Review Film The Imaginary ; Berimajinasi itu seharusnya tidak berhenti saat kamu dewasa!
Film yang baru saja dan sedang tayang di Japan Film Festival (JFF) ini menarik banget buat ditonton, tapi tenang bagi kamu yang belum nonton, bisa banget lihat filmnya di Netflix. Film the Imaginary dibuka dengan petualangan seorang Amanda dan teman imajinernya bernama Rudger yang sedang bermain di tumpukan salju-salju dan berakhir Rudger yang “digantung” di pohon natal oleh Yeti. Awalnya saya berpiikir ini adalah film fantasi anak-anak, namun ternyata film ini justru sangat dekat dengan kehidupan kita terutama anak-anak dan transisi menuju kedewasaan. Film yang diproduksi Studio Poco dimana digadang-gadang sebagai penerus studio Ghibli memberikan kesan yang sangat positif bagi saya selaku penonton.
Tulisan ini mengandung Spoiler!
The Imaginary berfokus pada seorang anak bernama Rudger, cowok yang diciptakan dari imajinasi tokoh utama perempuan bernama Amanda. Amanda diceritakan sebagai gadis yang ceria dan pintar di sekolahnya. Bahkan Ibu Amanda yang seorang single parent memberikan fasilitas bermain di kamar Amanda sehingga Amanda bisa bermain puas dengan imajinasinya.
Rudger sendiri disebut sebagai Imaginary dan hanya bisa dilihat oleh Amanda (sang pengimajinasi). Namun, Imaginary memiliki sebuah takdir kejam.
Seiring bertumbuh dewasa, Imajinary akan menghilang saat manusia tumbuh dewasa dan mulai mengedepankan rasionalitas dan logika. Hal ini berefek pada imajinary yang terlupakan. Tantangan lain adalah, Rudger juga harus menghadapi Tuan Bunting, pemburu Imaginary atau gambaran dari manusia penuh nafsu. Di tengah-tengah perburuan itu Rudger “hampir” dilupakan oleh Amanda karena koma yang dialami. Ini sangat relate dengan kehidupan kita dimana salah satu ketakutan terbesar manusia adalah “dilupakan” dan “tidak dianggap”.
Mulai Meragukan Diri Sendiri
Meskipun Imajinary adalah makhluk fantasi yang divisualisasikan oleh anak kecil, namun ternyata mereka juga tidak ingin dilupakan. Hal ini terjadi saat Rudger dan Amanda sedang berada pada umur dimana ia sedang sangat aktif bermain namun kesenangan tersebut harus berhenti karena Amanda yang mengalami koma dan kehilangan kesadarannya.
Rudger yang mulai meragukan dirinya dan mulai “dilupakan” akhirnya pergi ke Town Imaginary sebuah tempat berkumpulnya imaginery yang telah dilupakan oleh manusia. Town ini digambarkan seperti perpustakaan yang menyimpan banyak kenangan dari manusia dan berbagai peristiwa. Hal yang cukup mengambarkan bagaimana memory itu dikumpulkan. Disana Rudger bertemu dengan banyak teman dan memulai misi menyelamatkan Amanda dari manusia jahat bernama Bunting.
Setelah mengetahui kebenaran tentang Amanda dan mengetahui kenyataan bahwa Amanda tidak pernah berusaha untuk melupakan dirinya, ia berusaha mencari tahu keberadaan Amanda. Setelah menjelajah menjadi Imaginary teman Amanda, Rudger akhirnya mengetahui dimana keberadaan Amanda. Ia masih mengalami koma di Rumah Sakit.
Pada saat yang bersamaan Tuan Bunting bersama imaginarynya juga datang ke Rumah Sakit untuk mencari keberadaan Rudger, Tuan Bunting ingin memakan Rudger karena Rudger merupakan imaginary langka yang akan memberikan kekuatan pada dirinya.
Melihat hal tersebut, Amanda yang awalnya tidak sadarkan diritiba2-tiba terbangun dari koma dan mulai mengingat siapa Rudger. Singkat cerita ia akhirnya ingat dan bersama Rudger mengalahkan Tuan Bunting.
Pentingnya Teman Khayalan
Dalam suatu penelitian di tahun 2017 di ucl menyebutkan bahwa banyak sekali benefit jika anak menembangkan teman imajinasi atau khayalan. Beberapa diantaranya yakni:
- Kemampuan Menyelesaikan Masalah dan Manajemen Emosi
Saat berusia tooldler seorang anak biasanya sedang aktif belajar meregulasi emosi mereka, bagaimana ia merespon masalah dan berdamai dengan masalah tersebut dipelajari sekitar usia ini. Nah dengan memiki teman khayalan, anak bisa lebih mandiri serta mampu meregulasi emosinya dengan baik.
- Mengembangkan Pemikiran Kreatif
Kreatifitas sangat dibutuhkan oleh individu di masa modern saat ini. Kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah juga bergantung bagaimana ia mengembangkan imajinasinya. Khayalan anak-anak tidak perlu dibatasi dengan tontonan-tontonan di televisi atau media online lainnya, biarkan mereka menggunakan teman khayalannya untuk berimajinasi.
Sering kali, beberapa anak belum bisa bergaul dengan anak lain dengan cepat. Teman khayalan membantu anak untuk aktif meski bermain sendiri. Ia akan sibuk sendiri, kita sebagai orang tua cukup memberikan respon dan menyediakan alat-alat peraga permainan yang bisa mereka kembangkan sendiri.
- Tidak akan merasa Kesepian
Sering dari kita dewasa ini merasa kesepian meski berada di keramaian, kita merasa sepi dan tidak memiliki teman dalam melakukan banyak hal. Beberapa anak dalam penelitian menunjukkan bahwa dengan memiliki teman khayalan ia bisa mengelola hal tersebut dengan baik dan memiliki pravelansi tinggi untuk tidak merasa kesepian.
-Eksplorasi hubungan sosial
Seperti benefit ke 3 tentang anak dan relasi hubungan sosial, anak biasanya belum memahami apa itu hubungan sosial. Ia belum memahami apa itu izin, apa itu terima kasih apa itu menolong dan sebagainya. Dengan memiiki teman khayalan ia akan mengeksplorasi pemikiran-pemikiran tentang suatu hubungan itu sendiri.
mengatakan bahwa teman imajiner membantu anak meningkatkan daya fokus serta berperan penting dalam pembentukan tahap perkembangan kognitif anak. Anak pada prosesnya sedang mengembangkan banyak konsep dalam pikirannya dan akhirnya membuat teman imajiner sebagai rekan setimnya dalam menyelesaikan suatu masalah.
Sangat tidak apa-apa anak mengembangkan teman imajinasinya. Jika anak Anda bercerita tentang teman khayalannya, respon dengan ajukan pertanyaan. Dengan seperti itu anda bisa mempelajari lebih lanjut tentang anak anda, minatnya, dan apa yang mungkin dilakukan teman khayalan tersebut untuknya. Misalnya, apakah teman khayalannya mengajari mereka cara menjalin persahabatan, apa warna kesukaan temannya dan apa yang ia lakukan sekarang?
Anda juga ikut bermain bersama si kecil sehingga deteksi minat dan bakatnya lebih organik, gak perlu deh ikutan tes minat bakat yang realibilitasnya dipertanyakan itu. hehe
Sekian review film Ini the Imajinary Friend dari Studio Poco. Bagi kalian penggemar animasi-animasi dari studio Gibli wajib banget tonton film ini karena akan memanjakan mata serta diiringi dengan cerita yang menarik untuk diikuti sampai akhir. Selamat menonton!