Dermaga Itu tak Sepi, Hanya Tenang
Seseorang di WhatsApp berkata padaku setelah kami mengobrol lama, "Mami sepertinya sangat kesepian."
Aku membacanya sambil merenung. Kata "kesepian" rasanya kurang tepat untuk menggambarkan apa yang aku jalani sekarang. Aku tidak merasa sepi. Aku hanya sedang menikmati sebuah ketenangan.
Hidupku memang berubah sangat kontras. Dulu, rumah adalah pelabuhan yang riuh. hidup rasanya selalu ramai. Anak-anak yang entah datang dari mana, entah keluar dari rahim siapa, makan dan tidur di sana seolah itu rumah mereka sendiri. Aku senang menjadi tempat persinggahan bagi siapa pun. Bahkan jika dalam perjalanan aku bertemu seseorang yang bingung entah kemana, aku selalu mengajaknya pulang ke rumahku 😆. Dan tentu saja semesta sudah mengesahkan mereka menjadi anak yang terlahir dari jiwaku.
Sekarang, aku sudah pergi dari rumah itu. Dunianya sudah berbeda. Jarak terjauhku keluar rumah hanyalah dua puluh langkah sekadar membuang sampah, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Banyak orang bilang media sosial itu berdampak buruk, tapi bagiku, ia adalah penyelamat. Lewat teknologi itulah aku masih bisa melihat anak-anakku, bertatap muka secara daring meski raga kami tak satu ruang. Tentu, aku tahu tampilan di media sosial banyak menipu. Sering kali orang (termasuk aku mungkin?) memposting wajah bahagia padahal sebenarnya sedang berjuang untuk bahagia 😂. Tapi setidaknya, lewat jendela digital itu, kehangatan tetap tersampaikan.
Kusisipkan foto Emak. Beliau memang cerewet, tipikal perempuan tua pada umumnya (aku pun mulai menyusul sepertinya 😄). Tapi di balik itu, tangan beliaulah yang selalu menyiapkan masakan untuk anak-anakku. Ini potret beliau sedang menikmati kopi pagi buatan si Kacung alias Aldi.
Dulu aku memiliki keriuhan, sekarang aku memiliki ketenangan. Karena dermaga ini tak pernah benar-benar sepi, ia hanya sedang menemukan tenangnya.













