For now, tomorrow, next 2 days, next week, next month, even next year, the three things that you can do are stay strong, be happy, and keep healthy :)
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
hello vonnie

Kiana Khansmith
he wasn't even looking at me and he found me
YOU ARE THE REASON
Sweet Seals For You, Always

titsay
Game of Thrones Daily
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

PR's Tumblrdome

Kaledo Art

Janaina Medeiros

blake kathryn
will byers stan first human second

⁂
wallacepolsom

❣ Chile in a Photography ❣
art blog(derogatory)
tumblr dot com

seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from Singapore
seen from Saudi Arabia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Singapore

seen from Canada
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Spain

seen from T1
@dinisuciyanti
For now, tomorrow, next 2 days, next week, next month, even next year, the three things that you can do are stay strong, be happy, and keep healthy :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tujuan menikah
Tadi sore dia bertanya padaku, "Tujuan kamu menikah apa?".
Responku "Hm, bukan tujuannya sih, lebih ke, nikahnya sama siapa, itu yang lebih penting".
"Ya mesti ada tujuan lah, kan kamu udah pengen nikah dari umur 25". "Bukan 25, tapi 22. Hm apa ya, mungkin tujuannya punya temen aja kali ya. Kalo dulu pas 22 mikirnya buat menyempurnakan separuh agama. Tapi alasan itu terlalu klise, berubah pas 27 keatas." "Masa cuma temen doang, temen doang gausah nikah lah". "Ya makanya yang penting kan nikahnya sama siapa. Lagian kemarin kan prioritasnya sekolah dulu, nikah pas ketemu yang cocok aja."
Saat menulis ini aku berpikir ulang. Oh iya, tujuanku menikah apa ya? Punya anak? Tentu bukan. Ya emang se-sederhana punya temen aja. Makanya yang penting nikahnya sama siapa, itu faktor utama untuk hidup bersama sebagai teman hidup.
Kalo tujuannya untuk bahagia? Enggak juga. Single masih bisa bahagia kok. Tapi masing-masing orang punya tujuan menikah sih, gak bisa disamain.
7 Juni 2026
Assalammualaikum Mbak
Mbak ijin sharing dan bertanya. usiaku saat ini pertengahan 32 ke 33. sampai saat in belum mnekah dan hilal joodoh belum terlihat :D. Sempat beberapa kali taaruf dan kenalam atau dikenalkan gagal dan berhenti. entah aku yang tidak mau. sana yang stop. atau pihak sana yang tidak berani maju untuk berkenalan padahal aku dan keluarga mempersilahkan. keluarga tidak mempermasalahkan pendidkan atau pekerjaan harus kuliahan atau pegawai kantoran. orang tua malah suka orang yang bertani. tapi syarat nya harus mau tinggal di sini. karna saat in ibu hanya sendiri dan anak hanya aku dan adik laki-laki sedangkan adik belum bisa membantu ibu. tinggal di sini bukan tinggal di rumah saat ini. tapi sudah ada calon rumah yang bisa ditingali kelak ketika aku menikah. aku seorang guru. namun kin au mmeilih ke sawah karna mamk sendiri ngurus sawah sejak bapak sakit dan bapak tidak ada. tahun lalu 3x dikenalkan sama orang berbeda. dan ketiganya hilang tanpa kita. jujur hopeless pasti hadir. Saran mbak bagaimana apa aku menerima saja setiap yang datang? jujur in yang tidak bisa aku butuh mengenal. dan aku ingin orng yang bisa mebimbing dan bisa diajak ker sama dan nyambung. apakeinginan ku terlalu tinggi
Untuk kondisi kamu, yang syaratnya harus tinggal di tempat mu, itu bisa aja. Berarti si pria mesti yang kerjanya yang flexible, entah itu WFH-based, entrepreneur, atau ya yang emang kerja disana.
Keinginan kamu enggak terlalu tinggi kok, masing-masing orang punya preferensi, dan itu valid.
Kamu udah tau kamu mau dan butuh yang kayak gimana: yang bisa membimbing, kerjasama, dan nyambung. Nah, tinggal tiga hal itu mesti jadi ceklis ketika ketemu orang yang potensial.
Yang paling penting lagi, definisi nikah buat kamu itu apa? apa yang penting nikah? atau nikah dengan orang yang kamu ingin?
Kalau cuma sekedar nikah, demi membahagiakan ortu dan demi mengurangi tekanan sosial, ya bisa aja. Tapi kamunya mau gak kaya gitu? Apakah nikah sepenting itu sampai menggadaikan kehidupan dan kebahagiaan kamu?
Semoga menjawab ya!
31 Mei 2026
Assalamualaikum teh, sebelumnya minal aidzin wal faidzin. Mau minta tips dong teh saving money gaji 4jt, biaya kos bulanan 500, transport pulang pergi 500 itu yg rutin nya. Supaya bisa punya akun sekuritas kayak teteh gimana dengan income segitu teh? Soalnya kayak gaji nya tuh habis untuk nutup tiap bulan nya aja 🥹
Wah, kalo gaji 4jt, single, in this economy? Ngepas dan masi waras aja udah syukur banget.
500 kosan. 500 transport. sisa 3jt? mungkin bisa sisa 500k kali ya buat nabung, itu pun pasti udah frugal living.
Dicoba sisihin di awal buat nabung, tapi jangan cuma di tabungan yah. Mesti mulai convert ke yang lain, misal ke emas, valas, reksadana, obligasi, atau saham, biar uangmu gak abis kena inflasi.
Dan katanya yang paling penting, gimana caranya nambah income. Ya, kalo bisa nambah income dengan side hustle silahkan, asal jangan sampe tipes aja. Jangan juga bikin performance di kerjaan utama jadi turun. Inget sekarang tuh banyak yang cari kerja! Semakin kompetitif. Ini semua gara-gara negara sakit jiwa.
Semoga membantu.
15 Mei 2026
Punya anak di negara sakjiw?
Tadi muncul tautan di x soal ibu gen X yang punya dua anak, kuliah dan SMP. Dia nyiapin anaknya les coding, bisa 3 bahasa internasional, dan ngenalin anak-anaknya sama kolega sang ibu di negara lain. Buat apa? buat persiapan anak-anaknya pergi dari negara sakjiw ini.
Gila ya, negara sakjiw ini ga ada bikin bangganya. Kalo ngikutin berita seminggu ini, jadinya malah stress, ditambah harga-harga pada naik. Ke pasar aja belanja minimal 50ribu, itupun ga dapet banyak. Terus itu para pejabut malah diem-diem aja, malah pelesir mulu bukannya ngurusin negara.
Untuk aku yang alhamdulillah uangku cukup, aku juga merasa apa-apa mahal. Gimana orang yang pas-pas-an? gila sih. Negara sakjiw ini udah gak layak ditempatin.
Is it worth having kids in this country? maybe not.
15 Mei 2026

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Urusan anak itu ya urusan Allah. Segimana pun mau program ina ina kalo belum dititipin ya ga akan bisa". Untuk semua hal sih, bukan cuma anak.
Semalam aku ngobrol sama dia, soal kolega ku yang sangat bersemangat mau punya anak, yang malah jadinya stres (?). Padahal banyak cerita yang udah-udah, semakin program malah semakin gak jadi (?).
Sebagai yang menunda punya anak, aku jadinya kasihan. Ya walaupun kolega ku tidak perlu dikasihani. Maksudnya, kasihan karna sampe stress gitu. Kenapa mesti sampe stress? Yaudah santai aja, ucap orang yang menunda punya anak.
Aku gak mau di tahap stress untuk punya anak. Jujur, sekarang pusingnya untuk sekolah aja lah. Dan dari awal juga udah declare gak mau program ina inu atau terlalu ngoyo untuk punya anak. Dan lebih ke, ngurus diri sendiri aja masih berantakan, ini pake ngurusin anak? Takut gak keurus 🙏 ya berarti emang lu belum siap punya anak din! Ya emang belum mau 🙏
10 Mei 2026
Memaksakan menikah?
Enggak pernah menyangka aku menikah di usia 33, mepet ke 34. Yang dulu pas kuliah s1 terkenal "si ingin nikah muda", "wisuda didampingi suami", eh bablas sampe 33.
Enggak pernah menyangka menikah di usia 33, yang emang dari 30 awal udah don't expect too much. Ya tetep usaha, tapi ga begitu ngoyo sampe sengsara. Karna, ya mungkin udah siap-siap juga kalo misal masih belum menikah sampai usia mendekati 40. Untuk apa menikah dengan orang yang kita tidak mau? mending liburan hepi-hepi.
Kemarin dia bertanya padaku, "gimana kalo populasi laki-laki berkualitas tinggal dikit, sementara wanita usia 30an nya lebih banyak?".
Aku jawab, "ya gak masalah, perempuan 30an tuh gak terlalu memaksakan mesti nikah, ngapain kalo sama orang yang salah? Mereka bisa mencari kebahagiaan sendiri. Gak perlu dikasihanin, mereka bukan rakyat jelata".
Aku berkata seperti itu dengan pov ku sebagai 30an, lebih tepatnya single sampai usia 32 tahun. Teman-temanku yang usianya lebih dariku yang masih single? Banyak. Apa mereka ingin menikah? Sangat. Tapi apakah mereka memaksakan asal menikah? Enggak.
4 Mei 2026
Hai, salam kenal, aku linda
Mau tanya donk ka, siapa tau bisa sharing. Gimana ka caranya dapetin suami? Ko aku di usia 30th ini buntu sekali ya, rasanya udah hopeless
Hai Linda,
Usia 30+ emang penuh tekanan di negara patriarki ini. Tekanan dari ortu, keluarga dekat, dan juga lingkungan sekitar.
Jujur, aku mungkin udah nyobain hampir semua jalur. Dijodohin berkali-kali jalur ortu, minta dikenalin temen dan ngasi cv taaruf, confess ke orang yang ku pikir potensial, main dating apps, pacaran walau putus, ikut kelas taaruf talk nya Salman ITB, ikut biru jodoh di sosial media, sampai kalo pergi-pergi diusahain touch up cakep siapa tau ketemu jodoh di transum/stasiun/cafe/dan tempat lainnya.
Tentu capek. Lelah. Belum lagi ribut nangis sama ortu. Sampe di tahap pasrah, dan yaudahlah yang penting punya duit, daripada miskin kan, lebih sengsara.
Buatku, ternyata di fase not expect too much, pasrah, gak kepikiran nikah, itu malah fase dimana aku ketemu suamiku. Temen-temenku tau banget aku yang medioker kalo ngebahas kapan nikah. Taunya aku yang nikah duluan, di usia 33, who knows.
Aku tau banget kalo aku tuh kayaknya perlu "dijebak" buat kenalan orang baru. Perlu yang unexpected gitu. Karna kalo di awal udah tau tujuannya untuk menikah, aku jadi banyak filter, banyak milih, gak natural, buatku.
Nah, pas ketemu suamiku, itu jalur yang unexpected. Berawal dari aku posting biro jodoh di twitter. Dia ngeliat postinganku, terus follow. Aku follback. Dia nanya les ielts, aku jawab sekenanya. Sampai kita mock up speaking bareng, sampai ke nikah.
Di awal niatku dan dia adalah belajar bareng aja. Ga ada tuh kepikiran nikah. Ya mengalir natural ajah. Dan it works.
Pengalaman orang mungkin beda-beda. Tapi buatku ya itu.
Aku akan bilang, usia 30 itu yang penting sehat, mindful, dan kaya. Kalo udah 3 hal itu, urusan jodoh bisa ntar aja, santay aja, ntar juga dateng, walau gatau kapan. Hepi hepi biar orang yang ngeliat kamu ikutan hepi.
Semonga menjawab!
3 Mei 2026
The feeling of being annoying person
Was it too much? Maybe
Im step back
Just back to the version of me,
Yapping on twitter
Halo kak Dini, aku perempuan 30th aku punya rencana menikah debgan laki-laki yang menurut aku udah oke lah buat aku dari cara berpikir, memutuskan suatu persoalan dan tidak merokok. Tapi ada 1 kakakku yang ga setuju sama dia, padahal ibu dan keluarga yang lain setuju. Yang buat aku sedih kakaku gamau mendapat fakta dari keluarga yang udah ketemu langsung, malah percaya sama orang pinter aka ustad2 gitu. Kita mempertimbangkan keputusan kakakku karena dia tulang punggung keluarga yang merawat dan membiayai kita semasa sekolah dulu. Jadi keluarga yang lain belum berani memutuskan apa2 juga. Menurut kak Din sebagai seseorang yang sudah menikah gimana pendapat kak Din? Apakah aku melepaskannya saja?
Halo, wah selamat ya sudah menemukan calon!
Hm, ini agak tricky yah. Aku akan memberi beberapa pov berdasar opsi asumsi.
1. Kakak mu adalah wali nikah. Berarti, mau enggak mau, mesti meyakinkan kakak mu dulu. Kalo udah berbagai cara masih gak dapet restu? Cari yang lain.
2. Kakak mu bukan wali nikah. Ini level restunya masih bisa ditolerir.
Dari penjelasan kamu, kakak mu belum ketemu langsung sama calon ya? Coba ajak ketemu. Kalo masih ga mau, dijebak aja. Misal, calon mu pura-pura ngajak ngobrol pas lagi di mesjid. Kamu dan calon harus usaha bareng. Jangan kamu yang mikir sendiri.
Kakak mu cukup "islami" ya? Makanya percaya ustad/orang pinter? Kalau gitu, mesti dilawan pake orang pinter juga. Cari ustad yang sama kayak "aliran" kakak mu. Cari konten terkait pernikahan, restu, dll. Kirim ke kakak mu, biar sadar, tidak boleh melarang adiknya menikah haha.
Atau bisa juga datengin "orang pinter lain" bareng kakak mu. Tanya soal kamu dan calon. Biar kakak mu punya pov lain soal "orang pinter".
Tapi sebelum usaha-usaha itu, pastikan kamu dan kakak mu sudah ngobrol berdua, langsung. Kalo perlu sampe nangis-nangis dah, biar berasa "ini loh calon yang ku inginkaaannnnn". Biar kakak mu luluh.
Kalau sudah semua dilakukan. Masih belum luluh juga? Ya, tadi. Kalau bukan wali, kamu bisa saja menikah, dengan konsekuensi yang ada.
Semoga menemukan jalan yang terbaik ya! Aaminnnn

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kriteria
Ada seorang teman menjelang 30 yang ingin segera menikah (seperti perempuan single di negara patriarki pada umumnya), yang "kriteria" nya cukup spesifik.
Lalu aku melihat diriku di umur yang sama, beberapa tahun lalu, kriteriaku seperti apa?
Tetap dalam "3 deal breakers" utama, sisanya bisa menyesuaikan.
Beragama islam
Tidak merokok
Support aku sekolah s3
Ketiga itu syarat utama. Sisanya tinggal kompromi.
Pernah dulu temanku bertanya, bagaimana kalau ada kandidat dari Madura, yang tidak pernah rantau seumur hidupnya? Oh, No, aku menolak. Pertimbangan "tidak pernah rantau" itu jadi patokan.
Lalu ada kandidat dari mamaku. Aku tidak tahu poin 2 dan 3 terpenuhi atau tidak. Tapi, pas ketemu langsung dan ngobrol, "kok maunya ditanya terus?". Cakep sih, tapi kalo gak bisa ngomong buat apa. Skip.
Dan kandidat lain dari mamaku, yang merokok, auto ku tolak.
Dulu, 2021, rekan sejawat bapak-bapak yang sudah menikah puluhan tahun, pas aku bilang "aku mau cari suami yang bisa ikut aku s3 di LN". Kata mereka, "wah susah cari yang kayak gitu".
Aku masih dalam imajinasi ku, bahwa ada orang yang mau mendampingi aku sekolah di luar. Ya, kalopun mesti LDM sementara, bisa lah.
Ternyata 3-4 tahun kemudian. Allah berkehendak aku sekolah disini, sepaket dengan suami yang bersedia support. Aku memang tidak LDM karna aku yang stay di luar, tapi suamiku yang di luar, untuk sementara wkwk. Terus dia pernah bilang, kalau aku mau kerja di luar, dia akan ikut pindah. Hm.
17 Maret 2026
It's my 14 year anniversary on Tumblr 🥳
Wow ✨✨✨
Semoga sehat
Kapan hari aku menemukan postingan yang menceritakan bahwa suaminya meninggal pasca 1-2 tahun pernikahan. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan. Sekarang ia hidup sebagai ibu tunggal, dengan anaknya yang masih kecil.
Kemudian aku mengingat, temanku yang menikah 4th lalu, suaminya meninggal. Kemarin dia datang ke pernikahanku, membawa kado, bertuliskan namanya dan almarhum suaminya.
Lalu di setiap doaku sekarang, yang utama, yang paling pertama kuucapkan adalah, "semoga aku dan mas diberikan kesehatan, menua bersama, sampai jadi debu". Hal yang paling pertama, paling dasar dalam hidup, kesehatan.
Semoga selalu sehat ya Mas, dan menua bersamaku. Aamiin.
3 Maret 2026
teh boleh minta pendapat dari case yg ku alami? aku kerja di bogor jauh dari orangtua, ada momen dimana kabar duka berdatangan dari kerabat dan itu jadi bikin aku mikir "kalau pas aku jauh gini, mama sama bapak gimana ya karna mereka kan semakin menua ya, suka takut gitu teh. kayak aku belum siap ditinggalin"
kadang kepikiran apa aku cari kerja yg deket aja dari keluarga, keputusan yg bijak gak teh kalau sembari aku disini sambil cari2? tapi kalau belum dapet gapapa yg penting pulang dulu, deket sama orangtua. disana nanti ikhtiar lagi sambil cari2 barangkali rezeki.
Sebetulnya hal ini tergantung realitas dan prioritas yang sedang kamu jalani seperti apa:
Kalau memang "uang bukan masalah", sudah merasa cukup dengan kondisi finansial yang ada, atau tipikal pekerjaan yang salary nya tidak bergantung dimana kamu bekerja, go ahead, back to home.
Tapi, kalau belum stabil-stabil banget, resign in this economy? apalagi kalau lokasi rumah di kabupaten, yakin? apakah dekat dengan orangtua bisa menjamin ketenangan batin, jika kondisi keuangan tidak se-legit di kota? Belum lagi kalau orangtua perlu bantuan uang karna sudah mulai sakit-sakitan, sepertinya lebih realistis kamu fokus bekerja, mengirim uang, dan sempatkan pulang entah berapa bulan sekali.
Satu lagi. People come and go. Manusia adalah hamba-Nya. Suatu saat akan kembali kepada-Nya. Siap gak siap. Hari itu akan datang. Ditinggal orangtua itu menyakitkan. Tapi pasti akan terlewati.
3 Maret 2026
Punya anak
Babak baru setelah pencarian pasangan dan menikah. Punya anak!
Sebelum komitmen bersama, aku memberitahu pasanganku soal kemungkinanku punya anak itu 30-50%, karna aku punya riwayat lesi endometriosis. Aku pun bilang, kalau dia mau banget punya anak, sampai harus promal-promil, jangan nikah sama aku. Usia ku sudah 30+, ditambah riwayat endometriosis, dan aku mau lanjut sekolah. Aku ga mau nambah pusing nambah beban hidup dengan program hamil.
Lalu tibalah aku menikah. Kami berdua sepakat untuk menunda. Karna aku sedang sekolah di tahun pertama yang krusial, secara finansial juga belum siap. Jadi santay dulu.
Mungkin benar adanya, fase ku sekarang fase yang bisa "chill", karna dari awal sudah tahu bahwa kemungkinan aku hamil rendah, jadi memang benar-benar dibawa santay, tidak pusing, tidak begitu tertekan dengan pertanyaan keluarga dekat. Bahkan kemarin-kemarin aku bisa lantang bilang "nunda dulu" ke mereka yang bertanya kapan atau sekedar berdoa semoga diberi anak segera.
Apakah aku mau punya anak? masih dalam pertimbangan. Ada kalanya ingin, ada kalanya "ah miara anabul aja lah". Tapi kalau melihat pasanganku, sepertinya dia ingin punya anak. Tapi, balik lagi, yang hamil siapa bung? wkwk. Yah lihat nanti yah.
Kita emang engga bisa memaksa orang untuk santay dalam hal yang menjadi beban pikirannya. Ya, pikiran-pikiran dia, ngapa gua yang repot, haha.
Seperti aku yang dulu begitu pusing dengan beasiswa, tapi temanku tidak. Begitu pun dengan teman ku yang pusing stress promil, tapi aku tidak. Choose your own headache.
25 Februari 2026

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ibadah seumur hidup, katanya.
Merawatnya susah.
Komprominya banyak.
Semoga diluaskan kesabarannya.
Aku juga pinter
Menjadi seorang perempuan single dengan lulusan s2, seringnya membuat laki-laki minder. True. Itu yang aku alami.
Apalagi tau aku mau s3, tambah-tambah lah insekyur nya. Apa itu membuatku delay sekolah? Tentu tidak. Untuk apa aku menggadaikan keinginanku untuk bersekolah demi seorang pria yang insekyur? Big NO.
Lalu datanglah seseorang, tahun lalu. Dia sangat tau aku akan lanjut sekolah, dia telah mengamati twitku yang desperate mencari beasiswa berbulan-bulan sebelum kami berinteraksi.
Aku penasaran. Aku bertanya, sebelum kami berkomitmen. "Kok kamu gak minder sama pendidikan ku? Biasanya pada minder sih".
Lalu jawabannya singkat padat bermartabat.
Why? Aku juga pinter.
Ya. Mungkin karna sebelum-sebelumnya aku bertemu dengan yang kurang pede saja. Terlepas dari backgroud pendidikan mereka.
16 Februari 2026