Being a mother
Semua berawal dari jauh, jauh, jauh sebelum tulisan ini dibuat. Jauh dimasa awal aku diterima kerja, tahun 2015 an, usiaku 25 tahun. Pertama kali aku tau di rahimku ada kista. Mama membawaku ke dokter-dokter untuk konsul, it was a series of trying to find out what actually going on with my body. Waktu itu yang aku ingat, mereka secara halus menyampaikan bahwa adanya kista akan membuat sulit bagiku untuk memiliki anak. Lalu kucoba beberapa terapi. Tapi karena tidak istiqomah, maka momen-momen itu berlalu tanpa hasil yang jelas… entah kistaku berhasi hilang, entah tidak.
Lalu usiaku berlalu hingga akhirnya aku menikah di umur 28 tahun. Menikah itu tidak mudah. Apalagi dengan stereotip social Indonesia dimana semua akan bertanya, “sudah isi apa belum?”. Demi semua yang kusayangi di dunia ini, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan operasi laparoskopi untuk menghancurkan kista di rahimku, dan meningkatkan kemungkinan kehamilan. Saat itu tahun 2019, belum genap setahun pernikahanku. Videonya masih ada, dan membuatku mual setiap melihatnya (karena aku takut darah). For the record, di titik ini aku sudah tau benar bahwa aku takut darah, anemic, dan memiliki turunan psoriasis yang sudah pernah muncul beberapa kali.
Proses penyembuhan pasca operasi cukup menantang karena labiaku sempat bengkak. Ceritanya, ada tindakan ekstra dimana dokter mengetahui ada perlekatan pada usus dan perutku, sehingga ia butuh waktu lebih untuk melepaskan perlekatan tersebut, dan gas yang terkumpul menjadi cukup banyak.. tidak sempat keluar sehingga harus diserap tubuh.. dan akhirnya menumpuk pada labiaku. For real, my V become so swollen with the color of purple.
Aku merasa operasi itu suatu perjuangan.
Waktu berlalu, namun kehamilan belum tampak. Ternyata, pada rahimku terdapat endometriosis (bukan hanya kista masalahnya) dan.. dokter-dokter itu bilang memang pada kondisi ini cukup sulit untuk memperoleh kehamilan. Terapi hormon, pengecekan sperma, terapi herbal, so many things.. but we keep waiting.. jangan ditanya berapa argument yang muncul dalam pernikahan ini.
Tahun 2021, Payakumbuh. Staying for a while for Ramadhan & Idul Fitri when suddenly I felt dizzier, hungrier, fatter. Haidku terlambat, dan bersama-sama kami coba untuk berdoa yang terbaik sembari melakukan test kehamilan. 2 testpack hasilnya positif. Alhamdulillah, Alhamdulillah. We cried together, was so happy (ada kekhawatiran tapi pada waktu itu kujalani dengan bismillah).
Kami segera mencari klinik terdekat, dan dokternya memberi obat-obat penguat janin, dengan melihat kondisi plasenta previa, bayi sunsang, serta ada riwayat endometriosis.. yang endometriosisnya masih ada. It is still there. Dokter bilang kondisi masih bisa berubah, usahakan yang terbaik, bismillah.
Trimester 2, kami kembali ke Tangerang Selatan. Aku ingin pulang. Ingin dirumah.
Kami kembali mencari dokter yang cocok. Dan akhirnya memutuskan untuk focus dengan salah satu dokter obgyn di mayapada hospital Jakarta selatan. Dokterku itu ceplas ceplos, blak-blak an, frontal. Yang di kemudian hari membuatku terkejut-kejut.
Dengan dokter ini, hingga Trimester akhir jelang kelahiran, kondisiku tidak berubah. Placenta Previa Totalis, Bayi sunsang, ditambah dengan Hb rendah (sedangkan c-section akan membutuhkan banyak darah, atau lebih tepatnya, kemungkinan banyak darah yang mengucur lebih tinggi daripada lahiran normal). At this point, kami mulai menguatkan hati, bismillah usahakan yang terbaik. Artinya: jalani infus venofer, minum vitamin penambah darah, makan sebanyak mungkin menu yang meningkatkan Hb, jalani ceklab rutin dan rujukan.
Rujukannya adalah: ke dokter feto maternal, pengecekan apakah ada kelainan pada bayi. Hasilnya: dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam untuk pengecekan thalassemia. Hasil dari dokter SpPD: ayo kita cek lab rutin. Oke, masih bisa diikuti, normal, ayo kita jalani. Aku yang menguatkan hati, suamiku yang mendampingi dan menyemangati, memberikan perhatian dalam setiap kesempatan, mencoba menguatkan diri lebih dari aku.
Usia kehamilan 8 bulan, negara api menyerang.
Saat itu musim hujan dan taman didepan rumahku mengundang banyak nyamuk. Kami belum memasang kasa nyamuk, no protection, karena harganya mahal. Dengan izin Allah, suamiku demam 40 derajat. Kami hanya berdua dirumah dengan 1 rewang yang datang pagi hari dan pulang sore hari. Adik iparku tidak selalu available. Bear in mind that at this point I was as old as 70 year old granny, limited physical ability. Setiap control ke dokter kandungan, suamiku selalu meminta agar aku duduk di kursi roda. Semenjak munculnya flek yang cukup banyak setelah aku mencoba naik turun tangga di ACE hardware. “Jangan ambil risiko.” Katanya.
Dan aku menguatkan diri. Suamiku harus selamat.
Kami berangkat ke RS mayapada, melalui administrasi yang ribet, pergi kesana kemari, butuh 2 hari hingga akhirnya suamiku bisa dapat kamar inap. Barulah aku bisa pulang dan beristirahat, dengan adik iparku menjaga abangnya di RS, yang ternyata butuh waktu 7 hari hingga bisa dinyatakan boleh pulang. Ternyata DBD.
2 hari kemudian.
Ibuku datang dari Surabaya, seperti mendapat firasat bahwa aku akan mengalami sesuatu. Malamnya aku terbangun dari istirahat sore, hamil 8 bulan, lemas, lemah, demam, pusing, tubuh bengkak, meriang.. yang ternyata tak kunjung hilang hingga esok harinya. Karena aku merasa semakin buruk, kami berangkat ke RS, aku dan ibuku.
Aku kembali melalui proses yang rumit itu, kali ini sebagai pasien. Tak perlu kuceritakan betapa tidak nyamannya tubuhku. Setelah mendapat kamar inap, dimulailah serangkaian pengecekan lab. Yang sangat membuatku sedih dan berat karena aku harus memberikan darahku yang dimana anakku pun sedang membutuhkannya. Dan aku tak suka melihat darah.
Setelah pengecekan lab, berdatanganlah dokter.. dokter obgyn, spesialis penyakit dalam, dokter spesialis alergi, visit ke dokter gigi, dokter tht, semua untuk menemukan jawaban: ada apa dengan tubuhku?
Selama 5 hari aku menginap di RS itu, berbagai infus berbagai obat, tubuhku mulai lelah merasa sakit. Tapi waktu itu tak kusadari. Hingga aku pulang, jawaban itu belum kami temukan. Inilah awal dari perasaan cemas yang selalu kuingat hingga berminggu-minggu setelah kelahiran bayiku.
Semenjak kepulanganku, dokter spesialis penyakit dalam secara ketat memantau perkembanganku dari.. darah. Dimana aku harus rajin cek lab, dikala waktu kelahiran semakin dekat, dan aku masih sama, masih Placenta Previa Totalis. Kemungkinan darah mengucur banyak masih tetap tinggi. Hbku naik, namun D-Dimerku terlalu tinggi. Di batas 1,7 nilaiku adalah 5. Disini kami mulai bingung.
Apa itu D-Dimer? Kadar penggumpalan darah yang tinggi, way too high. Anytime, anywhere, jika terjadi penggumpalan darah maka terjadi penyumbatan, and then God knows. D-Dimer tidak bisa diturunkan dalam sekejap, muncullah prediksi bahwa aku akan melahirkan dengan kondisi D-Dimer tinggi. Sebagai bayangan, orang dengan D-Dimer 6 bisa tiba-tiba meninggal.
Oke. Aku menguatkan hati lagi, lebih dari sebelumnya. Aku takut, tapi bayi ini tak mungkin tak kulahirkan. Suamiku menggenggam tanganku.
Serangkaian proses kami jalani, suntik obat pengencer darah, di dekat pusar, setiap hari. Rasa nyerinya 15 menit, proses antrinya 3 jam. Baiklah, tak lupa kami selingi canda gurau agar tidak terlalu berat rasanya.
H kurang sekian hari kelahiran, dokter obgyn menyepakati tanggal yakni 4 maret 2022. Dengan catatan, kondisi yang akan dijalani adalah C-Section, Placenta Previa Totalis, Ibu Hbnya 11 dari 12, dan Anti Phospholipid Syndromme yang menyebabkan D-Dimer tinggi. APS adalah sekumpulan gejala yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh menyerang senyawa lemak tubuh. Tanda yang paling khas dari sindrom antifosfolipid adalah peningkatan kekentalan darah.
Aku takut. Takut sekali. Aku menangis bersama bayiku. Entah kami akan selamat atau tidak semua hanya dengan izin Allah SWT. Maafkan aku karena semenjak tumbangnya aku, hati ini semakin sering mengharu biru dan aku semakin sering menangis.
Hari H-1 kelahiran, aku berangkat setelah berpamitan pada ibuku, yang datang lagi untuk menemaniku meskipun hanya dari rumah (protocol RS mewajibkan hanya 1 orang yang menjadi pendamping dan aku memilih suamiku). Setelah mendapat kamar inap dan beristirahat, ternyata malamnya terjadilah argument pasangan yang membuatku sedih karena esoknya aku akan masuk kamar operasi dan entah akan bisa keluar atau tidak. Tapi lagi-lagi..
Aku menguatkan hati. Dikamar operasi hanya akan ada aku, bayiku, tim medis, dan Allah SWT. Aku memasrahkan diri.
Hari H kelahiran, aku berpamitan pada suami untuk masuk ruang operasi. Dan semua masih terngiang segar. Cahaya lampu yang benderang, lagu-lagu Tulus yang bergema di seluruh ruangan, alat-alat operasi, tim yang berpakaian lengkap kostum operasi.. dokter obgynku menjadi lead actress, dokter anestesi, dokter spesialis anak.. tangan kiriku yang ditusuk jarum infus pada posisi tak nyaman dan akhirnya bengkak, dadaku yang sesak dan harus menggunakan selang oksigen. Teman-temanku berkata operasi itu akan terjadi cepat, cepat sekali, dan selanjutnya aku hanya perlu menyembuhkan diri.
But noooo….
Apakah bayiku langsung menangis? Tidak. Apakah operasi itu lancer? Tidak. Apakah penyembuhanku mudah seperti teman-temanku? Tidak. Foto pertama bayi? None. Inisiasi menyusui Dini? Tidak sempat.
Operasi itu berjalan dalam hitungan menit, tapi seperti 2 jam. Mereka tidak mengobrol santai, mereka sibuk mendorong, menarik, menyelamatkan bayiku, menyelamatkan ibunya juga. Bukan bayiku keluar dahulu, tapi plasentanya duluan. Darah mengucur, yang kemudian kuketahui mengakibatkan Hbku turun lagi hingga 8,9.
Bayiku.
Bukan kepalanya keluar dahulu, tapi tangan dan kaki.
Bukan langsung bisa keluar, tapi terjepit diantar miom yang bertebaran di rahimku.
Cerita rinci diparagraf atas tidak kuketahui saat itu, melainkan kemudian hari ketika dokter obgyn mengunjungiku di rawat inap. Di meja itu, aku hanya bernapas, bernapas, bernapas, berdoa.. Ya Allah tolong kami. Tolong kami. Perutku didorong kekanan, kekiri, seperti ayakan padi. Takut? YA. Tapi bayiku sedang berjuang. Hal lain tak kupikirkan.
Dan dengan izin Allah SWT, bayiku yang sudah keluar tidak menangis. Dokter anak segera bertindak, semenit kemudian dia berhasil menangis kencang. Namun hatiku hancur ketika melihatnya putih pucat seperti taka da darah mengalir. Dokter anak minta ijin untuk melewatkan IMD dan foto session. Ku iyakan, “tolong anak saya dokter.” Hanya itu yang bisa kuucapkan berlinang air mata.
Lalu perutku dijahit, yang lamanya seperti 3 jam. Aku mendengar mereka berbincang, operasi ini bukan operasi biasa. Semua sulit, tangan dokter obgyn gemetar hingga ketika selesai menjahit perutku. Lalu aku keluar menemui suamiku, dan ia bercerita bahwa bayi kita masuk NICU. Sedih. Kami sedih. Tapi kami menguatkan hati, mudah-mudahan semua membaik. Jangan menyerah sekarang.
Akupun menjalani recovery di kamar inap yang berisi 2 bed. Pasangan disebelah kami menjalani cesar di hari yang sama, waktu yang lebih pagi. Mereka menjalani c-section normal, bayipun normal. Hari ke 2, bayi sudah bisa rawat gabung. Mendengar bayinya menangis, menggantikan popoknya, tidur bersama.
Dan kami disebelah menghibur diri, menguatkan hati, bersyukur atas 1 foto yang dikirimkan suster baik hati. Usia 1 hari bayiku harus transfuse darah. Sekecil itu, sekecil itu, dia berjuang sambal menangis. Aku ikut menangis. Jam demi jam terasa lama. “ada kabar ga ya dari NICU?” pertanyaan yang berulang, berulang, berulang. Hari ke 2 recoveryku, aku harus transfuse darah. Aku dipantau ketat, cek lab hampir setiap hari. Obat, obat dan obat, penghilang nyeri, anti alergi, darah, venofer, tak bisa kuingat lengkapnya. Yang kurasakan hanya kelelahan yang bahkan tak sempat terlepas. Tubuhku lebih ringan, tapi hatiku berat.
Hari demi hari, jam demi jam, suamiku bisa menjenguk bayi di NICU tapi tak bisa menggendong. Hingga akhirnya hari 3, aku dibolehkan ke NICU. Tertatih-tatih, hati ini berbuncah-buncah ketika berjalan menuju anakku. Sedih. Haru. Lega. Dia membaik, akupun membaik. Memeluknya, berbahagia bersama bertiga.
Yang kukira, sekarang semua akan baik-baik saja.
Tapi tidak.
Sepulang dari RS, tubuhku lebih baik. Namun sesak napas dan debaran jantung pasca operasi ternyata suatu pertanda. Pengecekan lab selanjutnya, D-Dimerku masih tinggi. Tidak bagus, mengingat aku bisa tumbang kapan saja. Dokter spesialis penyakit dalam mengarahkan suntik pengencer darah lagi, 2x sehari, disuntik sendiri, jarum yang lebih rumit. Untung ada ibuku. Kucoba kuatkan hati, biarlah lenganku saja jangan perutku.
Setelah 5 hari, control lagi, masih sama masih disuruh suntik lagi. Aku coba. Ditengah recovery yang masih berlanjut, kepanikan mengurus bayi, kebingungan mengatur susu formula dan DBF dan ASIP, trauma pasca operasi yang masih terngiang-ngiang di pelupuk mata, pandanganku yang kadang berpendar, eventually I fell down. Aku lelah disuntik. Aku hentikan. Pengecekan lab lagi, sudah boleh ganti ke obat minum, Alhamdulillah. Tapi wait.
Ibuku yang dokter sibuk mengumpulkan riwayat lab dan berkonsultasi dengan rekannya. Diagnosis terbaru adalah apa?
Auto Imun.
Setelah minggu ketiga usia bayiku, pegal-pegal ditubuhku hilang. Berganti.
Telapak tangan dan kakiku mengelupas. Pergelangan tangan dan kakiku ngilu, ngilu hingga tidak bisa berfungsi normal. Tangan kananku tidak bisa melakukan hal-hal mendasar sekalipun. Bisa, namun hanya 50%. Bahkan tangan kiriku harus membantu tangan kananku. Kesampingkan dulu DBF, mengangkat bayi saja hanya bisa kulakukan dengan lambat. Mungkin sulit menggambarkannya, mandi sulit, mengangkat botol air sulit, menulis seperti pincang, berlari tak bisa, berjingkat saja nyeri.
Auto Imun. Anti Phospholipid Syndromme. Anemia. Psoriasis.
Diagnosis ini membawaku pada dokter lain, imunologi. Dimana aku diberi rujukan cek lab lagi, 7 botol. Disertai dengan arahan untuk menjalani diet. Diet unggas, dan diet makanan lain untuk golongan darah B.
Ibu menyusui harus tenang hatinya, harus banyak makannya, harus ceria.
Apa yang harus kumakan ketika semua ASI booster menjadi makanan yang harus kuhindari? Apa yang harus kuberikan pada anakku ketika aku sebaiknya tidak memakan banyak makanan? Siapa yang harus aku selamatkan dahulu, aku atau anakku?
Mereka yang lain, mereka bisa. Mereka yang lain, mereka tidak terkena semua ini. Kenapa aku? Kenapa?
Dalam hatiku kujawab sendiri. Aku sudah terlalu lama hidup enak. Jika Allah SWT memberikan cobaan ini, maka ini sesuai kesanggupanku, sesuai rencana Nya.
Cerita ini masih berlanjut. Cerita ini masih akan panjang. Namun akan kulanjutkan nanti, ketika hatiku sudah terang..














