PENUTUP DI TAHUN 2025
Allah mungkin sedang memberikan ujian terberat di tahun 2025 di akhir tahun ini agar aku sabar, lapang, dan menerima segala jalan ceritanya.
Aku tidak pernah menyangka jika di penghujung tahun ini sedang bermalam di rumah sakit. Siapa yang tahu, ternyata bukan kebersamaan dengan keluarga, makan enak, tempat tidur nyaman yang biasa aku rasakan, tetapi malah sebaliknya. Kadang terpikir, kenapa Allah betul-betul mengujiku dengan cara-Nya. Apakah karena aku selalu merasa kurang bersyukur? Ataukah mungkin aku jarang berbagi dengan yang lain? Disaat teman-teman sesuaiku, 35 tahun, sedang menikmati masa-masa cerianya bersama suami dan anak-anaknya yang lucu, sedang menikmati bepergian kemanapun tanpa ragu akan hujan dan panas mengendarai mobil, sedang menikmati hidup bebas mengatur keadaan rumah tangganya tanpa ada pihak dari orang tua. Aku mungkin belum merasakan dari tiga keadaan ideal seperti teman-teman seusiaku. Masih dengan setia berdua kemana-mana bersama suami dalam keadaan panas maupun hujan bermotoran, serta masih hidup di rumah bersama kedua orangtuaku. Bukan maksud aku tidak menerima segala hal yang aku miliki sekarang, tetapi manusiawi kah jika aku manusia biasa merasa iri, dengki, dan mengeluh dengan keadaan yang aku sekarang rasakan. Tetapi, disaat hatiku goyah atas segala perbandingan yang aku lihat dengan teman-teman seusia lain, selalu saja aku diingatkan Allah jika Dia pasti memberikan banyak hikmah dan pelajaran yang bisa aku dapatkan nantinya. "Semua manusia punya waktunya masing-masing," itu yang selalu aku yakinkan pada diriku sendiri. Tidak ada kompetensi dengan yang lain. Tidak ada kondisi yang ideal dibalik semua keadaan yang aku lihat dari permukaan. Dan yaaa karena manusia hanya sawang sinawang.
Malam tahun baru 2026 ini pun aku berupaya untuk refleksi menjadi istri yang selalu menerima kondisi suami pasca operasi varikokel. Walaupun harus siap dengan situasi yang samaaaa sekaliiii tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tidur di kamar 1 dengan 2 pasien bapak-bapak. Berbagi kamar mandi pula dengan bapak-bapak dan kamar mandi bertepatan sebelah dengan bed suami (tidak pernah terbayang harus menahan bau kencing bapak-bapak ini yang malas siram berkali-kali T_T). Namun rupanya aku salah. Aku merajuk suami ingin cepat pulang, tidak tahan dengan keadaan sekarang. Aku pasang muka cemberut bahkan menangis mengeluh kenapa tidak pilih kamar VIP di awal. Suamiku pun pasang muka kesal dan mengatakan padaku jika aku tidak mau lebih bersabar, tidak mau menerima situasi, hanya mau enak sendiri. Aku pun ke kamar mandi dengan kesal sambil membuang air kencing suamiki














