Berhenti Menderita karena Skenario yang Hanya Ada di Kepala
"Kita melangkah terlalu jauh dalam berpikir (berprasangka) dan lupa bahwa takdir telah tertulis."
— Mahmoud Darwish
Pikiran adalah anugerah terindah yang Allah berikan agar manusia dapat merencanakan, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Namun, ketika pikiran dibiarkan berjalan tanpa kendali, ia dapat berubah menjadi sumber kecemasan yang mematikan. Kita mulai membayangkan berbagai kemungkinan buruk, mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, bahkan menderita berkali-kali lipat karena skenario yang sebenarnya hanya ada di dalam kepala kita sendiri.
"Ketahuilah, apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah melewatkanmu."
— Hadits Riwayat Tirmidzi
Penyair Mahmoud Darwish mengingatkan sebuah tamparan keras: ada saatnya manusia melangkah terlalu jauh dalam berpikir hingga melupakan satu kenyataan penting bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita. Kita boleh merencanakan, tetapi hasil akhirnya tetap mutlak berada dalam ketetapan Allah. Ketika hati melupakan hakikat ini, pikiran akan terus berputar-putar mencari kepastian fana yang memang tidak pernah bisa dimiliki oleh manusia.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
— QS. Al-Baqarah: 216
Para sufi membedakan secara tegas antara berpikir dan berprasangka. Berpikir adalah menggunakan akal untuk berusaha sebaik mungkin, sedangkan berprasangka adalah membiarkan pikiran dipenuhi ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Yang pertama melahirkan ikhtiar yang produktif, sedangkan yang kedua hanya melahirkan kegelisahan yang melelahkan.
Banyak orang kehilangan ketenangan bukan karena kenyataan pahit yang sedang mereka hadapi hari ini, melainkan karena bayangan menyeramkan tentang masa depan. Mereka terus mengulang-ulang pertanyaan jebakan: "Bagaimana jika gagal?", "Bagaimana jika ditolak?", "Bagaimana jika semuanya hancur?" Padahal, mereka sedang menghabiskan energi berharga untuk menghadapi sesuatu yang belum tentu Allah takdirkan terjadi.
"Istirahatkan dirimu dari tadbir (mengatur-atur urusanmu). Apa yang sudah dijamin oleh selainmu (Allah) untukmu, tidak usah engkau sibuk ikut memikirkannya."
— Ibnu Athaillah al-Iskandari, Kitab Al-Hikam
Islam sama sekali tidak mengajarkan kita untuk pasrah buta tanpa usaha. Justru, seorang mukmin sejati diperintahkan untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, memeras otak, bekerja keras, lalu bertawakal. Tawakal bukanlah berhenti berusaha, melainkan berhenti merasa bahwa segala sesuatu harus berjalan sesuai ego kita agar hidup bisa terasa tenang.
Rezeki, umur, jodoh, dan hasil akhir dari setiap peluh yang kita teteskan berada dalam ilmu dan kehendak-Nya. Tugas mutlak kita adalah melakukan yang terbaik hari ini, bukan mengambil alih tugas Tuhan untuk mengendalikan hari esok.
Bukan berarti kita tidak boleh mempersiapkan masa depan. Perencanaan yang matang adalah bagian dari ibadah ikhtiar. Namun, setelah semua usaha maksimal dilakukan, jangan biarkan pikiran terus memutar kemungkinan-kemungkinan liar yang hanya menguras energi batin. Ada batas tegas di mana akal harus tahu kapan harus berhenti bekerja, lalu membiarkan hati mulai berserah total.
Orang yang benar-benar bertawakal tetaplah manusia biasa—ia bisa merasa sedih, takut, atau kecewa. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu. Ia memiliki jangkar keyakinan bahwa apa pun yang Allah tetapkan, meskipun terasa perih dan tidak sesuai harapan, pasti mengandung sejuta hikmah yang mungkin baru dipahaminya di kemudian hari.
"Suku cadang ketenangan itu bernama ridha terhadap takdir."
— Mutiara Hikmah
Pada akhirnya, hidup kita tidak akan pernah menjadi tenang karena kita berhasil menebak atau mengetahui masa depan. Hidup menjadi tenang karena kita percaya kepada Dzat yang telah mengatur masa depan itu. Ketika keyakinanmu kepada Allah jauh lebih besar daripada ketakutanmu kepada kemungkinan-kemungkinan buruk, saat itulah hatimu akan menemukan tempat terbaiknya untuk beristirahat.
Sebab, cetak biru takdir telah berada dalam ilmu Allah yang maha luas sejak sebelum kita dilahirkan. Yang belum tertulis hanyalah bagaimana caramu menjalani setiap langkah yang tersisa: apakah dengan hati yang terus dicekik kecemasan, atau dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh disertai tawakal yang menenangkan?