Mengapa Rasul ﷺ Menyifati Umat di Akhir Zaman Ini Bagai Buih di Lautan?
Aku mendengar hadits itu pertama kali saat di pesantren. Ketika suatu kali dalam sebuah kultum Ramadhan, seorang guru menjelaskan tema "Ahwal Al Alam Al Islami" —keadaan dunia Islam— lalu beliau membacakan hadits Rasul ﷺ,
"Hampir-hampir umat-umat (lain) akan saling memanggil untuk mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar memanggil satu sama lain untuk menghadapi hidangan mereka.”
Mendengar itu, para sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?”
Dan inilah jawaban Rasulullah ﷺ yang melampaui zamannya. Sebuah jawaban yang mungkin tidak dilihat langsung oleh para sahabat, namun disaksikan oleh umat Islam di zaman ini.
Nabi bersabda, "Bahkan, pada waktu itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di atas arus air bah.”
Seorang ulama muda, Syaikh Yusuf As Sayyid mencoba mentadabburi hadits tersebut dan mengatakan pada murid-muridnya,
"seakan-akan Rasulullah ﷺ sedang menggambarkan keadaan umat Islam tepat di zaman kita."
Jumlah yang banyak —sudah mencapai 2 miliar— namun populasi besar ini tidak bermakna di panggung perundingan bahkan medan laga. Sementara itu bangsa-bangsa lain saling memanggil, menjadikan kita seperti kue yang dibagi-bagi.
Ini terjadi sangat jelas mulai sejak tahun 1800-an, ketika Eropa melakukan gerakan kolonialisme modern. Ada istilah bernama "Scramble for Africa", dimana orang-orang Eropa mengadakan konferensi Berlin (1884–1885) di bawah Otto von Bismarck yang hasilnya: Afrika —dimana banyak muslimin di benua ini— dipetakan jadi koloni tanpa melibatkan orang Afrika.
Dan terjadilah, hampir 90% wilayah Afrika jatuh ke tangan Eropa dalam waktu ±30 tahun.
Asia pun begitu. Asia Selatan (India dan sekitarnya) mulai dicacah Inggris lewat British East India Company. Asia Tenggara dikeruk Belanda, Inggris, hingga Prancis. Cina pun ada masanya jadi rebutan lewat “Spheres of Influence” antara Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Jepang.
Dunia Islam? Dibagi-bagi seperti kue tart di perjanjian Sykes Pycot: Prancis mencaplok Lebanon, Suriah, dan Mosul, sementara Inggris menjajah Irak selatan, tengah Yordania dan Palestina.
Itu memang terjadi pada 1800-1900, namun luka dan efek badai yang mengoyak kita masih ada sampai 2025 ini.
Dan semalam aku bertanya-tanya: kenapa umat Islam bisa selemah ini? Bahkan kini panglima utama aktivis Global Sumud Flotilla adalah mereka dari Eropa. Angkatan Laut Italia turun tangan, Spanyol pun demikian. Sebagian umat Islam masih sibuk dengan egoisme masing-masing, apalagi pemimpin muslimin?
Ternyata jawabannya ada pada hadits yang sama, yang Rasulullah ﷺ sabdakan. Saat beliau menggambarkan umat seperti buih di air bah, Rasul melanjutkan,
"Dan sungguh Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dari musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan melemparkan dalam hati kalian Al wahn.” Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu Al Wahn?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "mencintai dunia, dan membenci kematian." (Shahih Abu Dawud)
"Kalian tahu apa yang terjadi pada buih? Apakah buih itu membawa air atau terbawa air?", tanya Syaikh Ahmad Yusuf pada murid-muridnya. Semuanya menjawab, "buih itu terbawa air."
Ya, itulah keadaan kita. Bukan aktor, tapi objek. Bukan pembawa narasi, tapi pembebek narasi. Bukan panglima media, tapi objek dan korban media. Bukan strong leader yang didengar Trump, Jinping dan Putin; melainkan makmum yang belum bisa berbuat banyak bagi sepotong akidah kita, Sang Baitul Maqdis!
Namun meski begitu, sebagaimana ku ulang berkali-kali, banyak ulama menyatakan bahwa Gaza sejak Thufan Al Aqsha telah membawa dunia pada era transformasi besar (زمن التحولات الكبرى). Buktinya? Penjajah tersingkap boroknya, normalisasi negara Arab dengan penjajah gagal, generasi muda di Barat justru banyak yang membela Palestina, dan gelombang pengakuan negara-negara "mantan penjajah" pada Palestina, menandai makin lemahnya Amerika.
Mereka mungkin bisa hancurkan kebun bunga kita, namun mereka tak akan mampu menunda datangnya musim semi!