Seringkali kita terjebak pada frasa “rumput tetangga lebih hijau” ketika kita kehilangan kepercayaan diri. Atau sesederhana kita lupa bersyukur dalam menjalani kehidupan berumah tangga sendiri.
Ada momen dimana kita merasa bahwa kondisi dan situasi yang kita alami saat ini tidak cukup ideal, tidak cukup baik, tidak seperti kebanyakan orang.
Kita lupa ‘menengok diri kita’, kita sedang terlalu banyak melihat ‘rumah orang lain’. Menerka-nerka bagaimana enaknya kehidupan mereka, nyamannya fasilitas yang tersedia untuk menunjang segala hajat hidupnya.
Padahal, kalau kita berbalik kondisi, belum tentu kita sanggup atau mau ada diposisi mereka. Sebab yang kita lihat, hanya sekian persennya saja. Unggahan mereka di media sosial hanya menggambarkan apa-apa yang sudah mereka kurasi—sebagaimana kita juga melakukannya bukan?
Segala yang buruk, menyedihkan, suram, mereka tentu akan sembunyikan. Buat apa membagi-bagi noda dan cacat pada khalayak ramai? Kita juga tidak ingin bukan kalau orang-orang memperhatikan apa-apa yang ingin kita simpan sendiri saja?
Kalau kita tahu 100% kehidupannya, belum tentu kita mau jadi mereka kan? Malah, barangkali kehidupan kita saat ini jauh lebih baik dari mereka. Hanya saja kita tidak menyadarinya.
Kita terlalu sibuk menelisik keluar sampai lupa untuk meng-highlight banyak hal menarik dalam hidup kita.
Ya kadang kita perlu penyadaran lagi, perlu dibangunkan berkali-kali. Apa yang kita miliki saat ini sudah yang terbaik yang Allah berikan.
Kalaulah ternyata kita masih menganggap bahwa ‘ini bukan hidup versi terbaik yang kuinginkan’, masih berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ideal serta menurut standar kita masing-masing, tidak apa-apa.
Rasa syukur tetap perlu dihadirkan. Supaya kita tidak lupa dengan nikmat-nikmat sederhana yang sudah Allah berikan.
Kalau kita tidak bisa mensyukuri nikmat yang sedikit, bagaimana kita akan mampu mensyukuri nikmatNya yang melimpah nanti? :’)
Tangerang, 10 Juni 2024 | 21.33 WIB