Terserah padamu kini, karena sebelumnya aku sudah pernah dibuat sakit hati lebih dari ini. Namun, bila kamu berubah pikiran, mari berhenti membicarakan perasaan, ia taklebih dari sesuatu yang sementara, yang bisa membuat siapa saja bosan, termasuk kamu, berhenti bertanya aku cinta atau tidak, berhenti juga berkata maaf sudah mengecewakan, tapi mengulanginya berkali-kali. Kita mulai saja bicara tentang bagaimana caramu untuk tetap yakin dan bertanggungjawab atas segala sesuatu yang sudah kamu putuskan.
Tawaranku ini, semoga tidak kamu artikan macam-macam. Bagaimana pun, jika benar nantinya, kamu adalah imam: seseorang yang harus aku patuhi, seseorang yang juga aku percaya akan mampu melindungi. Maka, pada bagian sebelum perayaan, aku perlu memastikan, yang kupilih nanti adalah harus seseorang, adalah harus kamu yang taklagi banyak keraguan, dan bertanggungjawab pada setiap pilihan. Jika tidak, lebih baik jangan.
Takusah khawatir, selama denganmu aku belajar banyak hal. Sungguh jika kita tetap tidak bisa bersama, terima kasihku sudah seharusnya tidak terhingga. Hanya, setelah ini, pada siapa pun nanti, semoga kamu juga belajar sesuatu: bahwa salah satu musuh terbesar manusia adalah keraguan di dalam dirinya. Bahwa yang mampu mengalahkan itu adalah usaha untuk mau menguatkan hati, menerima baik dan buruk segala hal yang datang dari keputusannya.
Dengan segala bentuk ketidakpastian yang aku rasakan, banyak orang berkata tinggalkan. Tapi apa yang harus aku tinggalkan jika aku tidak sedang menunggu. Iya. Aku tidak menghitung ini sebagai penantian, melainkan masa-masa mendewasakan diri, mempersiapkan hati dan badan untuk soalan lain yang kuyakin lebih sulit. Bila di dalamnya masih ada cerita tentangmu, sungguh ia bukan rencanaku.
Akhirnya begini saja: semoga Allah senantiasa melindungimu, semoga Dia juga semakin menjauhkanmu dari iblis bernama ragu-ragu. Tolong sehat dan bahagia selalu, ada seseorang yang dengan segenap kealpaannya, tetap kuat mendo'akanmu. Jika tidak aku, pastilah seseorang yang lain.