Bunyi-bunyian yang kekal abadi, hanya sanggup bersandar termangu di depan terasmu
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
art blog(derogatory)
Claire Keane
noise dept.
AnasAbdin
Xuebing Du
Monterey Bay Aquarium

Andulka

oozey mess
macklin celebrini has autism
d e v o n
almost home
$LAYYYTER

⁂

RMH

★
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Discoholic 🪩

seen from Malaysia
seen from Romania
seen from Tanzania
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from New Zealand

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
seen from France

seen from Germany
seen from Italy

seen from Switzerland
seen from Belgium
@dkhapsari
Bunyi-bunyian yang kekal abadi, hanya sanggup bersandar termangu di depan terasmu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di sudut kamar yang pemalu hanya terdengar suara jantung berdetak.
Derap kaki tertimpa sunyi, meredam akal yang kian liar hendak menyandera realita.
Nafas yang kau bawa menyisiri alam pikirku. Tidak kah kau tau bahwa ini tidak sopan?
Tapi ia datang bukan untuk menang, jawabmu.
Hening.
Lama kita membeku.
Berkali-kali aku menyerahkan diri, begitu pula kali ini. Karena pada waktu yang jemu, ia akan berlalu bersama rayuan dan rintihanku pada Tuhan.
Ternyata yang sulit bukan berjuang sendirinya tapi mengendalikan ego, hawa nafsu, dan ekspektasi
Barangkali qurban adalah perjalanan sunyi yang hanya bisa ditempuh dengan bekal yakin dan ikhlas. Tidak ada sorak sorai, pun bukan pula perjalanan yang diiringi senyum dan tawa. Tidak ada yang bisa memastikan jalan yang ditempuh akan mulus. Tidak tahu pula kapan dan di mana akhir dari langkah itu. Yang kita tahu bahwa barangkali di jalan yang sunyi ini kita tengah dituntun untuk masuk ke dalam diri. Agar lebih mengenal diri sendiri sekaligus mengenal Rabb kita. Bahwa Ia tidak selayaknya diduakan. Menempa kita melepaskan kemelekatan pada apa apa yang bukan seharusnya. Selayaknya Nabi Ibrahim dengan segala kisah hidupnya. Saat harus meninggalkan Siti Hajar bersama putranya yang baru lahir di tengah padang gersang. Saat harus menyembelih Ismail kecil. Bukan karena tidak ada cinta di dalam hati Nabi Ibrahim. Justru karena sebesar dan seluas itulah rasa cinta yang bersemayam di hatinya.
Sendiri bisa berarti alone, bisa berarti lonely. Satu kata tapi maknanya bisa berbeda. Saaaaaangat amat berbeda.
Orang bisa menjadi alone but not feeling lonely. Sebaliknya, orang bisa juga dikelilingi banyak orang tapi dia merasa lonely. Lonely bisa berarti ada jarak yang mengganggu, yang membuat seseorang terisolasi dari dunia sosial. It can be chronical and harm. Ketika seseorang merasa sendiri (lonely), pada awalnya dia bisa saja tidak menampakkannya di depan orang sekitarnya. Semua seolah berjalan seperti biasa. Very subtle. Perasaan kesendirian yang dibiarkan ada lambat laun akan terasa semakin dalam dan mencekik. Membuat seseorang tanpa ia sadari semakin jatuh dalam jurang yang dalam dan gelap. Mereka yang sudah masuk ke dalam sana, sangat amat memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya untuk membantunya kembali naik ke permukaan. Mungkin ada waktu ini terasa berat dan sulit, tapi satu langkah naik ke atas adalah sebuah upaya besar yang berharga. Tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk menjadi penolong bagi sesama, menjadi diri sendiri saja sudah cukup.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kau tidak perlu tahu. Aku mengadukanmu pada Tuhanku. Apalagi bagaimana bunyi aduanku. Kau memang tidak perlu tahu. Kau hanya perlu menjadi baik-baik saja. Itu sudah cukup bagiku.
Orang kadang pengen jadi orang lain. Padahal jadi selain dirinya sendiri itu susah.
Kemarin salah satu pasien rutin ibu meninggal. Hari sebelumnya padahal dari rumah untuk terapi. Sudah 70an tahun sih memang, tapi kondisinya terbilang bugar.
Haah~ kematian begitu dekat ya. Akhir-akhir ini aku sering berpikir tentang itu. Bagaimana kalau aku mati? Dengan cara apa? Apakah bekalku sudah cukup? Bagaimana respon orang-orang yang aku tinggalkan?
Sementara berpikir tentang kematian, aku juga masih sibuk berpikir tentang dunia. Menjadi dewasa itu menyesakkan (?) Aku tidak yakin sih apakah ini disebut menyesakkan, yang jelas semua terasa datar. Menjalankan rutinitas saja. Tidak banyak bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan. Banyak hal yang dikhawatirkan. Ingin ini itu tapi ujung-ujungnya kepentok realita.
Hidup tapi terasa tidak hidup.
Apa orang-orang juga menjalani kehidupan dewasa seperti ini?
Dulu, awal-awal aku menjadi konselor aku sering menganggap masalah percintaan remaja (termasuk usia mahasiswa) adalah hal yang remeh. Meskipun sebenarnya aku juga sadar kalau aku anaknya susah move on. Biasanya masalahnya seputar bertahan di hubungan yang menyebalkan sampai menyakitkan, proses move on, dan ragu mau putus atau lanjut. Setidaknya itu yang kuingat selama ini.
Itu dulu beberapa tahun lalu…
Lalu aku menemui banyak kasus dan belajar lebih banyak hal. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa meskipun masalah pacaran itu kelihatannya remeh temeh, ternyata masa-masa itu bisa bermakna. Menghadapi masalah pacar-pacaran butuh mengelola diri agar bisa menggunakan hati dan pikiran dengan seimbang untuk mengambil keputusan. Masalah ini bisa jadi salah satu latihan bagi orang-orang usia 20-an awal untuk menghadapi dunia yang lebih besar. Barangkali karena masalah pacaran mereka bisa menangis berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, bencinya pada seseorang sampai rasanya ingin menendangnya keluar dari planet bumi, ragu mau block mantannya atau engga, galau gebetan/pacar engga ngehubungin beberapa waktu, atau bimbang diajak balikan mantannya yang menyebalkan tapi kok sayang. Terdengar ‘lucu’ bagi beberapa orang tapi ya itulah dunia mereka. Aku pernah ada di sana. Berproses sendirian tuh engga enak. Meskipun begitu, berproses dari luka karena masalah cinta-cintaan membuatku menemukan aku yang baru.
Sudah lama tidak mampir ke sini dan nulis-nulis. Agak kaku dan wagu hahaha..
Kadang kamu tidak butuh disemangati dan menjadi kuat. Kamu hanya perlu mendatangi sudut tergelap dalam dirimu. Bertemu dan menghadapi segala ketakutanmu. Kamu hanya perlu mengakui bahwa mereka ada dalam dirimu, menjadi bagian dari dirimu. Membiarkan semua emosi turut hadir menemanimu di sana. Mungkin ini akan membuatmu sangat sedih sehingga kamu menangis. Mungkin akan membuatmu marah, malu, kecewa sehingga seolah-olah tidak ada yang bisa kamu lakukan selain diam dan menangis. Sesekali kamu perlu melakukan perjalanan ini, perjalanan menuju tempat tergelap dalam dirimu. Perjalanan yang membuatmu menjadi manusia.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dulu kukira sakit hati akan hilang termakan jaman. Tapi nyatanya waktu tidak menyembuhkan luka, ia tidak punya tanggung jawab untuk itu. Luka akan tetap jadi luka kalau yang merasa terluka tidak mengusahakan kesembuhannya.
Jurnal di Rumah Aja: Kamu Tidak Perlu Meminta
Semenjak Corona yang memaksa di rumah saja, aku menyadari banyak hal.
Kita selalu punya sesuatu untuk didoakan setiap waktunya. Doa-doa itu kadang berganti dari waktu ke waktu dan muncullah doa yang baru. Entah karena merasa sudah terkabul, kita punya harapan baru, jenuh karena tak kunjung terkabul, atau alasan lain. Mungkin jika doa-doa yang pernah kita panjatkan keluar dalam bentuk jajaran huruf yang terbang ke langit, mereka sudah memenuhi langit negeri ini.
Aku terkadang melihat orang-orang yang berdoa seperti anak kecil yang merengek kepada orang tuanya. Selalu ada saja hal yang ingin dipunyai. Balon, es krim, lollipop, mobil-mobilan punya teman, dan banyak lagi. Tidak pernah ada bosannya mulut itu meminta. Ada saat mulut itu ragu untuk meminta karena takut sudah terlalu banyak yang dipinta, emang masih boleh? Sementara kita masih saja berkeliaran di bumi sebagai si anak bandel.
Selagi sibuk memohon ini-itu, kita terkadang tidak sadar bahwa ternyata ada banyak hal yang berputar di sekeliling kita tersedia tanpa perlu dipinta. Kita mungkin tidak pernah berdoa supaya oksigen tetap tersedia di bumi atau berdoa agar planet-planet tetap pada lintasan masing-masing, Kita juga tidak pernah mendapati tubuh kita tiba-tiba terbangun melayang-layang dan mendarat di atas lemari, padahal kita tidak pernah berdoa supaya gravitasi masih mengakar di tempat kita tinggal. Segala hal yang tidak pernah kita pintakan ternyata semua itu berjalan sebagaimana harapan kita. Sebaik itu Allah.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Tentang Menangis
Saya dulunya adalah orang yang sulit menangis.
Saya bisa merasa sedih, marah, kecewa, bahagia, putus asa, dan lain sebagainya tapi saya sulit meneteskan air mata (kecuali pas nguap dan ngantuk banget). Beberapa kali menonton film sedih dengan teman-teman, yang lain pada sesenggukan saya berkaca-kaca saja sudah paling maksimal. Hingga pada suatu momen patah hati yang pada waktu itu terasa begitu dramatis seperti di drama Korea. Awalnya saya berusaha tegar tapi lama-lama saya justru merasa hampa sehingga pecahlah tangis saya setelah beberapa hari mati-matian saya bendung.
Saya marah, kecewa, sedih, putus asa, merasa terbuang.
Saya mengutuk, meratapi, menyesali, memaki. Tanpa suara. Karena saya melakukan di rumah dan tidak ingin membuat kehebohan.
Saya butuh waktu lebih dari seminggu, dua minggu, atau mungkin lebih (maaf agak lupa) untuk menangis setiap harinya. Entah itu di kamar mandi, di kamar sebelum tidur, atau usai shalat, di jalan, atau saat rumah sepi. Waktu-waktu di mana saya sedang sendiri. Saya mengijinkan diri saya menangis sampai saya merasa lelah dan bosan. Intensitasnya lama kelamaan makin berkurang. Tidak begitu ingat berapa lama karena tidak saya catat, mungkin sekitar 2-3 bulan.
Lama ya?
Setelah itu ya masih nangis-nangis dengan banyak pergulatan batin. Saya masih belum bisa berdamai dengan realita. Dua tahun, kurang lebih, saya baru bisa menerima luka-luka. Saya banyak belajar. Mungkin cara saya tidak sepenuhnya benar. Tapi ada satu hal penting yang saya pelajari bahwa menangis itu tidak apa-apa.
Kita kadangkala berjarak pada diri sendiri dengan mengabaikan hal-hal tidak menyenangkan. Padahal yang namanya hidup itu tidak selalu ada hal baik, peristiwa buruk juga terjadi. Tapi demi tetap 'tampak baik-baik saja' kita menolak rasa sakit, membenamkannya supaya tidak muncul ke permukaan. Berharap dia menjadi tumpul. Kenyataannya tidak, justru semakin ditekan semakin kuat dorongannya hingga pada suatu waktu meluber ke permukaan. Itulah yang menjadi momen puncaknya.
Balik lagi ke persoalan menangis itu tidak apa-apa. Menangis itu harusnya justru disyukuri karena ada orang-orang yang sulit atau bahkan tidak bisa menangis. Orang yang sulit menangis saja sebenarnya tidak lapang perasaannya apalagi mereka yang tidak bisa menangis. Betapa menderitanya orang yang tidak bisa menangis, ada kehampaan yang setiap waktu melingkupinya. Dia sebenarnya merasa kesepian tapi tidak ada orang yang mengetahuinya. Dia butuh merasakan kehangatan tapi situasi tidak menawarkan.
Menangislah selagi kamu bisa. Menangis itu sehat.
Namun, berdasar pada, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Begitupun menangis. Meskipun menangis itu boleh dan faktanya menyehatkan, jika berlebihan tentu jadi tidak baik juga. Berlebihan jika terlalu sering menangis membuatmu mengalami sejumlah kesulitan dalam melakukan aktivitas harian. Berlebihan jika menangis hampir selalu dijadikan senjata untuk memanipulasi situasi. Berlebihan jika menangis adalah satu-satunya solusi di setiap masalah tanpa ada usaha lebih untuk problem solving.
Sesekali ambil jarak dari keriuhan dunia dan mendekatlah pada dirimu sendiri. Peluk dirimu. Sadari kebutuhan tubuhmu. Terima segala rasamu. Kosongkan wadah emosimu dan alirkan dengan penuh kelembutan. Ijinkan semua keluar begitu saja. Cukupkan jika sudah merasa cukup. Ulangi sesuai kebutuhan. Selamat mencoba!
Tentang Bullying
Kamu tidak perlu menjadi korban bullying dulu untuk bisa memahami bullying
Cukup memahami bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk hidup layak dengan gayanya masing-masing, selama itu tidak merugikan siapa pun. Boleh saja memilih berteman dengan si A atau si B dan tidak begitu dekat dengan si C atau si D. Tapi menggunakan kekuasaan untuk menindas dan meninggalkan seseorang karena alasan yang tidak jelas, padahal dia tidak mengganggu siapapun, adalah persoalan lain.
Tahukah bahwa kadang korban bullying sendiri sebenarnya tidak tahu alasan mereka diperlakukan demikian. Ketidaktahuan membuat korban berpikir bahwa dirinya punya nilai diri yang lebih rendah dibandingkan orang lain. Sekalipun ia ingin teriak dan berontak, pikirannya begitu kuat menahannya karena merasa percuma juga melakukan semua itu. Seolah-olah pikirannya mengamini penilaian yang dibuat oleh lingkungan. Tidak yakin pada dirinya sendiri. Tidak yakin lingkungan bisa menerima dirinya. Tidak yakin bahwa dirinya layak mendapat bantuan. Benteng ketidakyakinan menjadi semakin tebal mengurung dirinya, membuat keyakinannya seolah terpenjara dan mati suri.
Benteng itu begitu tebal sehingga ‘bantuan’ seperti “ah gitu aja kok nyerah”, “ambil positifnya aja”, “kamu jangan lemah gitu dong!” “halah kamunya aja kalik yang baperan”, atau kalimat-kalimat lain bernada mengecilkan masalah menjadi sulit diterima. Boleh dibilang, yang begitu justru makin menciutkan diri si korban.
Bantuan yang dibutuhkan oleh korban bullying adalah penerimaan. Menerima bahwa yang dia rasakan itu memang benar-benar melelahkan dan membuatnya mengalami banyak emosi tidak menyenangkan. Karena ini bukan soal berpikir positif atau menjadi pribadi yang kuat, ini soal penolakan bertubi-tubi. Ini adalah pengalaman tidak menyenangkan yang dialami setiap hari. Tidak serta merta dengan kalimat seperti tadi bisa langsung mengubah diri korban bullying. Untuk bisa sampai pada apa yang disebut berpikir positif atau menjadi pribadi yang kuat butuh proses. Uniknya lagi setiap orang bisa jadi punya makna yang berbeda untuk sebuah tujuan setelah melalui serangkaian proses. Maksudnya, ya belum tentu juga orang yang mengalami bullying ini punya tujuan agar dia bisa selalu berpikir positif. Bisa jadi yang lain.
Cukup dengarkan mereka, terima keluh kesahnya, dan dukung dia untuk mendapatkan bantuan yang lebih layak jika dia menunjukkan tanda-tanda bahwa ada kendala menjalani aktivitas sehari-harinya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kau tahu ke mana harus kau rebahkan seluruh penat dari amuk dunia
(via dkhapsari)
Dunia tidak pernah mengamuk, dia hanya menjalankan tugas sesuai porsinya. Jangan judging!
Mencukupkan
Aku sudah selesai dengan cerita tentangmu. Aku menyelesaikan untuk memulai hal-hal baru. Menyelesaikan apa? Menyelesaikan tanda tanya, amarah, kekesalan, ratapan, dan kesedihan. Sumber masalahnya bukan dia, tapi aku sendiri. Dia hanya perantara yang memicu. Butuh waktu lama sekali untuk menerima dan membuat pemahaman baru sekaligus mengumpulkan serpihan-serpihan logika dan rasa agar bisa kubangun ulang. Aku sudah merasa cukup dengan after effect segala tentang kita.
Nampaknya dia sedikit terkejut dengan perubahan yang kualami. Proses yang kulalui ada lalu tanpa dia cukup mengubahku. Beginilah aku sekarang. Bukan berati meninggalkan aku yang dulu. Aku masih punya sisi-sisi diri yang dulu yang masih bisa dikenali tapi ada hal-hal yang kumodifikasi. Ada banyak hal yang sudah kulewatkan ternyata, maka aku perlu menebusnya dengan perubahan-perubahan itu.
Selamat berjalan pada kehidupan masing-masing. Sapa aku jika kita berpapasan di tengah perjalanan layaknya teman baik.