Oh, Ibu tenang sudah
lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga
Istriku terus saja terdiam menatap jendela. Sesekali ia menyeka air mata. Ini sudah Sabtu ke-, ah aku lupa. Tapi ku berani memastikan, tak lebih sedikit dari uban yang menyembul keluar dari rambutku. Ia tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri. Terus merapal sajak-sajak resah, menilik tiap sudut, kalau-kalau rindunya terbalaskan.
“Bu, mari bercengkerama. Jangan biarkan sepi menggelayut mesra. Mari kita peluk rindu bersama-sama.”
Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya
“Ayah, lihat foto ini. Senang rasanya melihat anakku baik-baik saja mendarat di perantauan. Tak sangka, ia lupa peraduan.”
Aku rindu, tapi tak dapat mencipta jarak dan waktu untuk bertemu. Sedangkan kini, rinduku, rindu seorang Ibu makin menyeruak. Berusaha mengingat peluk yang dulu ia suguhkan begitu erat.
Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
Aku masih ingat betul, baju-bajunya menggantung tak beraturan di balik pintu. Aku masih ingat sangat, kasurnya penuh dengan buku-buku yang bersebaran tak keruan. Kini, kamarnya teratur rapi, menyisakan debu yang kau hapus tiap pagi.
Suara bisingnya, kau tak lupa kan? Suara sumbang menyanyikan lagu terkini dari balik kamarnya. Suara riang ketika aku pulang membawa makanan kesukaannya. Atau suara isak, ketika aku membentak akan kesalahan kecilnya. Kini, ribut suaranya tak ada lagi, menyisakan sepi yang kian menusuk hati. Â Â Â Â Â Â Â
Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumahÂ
Usah kau keluhkan sunyi yang kini lebih sering menyapa daripada pesan selamat pagi darinya. Usah kau merutuk bulan yang mulai mengantuk menunggu hadirnya. Mari memeluk kenangan lekat-lekat. Membiarkan ia makin menghangat. Percayakan saja rindumu pada lenguh angin, percayakan saja langkahnya pada tapak-tapak kerikil yang kan membawa ia kembali. Kita berdua tahu, dia pasti pulang ke rumah.
Tulisan ini disertai kutipan lirik dari lagu Di Beranda-Banda Neira.Â