Angin datang berbisik merdu
ketika mentari beranjak menerangi
bumi yang sekian lama termenung, tersipu
malu

roma★

blake kathryn
Game of Thrones Daily
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Product Placement
Three Goblin Art
we're not kids anymore.

❣ Chile in a Photography ❣
he wasn't even looking at me and he found me

@theartofmadeline

Love Begins

#extradirty
YOU ARE THE REASON
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always
𓃗
noise dept.

Kaledo Art
$LAYYYTER
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Ecuador
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Greece
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Costa Rica
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from Colombia

seen from Colombia
seen from Colombia

seen from Colombia
@faridkhuzairi
Angin datang berbisik merdu
ketika mentari beranjak menerangi
bumi yang sekian lama termenung, tersipu
malu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Cerpen: Jejak yang Hilang
Hujan turun dengan deras, membasahi tanah yang dulu hijau dan subur. Langit kelabu seolah turut meratapi nasib hutan yang kini hanya tersisa tanah retak dan pohon-pohon tumbang. Nara berdiri di tengah hamparan luas yang dulu merupakan tempat ia bermain, belajar, dan tumbuh dengan tawa yang tak terhitung jumlahnya.
Namun kini, semua berubah. Sungai kecil yang dulu mengalir jernih kini hanya menyisakan aliran air kecokelatan dan limbah dari tambang di atas bukit yang berbau busuk. Hutan yang dulu melindunginya dari panas kini tergantikan oleh gundukan tanah yang dikeruk tanpa belas kasihan. Burung-burung yang biasa berkicau pagi dan sore hari tak lagi ada. Sunyi.
Nara menarik napas panjang dan mengepalkan tangannya. "Kenapa harus begini?" bisiknya lirih. Ia tak akan tinggal diam.
Ia menunduk, mengambil segenggam tanah yang kini terasa asing. Ibunya dulu berkata, tanah adalah ibu bagi mereka, memberikan kehidupan bagi semua yang berpijak di atasnya. Tapi sekarang, ibu itu terluka. Dihancurkan oleh tangan-tangan yang hanya mengejar keuntungan.
Seorang pria tua mendekatinya perlahan. Pak Rendra, kakek yang dulu selalu mengajarkan Nara cara menanam bibit dan menjaga keseimbangan alam. Matanya sayu, penuh kepedihan yang sama.
“Kita sudah memperingatkan mereka, tapi tak ada yang mendengar,” ucapnya dengan suara bergetar.
Nara mengangguk. Ia masih ingat bagaimana dulu ia dan kakek Rendra berusaha memperjuangkan hutan ini, menulis petisi, bicara di depan orang-orang yang berkuasa, bahkan menanam pohon dengan tangan mereka sendiri. Tapi semuanya terasa sia-sia ketika alat-alat berat datang dan meratakan segalanya.
***
Dulu, setiap pagi Nara bangun dengan suara burung berkicau. Udara segar mengisi paru-parunya saat ia berlari kecil ke kebun belakang rumah. Ia dan kakek Rendra sering menghabiskan waktu di sana, menanam berbagai tanaman obat dan sayur-mayur. Kakek selalu berkata bahwa alam adalah sahabat manusia.
"Nara, kalau kita menjaga alam, alam juga akan menjaga kita," kata Pak Rendra suatu hari sambil menanam bibit jambu biji.
Nara yang masih kecil mengangguk penuh semangat. “Aku akan merawatnya dengan baik, Kek!”
Namun, semua berubah saat perusahaan tambang datang membawa janji-janji manis dua tahun lalu. "Warga akan mendapatkan pekerjaan. Ekonomi desa akan meningkat," kata para perwakilan perusahaan. Sebagian besar warga tergoda oleh janji-janji itu.
Nara dan keluarganya adalah yang menolak, menyadari bahwa tanah ini adalah sumber kehidupan mereka. Kakek Rendra sudah mengingatkan, “Mereka tidak datang untuk membantu kita. Mereka datang untuk mengambil.”
Dan benar saja, buldozer pertama datang menumbangkan hutan di perbukitan tanpa ampun. Perlahan-lahan alam mulai berubah, air sungai yang dulu bisa dipakai untuk minum mulai berubah warna, ikan-ikan mati mengambang. Hujan turun tak lagi menyuburkan, tetapi membawa lumpur ke sawah-sawah. Hewan-hewan yang biasa berkeliaran di sekitar desa menghilang satu per satu.
"Kita harus menghentikan mereka!" ujar Nara dalam rapat desa.
Namun, hanya sedikit yang berani melawan. Sebagian takut kehilangan pekerjaan, sebagian lainnya sudah mendapat uang kompensasi. Ayahnya adalah salah satu yang tetap teguh menolak, percaya bahwa tanah ini adalah warisan yang harus dijaga.
"Kita tidak bisa hanya diam," kata ayah Nara suatu malam, menatap langit yang mendung. "Kalau kita tidak berbuat sesuatu, generasi setelah kita tidak akan tahu bagaimana rasanya hidup dengan alam yang sehat.”
Suatu malam, ketukan keras menggema di pintu rumah mereka. "Pak Wira, kami hanya ingin bicara!" terdengar suara dari luar. Ketika ayah membuka pintu, beberapa pria berbadan besar berdiri di sana. "Jangan menghalangi kemajuan desa."
Malam itu, ayah Nara pergi. Tidak pernah kembali.
Ibu menangis tanpa suara. Warga yang dulu berdiri di sisi mereka mulai menjauh. "Jangan ikut campur, Nara," bisik seorang tetangga. "Ayahmu sudah cukup jadi pelajaran."
Tapi bagaimana mungkin Nara diam? Ia merasa tanah ini menangis bersamanya.
Nara dan beberapa warga mencoba melawan, mengumpulkan bukti-bukti: foto sungai yang tercemar, tanaman yang mati, anak-anak yang batuk tanpa henti. Ia mengunggahnya ke media sosial, berharap dunia melihat apa yang terjadi. Tapi, tak lama kemudian, akun-akunnya diretas. Beberapa pesan ancaman mulai berdatangan.
Namun, harapan datang dari seorang jurnalis muda bernama Ardi. "Aku ingin menulis tentang ini," katanya. Bersama Ardi, Nara membawa kasus ini ke media nasional.
Di saat yang sama, Nara dan beberapa warga mencoba melawan. Mereka mengumpulkan tanda tangan, melakukan aksi protes kecil, bahkan mendatangi kantor pemerintah daerah. Namun, banyak yang takut.
"Kita tidak bisa melawan orang-orang itu," kata seorang ibu.
Perusahaan tambang tidak tinggal diam.
Suatu malam, Nara pulang dan menemukan ibunya duduk di lantai, gemetar. Tangan wanita itu menggenggam secarik kertas.
"Mereka bilang aku akan kehilanganmu juga kalau kau terus menulis."
Hati Nara mencelos. Ia menatap ibunya, wanita yang telah kehilangan suaminya, kini terancam kehilangan putrinya juga.
Malam itu, Nara menangis diam-diam di kamarnya. Ia bertanya-tanya, apakah perjuangannya sepadan? Suara mereka tenggelam dalam gemuruh alat-alat berat yang terus bekerja.
***
Beberapa hari kemudian, hujan turun deras mengguyur desa, Nara terjaga oleh suara gemuruh yang mengerikan dari arah bukit. Ia berlari keluar, melihat ke arah bukit.
"Ibu! Ibu!" teriaknya.
Dari kejauhan, ia melihat tanah longsor bergerak cepa, menelan rumah-rumah di bawahnya. Rumah-rumah yang terletak di kaki bukit tertimbun, termasuk rumah milik keluarga Nara. Ayah dan ibunya tidak sempat menyelamatkan diri. Desa yang dulu indah kini berubah menjadi lautan lumpur.
Saat fajar tiba, kehancuran terlihat nyata. Banyak rumah rata dengan tanah. Nara selamat karena saat itu ia sedang menginap di rumah kakek Rendra. Namun teriakan kesedihan Nara memenuhi udara. Nara berlari ke bekas rumahnya, hanya menemukan puing-puing.
"Ibu! Ibu!" Ia menggali dengan tangan kosong, tapi tak ada jawaban.
Kehilangan itu merenggut separuh jiwanya. Ia tidak hanya kehilangan kedua orang tuanya, tetapi juga kehilangan tempat yang selama ini ia sebut rumah.
Tiga hari pencarian, hingga akhirnya mereka menemukan jasad ayah dan ibunya di antara lumpur. Tak bernyawa.
Sejak saat itu, hatinya dipenuhi amarah. Ia membenci mereka yang menghancurkan rumahnya, membenci pemerintah yang membiarkan ini terjadi, membenci dirinya sendiri karena merasa tidak cukup kuat untuk menghentikannya.
***
Namun di tengah keputusasaan, Pak Rendra terus membimbingnya. “Kita tidak bisa membalikkan waktu, Nak. Tapi kita bisa memastikan ini tidak terjadi lagi.”
Nara menatapnya, matanya basah. “Bagaimana, Kek? Kita sudah berusaha, tapi mereka tidak mendengar.”
“Kita hanya berjuang dengan cara yang sama, padahal ada banyak cara lain,” jawab Pak Rendra sambil tersenyum lemah.
Kata-kata itu membangunkan sesuatu dalam diri Nara. Ia menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya mengandalkan protes atau petisi. Mereka harus lebih pintar.
Nara mulai belajar lebih banyak tentang lingkungan, hukum, dan advokasi. Ia bergabung dengan komunitas lingkungan, mengikuti seminar, dan belajar bagaimana mengorganisir perlawanan yang lebih kuat.
Lima tahun berlalu sejak malam yang mengubah hidupnya. Kini, Nara kembali ke desanya bukan sebagai anak kecil yang tak berdaya, tetapi sebagai seorang pejuang lingkungan. Bersama komunitasnya, ia membawa bukti-bukti kerusakan yang terjadi akibat tambang ke meja hijau.
Perjuangan mereka tidak mudah. Perusahaan tambang memiliki kekuatan dan uang. Mereka mencoba membungkam Nara dengan ancaman, bahkan menawarkan uang dalam jumlah besar agar ia berhenti.
Namun, Nara tidak goyah. Baginya, uang tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang.
***
Pertarungan di pengadilan berlangsung sengit. Bukti-bukti yang diajukan Nara dan timnya kuat, tetapi pihak perusahaan memiliki pengacara-pengacara hebat yang berusaha mencari celah untuk membela diri.
Namun, dukungan masyarakat semakin besar. Media mulai meliput kasus ini, menyuarakan penderitaan warga yang terdampak. Petisi yang dulu nyaris gagal kini mendapat perhatian luas, pemerintah turun tangan, dan izin tambang akhirnya dicabut.
Hingga akhirnya, keputusan yang dinanti tiba.
Hakim mengetuk palu dan menyatakan bahwa perusahaan tambang bersalah atas kerusakan lingkungan dan pelanggaran izin eksplorasi. Mereka diwajibkan membayar ganti rugi dan menghentikan operasi mereka di wilayah tersebut.
Nara menutup matanya, air mata mengalir di pipinya. Ini bukan hanya tentang kemenangan di pengadilan, tetapi tentang kemenangan bagi mereka yang telah kehilangan rumah, kemenangan bagi alam yang hampir mati.
Tapi kemenangan ini terasa hampa. Rumah-rumah telah hancur. Orang-orang yang hilang tak bisa kembali. Sungai masih butuh waktu untuk sembuh.
"Ini bukan akhir," kata Ardi. "Ini awal dari perjuangan panjang."
Nara tahu itu benar.
***
Dengan kemenangan ini, perjuangan Nara belum berakhir. Ia tahu bahwa memperbaiki alam yang telah rusak membutuhkan waktu yang lama. Namun, ia tidak sendiri. Banyak orang kini peduli, banyak tangan yang siap bekerja sama.
Di tanah yang dulu gersang, Nara berdiri di atas tanah bekas longsor. Di tangannya, ia menggenggam bibit pohon yang dulu ditanam ayahnya.
“Ibu, Ayah, lihatlah… Aku tidak bisa mengembalikan rumah kita, tapi aku bisa memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang harus kehilangan rumah seperti aku.”
Langit yang tadinya kelabu kini mulai membiru. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Nara tersenyum mendengar suara burung berkicau lagi.
The End…
Kondro Istimewa Buatan Mama
Puisi: A. Muh. Farid Khuzairi
Aroma rindu menjelma kondro mahakarya Dari sudut dapur, semburat rempah bercerita Tentang daging empuk jejak tangan mama Melukis warisan keluarga
Mama mengaduk kondro dengan sendok kasihnya Warisan hati meresap dalam .... Yang bersenandung dengan waktu Kondro ini lebih dari sajian rindu
Kala tawa menari di atas meja Harmoni menyantap kondro istimewa Menghangatkan sukma pada sudut sunyi Menyatukan yang berjarak dan meretak
Terima kasih mama, di sudut waktu aroma menguar
Menyatukan cerita yang terpisah, mengikat rasa yang berbeda
Nostalgia bersemayam dalam setiap suapan
Makassar, 4 Februari 2025
Menulis Untuk Telinga.
Bukan kah kita menulis untuk melontarkan perasaan yang tak sempat terucapkan? Dan ucapan-ucapan yang mestinya terdengar di telinga para pembaca.
Menulis untuk telinga, ialah soal bagaimana menalar perasaan. Perasaan yang telah tercabik zaman, masih bisa membuat singa mengaung keras.
Menulis bukan hanya tentang kesenjangan antara harapan dan kenyataan, melainkan kenyataan yang diharapkan untuk sekarang dan yang akan datang.
Mendekati Kematian
Muhammad Farid Khuzairi
Ndik, jatuh cinta ibarat kunang-kunang di malam hari yang kerap hinggap di bunga melati
Di malam hari ia terbang bagai kerlap kerlip lampu taman
Meniadakan kemisterian ruang kuburan di malam itu.
Ndik, jatuh cinta dekat dengan kematian
Engkau dan aku cinta, setidaknya kematian tidak lama menjelang wafat
Tapi cinta kita lah yang hidup, walaupun jasad telah berkalang tanah.
Makassar, 24 Sept 2020

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming