Ternyata Aku Khawatir…
Ketika menyadari anak pertamaku sudah mulai lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan teman-temannya. Sebagaimanapun aku selalu mengusahakan lingkungan terbaik untuk rumah dan sekolahnya. Pun sepemahamanku bahwa memang itu sesuai dan tepat untuk usia perkembangannya.
Di banyak waktu ketika dia bercerita tentang pertemanannya, selalu muncul banyak keluhan, kekesalan, dan berbagai perasaan tidak nyaman.
Aku tahu dia menikmati kebersamaannya dengan teman-temannya. Aku tahu sejauh ini dia bisa memilih teman-temannya dengan baik. Aku tahu dia mampu mengenali kebutuhannya untuk me-time atau bermain dengan teman-temannya. Aku juga tahu pasti karena hanya denganku, Ibunya, dia bisa mengekspresikan semuanya dengan jujur dan merasa didengarkan.
Tetap saja, ternyata aku khawatir.
Aku khawatir dia tidak disukai oleh teman-teman yang disukainya. Aku khawatir kepolosan, kemampuan mengekspresikan diri, dan kepatuhanya pada aturan bisa menimbulkan konflik pertemanan. Aku khawatir dia diejek dengan berlebihan atau mendapat pengaruh tidak baik dari pertemanannya. Aku khawatir banyak hal tentangnya, terutama pada hal-hal yang di luar kuasaku.
Lalu aku teringat…
Dulu, sebelum menjadi Ibu, aku juga berteman dengan beragam orang. Semua sahabatku tahu, aku adalah seorang yang sangat terbuka dalam menerima pertemanan. Nyatanya, aku baik-baik saja. Bahkan teman-temanku, dengan berbagai kebiasaan yang di luar nilai moralku, sekalipun tidak pernah mengajak bahkan menceritakan hal-hal itu di depanku. Aku selalu merasa “dijaga” dalam setiap pertemanan.
Dan aku meyakini, salah satunya pasti sebab doa Ibuku.
Maka ketika menjadi Ibu, aku perlu juga meyakini bahwa doaku yang harus lebih serius untuk merayu-Nya terus menjaga dan menuntun anakku.
Maka ketika menjadi Ibu, aku perlu terus menguatkan akarnya di rumah dengan nilai-nilai yang mampu diyakininya sebagai pegangan terbaik yang tak akan goyah.
Maka ketika menjadi Ibu, aku perlu percaya pada-Nya sebagai Sang Maha. Percaya pada diriku untuk terus belajar menjadi Ibu yang lebih baik. Percaya pada anakku untuk mengizinkannya mengenali kehidupan dari sudut pandangnya.
#RefleksiSeorangIbu













