Biar Ragu Asal Tak Buta
Ada hari-hari di mana langkahku gemetar.
Bukan karena jalan di depanku curam, tapi karena aku tak tahu apakah yang kutuju benar-benar ada.
Mereka bilang, “Percaya saja, jalani saja.” Tapi mereka tak pernah bercerita bagaimana rasanya tidur dengan dada yang sesak oleh kemungkinan-kemungkinan yang tak kunjung nyata.
Aku pernah merapal mantra, "Kalau hari ini gagal, besok bisa diulang." Tapi siapa yang mau berulang terus di tempat yang sama? Siapa yang tak lelah menukar mimpi dengan napas panjang yang hampa?
Keraguan itu menempel di punggungku. Kadang kubopong, kadang kupeluk, karena kalau kutendang, aku pun kehilangan alasan untuk terus bertanya.
Tapi mungkin keraguan pun tak selalu jadi musuh. Kadang ia penunjuk arah, kadang ia penjara, kadang ia guru yang membisikkan, “Biar lambat, asal kau tak buta.”
Dan malam ini, sebelum mata terpejam, aku ingin bilang pada diriku, "Terima kasih sudah tetap berjalan, meski tak selalu tahu akan sampai di mana."













