Setiap orang memiliki harapan
Harapan yang membuat dirinya memikirkannya
Harapan yang membuat dirinya meyakini bahwa inilah yang akan membuatku bahagia
Harapan yang tumbuh karena lingkaran pertemanan
Harapan yang tumbuh karena parameter kebahagiaan yang diyakini
Ada yang akhirnya terwujud, ada yang tidak
Ketika terwujud, dunia terasa berwarna, terasa memihak kita, kita begitu bahagia, terkadang melupakan syukur yang perlu dirasakan dalam hati
Kehidupan terasa tidak adil
Kehidupan terasa tidak memihak kita
Kehidupan terasa menyiksa
Diri seakan terus mempertanyakan, mengapa aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan, sementara orang lain mendapatkan apa yang kuinginkan?
Diri terus menyalahkan, mengapa dunia tidak pernah baik kepadaku, selalu saja ketika kesempatan tercipta, aku tidak dapat bagian, mengapa aku harus terus menahan diri, menuruti kekhawatiran orang di sekitarku, menjaga diri dari begitu banyak fenomena yang terjadi, yang sama sekali tidak bisa aku atur?
Diri terus membenci keadaan, menyalahkan dunia, menanamkan kekesalan yang terpendam jauh di dalam hati
Tanpa akhirnya aku sadari, bahwa aku
Tidak bisa mengatur apa yang ada di luar diriku
Hanya bisa menerima keadaan yang terjadi
Apa-apa yang terjadi sudah menjadi takdir, yang pasti terbaik
Apa-apa yang menimpaku sudah menjadi bagian hidupku yang terbaik
Karena pikiranku, perasaanku yang mengharapkan yang terbaik, tetap pada akhirnya sebenarnya tidak pernah tahu apa yang terbaik untukku
Karena yang menetapkan takdir ialah Allah, yang Maha Kuasa, yang tahu apa yang terbaik untukku
Hingga akhirnya aku menyadari bahwa
Apa yang terjadi padaku, ialah apa yang menjadi dambaanku sekarang
Apa yang terjadi padaku, sungguh membahagiakanku
Ia seperti bongkahan batu besar yang ada jauh di pelupuk mata, tidak terlihat
Mengalahkan bongkahan batu kecil berserakan yang mengganggu jiwa yang terlihat begitu berantakan dan membuat diri kesal secara rutin
Aku jadi sadar bahwa kita bisa menyadari segala sesuatu yang terjadi apabila aku mengalami ini
Bukan mengalami apa yang kuinginkan
Bisa jadi bila terjadi, aku mendapat apa-apa yang buruk
Bisa jadi bila terjadi, aku melupakan hal-hal krusial yang ada di sekitarku
Bisa jadi bila terjadi, aku jadi tidak terlalu mensyukuri nikmat yang sudah aku punya
Aku hanya berputar di dalam pusaran kebahagiaan fana yang sama sekali tidak membuatku lebih bertakwa
Lalu apa yang lebih baik dibanding takwa?