Barangkali doa-doa kita sedang bertaburan dilangit. Menunggu waktu. Terkabul sesuai harap atau lebih baik dari harap.
Barangkali doa-doa kita sedang saling. Hingga waktunya tiba. Membuahkan rasa syukur.
26 Dzulhijjah 1445 H

JBB: An Artblog!
Sade Olutola


Discoholic 🪩
cherry valley forever

Andulka
todays bird
Three Goblin Art
trying on a metaphor

祝日 / Permanent Vacation
he wasn't even looking at me and he found me
tumblr dot com
🪼
Monterey Bay Aquarium
YOU ARE THE REASON

@theartofmadeline
ojovivo
Sweet Seals For You, Always
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

seen from France

seen from Venezuela

seen from Brazil

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Slovakia
seen from Germany

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Pakistan

seen from United States
seen from United States
@icharizkaa
Barangkali doa-doa kita sedang bertaburan dilangit. Menunggu waktu. Terkabul sesuai harap atau lebih baik dari harap.
Barangkali doa-doa kita sedang saling. Hingga waktunya tiba. Membuahkan rasa syukur.
26 Dzulhijjah 1445 H

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
barangkali ada
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: telah babak belur, terseok-seok berjuang menjaga keimanan, pikiran, perasaan, ucapan, tulisan, perbuatan.
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: merasa hidup kadang tidak adil, nyaris memutuskan tidak sanggup melalui badai dunia, bingung takdir mana yang ujian mana yang hukuman.
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: kecewa berkali-kali, patah hati sampai tidak ada yang bisa dipatahkan lagi. tercerai-berai, tetapi entah mengapa Allah kuatkan lagi.
barangkali ada di antara teman-teman yang ingin Kembali dan Sembuh sama seperti saya: Kembali kepada jalan Allah yang Dia ridhoi, bertaubat setaubat-taubatnya, memohon keberkahan hidup, dan mendambakan kepulangan yang paling lembut. lalu Sembuh, punya keyakinan untuk melangkah lagi, setiap hari, setapak demi setapak. hidup dengan kebahagiaan dan ketenangan yang sunyi.
menyambut sepuluh hari terbaik, izinkan saya menemani kamu. atau mungkin, tolong temani saya. yuk kita sama-sama Kembali dan Sembuh. dan semoga Allah menjadikan kita sebersih hari kita dilahirkan ke dunia.
buku Doa Arafah ini panjangnya 80 halaman B6 atau A5. memuat semua Asmaul Husna dan banyak doa Qurani dan Sunnah. sengaja disusun agar pada tanggal 9 Dzulhijjah--pada hari Arafah--saya (dan mas Yunus) punya bekal yang cukup perihal apa yang ingin diminta kepada Allah Swt. saya memperkirakan, buku ini akan habis dibaca sambil berdoa dalam sekitar 4-6 jam.
buku ini saya persembahkan juga untuk teman-teman Tumblr-ku, yang selalu jadi semangat saya menulis. gratis, tidak ada hak cipta, boleh disebarluaskan, boleh diedit sesuai kondisi diri. buku Kembali dan Sembuh dapat diunduh di sini.
kalau buku ini bermanfaat untukmu, kasih tau saya ya. boleh kirim DM, reply, atau reblog postingan ini.
selamat Kembali dan Sembuh. semoga Allah memelukmu selalu.
"Semoga Allah menggantikan untuk kita dengan sesuatu yang lebih baik darinya" (Al-Qalam: 32)
Singkat, tapi bikin nangis..
Coba hilangkan penyesalanmu dengan membaca ayat ini pelan-pelan.
Atas setiap kesempatan yang hilang, pekerjaan yang terlepas, kekasih yang berhenti menggenggam tanganmu di tengah jalan, atau setiap sahabat yang wajahnya dulu kamu anggap indah namun kini berpaling dingin.
Karena takdir Allah, semuanya baik. Baik yang membuatmu tersenyum, maupun yang membuatmu menangis.
Tidak ada kehilangan yang terjadi kecuali untuk mengeluarkanmu dari luka yang lebih dalam. Jika kamu memahami hikmah-Nya, bersyukurlah. Jika belum mengerti hikmah-Nya, bersabarlah.
Sesungguhnya, segala keputusan Allah adalah kebaikan, entah ia datang dalam bentuk yang lembut, atau dalam rupa yang melukai.
Maka, tenangkan hatimu. Setiap kali sesuatu pergi, katakanlah dengan lembut:
عَسَىٰ رَبُّنَاۤ أَن یُبۡدِلَنَا خَیۡرࣰا مِّنۡهَاۤ...
"Semoga Allah memberikan ganti kepada kita dengan pada apa yang lebih baik daripada yang ini..."
Ada seseorang, yang tenang dan penuh prasangka baik begitu maksimal, saat ia ditanyai soal pekerjaannya.
"What do you think if we don't hire you?"
"It's okay. Thats means Allah will put someone better than me for this place, and put me somewhere better than this place"
Ikhtiarnya maksimal, dan tawakkalnya lebih maksimal. Gapapa, insyaallah semuanya akan baik-baik saja :')
@jndmmsyhd
terima kasih ya Allah
segala puji bagi-Mu ya Allah, Rabb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. terima kasih untuk-Mu tak terbatas dan tak akan pernah impas.
ya Allah, terima kasih untuk ujian hidup yang Engkau berikan. karena ujian ini, aku ingat sebagian besar (kalau belum semua) dosa-dosaku. aku yang ingin bertaubat memang sudah meninggalkan maksiat itu. aku melupakan masa-masa itu. sampai-sampai, aku juga lupa bahwa dosaku masih ada. terima kasih ya Allah karena Engkau mengizinkan aku meminta ampunan lagi atas dosa-dosaku yang dulu. ampuni aku ya Allah. maafkan dan hapuskan dosa-dosaku.
ya Allah, terima kasih atas segala patah hati dan kesedihan yang Engkau takdirkan. karena perasaan ini, sholatku bisa lebih serius (kalau belum bisa disebut khusyuk). aku lebih sering mengingat-Mu. aku lebih panjang berdoa. aku lebih sabar menyandarkan urusanku kepada-Mu.
ya Allah, terima kasih atas segala kekecewaan yang Engkau sematkan dalam hatiku. terima kasih untuk setiap kehilangan yang mungkin aku pun masih berusaha untuk ridho atasnya. aku sadar betul sekarang. segalanya adalah milik-Mu. dunia ini memang senda gurau. dan Engkau adalah sebaik-baiknya perencana. Engkaulah Rabb yang Maha Mengetahui, Maha Menentukan.
ya Allah, terima kasih untuk badai yang Engkau mampirkan kepadaku. sekarang aku sangat yakin bahwa Engkau tak pernah meninggalkanku. terima kasih telah mengingatkanku bahwa aku memang sangat lemah jika tanpa-Mu. terima kasih karena Engkau selalu ada.
ya Allah, peluklah aku selalu. bimbinglah aku ke jalan yang Engkau ridhoi. sekarang aku sudah tidak takut lagi ya Allah. dengan pertolongan-Mu, aku kembalikan segala urusan kepada-Mu. jaga diriku ya Allah.
yang paling paling
kamu sering dengar kan, bukti cinta (kepada seseorang) yang paling tinggi, paling dalam, paling besar—karena paling sulit—adalah melepaskan. “jika benar cinta, lepaskanlah.”
sebelum menikah, hati kita mungkin pernah terpaut kepada seseorang. ternyata, kita belum berjodoh dengan seseorang itu. maka, melepaskan menjadi bukti cinta kita—katanya.
setelah menikah, urusan melepaskan juga masih ada. kehilangan bisa terjadi kapan saja dan karena apa saja. karena perceraian, karena kematian, bahkan karena kebersamaan yang tidak benar-benar bersama. siap tidak siap, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus melepaskan.
melepaskan tidak hanya perihal pasangan. para ayah melepaskan anak perempuannya kepada laki-laki yang menggantikan peran dan tanggung jawabnya mendidik. para ibu melepaskan anak laki-lakinya untuk mengutamakan perempuan yang dimintanya. para anak melepaskan orang tuanya ke kehidupan yang berikutnya.
melepaskan juga tidak hanya perihal status. dalam beberapa kondisi, justru status perlu tetap dipertahankan. melepaskan yang lebih hakiki adalah melepaskan kepemilikan.
...
kamu dulu juga mengira, melepaskan adalah bukti cinta yang paling paling. tapi kamu mengerti sekarang, melepaskan itu bahkan bukan bukti cinta. melepaskan itu bukti keimanan. yah, kalau konsep keimanan terlalu melangit, sebut saja bahwa melepaskan itu bukti kesadaran.
pertama, kesadaran bahwa semua hal di dunia ini adalah titipan. kedua, kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki. ketiga, kesadaran bahwa hati manusia mudah sekali terbolak-balik.
begitu kan? melepaskan adalah bukti keimanan, khususnya keimanan pada takdir. keimanan pada qodo dan qodar. melepaskan seseorang yang kamu cintai adalah bukti cintamu kepada yang menciptakan seseorang itu. bukti cintamu kepada dirimu sendiri, sebab kamu tidak terpenjara oleh perasaan mengingini, memiliki. tetapi, bukan bukti cinta kepada seseorang itu.
jadi apa? bukti cinta yang paling tinggi, paling dalam, dan paling besar itu? jawabannya adalah menjaga. termasuk, menjaga seseorang itu—seperti kata Sore—dari diri kita sendiri. saat kita sangat mencintai seseorang, kita tidak takut kehilangan. alih-alih, kita tidak mau seseorang itu tersakiti, apalagi karena diri kita sendiri. saat kita sangat mencintai seseorang, kita ingin tetap hadir untuknya, menjaganya, bahkan saat dirinya sedang menjadi versi diri yang paling tidak menyenangkan.
lalu bagaimana, jika kata takdir, seseorang itu sudah habis jodohnya untuk bersama kita? atau, jika memang tidak pernah berjodoh, bagaimana jika kata takdir, rezeki kita untuk mengenalnya sudah habis? kamu tetap bisa menjaganya, yaitu dalam doa.
lepaskan kepemilikanmu atasnya. bukan karena kamu mencintai melainkan karena kamu sadar dan beriman.
lalu jagalah dia. jaga dari api neraka. jaga dari orang lain yang hasad kepadanya. jaga dari situasi yang membuatnya sulit. jaga dari godaan setan yang terkutuk. jaga dari perbuatan, perkataan, bahkan pandangan yang tidak menghormatinya. jaga dari dirimu sendiri. jaga dalam doa. dan jagalah dia pada segala musim. saat dia indah, saat dia rengkah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
akhirnya tak kan ada akhir
ternyata proses berduka itu tidak linear. kamu tidak secara runut masuk dari satu fase, pindah ke fase berikutnya, lalu tidak pernah kembali lagi.
proses berduka tidak sesederhana "aku sudah tak marah". sebab, hari ini mungkin kamu memang tidak marah, tetapi besok rasa marah itu bisa datang lagi. bisa jadi sekarang kamu senang, beberapa menit kemudian rasa sedih datang lagi.
tapi percayalah. selama kamu punya niat dan keinginan yang kuat untuk sembuh, untuk tuntas berduka, perasaan yang datang dan silam itu adalah warna-warni yang mengantarkanmu maju.
akhirnya memang tak kan ada akhir. segala sesuatu yang berharga memang perlu diperjuangkan. seumur hidup itu lama, tetapi selama-lamanya hanya seumur hidup. kelak kamu akan "sudah tak marah".
Mengilhami Keikhlasan dan Mengamini setiap Takdir
“Allah akan iya, ketika engkau sudah ikhlas pada semua yang tidak” - Cak Nun
Ketika engkau tidak lagi menggenggam dengan cemas, melainkan melepaskan dengan ridha. Saat itulah, langit mendekat dan bumi menjadi teduh.
Cak Nun mengingatkan kita bahwa kadang “iya”-Nya Allah tak muncul saat kita sedang ngotot, tapi saat kita tunduk dan berkata: “Jika bukan ini yang terbaik, aku pun siap dituntun ke yang lebih hakiki.”
Dalam penolakan, dalam kehilangan, dalam kegagalan—di situlah Allah sedang mengasah ruh kita untuk mengenal makna cinta yang sejati: cinta tanpa syarat, pasrah yang tidak pasif, tapi penuh iman.
Barangkali yang sekarang tertutup bukanlah pintu, melainkan mata hati kita. Dan ikhlas itu bukan menyerah, melainkan mempercayakan kendali pada Dia yang lebih tahu arah. Sebab jalan Tuhan seringkali terlihat sunyi, tapi justru di sanalah damai abadi bersembunyi.
Ketika ikhlas sudah sepenuhnya hadir pada semua yang “tidak”, di situlah semesta mulai mengamini doamu yang diam-diam dipeluk langit. Satu per satu, "iya" akan datang—bukan karena kau memaksa, tapi karena ikhlasmu mengetuk pintu-pintu arasy-Nya.
Sebab Allah tak pernah menjauh, hanya menunggu kau benar-benar pulang. Dan dalam pulang itu, tak ada yang lebih suci dari hati yang mengilhami keikhlasan dan mengamini setiap takdir,
Maka sekali lagi, biarlah nasehat Cak Nun ini meneduhkan langkahmu: “Allah akan iya, ketika engkau sudah ikhlas pada semua yang tidak.” Dan itu cukup, lebih dari cukup, untuk terus berjalan.
-Kaderiyen || Yogyakarta, April 2025
Terima kasih
Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terimakasih telah hadir dan mengambil peran sebagai pembelajaran.
Terimakasih sudah hadir dengan jalan yang Allaah suka, menjaga.
Dalam beberapa waktu aku terkungkung dengan perasaan bersalah. Hendak memberi jeda namun semesta sepertinya ingin mengajarkanku berani.
Hingga suatu hari ada pertanyaan juga pernyataan dari temanku.
"akan menghindar sampai kapan?"
"Kak, sembuhnya dia bukan tanggungjawab lu. Biarin waktu yang mengobati. Berhenti ngerasa bersalah"
Padahal tak ada sepatah kata yang ku ucap. Namun, mereka bisa menilai ada rasa bersalah yang hinggap.
Sempat terngiang "berapa lama kamu mengumpulkan keberanian untuk datang?"
Juga perasaan bersalah karena jawabanku mungkin menyakitkan.
Aku doakan didepan sana yang terbaik untukmu. Terima kasih sudah menjadi pembelajaran berharga.
Aku cuma mau bilang proses menerima dan menolak juga bukan hal mudah. Ditolak pun bukan berarti kurang baik. Hanya saja mungkin ini jawaban dari doa-doa yang melangit.
Ada kata mungkin, karena aku pun menerka rencana-Nya hingga kelak jawaban akhirnya ku dapat.
"Terjebak pada Kriteria Sendiri"
Obrolan malam itu bersama teman-teman yang 1/3 harinya dilalui bersama mengalir begitu saja. Hingga tiba pada kalimat seorang kakak "aku kayak yang terjebak dengan kriteria sendiri" ada sesak yang menyelinap, ada anggukan kepala, dan hati yang bilang "kalimat tepat yang mendefinisikan sesuatu yang aku rasakan juga nih kayaknya" -kayaknya- Kadang suka latah deh wkwk.
Seusai cerita malam itu kalimat "terjebak dengan kriteria sendiri" ini terus terngiang dikepala. Hingga akhirnya aku memutuskan mempertanyakannya pada diriku sendiri. Benarkah terjebak? Kriteria sendiri, kriteria yang mana? Hoo kriteria yang bertambah saat kehadirannya? Haha iya sih, kayak jadi naik standar kriterianya. Pun seolah banyak ceklis pada kriteria yang ada. Tapi sebentar, memangnya diri butuh orang yang akan membersamai itu seperti apa? Jangan-jangan belum mengidentifikasi kriteria apa yang prinsip dan apa yang tidak. Lalu memangnya apa yang tak dipenuhi dari kriteria itu? sadarilah. Nah yang tidak ia penuhi itu hal-hal prinsip atau hal yang masih bisa di nego? Maka kamu akan tau jawabannya. Bukan terjebak pada kriteria sendiri. Karena terjebak berarti engga sengaja. Sedangkan kamu sengaja membuat kriteria itu. Meski kamu berdalih seolah "tak sengaja" karena kriteria itu bertambah saat kehadirannya, tapi kamu kan yang mengizinkan dirimu memiliki standar kriteria baru itu? Jadi aku mau bilang, bukan terjebak pada kriteria sendiri, kriterianya sudah tepat, hanya saja belum bertemu orang yang tepat.
Terimalah kenyataan bahwa bukan orang tersebut yang menjadi akhir. Sebab sebanyak apapun kriteria yang sesuai jika ada 1 saja kriteria prinsip yang dilanggar maka cerita selesai, tak bisa di negosiasi. Memegang prinsip kadang memang menyakitkan tapi sungguh menyelamatkan.
Bukankah diri telah sepakat menjadikan standar tertentu sebagai alat seleksi? Lalu mengapa seolah sedang berdrama menjadi korban atas keputusan sendiri?
Itulah cuplikan tanyaku. Rasanya berkecamuk sekali saat memikirkannya.
Setelah paragraf ini berakhir, tak ada lagi kalimat "terjebak pada kriteria sendiri" yang ada hanyalah diri belum menemukan yang tepat. Yang tepat sesuai kriteria prinsip. Yang seiman, yang sejalan hidup, dan yang se-lainnya yang menurutmu penting. Yaa, hanya belum menemukan yang tepat untuk bisa diterima kurang dan lebihnya. Yang tepat untuk membersamai sampai akhir bertemu dengan-Nya untuk LPJ hidup di dunia.
Jaga prasangka baik atas tiap takdir-Nya ya! Allaah Maha Adil, meski dunia seolah tidak. Allaah engga pernah sekalipun dzalim, apalagi menunda apa-apa yang memang rejeki hamba-Nya. Jaga prasangka baik terus ya! Jadikan Allah prioritas diatas prioritas. Sadari bahwa tugas utama hidup di dunia adalah menjadi hamba maka berlakulah sebagai hamba :)
Mari tahu diri ✨️
Tidak memerintah Tuhannya, namun mengais tulus pertolongan-Nya agar mendapat sebaik-baik akhir cerita. Husnul khotimah.
Dear Kak Monic,
Makasih sudaaaah hadir bersama banyaaak keceriaan, orang yang tiap ketawa selalu "ngajak-ngajak" karena ketawanya renyah, semogaaa apa-apa yang sedang diperjuangkan Allah ridho atasnya.
Kita pernah punya mimpi yang sama. Sama-sama ingin jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar. Tapi takdir punya cara lain mewujudkan tujuan, mungkin bukan lewat IM, tapi Ka Monic masih memegang kuat mimpi itu. Mencerdaskan anak bangsa. Dan aku Allah kasih izin lewat cara lain juga ✨️
Satu hal yang ga akan pernah salah, ia bernama "skenario Allah". Engga mungkin Allah bercanda mempertemukan kita. Pasti ada maksud baik-Nya.
Dengan bertambahnya usia sekaligus berkurang sisa waktu tunggu pulang ke kampung halaman yang sebenarnya -surga- semogaaa menjadikan tiap detik engga ada yang bertambah selain taat dan manfaat. Semogaa tiap hela nafas ada jejak-jejak kebaikan yang ditinggalkan sepanjang perjalanan.
Mohon maaf atas banyaak momen yang udah dirancang tapi engga jadi dilalui bersama. Pasti "skenario-Nya" yang terbaik. Mungkin belum waktunya di 2023 , hanya sedikit momen barengnya, tapi semoga 2024 dan seterusnya Ia mengizinkan kita mencipta lebih banyak momen bareng-bareng ✨️
Makasih udah jadi salah satu "sosok kakak" yang seruu, yang selalu menyediakan telinga, dan mau terus menebar manfaat. Makasih sudah berjuang untuk apa-apa yang layak diperjuangkan salah satunya melahirkan buku "Tumbuh Meski Tak Utuh". Makasih sudah merawat mimpi dan menjalaninya sebaik-baiknya. Besok lagi ya! Hehe
Semoga Allah berikan keberkahan dalam usianya. Bertambah kebaikan yang mengalirkan kebaikan berikutnya ♡
With love,
Icha

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kejadian hari ini memanggil memori 12 tahun silam. Saat nenek sakit. Saat itu tak ada satupun anggota keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, hanya mengandalkan tenaga medis sekitar. Hingga akhirnya nenek wafat, qadarullaah tentunya.
Sebuah titik balik yang menjadi sebuah alasan yang ku genggam erat untuk menghantarkanku pada perubahan mimpi dari seorang pengajar menjadi seorang yang terlibat dalam dunia kesehatan.
Kejadian hari ini seolah memanggil "icha usia 14 tahun" itu. Namun hari ini ku katakan pada diriku "terima kasih ya, terima kasih sudah menepati ucapan, terima kasih sudah berjuang, terima kasih sudah bertahan. Hari ini kamu jadi garda terdepan membersamai beliau. Kamu berhasil menjadi yang dua belas tahun lalu kamu harapkan ada. Setidaknya kamu benar-benar menepatinya. Tenang. Beliau akan baik-baik saja atas izin-Nya. Tenang ya, tapi kamu boleh kok menangis, menangislah, tak ada orang yang lihat. Esok kamu harus tegar kembali, menguatkan sekitar dengan tenang."
IGD - rumah - IGD - rumah
Sat set ngurus a, b, c, sebab tentang nyawa. Sungguh hari yang penuh hikmah, semakin merasa amat sangat engga berdaya kalo bukan Allah yang menguatkan.
Ada rasa takut kehilangan, ada tangis yang tertahan karena harus menguatkan tiga laki-laki yang menangis dihadapan, bersama dengan keyakinan bahwa pasti Allah tolong.
Dengan secuil keberanian mewakili keluarga besar bertemu dokter, bernegosiasi tindakan, memperjelas obat yang diberikan.
Ya Allah tolong kami, tolong jaga beliau dengan sebaik-baik penjagaan-Mu, tolong izinkan beliau sehat wal'afiyat kembali, berkumpul bersama kami :"
Sungguh di titik kesadaran yang mulai pudar pun yang diingat tentang shalat, yang diucap lantunan ayat-Mu, tolong tenangkan, juga lapangkan hatinya. Izinkan kami memberikan ikhtiar maksimal membersamainya, membahagiakannya lebih lama lagi dalam kondisi sehat wal'afiyat :""""
Bogor, 28 Desember 2023
Mari segera selesai dengan urusan satu ini Cha. Agar diri bisa berpindah menyelesaikan hal lain.
26 Desember 2023
Dear Mba,
Kalo engga salah, awal mula kenal 2021 aku ingat pernah di chat via zoom. Mba menyemangati sekaligus menghilangkan ke-ngantuk-an-ku.
Mba aku yakin Allah punya rencana baik atas pertemanan ini. Dari sekian banyak manusia di Bumi, dari sekian banyak teman-teman yang ada, tentu engga semua Allah tautkan hatinya. Tentu engga semua nama Allah izinkan "diingat" di momen tertentu, tapi nama mba Allah pilih jadi salah satu yang aku ingat saat perasaanku tenang maupun gusar.
Mba makasih sudah berjuang sejauh ini. Makasih sudah mau tetap melangkah apapun ujian yang Allah hadirkan.
Mba makasih sudah percaya dan mau belajar bersama menghadapi tiap ladang pahala yang Allah berikan. Semoga sabar dan syukur adalah dua hal yang terus diperjuangkan untuk silih berganti mengisi hidup.
Mba makasih sudah menjadi guru, kakak, sekaligus teman. Terima kasih banyak, memberiku tempat nyaman untuk bercerita. Sebab dari sekian banyak orang yang hadir, aku cukup pemilih dalam bercerita.
Mba semoga berkenan saling mendoakan ya. Saling mengingatkan dan saling berjuang untuk mencapai ridho-Nya.
Mba nanti di Surga kumpul lagi ya mba. Kalo ga ketemu aku, tolong jadi saksi ya mba di hadapan Allah bahwa di Bumi kita pernah bareng-bareng saling mengingatkan untuk taat.
Ibu, makasih sudah melahirkan perempuan shalihah satu ini, dari rahimnya insyaAllah akan tumbuh generasi yg mencintai Al-Qur'an dan berkontribusi atas kemenangan islam.
Aamiin Allaahumma Aamiin
Ditulis di Kota Hujan,
1 Juli 2023
"Apa kabar?"
Adalah dua kata yang jawabannya tidak sederhana, bagiku. Sebab saat ditanya, aku perlu memutuskan benar-benar menceritakan kabarku atau menjawab formalitas saja.
Adakalanya kita harus memilah. Apakah sesuatu yang kita ceritakan itu lebih banyak kebaikannya atau lebih baik disimpan sendiri. Adakalanya pula jika dibagi pada orang yang tepat, ada kebaikannya :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sayap Patah
Ia ingin terbang jauh, sungguh amat jauh. Pandangannya menerabas ruang dan waktu. Lamunannya sampai hingga Negeri Kangguru. Menimba ilmu dan pulang menyelamatkan negerinya yang sedang diujung tanduk. Meski hanya sedikit perannya namun sungguh ia ingin berdampak untuk negerinya.
Saat tengah mempersiapkan diri, meluruskan niat, serta memastikan kembali apa yang jadi tujuannya, ia terhenti cukup lama. Sayapnya patah. Sebelah. Kini tinggal yang kanan. Ia menangis, mengaduh, sakit katanya. Ingin dilepaskannya sayap patah itu. Ingin diletakkannya agar bisa menghentikan rasa sakitnya. Namun, jika itu ia lakukan maka pupus sudah. Akankah lagi ia mendaftarkan diri untuk menyesal? Seperti dahulu, saat dirinya tak memperjuangkan. Bertahun-tahun disesalinya keputusan itu. Bukan, bukan sebab gagal yang membuat dirinya menyesal. Tapi saat dirinya bahkan tak sekalipun memperjuangkan apa yang ingin ia perjuangkan.
Sampai kini, bahkan didetik ini semua menjadi bias. Sebab ia terbiasa tak memperjuangkan apa yang nuraninya mau. Ia terbiasa menjadi lilin. Yap. Menerangi lalu hancur. Akankah kembali pada kesalahan yang sama? Barangkali, sayap patah tadi hanya pertanda. Hanya penguat. Bahwa dirinya mampu sampai pada tujuannya meski sayapnya hanya yang kanan. Ia akan sampai pada tujuannya sebab keyakinannya pada Sang Maha Segala. Ia menjadi tersadar, bahwa bukan sayap utuh yang menghantarkannya pada tujuan.
Ia tersadar untuk hidup sebenar-benar hidup. Berhenti menuhankan ikhtiar diri. Ia tersadar bahwa dirinya memang lemah namun ia tahu Tuhannya Maha Segala. Ternyata sayap patah itu hanya jalan. Jalan yang memang tak mudah, tapi jalan itu menghantarkannya pada tujuannya. Bukankah tak perduli seberapa terjal suatu jalan, asalkan ia benar-benar jalan yang menghantarkan pada tujuan? Tak apa sayap itu patah. Tak apa. Selama ia masih menjaga yakinnya pada Rabbnya. Selama ia masih berhusnudzan atas takdir terbaik dari Rabbnya. Sungguh tak apa. Nikmati saja.
Menangis
Setelah berbagai badai hebat itu menerpa. Aku tidak pernah menampakkan tangis didepannya. Meski aku bilang aku menangis. Tapi air mata itu tak pernah sekalipun jatuh didepannya. Tapi malam ini tangis itu benar-benar membuncah. Aku tak kuasa lagi menahannya. Seolah punya kekuatan besar yang terpendam. Tangisku ingin aku usaikan namun tak bisa. Ia terus menerus mengalir, membuat dadaku hingga sesak, suaraku tersenggal-senggal.
Malam itu dengan tangis yang tak kunjung mereda, akhirnya dengan segenap keberanian yang tersisa aku memungkapkannya. Mimpi-mimpi dan jalan yang akan ku tempuh didepan nanti. Aku ceritakan kemungkinan kerikil dan badai yang barangkali akan aku lalui. Aku ceritakan meski sambil terisak bahwa aku butuh ridhoNya. Makasih mah, yah. Makasih sudah mengizinkan sayapku kembali terbang menuju mimpiku. Meski aku tahu ini hanya awal. Makasih sudah mempercayaiku.
#5CC #5CCDays4