Dalam hidup, terkadang kita hanya dihadapkan pada dua pilihan : "Pilihan yang buruk" dan "Pilihan yang lebih buruk" tapi kita terpaksa harus memilih satu diantaranya. - Kei Elian dalam Halte Alam Baka

ellievsbear
macklin celebrini has autism
RMH
Keni
YOU ARE THE REASON
KIROKAZE
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Kiana Khansmith
🩵 avery cochrane 🩵
Monterey Bay Aquarium

Discoholic 🪩

pixel skylines
we're not kids anymore.
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
sheepfilms
cherry valley forever
Mike Driver

Love Begins
taylor price
he wasn't even looking at me and he found me
seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from Mexico
seen from India

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Mexico
seen from Russia
seen from Côte d’Ivoire

seen from United States

seen from United States
seen from Colombia
seen from Panama
@gurukalcer
Dalam hidup, terkadang kita hanya dihadapkan pada dua pilihan : "Pilihan yang buruk" dan "Pilihan yang lebih buruk" tapi kita terpaksa harus memilih satu diantaranya. - Kei Elian dalam Halte Alam Baka

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Beberapa hal lumrah yang terjadi saat pergantian Pimpinan
"Akhhh, cara-cara lama itu lagi, bosan sekali ku melihatnya" Albert mengucapkan itu sambil menghela nafas dan dengan wajah menahan kesal. "Ya sudah kalau begitu tidak usah dilihat Bert!" Gumamku acuh sambil masih membaca buku yang rencananya akan ku tamatkan hari ini.
Pergantian pimpinan merupakah hal yang tidak bisa terelakkan. Orang baru, sosok baru yang akan memimpin kami dalam kantor ini. Bukan hanya baru secara individunya, satu hal yang pasti, Beliau belum mengenal semua yang ada disini. Pernah ingat sebuah kutipan ini "Sejarah ditulis oleh pemenang, oh maaf, bukan pemenang. Sejarang ditulis oleh yang saat itu berkuasa. Gelar Pahlawan yang saat itu disematkan, bisa saja salah, bisa saja sosok yang saat itu diberikan Gelar Pahlawan merupakan seorang penghianat?" Maka negara kita pernah sekali takut pada Buku-buku yang ditulis oleh mereka yang sedang memperjuangkan kebebasan, kesetaraan, dan keadilan bagi semua rakyat Indonesia. Bukan kah betul semua itu termuat dalam '5 Baris Pancasila?' Lalu, siapa yang kita sebut sebagai pemenang saat pergantian pimpinan terjadi? Aku rasa, Pemenang yang dimaksud adalah individu yang berhasil melakukan pendekatan kepada pimpinan itu. Dia yang berhasil meyakinkan bahwa dari lensa matanya, adalah hal yang benar, tidak terbantah, dan satu-satunya sumber sejarah.
"Lalu kapan beresnya kantor ini?" Dalam keheningan tiba-tiba, Albert melempar pertanyaan itu. "Tenang saja Bert, 'Padi tumbuh tak berisik' tiba-tiba saja menguning dan siap untuk dipanen" Balasku sambil masih fokus membaca buku ini. "Padinya engga berisik, petaninya yang capek Bro!" Balas Albert dengan semangat yang membara. Disini aku masih fokus membaca buku, tanpa membalas ucapan Albert barusan, kemudian dia mulai bersuara lagi "Dalam tim sepak bola, Sebuah organisasi harus kompak, harus memainkan tugas sebagaimana perannya diberikan. Jika saja seorang gelandang bertahan berfikiran sebagai striker, akan hancur organisasi ini!"
Pikirku, betul juga. Jika saja pemimpin baru kami nanti memilih orang-orang yang ia percaya berdasarkan Intuisi, atau berdasarkan siapa yang berhasil lebih dulu mengambil hatinya. Maka bahaya lah masa depan kantor kita. Terlebih, aku sudah melihat Individu maupun Kelompok yang bertandang ke kantor pimpinan baru kami ini. Aku tidak bisa tidak berfikiran negatif akan hal itu, pasti mereka sedang melakukan gerakan-gerakan politik untuk membangun kepercayaan. Lagi-lagi, 'siapa kenal siapa' menjadi penentu utama dari nasib kantor kami. Kalau dikumpul-kumpulkan, sebenarnya banyak orang yang sudah jemu dengan hal-hal semacam ini. Maka mereka hanya berfikir ini hanyalah hal lumrah yang terjadi jika ada pergantian pimpinan. Banyaknya orang yang berfikirnya seperti ini sebenarnya bisa menjadi kekuatan untuk mengusung Ide Perubahan. Tapi sayang, darah muda yang menyala-nyala itu hanya dimiliki oleh Albert, sedangkan aku? Hanya menyimpan itu dalam kepala hingga bertarung dalam pikiranku sendiri. Selebihnya, aku hanya menghabiskan waktu untuk menunaikan kewajiban dan membaca buku di sela-sela waktu itu. Sampai akhirnya waktu itu tiba. Rapat Dinas Pertama yang dilaksanakan pada masa kepemimpinan baru ini. Seperti biasa, Albert tidak sabar menunggu kapan waktunya tanya jawab dibuka. Ketika tanya jawab itu sudah dibuka, dengan semangat, tanpa ragu, tangan dia sudah menjulang tinggi ke udara. Menandakan ia ingin melemparkan pertanyaan. Entah kenapa disini aku yang merasa takut ya? Aku yang khawatir pertanyaan apa yang akan dilontarkan Albert, sebab biasanya sebelum bertanya ia merefleksikannya terlebih dahulu kepadaku, tapi kali ini tidak. "Sudah sering Pak kantor ini berganti pimpinan. Namun, yang bertengger pada posisi-posisi strategis seperti sulit tersentuh. Bahasa bayi nya 'Tidak tergantikan' Apakah memungkinkan di kepemimpinan Bapak ini, reshuffle besar-besaran terjadi? Tapi sebelum menjawab itu, saya ingin bertanya dulu kepada bapak. Apakah bapak menggunakan intuisi atau data untuk mengambil kebijakan? Jika intuisi yang bapak gunakan, tentu saja sang pembuat sejarah lah yang memenangkannya, namun jika bapak ingin menggunakan data, saya menyarankan bapak menggunakan Asesmen terukur untuk memetakan potensi SDM yang ada di kantor ini sesuai dengan kebutuhan posisi-posisi yang akan diisi nantinya. Saya rasa pilihan kedua jauh lebih fair, dan akan menjadi sejarah baru bagi kantor ini juga pak. Pertama kalinya Seorang Pimpinan, menggunakan Asesmen terukur, bukan menggunaka bisikan-bisikan yang bapak terima belakangan ini. Terakhir, bapak bisa menjadi Pimpinan di kantor ini bukankah juga melewati Asesment berjenjang yang melelahkan itu?" Sontak sesepuh yang saat ini mengisi posisi strategis mengarahkan pandangannya kepada Albert, bisa kurasakan darah mendidih dalam nadi mereka. Aku juga merasakan tatapan itu bukan tatapan kagum, dahi mengeryit, alis terangkat sebelah. Itu tatapan ketakutan! Kali ini aku sepakat dengan Albert, terlepas apapun jawaban dari pimpinan kami. Kalau memang para sepuh itu masih layak menempati posisinya, harusnya mereka lolos Asesmen itu. Tapi jika Asesmen itu tidak terjadi, Aku dan Albert akan maju melakukan pergerakan untuk membawa Perubahan.
Menganotasi Buku
Dulu sekali, setiap gue membaca buku, gue tidak segan untuk melipat bagian sudut halaman yang gue rasa pada halaman tersebut gue menemukan sesuatu. Mungkin untuk beberapa orang, melipat bagian halaman sebuah buku merupakan sebuah tindakan psikopat, tapi tidak sedikit juga kok yang melakukan ini hehe. Sebab gue selalu percaya bahwa : buku bagus adalah buku bagus adalah buku bagus (nope, itu hanya kutipan sastra populer yang bisa kalian temukan berjelimetan di internet atau buku-buku sastra tua ) Menurut gue, buku bagus adalah buku yang dibaca, dan buku yang dibaca tidak mungkin tidak lusuh penampakannya. Maka dengan hati yang penuh, gue tanpa segan melipat-lipat bagian halaman buku jika gue menemukan sesuatu. Lipatan-lipatan itu dapat membantu gue untuk kembali ke halaman yang gue maksud jika suatu waktu gue membutuhkannya.
Seiring berjalannya waktu, gue merubah kebiasaan melipat halaman buku. Kini gue menggunakan bantuan sticky notes, sebuah kertas ber-lem ringan yang bisa ditempel tanpa merusak halaman buku tersebut. Kesini-sini, gue makin takjub ternyata sticky notes banyak juga jenisnya, ada yang berbentuk tidak wajar, ada yang transparan, dan ada yang berukuran cukup besar hingga bisa menutupi hampir sebagian halaman sebuah buku. Kenapa gue berhenti dari kebiasaan gue melipat buku? kayaknya gue sudah mulai menilai tindakan melipat buku adalah sebuah tindakan psikopat hehe. Bahkan jika di sebuah kesempatan gue lupa membawa sticky notes, gue berusaha menandai halaman buku itu dengan apa saja yang bisa gue temukan di tas gue. Simpelnya, gue menggunakan struk-struk yang gue kumpulkan setelah berbelanja di minimarket, atau struk bekas yang dimuntahkan sebuah mesin anjungan tunai mandiri. Sesampainya di kosan, gue segera menempelkan sticky notes yang gue punya untuk menggantikan ganjelan-ganjelan kertas struk bekas tadi.
Ternyata, selain menandai halaman buku dengan sticky notes, bookmark, kertas bekas, ataupun dengan melipatnya. Ada sebuah kegiatan yang menurut gue lebih mengerikan lagi. Kembali lagi kepada prinsip gue ‘Buku bagus adalah buku yang dibaca, dan buku yang dibaca tidak berpenampilan bagus (lusuh)’ beberapa orang di luar sana melakukan anotasi dengan cara yang sangat ekstrim. Mulai dari menandai sebuah baris menggunakan highlighter, pulpen, dan atau pensil. Hingga mencoret kata-kata yang mereka anggap perlu diganti, atau memberi catatan pada sebuah kalimat yang mereka temui entah untuk apa maksudnya. Intinya, kegiatan anotasi ekstrim ini, setidaknya untuk waktu sekarang, gue belum bisa menerimanya dengan hati maupun akal sehat. Terlalu Psikopat!
Lipatan buku itu, tempelan stickynotes, ataupun anotasi dengan benda bertinta : di dunia nyata bagaikan sebuah lagu, aroma parfum, atau suatu tempat. Dalam memori seorang manusia, sebuah lagu bisa dijadikan media untuk menyimpan kenangan. Sadar ataupun tidak sadar, memori itu tersimpan rapih di dalam ruang penyimpanan kepala manusia. Jika suatu saat, atau dalam waktu yang panjang lagu itu kembali terputar, bukan hal yang tidak mungkin, semua memori yang tersimpan sejak saat awal manusia itu mendengar lagu yang dimaksud akan ikut terpanggil. Begitu juga dengan aroma parfum dan suatu tempat yang pernah dikunjungi. Jika dalam waktu yang lama setelah tidak bersua dengan aroma parfum maupun suatu tempat itu, kemudian manusia itu berkesempatan mengunjunginya lagi, hal yang paling mungkin terjadi adalah memori tentang tempat itu akan terpanggil kembali. Entah kita akan mengingat dengan siapa kita dulu pernah mengunjungi tempat ini, dengan kendaraan apa, atau kejadian apa yang kita lalui di tempat itu.
Monolog Anekdot
Kadang suka lucu kalau lihat judul album sebuah band yang juga dipake untuk salah satu lagu di dalamnya.
Lucu aja, kayak gapunya ide lain untuk namain album atau lagu yang punya judul sama itu. Tepatnya kayak Blog ini, gue sendiri sedang melucui diri sendiri. Sedangkan gue bicara ketidaksesuaian itu tapi malah melakukannya. Biasalah Manusia.
Karena gue manusia seutuhnya, yang juga tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Lumrah kok, setidaknya engga merugikan orang banyak. Tapi menurut gue elu rugi, karena udah baca hal yang engga penting sampai di kalimat ini. Maaf ya kamu kena prank.
Aku, kamu, elo, gue. Engga konsisten? mau pake yang mana ya sesuka gue. Karena ini monolog, dan ini acara gue. Kalau engga lucu, terpaksa gue revisi kata kedua dari judul blog ini. Lho? kenapa gitu? Berarti bener, se-engga pentingnya tulisan ini. Perbendaharaan kata bahasa Indonesia elo masih cupu! Monolog, berbicara sendiri. Anekdot, cerita singkat yang lucu dan biasanya diambil dari kejadian sebenarnya.
Selamat datang di pertunjukkan ini, Terima Kasih Telah Berkunjung. Sabar, ini masih pembuka. Masih banyak tulisan engga penting lainnya. Walaupun ga penting, gue usahain untuk selalu nagih buat dibaca. Sekali lagi terima kasih.
Kalau kamu sudah merasa gila karena membaca ini, ingatlah seberapa lebih gilanya orang yang nulis.