Pekanbaru, 21 Februari 2017
Dinginnya Pekanbaru hari ini membuat bayangmu bermain-main di fikiran dan hatiku. Ini serius, aku tidak lagi gombal atau bermanis kata. Hari ini hujan mengguyur Pekanbaru dengan lebatnya. Jalanan pada banjir, terutama jalan menuju rumahku. Hujan sepertinya sedang bersemangat sekali untuk memberikan berkahnya. Salah satu berkah hujan bagiku adalah Pekanbaruku sedikit lebih adem. Sangat mendukung salah satu penghuninya yang ingin bermalas-malasan. Iya, itu aku. Saat hujan kaya gini aku selalu mengingat kata-kata kamu yang kalo nggak salah begini,
"...Hujan selalu membawa kenangan, mau itu kenangan baru atau kenangan lama. Kali ini hujan buat kenangan baru, kita telfonan pertama kali saat hujan sedang lebatnya di Bandung dan Pekanbaru..."
Lebatnya hujan kali ini kembali mengaduk-aduk kenanganku saat pertama kali kita telfonan. Saat dimana aku dan kamu masih canggung. Saat kata berujung senyum simpul lagi malu. Saat canda membuat hati berbunga. Saat menit menjadi jam hingga bertransformasi menjadi nyaman tak hingga. Menuliskan ini saja aku masih tersenyum. Persisnya kata-kata pertama kita saat itu, kuakui memang, aku tak mengingatnya. Hanya saja aku selalu mengingat bahwa kali pertama itu- dimana hujan membawakan cerita baru untuk kita- membuat perubahan nyata atas aku dan kamu. Memang saat ini belum ada ‘kita’ yang nyata, tapi boleh aku mengatakan bahwa aku dan kamu sedang menuju 'kita’? Semoga Amin-ku juga bersambut pada Amin-mu. Jangan tanya kapannya, hanya Allah yang tau jawabannya. Sejalan dengan kesepakatan kita tempo hari, saat ini jalani saja dulu yang terbaik. Usahakan yang terbaik. Berdoa untuk yang terbaik. Masalah jodoh tetap ditangan Allah. Hmm~ semoga Allah jodohkan, ya?
Kembali lagi pada dinginnya hari ini, hatiku juga ikutan menjadi sejuk ngomong-ngomong. Kamu hari ini membuat kenangan sederhana (lagi) dan (lagi-lagi) berusaha menyesak masuk ke memori terdalamku.
K : semangat yah. Sekarang sibuk visite pasien dulu ntar ada saatnya sibuk visite yang di Bandung.
A : amiin. Asal visite yang di Bandung nggak lagi sakit aja ya.
K : Ya kalo kangen itu masuk kategori penyakit, berarti visite yang sakit di Bandung.
A : ….. (butterfly in stomach does exist)
Mau tau rasanya jadi aku nggak? Berasa mau jungkir balik nahan perut yang geli dan bibir yang mendesak ingin melengkung keatas selalu. Huah! Semoga kamu nggak tau ya. Kalau tau, bisa luluh lantak dunia persilatan nusantara. Eh! Haha. Jadi ini cara lain mengatakan 'aku kangen kamu’, lagi ya? Kalau begitu, kamu sukses buat aku senyum seharian. Terimakasih :)
Aku rasa sih, siapapun yang baca ini juga akan tersenyum. Sederhana tapi manis, bukan? Ah! Tapi kalian yang ikut tersenyum jangan sekalipun berani coba-coba mendekati, ya. Aku peringatkan bahwa hatiku egois, lho. Ketika nyamanku mulai 'terluka’, siap-siap kalian aku terkam. Mau disisi mana? Tenang saja, setelah aku terkam akan aku obati. Gratis. Yah tapi setelah puasku terpenuhi. Berani coba?
Aku hanya becanda, kok. Semisal diantara kalian ingin mengusahakan dia untuk menjadi 'kamu’-mu (bahasa ambigu sekali, ini) yah silahkan saja. Jika ternyata dia memilihmu, berarti panah jodoh Allah tak mengaitkan kami berdua. Walaupun merelakan dan menghapus kesedihan sangat sulit, bukan berarti tak mampu. Kembali lagi, Jodoh hanya rahasia Allah.
Sudah ah sepertinya serial suratku untukmu kali ini sudah panjang. Sampai bertemu di suratku selanjutnya. Teruntuk kamu, sampai bertemu di kabarmu malam ini. Semoga sibukmu tak membuatmu lupa disini ada yang menanti dengan setia.
Hei kamu, segera balik ya?
Dari aku yang bermain di fikiranmu.
Serial 'surat tentangmu’.