Hari ini aku banyak belajar mengenai kebaikan. Bagaimana janji Allah itu memang nyata, apa yang kamu tanam maka itu yang kamu tuai. Kalau kita terbiasa menanam kebaikan, membibitnya dan merawatnya maka buah kebaikan itu akan berlimpah tak hingga.
Kadang kita nggak akan pernah tau, kebaikan yang telah kita lakukan akan langsung dibalas apa tidak. Seringnya balasan tersebut malah datang bukan dari âorangâ yang kita tolong, sebaliknya, balasan datang dari orang yang tidak pernah berkontak dengan kita. Orang yang tidak kita sangka. Sesederhana itu Allah menunjukkan kuasanya. Sesederhana itu Allah membuktikan bahwa segala apapun yang baik akan berbalaskan yang baik pula.
Seperti hari ini, siapa sangka ternyata jalan keluar masalah yang kami hadapi adalah melalui salah seorang rekan kerja yang tanpa diduga 'pasang badanâ untuk meluruskan masalah. Padahal itu malah akan (sedikitnya) merusak citra diri dan pandangan orang terhadapnya. Tapi dia tetap bersedia. Lihat, Allah menjawab doa mereka yang meminta dengan berbagai cara bukan? Jadi, disaat kita sudah melakukan dan memberikan yang terbaik yakin aja insya Allah akan ada balasannya. Entah melalui orang tersebut langsung diwaktu itu, atau melalui orang lain di lain waktu.
Begitu juga dengan fitnah. Ngeri sebenarnya membahas kata 'fitnahâ ini. Naudzubillahimindzik, semoga kita dijauhkan dari perbuatan fitnah. Tapi bagaimana dengan di-fitnah? Pernahkah ada diantara kalian yang menjadi korban?
Aku pernah.
Dalam tulisan ini aku bukan mau mengkaji apa perbuataannya dan bagaimana itu terjadi, tapi apa efek dari perlakuan itu. Seperti yang kita sama-sama tau, berikut aku mengutip pengertian fitnah berdasarkan kamus besar bahasa indonesia:
fitnah berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang diseberkan untuk menjelekkan seseorang.
Sementara didalam Al-Quran ada banyak makna mengenai fitnah. Salah satunya adalah menyebar berita dusta yang mengada-ada yang kemudian merugikan orang lain. Persis inilah yang aku alami. Cuaca cerah tanpa angin dan hujan, tiba-tiba aku mendengar berita bahwa aku disebut-sebut melakukan tindakan yang sangat merugikan.
Sedih? Pasti. Ingin rasanya saat itu langsung menuruti emosi yang membara untuk mengklarifikasi semuanya, tapi apa dengan jalan emosi? Tentu tidak. Alhamdulillah saat itu aku mencoba tenang dan pasrah mengembalikan semua ke Allah. Aku berusaha mengikhlaskan dulu dan berfikir dengan tenang. Melihat apakah ada sisi yang bisa dimasuki untuk menjelaskan. Sejujurnya saat itu, aku memilih untuk diam. Aku itu orang yang percaya, nanti pasti ada jalannya untuk menjelaskan semua keadaan. Toh, kalau emosi juga nggak bakal selesai semuanya.
Eh, tanpa diduga, siangnya aku bertemu langsung dengan dia si penyebar fitnah. Aku cuma bisa senyum, tetap menjadi aku. Seolah tidak terjadi apa-apa, tapi memilih mengumpulkan bukti pegangan jika sewaktu-waktu masalah ini di 'blow upâ kembali. Aku tetap menegur dia seperti biasa, tetap menjalankan tugas semestinya.
Entah bagaimana alam bermain peran, besoknya tanpa aku meminta 'si pelakuâ mengakui tuduhannya tidak benar. Sedikitnya dia berusaha memperbaiki namaku. Apakah dia ada minta maaf? Tidak. Tapi bukan itu poinnya bagiku. Disini aku melihat bahwa (lagi-lagi) janji Allah itu nyata. Tetaplah berkhusnudzan sama Allah walaupun kita sedang tertindas sekalipun, insyaAllah akan diberikan jalan keluar. Siapa sangka dia akan memperbaiki dengan sendirinya? Masalah meminta maaf atau tidak, biar menjadi urusan dia dan Tuhannya. Aku sih sudah mengikhlaskan. Tanpa mendahului Allah, akan ada balasannya sekarang atau nanti atas apa yang dia lakukan.
Begitu juga dengan kita, akan ada balasannya hari ini atau nanti. Jadi tetap berlaku baik, berikan yang terbaik dan jangan mengharap balasan. Ketika balasan itu muncul, keterkejutanmu akan diikuti dengan bahagia. Tetapi jika tidak, kamu akan puas dan lega bahwa bisa melewati satu tahap jadi dewasa. Siapa tau balasannya kebaikan yang lain. Sabar :)
Ini aku cuma mau sharing dan bukan bermaksud mengajari. Semoga saling bermanfaat.