit asem yang aku beli di bude jamu pagi tadi. Aku menemukan fotoku tahun 2020, berpakaian rapih berada di kantor, aku ingat momen setiap pagi mengantarkan anak yang aku titipkan di daycare kantorku.
Pikiranku seakan berkelana membuat sebuah cerita. Seakan mengajakku berbicara tentang rasa. Ada fase dimana aku merasa kehilangan diri, seakan kakiku tak lagi bisa kuajak berlari untuk mengejar si mimpi.
Aku pernah berada salam fase bertanya tentang diri sendiri. “Apakah aku masih memiliki nilai lebih?”, “apakah keluargaku bangga dengan aku yang saat ini?”.
Aku yang bukan lagi pekerja kantoran. Aku yang memiliki usaha tapi tidak selalu ramai omzet hariannya. Aku yang mencoba berdaya namun sering merasa tak berdaya.
Aku menyadari kalau aku adalah perempuan yang penuh ambisi. Memiliki mimpi juga jejak langkah yang tak mudah aku lewati. Aku menjadi lupa akan diri sendiri di kala aku memiliki peran baru yaitu “ibu”.
Pernah ada di momen dimana aku kehilangan aku. Ketika aku diajak untuk menuliskan tentang “Perempuan bicara rasa”, aku seakan ditarik oleh memoriku untuk menuliskan momen dimana aku seakan kehilangan mimpi.
Covid membuatku harus memilih apakah aku harus terus berkarya di kantor atau aku harus full menjaga anak-anakku. Pada akhirnya satu keputusan aku ambil, ya aku yang saat ini membersamai mereka.
Hari - hari pasca resign seakan biasa saja. Aku melewati segala keputusanku dengan sadar dan sudah menimbang segala resiko. Namun pada akhirnya ada momen aku “bengong”, sungguh bertolak belakang dengan aku yang terbisa bekerja dengan hectic.
Aku di rumah tidak diam saja, orderan dapurku jalan, anak anak juga aku bersamai aktivitasnya. Namun aku merasa ada bagian diriku yang hilang.
Sampai ada momen, aku melihat suami ke kantor dan aku merasa iri. Ada rasa hati yang tak enak saat aku tidak lagi berkontribusi tetap seperti dulu. Kala itu aku merasa menjadi beban di kehidupan ini. Padahal suamiku tidak pernah menuntut apapun, dan menyadari bahwa itu sudah tanggungjawabnya.
Tapi tidak untukku. Aku merasa tidak ada gunanya.
Sampai pada akhirnya aku mencurahkan segala rasa itu ke suamiku, teman bercerita terbaikku. Aku banyak mendapat insight, sehingga aku seakan mengenal kembali diriku.
Aku menumbuhkan kembali rasa percaya diri.
Aku mencoba berbagai hal yang ingin aku coba. Aku semakin acuh dengan suara sumbang yang hanya buatku jatuh. Aku hanya focus pada suara hati dan sekitar yang masih mengenalku sebagai aku.
Dari saat itulah, aku menyadari kalau aku hanya butuh waktu dengan diriku lagi.
Aku terlalu tergopoh dengan mimpi yang aku ajak berlari, aku kurang menikmati momen baik yang sedang berjalan saat ini.
Diriku yang saat ini seperti menarik diri dari kerumunan hanyalah tindakan melindungi untuk tetap waras melangkahkan kaki di bumi ini.
Akupun berpesan ke anak anakku;
“mungkin ibu tidak terlihat keren karena bukan perempuan karir seperti ibu yang dulu. Namun kalian anak anakku harus paham kalau waktu ibu tidak bisa tergantikan dengan gaji kantoran yang pernah ibu terima. Ibu bukan sedang mengubur mimpi, tapi ibu sedang memupuk mimpi ibu juga mimpi anak anak ibu, kita gapai bersama ya.”
Tulisanku ini jadi relate ya dengan artikel berita baik ipedia: https://ipediaberitabaik.id/mimpi-ibu-rumah-tangga/
Buat para perempuan.. luangkan waktu untuk duduk sejenak dan menyapa diri , mungkin ada mimpimu yang sedang ingin kembali digapai. Mungkin hasilnya bukan dalam waktu dekat ini, tapi prosesnya bisa kalian nikmati dengan indah.
Kalian tidaklah sendiri, ada doa dan mimpi orang orang terkasih yang membersamai.
Ingat.. perempuan yang sadar akan kebahagiaan dirinya adalah perempuan yang akan membahagiakan seisi dunianya.













