2013, Desember.
Aku pernah berdiri cukup lama di koridor kampus, menatapmu dari jauh. Berharap sesuatu yang kamu inginkan usai masih ada sedikit harap untuk bisa kita rangkai lagi. Kamu menjadi sesuatu yang tidak bisa kuceritakan lantang kepada semua orang, hanya bisa kutulis di setiap malam yang gamang.
Tapi, semakin lama aku bertahan, kusadari satu hal, aku hanya sedang mecintai kemungkinan, bukan kepastian. Kamu yang memintaku untuk ajari cinta tapi justru memaksaku untuk menerima kekalahan. Ya, aku sudah kalah dengan egomu.
Lucu ya...
Aku kuliah di kota rantau dan mengenalmu, lalu jatuh hati dan setelahnya ditinggal tanpa penjelasan. Aneh. Satu kampus, satu jurusan, satu kelas, menjadi asing dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Saat itu, ketika aku berada di titik menyedihkan, aku merasa cukup. Cukup untuk berhenti, dan menjadi asing tidak semenakutkan itu. Akhirnya aku paham batasnya.
... dan sampai saat ini, kusadari bahwa kamu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku, bagaimana bisa, 2013 duniaku memiliki semua rasa. Dari bahagia hingga jurang air mata.
Aku pernah mencintai sedalam itu, dan aku juga mampu melepaskanmu sedalam itu.











