Before you can love anyone else, you have to love yourself first. You canât fill someone up if you yourself are empty. <3
Indeed :")
Aqua Utopiaď˝ćľˇăŽĺşă§č¨ćśăç´Ąă
Not today Justin
Acquired Stardust
sheepfilms
occasionally subtle

Kaledo Art

@theartofmadeline
Monterey Bay Aquarium
Show & Tell

Love Begins
Cosmic Funnies

tannertan36
he wasn't even looking at me and he found me
Peter Solarz

Kiana Khansmith
todays bird

shark vs the universe
Sade Olutola
RMH

ellievsbear

seen from Jordan
seen from United States

seen from United States

seen from Philippines

seen from TĂźrkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from France

seen from Germany
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
@dewinstt
Before you can love anyone else, you have to love yourself first. You canât fill someone up if you yourself are empty. <3
Indeed :")

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Belajar dan Ilmu
(mengingat kembali adab menuntut ilmu)
âMenuntut ilmu merupakan salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah ilmu dengan cara-cara yang muliaâ â Institut Ibu Profesional
Pernahkah diantara kita mendefinisikan arti menuntut ilmu? Jika pernah, apakah arti menuntut ilmu? Saya mendefinisikan menunut ilmu sebagai proses kita belajar di sekolah formal, membaca buku, mengikuti seminar atau workshop. Namun ternyata definisi menuntut ilmu tidak sesempit itu. Menuntut ilmu merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku kearah lebih baik. karena sifat dasar ilmu adalah menunjukkan pada kebenaran dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan.
Seorang guru berpesan kepada muridnya,
âJangan sampai apa yang kamu pelajari adalah sebuah kesia-siaan dan tidak membantumu menjadi lebih baik. Sesungguhnya hakikat belajar adalah memperbaiki sikap. Jika masih stagnan tanpa ada perbaikan sikap setelah belajar, maka kamu tidak belajar.â
Seorang teman pernah menyampaikan apa yang diperolehnya setelah menghadiri kajian,
âJangan sampai kita ini sibuk terus mengejar ilmu tapi hanya untuk menambah pengetahuan dan menambah deretan gelar. Eh ternyata tidak menambah keimanan. Untuk apa kita mengetahui banyak hal jika pengetahuan yang banyak tersebut tidak mendekatkan kita kepada Allah dan memberi cahaya dalam hati kita.â
Jleb! Rasa-rasanya kata-kata tersebut tepat sekali menegur diri ini kembali. Allah ingatkan untuk kembali memperbarui niat dan adab menuntut ilmu untuk diluruskan lagi.Â
Jika ilmu adalah prasyarat sebuah amal, maka adab adalah hal yang paling didahulukan sebelum ilmu. Adab sebagai sebuah pintu yang menjadi satu-satunya akses yang mempertemukan ilmu dengan para pencarinya. Adab pula yang menjadi tuntunan etika penuntut ilmu agar tercipta pola harmonis antar manusia dengan manusia ataupun manusia dengan Tuhannya. Mengapa adab menuntut ilmu perlu dipahami terlebih dahulu? Sebab adab tak dapat diajarkan tetapi hanya dapat ditularkan. Maka bagaimanakah adab menuntut ilmu tersebut?
Pertama, adab terhadap diri sendiri, yaitu ikhlas dan bersedia membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk, selalu bergegas dengan mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, menghindari sikap âmerasaâ lebih tahu dan lebih paham, dan menuntaskan ilmu yang sedang dipelajari dengan mengulang dan membuat catatan penting serta bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas diberikan.
Kedua, adab terhadap guru atau penyampai ilmu, adalah dengan mencari ridha guru dengan sepenuh hari disertai dengan mendekatkan diri kepada Allah swt Yang Memiliki Ilmu. Selain itu adab terhadap guru adalah tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu  atau menjawab pertanyaan dan memohon ijin jika ingin menyebarkan ilmu.
Ketiga, adab terhadap sumber ilmu, antara lain tidak meletakkan sembarangan (misal buku, tidak diletakkan sembarang tempat), tidak melakukan penggandaan untuk kepentingan komersil, tidak menyebarkan ilmu tanpa sumber yang jelas dan valid dan selalu menerapkan sceptical thinking dalam menerima sebuah informasi.
Maa syaa Allah, sungguh mulia kedudukan ilmu yaa. Yuk, kita amalkan adab menuntut ilmu.
Karena adab menuntut ilmu ini akan erat kaitannya dengan keberkahan sebuah ilmu sehingga akan mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.
Tulisan ini merupakan resume materi perkuliahan Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 5 sebagai salah satu usaha untuk mengingat kembali dan menuliskan kembali ilmu yang telah diperoleh.
Pic Source : Pinterest
Nasihat Pernikahan
Sebuah nasihat disampaikan seorang sahabat menjelang hari paling bahagia dalam hidup, hari pernikahan. Dengan bahasa santun dan lembut dia menyampaikan bahwa pernikahan diawali dan selalu diiringi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT karena hanya pertolongan dan petunjuk dariNya badai rumah tangga bisa terlewati.
Dengan sedikit bercanda, ia pun berpesan untuk tidak berekprektasi banyak hal terhadap pasangan karena akan berpotensi menimbulkan kekecewaan dan penyesalan. Hingga memberi kesempatan setan untuk membisikkan hal-hal buruk yang dapat menghancurkan kehidupan pernikahan (naâudzubillah L)
Bila nantinya menemui kebaikan-kebaikan dari pasangan, bersyukurlah karena itu rezeki kita. Bila nantinya menemui kekurangan-kekurangan dari pasangan, maka itu akan menjadi ladang kesabaran, latihan penerimaan, dan membantu perbaikan diri pasangan.
Berat bukan? tanyanya. Â Dan demikianlah pernikahan. Sebuah ibadah sepanjang sisa usia dengan nilai separuh agama. Maka pelaksaannya tidaklah mudah tapi pahalanya sangatlah indah. Bersyukurlah dan bersabarlah. Sambil memegang tanganku, ia sampaikan kalimat tersebut.
Kemudian ia akhiri dengan belajarlah taat kepada suamimu. Karena dari sana akan menjadi jalan surgamu.
Semangat!
Ditulis sebagai pengingat diri jika suatu saat nanti lelah menapaki jalan ini.
Saudara-Saudariku, Mari Kita Berprestasi!*
*Tulisan ini adalah tulisan Abang. Ditulis sudah lama sekali, 25 September 2011.
âKesalahan terbesar yang dapat dibuat oleh seseorang adalah tidak melakukan apa-apaâ (Maxwell)
Kalimat ini tertulis di atas salah satu kata pengantar karya ilmiah yang saya buat bersama rekan-rekan. Walaupun singkat, namun sepertinya Maxwell tahu betul bagaimana cara untuk memberikan penyadaran yang mendalam di hati kita. Karena memang benar, orang yang tak melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dilakukannya saat di dunia adalah orang yang sangat merugi, dan lebih dari itu, telah menyianyiakan perannya sebagai khalifah di muka bumi.
Setiap manusia pasti memiliki cita-citanya masing-masing, karena cita-cita adalah hal yang fitrah bagi manusia. Cita-cita itu suci, penuh harapan dan memiliki energi yang besar. Dia mampu membuat seseorang mengeluarkan kualitas terbaiknya dan meraih prestasi. Namun meskipun tiap manusia memiliki cita-cita, ada satu hal yang membedakan antara tiap manusia, yaitu seberapa besar usahanya dalam menggapai cita-cita dan prestasi tersebut. Ada yang hanya sekedar angan-angan, ada juga yang menggebu untuk mendapatkannya.
Berbicara tentang cita-cita memang tak lepas dari prestasi. Karena prestasi adalah buah keberhasilan dari usaha kita menggapai mimpi dan cita-cita. Prestasi sebenarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri seorang muslim, dari diri kita. Karena dalam Islam pun kita diperintahkan untuk selalu melaksanakan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Yang perlu diperhatikan adalah, prestasi yang sejati merupakan buah dari usaha yang istiqomah. Dia tidak muncul dengan dipaksakan, tetapi melalui proses yang ikhlas dan bertahap. Dia tidak muncul dari hati yang oportunis, tapi dari hati yang memiliki tujuan mulia. Apakah sulit menjadi manusia yang berprestasi? Percayalah selalu bahwa,
âSesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahanâ (Al-Insyirah : 6)
Percayalah bahwa kita akan selalu mampu melaksanakannya. Buang segala pikiran negatif yang ada, dan ubah semuanya menjadi pikiran positif. Karena sesungguhnya, semuanya itu bersumber dari diri kita sendiri. Yakinilah bahwa masalah tak akan membiarkan kita tetap diam di tempat. Ia akan membawa kita maju seiring meningkatnya kualitas kita, atau bahkan mundur, seiring dengan keputusasaan kita. Apakah kita akan gagal atau berhasil, sekarang semuanya tergantung pada diri kita.. Untuk naik tingkat dan meraih prestasi, pasti memang akan ada banyak cobaan yang harus dilalui, namun, janganlah jadikan masalah itu melebur bersama diri kita. Letakkan masalah itu terpisah dari diri kita, dan yakinilah bahwa masalah itu bukan berasal dari diri kita. Contohnya, ketika kita mungkin mendapatkan hasil yang buruk saat ujian, jangan pernah sekalipun menganggap bahwa diri kitalah yang bermasalah. Letakkan ketidakbisaan itu di luar diri kita, dan identifikasi mengapa hal tersebut terjadi. Karena percayalah saudaraku, setiap manusia difitrahkan untuk berprestasi. Kita adalah makhluk yang paling sempurna, we are the miracles! Sehingga saat ini yang kita butuhkan adalah melepaskan mukjizat yang ada dalam diri kita..
âDan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tak memperhatikan?â(Adz-Zariyaat : 21)
Lalu, yang menjadi pertanyaan, mengapa kita harus berprestasi? Bukankah dengan menjadi orang biasapun kita akan tetap bisa hidup bahagia? Lebih lagi, bukankah kita tetap akan bisa memasuki surgaNya? Naudzubillahi min Dzaliq! Pemikiran semacam inilah yang harus kita singkirkan jauh-jauh. Allah SWT telah menkaruniakan pada kita semua akal yang luar biasa. Bahkan dalam QS. At-Tin ayat 4 Allah berfirman bahwa kita, manusia, diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kita adalah makhluk terbaik! Bahkan melebihi malaikat, jin dan syaitan. Betapa berdosanya kita bila kita menyia-nyiakan potensi akal yang telah diberikanNya dan menyerah begitu saja oleh tubuh yang malas. Banyak ayat dalam Al-Qurâan yang menyiratkan bahwa kita harus menjadi pribadi yang berprestasi, pribadi yang berusaha untuk terus mendapatkan yang terbaik di dunia dan akhirat. Seperti contohnya ayat berikut ini
âKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasikâ (QS. Ali Imron : 110)
Ayat ini sungguh menjelaskan bahwa kita adalah umat yang TERBAIK. Jadi, apa yang kita ragukan? Kemudian dalam ayat berikut ini,
âdan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannyaâ (QS. An-Najm : 39)
Jelas Allah SWT menyiratkan bahwa kita harus melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan. Makna dari kedua ayat di atas dapat digabungkan, bahwa untuk menjadi umat yang TERBAIK, kita harus melakukan yang TERBAIK pula dalam setiap pekerjaan kita. Perhatikan, betapa agama ini mengajarkan kita untuk terus berprestasi. Betapa agama ini menyuruh kita untuk menjadi orang yang kuat untuk dunia dan akhirat. Ya, karena agama ini adalah agama para pejuang. Rasulullah SAW tak akan pernah berhasil membawa islam menuju kegemilangannya di masa lalu tanpa adanya perjuangan demi mendapatkan hasil terbaik dariNya. Mereka tak akan pernah memenangkan setiap perang yang jumlah musuh selalu jauh berkali lipat tanpa adanya semangat juang yang tinggi. Itulah yang harus sama-sama kita teladani dari Rasulullah dan para shahabat. Karena umat ini tak akan pernah maju tanpa adanya individu-individu yang kuat untuk berjuang dan berprestasi di jalanNya. Sesuatu yang dirasa hilang dari umat ini di zaman sekarang.
Karena itu, mulailah dari sekarang saudaraku! Impikan semua hal yang kau ingin raih di dunia ini, isi pikiranmu dengan fitrah yang telah diberikanNya. Jangan pernah membatasi cita-citamu, karena batasan hanya akan memutus harapan. Pikirkan saja semua hal yang ingin kau raih di dunia ini, penuhi otakmu dengan hal itu dan jadikan itu sebagai penyemangat di setiap langkah harimu⌠Yang terpenting, lakukan ini untuk masyarakat sekitarmu, untuk agamamu dan untuk Allah SWT, demi masa depan Islam yang gemilang. Insya Allah, Dia akan memberikan kita jalan walaupun kita tak menyangkanya. Karena itu, Saudara-Saudariku, mari kita berprestasi!
âŚBiarkan keinginan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebing banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja.. Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya⌠Serta mulut yang akan selalu berdoa..â
Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan Cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi, keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapa pun⌠Dan kamu tak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya. (dikutip dengan sedikit perubahan dari â5 cmâ karangan Donny Dhirgantoro)
KELUARGA BESAR BARU
âSelamat hari sabtu moms and dads⌠Jumpa lagi ya di #marriedbydesign. Kali ini kita akan bahas sedikit mengenai adaptasi dengan keluarga besar baru setelah pernikahan.
Menikah tentunya bukan hanya soal suami dan istri saja. Lebih luas lagi, kita aka memiliki keluarga besar baru.
Keluarga besar baru ini sangat mungkin punya karakter-karakter berbeda, punya adat dan kebiasaan berbeda dan semacamnya. Jika tak pandai mengelola, keluarga besar baru bisa menjadi lingkungan yang sangat tidak menyenangkan.
Lalu apa saja sih yang perlu diperhatikan untuk mulai beradaptasi dengan keluarga baru?
*â Pola komunikasi* Perhatikan pola komunikasi keluarga baru kita. Jika ada perbedaan bahasa, alangkah baiknya mencoba belajar sedikit-sedikit bahasa daerah mereka. Ini bisa lebih mengakrabkan dan membuat kita tidak merasa terasing. Begitu juga cara berkomunikasi. Ada orang yang berasal dari keluarga yang terbiasa bicara pelan, kemudian mendapati keluarga baru yang saat bicara intonasinya tinggi. Jika tidak paham, akan menimbulkan sakit hati. Dikira memarahi padahal memang kebiasaan bicaranya seperti itu. Atau contoh lainnya yang terlihat sepele tapi bisa menimbulkan salah paham. Seorang istri sangat kesal pada adik iparnya yang saat datang ke rumah langsung merasa rumah sendiri. Mengambil makanan ditempat penyimpanan makanan dan sebagainya. Menurut si istri itu tidak sopan. Lain halnya dengan si adik ipar. Ternyata dikeluarganya, salah satu cara menunjukkan rasa nyaman dengan keluarga adalah dengan menganggap rumah keluarga tersebut seperti rumah sendiri.
*â Adat dan kebiasaan* Selain pola komunikasi, kita juga perlu mencari tahu adat dan kebiasaan keluarga baru kita. Misal di beberapa daerah, duduk lebih tinggi dari orang tua dianggap tidak sopan. Sedangkan didaerah lainnya itu bukan sebuah masalah. Contoh lainnya adalah kisah berikut. Suatu hari saat idul fitri, seorang istri bingung. Ia berlebaran pertama kali dikeluarga suaminya. Ia sudah siap sungkeman, mengatur kata-kata panjang dan sebagainya. Nyatanya mereka hanya bersalaman biasa selepas sholat âied sambil mengucapkan maaf dan doa. Tidak lebih. Padahal dikeluarganya biasanya ia harus melalui prosesi sungkem sampai tersedu-sedu. Kalau dia memaksakan kebiasaannya di keluarga barunya, tentu akan terlihat aneh bukan?
*â Makanan* Makanan adalah salah satu hal penting yang perlu dipahami untuk meminimalisir salah paham. Makanan juga bisa menjadi salah satu alat untuk mempererat hubungan dengan keluarga baru. Pelajari makanan khas dan kesukaan dikeluarga pasangan. Dikisahkan seorang perempuan yang tidak bisa ikut makan bersama keluarga suaminya karena perbedaan penyajian makanan. Dikeluarganya ibunya selalu memotong ikan atau daging dengan potongan kecil-kecil. Diharapkan yang mengambil langsung mengambil sepotong dan menghabiskannya. Serta menghindari terpegang tangan orang lain. Ternyata dikelurga suami, penyajian justru sebaliknya. Semua lauk dipotong besar-besar dan mereka memakannya ramai-ramai. Si istri merasa itu tidak bersih dan membuat tidak nyaman. Hanya karena makanan, satu poin keakraban jadi hilang.
*â Membaur tapi jangan sok akrab* Membaurlah jika ada kumpul-kumpul keluarga besar. Jangan hobi bersembunyi dikamar karena alasan malas atau tidak nyambung dengan obrolannya. Meskipun tidak paham topik pembicaraannya, ikutlah duduk dan mendengarkan. Tapi ingat batasan. Jangan sampai terlihat sok akrab yang tiba-tiba nimbrung pembicaraan padahal tidak kita pahami.
*â Berbicara sesuai dengan yang diajak bicara* Mentang-mentang kita seorang guru, misalnya. Kita terus saja bercerita tentang pendidikan dan sekolah. Padahal ibu mertua kita tidak paham. Padahal saudara ipar kita seorang petani yang akan lebih tertarik membicarakan cabai atau padi. Saat berbicara, jangan selalu mengeluarkan apa yang ingin kita katakan. Tapi coba cari tahu apa yang ingin orang lain dengar.
đŁSuami dan istri yang baru menikah harus saling membantu untuk mengakrabkan pasangan dengan keluarga masing-masing. Saling memberi informasi tentang latar belakang keluarga akan sangat membantu. Diatas tadi hanya sedikit hal yang perlu diingat untuk permulaan bertemu keluarga baru. Hal-hal lainnya bisa jadi masih sangat banyak. Yang terpenting adalah selalu komunikasikan dengan pasangan jika ada sesuatu yang mengganjal. Jangan sampai salah paham dengan keluarga besar, akan berdampak buruk pada hubungan dengan pasangan. Semoga bermanfaat. (dp)
*đˇSUPERMOMâs NOTEđˇ* Edisi #marriedbydesign 28 Oktober 2017
đđđđđđđđđđđ â Email : [email protected] â Fanpage FB : https://web.facebook.com/supermomwannabefanpage/ â Twitter : https://twitter.com/supermom_w â Instagram : https://www.instagram.com/supermom_w/ â Tumblr : http://supermomwannabee.tumblr.com/ â WhatsApp: +6281904714215 â Line: @qxb9368f (use @) Link: http://line.me/ti/p/%40qxb9368f
Selamat beradaptasi! Selamat menyesuaikan! Yosh!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Tentang Menikah
Entah kenapa rasanya saya belum merasa cukup memahami apa itu pernikahan. Dan meski sekarang ada dua dateline di hari ini, saya nggak tahan untuk nggak nulis ini. Wkkwkwk.
Saya sering ditanyai apa yang membuat seorang wanita menjawab ya pada seorang laki-laki yang melamarnya. Apa yang membuatnya yakin?
Jujur saja, untuk saya, jawabannya berubah-ubah. Bahkan ketika sudah menikah pun, pertanyaan seperti itu bisa selalu muncul lagi. Saya terlalu naif di masa muda. Mensimplifikasi menikah. Saya dulu merasa bahwa saya bisa menjadi istri idaman yang baik, yang menurut pada suami, yang bisa selalu senyum manis, yang selalu siap berkorban, dan bla-bla-bla. Itulah kenapa saya dulu berikrar bahwa siapapun yang datang pertama kali, saya akan menerimanya.Â
Untung Allah sayang saya (ya iyalah), jadi Dia datangkan laki-laki yang baik dan tampan, dan yang, diam-diam, memang saya sukai. Hahahaha.
Berproses pada Realitas
As the time goes by, saya menyadari bahwa ternyata menjadi someone called âistri yang baikâ itu susah. Paling tidak bagi saya. Ternyata susah yaa untuk taat. Susah untuk serta-merta nurut. Dinasihati suami, pasti pake njawab. Padahal nasihatnya baik. Susah untuk terus tersenyum manis seolah tak ada masalah. Namun lagi-lagi, alhamdulillah, Allah kasih suami yang sabar membimbing.
Hingga suatu saat saya bercandai dia, âayah pasti nyesel nikah sama bunda? Harusnya ayah sama ukhti-ukhti baik hati kayak asrama âXXâ itu.. yang selalu menurut dan tersenyum serta taatâ dan dia tertawa, âhahahaha, ya enggak lah. Ayah nggak salah pilih karena memang milih sendiri secara sadar.â Eaak.
Saya merasa susah betul ya jadi istri ni⌠yaa, mungkin sebagian alasannya adalah karena nampaknya karakter dan background aktivitas saya dan suami agak-agak mirip. Iya enaknya sih emang sering nyambung tapi nggak jarang juga clash. Kadang rasanya ingin menyerah, apalagi saat saya menghadapi banyak gejolak dalam diri, menghadapi berbagai detail perubahan hidup yang drastis dan ekstrim, sungguh, rasanya rindu masa single. Rindu saat bisa begitu independen, kemana-mana sendiri sesuka hati, belanja ini itu sesuka hati, gegoleran di kasur, hang out sama temen sambil jajan enak-enak, wakakak.. dan sekarang semua berubah. (padahal kan bukan cuma saya ya yang hidupnya berubah. Suami saya juga hidupnya berubah pasti, jadi ketempelan makhluk manja nan ngambekan macem saya. Hahahha. brace yourself!)
Namun suami saya selalu bilang, âkita sudah melewati banyak hal (dan perjuangan) bunâŚâ
Dan, iya memang. Ada banyak kisah, ada banyak perjuangan, juga ada Fahima yang selalu lucu. Di saat saya merasa sudah berjuang dan berkorban banyak, justru sebenarnya suami saya berjuang dan berkorban lebih banyak dan lebih berdarah-darah. Ah, manja sekali istrimu ini Yah.
Jadi pernikahan itu�
Kembali ke masa dulu, saat saya berikrar akan menerima siapa saja yang datang pertama. Di lubuk hati terdalam saya selalu berharap bahwa yang datang adalah memang laki-laki ini, yang namanya Luthfi Hamzah ini. Why? Karena saya percaya. Saya percaya padanya sejak sebelum kami menikah. Saya percaya dia bisa memimpin saya, membawa saya ke arah yang lebih baik.
Maka Nad, pegang terus kepercayaannmu itu. Tetaplah percaya pada hatimu.
Dan benarlah, segimanapun saya ada nggak setujunya sama suami, ada nggak nurutnya, ada manyun-manyunnya, saya tetap percaya padanya. Percaya sepenuhnya dan sesungguhnya. Justru akan lebih sulit bagi saya jika saja Allah takdirkan saya menikah dengan orang lain, yang tidak bisa memimpin saya, or letâs say, less dominant, having less leadership. Memang yang terbaik lah yang Allah datangkan.
Dan, Nad. Bukankah memang doamu dulu adalah, âdatangkanlah pada kami, hambamu yang sholih yang mampu memimpin kami, dan membimbing kami ke surgaâŚâ
Above all, yang membuat saya bahagia adalah, saya akhirnya bisa sampai di titik ini. Iya sih saya ngga (eh belum) bisa jadi istri idaman seperti yang digambarkan di deskripsi-deskripsi itu. Kekanakan serta ego saya lah yang sering menutupi kepercayaan itu. Hahaha.
Tapi, ngga papa⌠paling tidak sekarang kamu udah bisa masak macem-macem Nad. Hahaha
Pernikahan adalah proses panjang, take your time to keep learning and not give up, menghentikan segala self-sentris yang begitu kuat di masa single untuk kemudian bersedia berkolaborasi dengan seseorang yang kamu percaya demi sebuah hubungan jangka panjang sehidup semati.
âŚ.
and back to dateline.
Dicatat dan dipahami dulu. *mengendapkan* đ
RTM: Lima Fase Adaptasi dalam Pernikahan
Sudah memasuki tahun pernikahan yang ke berapa? Sorry, tidak bermaksud membuat yang belum menikah bersedih. Aku hanya mau berbagi yang aku baca tadi waktu nyiapin presentasi untuk acara seminar Ibuku. Lagipula setelah baca ini, yang belum menikah (dan sedang ngebet ke pelaminan) mungkin akan berhenti menganggap pernikahan sebagai jalan keluar ajaib dari satu problematika dan krisis dewasa awal: kesepian.
Ketika menikah, ada banyak hal yang harus disesuaikan. You name it: dari kebiasaan kecil kayak gaya nyimpen sendal; menghadap depan atau belakang, sampai prinsip-prinsip penting kayak pengasuhan. Nah, menurut hasil observasinya Mbak Michele Weiner Davis selama jadi konselor pernikahan, ada lima tahapan adjustment yang dilalui pasangan setelah menikah.
Tahap 1âEuforia perasaan
Ini pas pernikahan baru seumur seminggu dua minggu, sebulan dua bulan. Ada perasaan semacam, âYeay, Iâm lucky! Pasanganku perfect. Baik, romantis, pengertian. Aku ngga salah nikah sama dia!â Di tahap ini, jelas pasangan saling menerima dengan mudah. Wong yang diperlihatkan baru yang enak-enaknya aja.
Tahap 2âMempertanyakan
Di tahap ini, mulai nih ketahuan keburukan-keburukan pasangan yang bikin ngga sreg. Muncul deh bisikan2 kayak, âIh ternyata dia orangnya ga asik. Kok dulu aku mau ya nikah sama dia?â Ada godaan untuk menyesali pilihan kita untuk menikah. Ada keraguan apakah kita menikahi orang yang tepat? Mulai nih ada guncangan. Konflik. Jedar jeder boom.
Tahap 3âMengubah
Muncul deh kebiasaan natural manusia untuk merasa dirinya paling benar, sehingga pasangan mesti ikut cara dia, pasangan mesti berubah karena dia inginnya gitu. Titik. Tutup buku. The end. Nah akhirnya muncul tuntutan, âKamu nggak boleh gini kalau mau kita bertahan. Kamu harus berubah!â
Berubah jadi lebih baik itu emang perlu. Tapi ngga dengan mengendalikan, merendahkan, menganggap diri sudah final, menganggap diri paling benar. Cara yang baik sih memulai dari diri sendiri. Evaluasi bersama, apa yang bikin berantem. Tidak mungkin terjadi konflik kalau kedua pihak tidak ngotot merasa yang paling benar. Jadi pasti dua pihak punya kontribusi dalam konflik.
Tahap 4âMenerima
Di tahap ini, mungkin karena proses pembelajaran dan pertambahan perspektif, pasangan mulai ngeh bahwa ada hal yang bisa diubah, tapi ada juga hal yang ngga bisa diubah dari pasangannya. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menerimanya plus sedikit santai, âYaa dia emang bawel sih orangnya. Tapi gimana ya, aku terlanjur sayangâŚâ
Tahap 5âMelanjutkan hidup bersama apa adanya
Di tahap ini, semua tuntutan2 itu sudah lapur. Tertelan oleh penerimaan, pemaafan, dan pemahaman. Penerimaan utuh atas pasangan benar-benar tercapai.
Apapun yang terjadi, kamu dan pasangan hanya ingin tetap jadi pasangan selamanyaâŚ..sampai maut memisahkan.
Perlu banyak humor dan kemampuan menertawakan masalah untuk bisa sampai ke tahap ini.
PssstâŚ.dan kata Empunya observasi ini, hanya 50% pasangan yang bisa sampai ke tahap ini. Deziqq.
(foto dari pinterest)
Jadi happy ending dalam pernikahan itu ada? Ada. Tapi lihat dulu jalannya. Yang jelas ngga semulus yang diceritakan dongeng-dongeng. Happy ending dalam pernikahan itu lahir dari proses yang panjang. Dan mendaki. Bukan pula berupa rangkaian cerita manis setiap saat. Tapi justru melalui kekacauan, konflik, perbedaan, huru-hara, perang dunia, tapi di akhirnya pasangan tetap bisa tertawa sambil berkata, âAku tetep sayang!â
....
Have a safe journey!
And those journey will start very soon. Siap atau tidak. Bismillah...
jalan terus
kebanyakan orang menyesal dengan berujar, âseandainya saja saya waktu ituâŚâ kata-kata ini sekiranya sering sekali muncul dari hati dan pikiran kitaâsaat menurut kita, kita gagal.
padahal, pengalaman itu yang paling mahal. Edison senang setiap bohlamnya tak berhasil menyala sebab dia semakin tau apa saja yang tidak bisa bekerja. Jack Ma begitu mengistimewakan kegagalan sehingga cita-citanya adalah berbagi kisah gagal, bukan kisah sukses. lagi, idiom gagal dengan cepat sudah sangat sering kita dengar.
ada kalanya kita bertemu dengan jalan buntu, tetapi bukan berarti jalannya tidak ada. tidak ada jalan (jalannya belum ditemukan) berbeda dengan jalannya tidak ada (jalannya memang tidak ada). jalan memang nggak selalu lurus, tetapi kita selalu bisa jalan terus: jalan terus karena tujuannya sudah kita miliki, kita yakini.
pada akhirnya, cara menyesal terbaik bukanlah ujaran âseandainya sajaâ, melainkan terus melangkah sambil terus memperbaiki diri. pada akhirnya, kejujuran dan ketekunan adalah kemenangan.
âBerhadapan dengan Allah harus menyerahkan segalanya, termasuk harga diri dan kehormatan. Tak ada artinya membawa dada yang busung atau dagu yang mendongak ke atas. Itulah mengapa sujud arahnya selalu ke tempat paling rendah, artinya kita sama sekali bukan apa-apa.â
â Taufik Aulia
Investasi Pendidikan pada Perempuan, Investasi Pasutri pada Keluarganya
Pendidikan telah terbukti meningkatkan produktivitas manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Pendidikan juga telah membuka akses kepada pekerjaan yang diganjar gaji yang lebih dari cukup buat âdapur ngebulâ. Dewasa ini, dalam satu bentuk dan lainnya, pendidikan telah membawa banyak anak-anak muda Indonesia tidak hanya mencukupkan syarat gelar akademis tertentu, tapi juga mengunjungi berbagai tempat untuk belajar dari institusi dan orang-orang di berbagai penjuru dunia. Namun, bagaimana bila pendidikan tinggi dan pengalaman kerja pasca pendidikan ini dipakai (hanya) untuk mengasuh beberapa putra dan putri (saja)?Â
To invest or to sacrifice?
Pendidikan bisa dilihat sebagai jalan atau akses kepada penghidupan yang layak. Pendidikan juga bisa dinilai sebagai jalan pemuasan hasrat belajar dan keingintahuan. Pendidikan bisa jadi sekadar pemenuhan bucket list atau niat menjadi cucuk kebanggaan nenek. Pendidikan juga bisa dianggap sebuah investasi. Nah, yang terakhir ini cukup merepotkan, terutama terkait bagaimana seorang perempuan berpendidikan tinggi dapat mengalah untuk (sekadar) menjadi istri dan ibu penuh waktu. Â
Buat sampai di aula untuk sumpah dokter, misalnya, orangtua satu orang dokter perempuan sudah hampir pasti menghabiskan beberapa ratus juta rupiah (anak teknik non-Bidikmisi menghabiskan sekitar 100 juta rupiah buat uang semesteran, kosan, dan makan bulanan dalam 4 tahun masa studinya). Dalam kasus calon dokter perempuan, apakah orangtua akan legowo bila putrinya yang sudah jadi dokter (spesialis) memilih menjadi seorang ibu rumah tangga? Tentunya pertanyaan yang sama juga berlaku bagi mahasiswi jurusan lainnya yang disekolahkan orangtua.
Selain terkait investasi, pertanyaan lain yang juga berat dijawab adalah soal beban moral untuk âmengamalkan ilmu yang sudah didapatkanâ. Belum lagi jika kuliahmu ke luar negeri dibiayai oleh negara, sampai S-3 pula. Pulang kuliah lalu sekadar mengasuh anak di rumah (setelah berkeluarga)? Pertanyaan yang cukup berat.
Sayangnya, profesi atau pekerjaan sebagai ibu rumah tangga masih dilihat sebelah mata. Padahal, mengasuh dan membesarkan para penerus mimpi dan cita-cita bangsa bukan hal sepele. Apalah arti beberapa juta rupiah tambahan uang bulanan bila anak-anak kita nanti hanya menjadi beban negara? Mengamalkan ilmu dan semua 'soft skillâ yang didapat semasa belajar dan berkarir di saat lajang pada sebuah institusi pendidikan dan kasih sayang bernama rumah tangga memang tidak seberat mengajar di kampus. Tapi, beban moralnya cukup besar, bukan?Â
Bagaimanapun, ada yang mengganjal jika kita membandingkan dua hal yang sama-sama elok lagi mulia, seperti menjadi dosen dan menjadi ibu rumah tangga. Tapi satu hal yang pasti, jika mengasuh anak dan berkarir dipilih di saat yang bersamaan, akan ada masa-masa dimana salah satunya harus dikorbankan. Semua kembali pada kerelaan kita mengorbankan masa emas pertumbuhan anak kita dan kesiapan pasangan suami-istri untuk berjuang ekstrakeras untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.Â
Satu hal yang cukup menarik untuk diperhatikan adalah sebagian besar para sarjana, dokter, master, dan doktor hari ini tidak banyak yang menyadari bahwa ibu-ibu mereka telah mengasuh mereka penuh waktu. Jika kamu diasuh oleh ibu dan ayahmu penuh waktu, kenapa kamu (laki-laki dan perempuan) tidak mengupayakan anak-anakmu juga diasuh penuh waktu?
Berkarir adalah pilihan, begitu pula memiliki anak dan mengasuh mereka penuh waktu itu juga pilihan. Jika kamu (perempuan) ingin berkarir sampai ke puncak, maka tirulah Angela Merkel. Beliau baru saja memenangkan pemilu Jerman untuk periode keempat. Dia adalah doktor di bidang Fisika, pernah menjadi menteri lingkungan, dan masih menjabat sebagai ketua partai konservatif di negaranya. Gampangnya, sejak selesai pendidikan S-3, ia menghabiskan usia produktifnya untuk negaranya dengan terjun langsung ke dunia politik. Dia menikah (lalu bercerai dan menikah lagi) dan tidak punya anak.
Commonsense?
Akhir-akhir ini, muncul tren baru bahwa makin tinggi pendidikan seorang perempuan, makin lama datangnya jodoh. Apalagi sejak ada LPDP, kuliah S-2 dan S-3 ke luar negeri menjadi sebuah kewajaran. Tapi, sebenarnya, apa kaitannya tingkat pendidikan dan jodoh?
Ada seorang teman yang bikin survei sederhana terkait hubungan gaji dan jenjang pendidikan terhadap kemungkinan (likelihood) seorang laki-laki memilih calon pasangan hidupnya. Bagaimana, bila gaji calon istrimu lebih besar? Bagaimana, istrimu seorang master sedangkan kamu cuma sarjana atau calon istrimu seorang doktor sedangkan kamu tidak? Hasilnya, memang ada kecenderungan laki-laki sedikit jiper dengan gaji dan gelar akademis. Bagaimanapun, menurut saya, kepelikannya sebenarnya bukan pada gaji dan tingkat pendidikan, melainkan pada proyeksi jangka panjang. Apakah calon istri mau mengalah untuk mengasuh anak penuh waktu?Â
Lebih dari itu, mencari pasangan juga seperti mencari pekerjaan secara tidak langsung. Headhunter akan mencari applicant cocok, bukan yang overqualified maupun underqualified. Jadi, apapun pilihan yang diambil seorang perempuan, tidak ada salahnya. Toh, pilihan-pilihan hidup yang diambil akan mengarahkanmu padanya atau dia pada dirimu. Eaaa~
Baik bagi laki-laki maupun perempuan, memang cinta bukan soal memilih, tapi dipilihâbuat laki-laki tentu saja kamu dipilih oleh calon mertuamu. Sekarang, tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri agar bisa dipilih oleh orang yang didambakan. Bagaimanapun, sebanyak perempuan yang memilih untuk berkarir, sebanyak itu pula laki-laki yang sadar pentingnya pengasuhan penuh waktu pada anak mereka nanti.
Mau mengalah?
Lalu, bagaimana bila keduanya (suami-istri) memilih berkarir? Itu pilihan yang masuk akal. Karena tidak ada pemaksaan dalam pilihan hidup bukan? Semua dipilih secara sadar. Saya tentu tidak dalam kapasitas mempertanyakan keseriusan sepasang suami-istri PNS, sepasang suami-istri mengambil PhD di kampus berdekatan, atau sepasang suami istri yang menjadi dosen/peneliti di kota yang sama untuk memiliki momongan. Semua orang berjibaku memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil mereka. Seiring berjalannya waktu, kedua pasangan suami-istri belajar mengatur waktu secara efisien, membagi tugas, dan lain sebagainyaâdi situlah kelebihan orang berpendidikan tinggi dengan tidak. Orang berpendidikan tinggi itu berkomitmen, cerdas, punya kemampuan komunikasi yang terasah, manajemen waktu yang mumpuni, bi(a)sa bekerja dalam tekanan, bisa multitasking, IT-literate, punya daya serap dan adaptasi yang tinggi, dan seterusnya. Bagaimanapun, akan ada masanya salah seorang harus mengalah lebih banyak karena pendidikan lanjutan atau promosi karir. Sejenak, kadang kita perlu berkompromi.
Seorang teman (bapak tiga anak) pernah bercerita bagaimana putra-putrinya tidak seberprestasi mereka (dia dan istrinya) dulu. Dia dan istrinya bekerja di instansi yang sama. Teman yang lain berbagi keheranan, mengapa adik bungsunya jauh lebih berprestasi dibandingkan dia dulu saat di bangku SD dan SMP. Setelah digali, ternyata saat si bungsu kecil, ibunya sudah di rumah karena pensiun dini. Sedangkan ada juga yang bercerita dia dan semua saudara adalah para juara dari SD sampai SMA. Ayahnya hanya wirausahawan kecil lulusan madrasah tsanawiyah, sedangkan ibunya tidak lulus SD. Tapi, ibunya mengasuh mereka penuh waktu di rumah.
Faktor lain yang jarang diperbincangkan adalah faktor gizi dan perhatian ayah. Seorang teman bercerita bahwa saat baru punya anak satu, buat susu anak, mereka beli yang paling mahal. Tapi tidak begitu untuk anak kedua dan ketiga. Setelah mereka tumbuh remaja, anak pertama ternyata lebih cepat menangkap pelajaran dan lebih peka dibandingkan dua adiknya. Ini tergambar dari nilai rapor, lomba-lomba yang diikuti, dan perlakuan si anak pada orang-orang di lingkungan keluarganya. Sedangkan, satu lagi bercerita, bahwa di keluarganya semua anak diberikan perlakuan yang sama baiknya dan mereka tumbuh menjadi juara di bangku SD hingga SMA. Ibunya menambahkan daging belut di bubur tim mereka, katanya. Mungkin, ini rahasianya ibunya para juara!
Faktor yang tak kalah penting adalah sumbangsih ayah. Mengasuh anak bukan hal mudah. Maka para ibu butuh dukungan para ayah. Anak-anak yang mendapat perhatian ayah di masa kecilnya tumbuh menjadi orang yang lebih berani, baik dalam berkomunikasi maupun mengambil pilihan hidup (sumber: pengamatan pribadi). Tak dapat dipungkiri, ayah punya cara dan pendekatan yang berbeda dengan ibu dalam melihat hal baru (protektif/eksploratif), mengatasi krisis, memberikan reward and punishment, dan sebagainya. Dengan sentuhan keduanya, anak akan tumbuh lebih bijak dan luas pandangannya.
Sebagai penutup, barangkali memang ada kaitannya antara pendidikan tinggi yang diambil perempuan dengan jodoh yang tidak kunjung tiba. Tapi, menghambat aspirasi seorang anak bangsa, apapun gendernya, untuk belajar dan menimba ilmu tidaklah elok. Di setiap pilihan hidup yang kita ambil, kita baru saja mengambil satu atau beberapa langkah mendekati (atau menjauhi) sang jodoh kita idam-idamkan. Terlepas dari preferensi para akhwat sholihah intelektual dalam memilih pasangan hidup, jangan sampai ada yang menyalahkan jodoh yang belum juga datang melamar. Salahin yang lain gitu, apa kekâkurang banyak sedekah, kurang banyak istighfar, kurang banyak berbuat baik pada kedua orangtua. Pepatah bilang, semua akan indahâjuga basiâpada waktunya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Waktumu adalah hidupmu. Setiap helaan nafas tidak akan tergantikan lagi. Setiap momen yang berlalu, tidak akan bisa kembali lagi. JadiâŚ
âDemi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.â (QS. Al-Asr: 1â3).
Demi masa! Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang membutuhkan refleksi yang mendalam. Umumnya sumpah digunakan untuk:
1. Ketika marah 2. Ketika seseorang tidak percaya 3. Ketika seseorang memberi kesaksian 4. Untuk menarik perhatian orang lain (penggunaan dalam budaya Arab) 5. Untuk memberikan bukti dan menjadikannya sebagai saksi (dalam bahasa Al-Quran)
Allah menjadikan waktu sebagai saksi atas semua hal yang telah kita lakukan. Waktu juga merupakan bukti atas lalainya kita dalam mengejar sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan hidup yang sesungguhnya.
âWe have free time, but not freeâ â Ustad Nouman Ali Khan
Teringat kembali salah satu ceramah Ustad Nouman Ali Khan, bahwa kita memang memang memiliki waktu yang bebas, waktu yang kosong, waktu yang luang, yang belum jelas dipergunakan untuk apa. Tetapi waktu-waktu itu tidaklah bisa bebas kita pergunakan semau kita, karena kehidupan kita di dunia ini merupakan amanah dari Allah.
Bukankah waktu-waktu yang kita miliki ini adalah asset yang Allah titipkan kepada kita untuk kita pergunakan sebaik-baiknya untuk bisa menggapai Surga-Nya? Dan bukankah waktu itu sendiri yang kelak menjadi saksi di akhirat atas apa yang telah kita perbuat di dunia?
Wahai pemuda! Pergunakanlah masa muda sebaik-baiknya. Semoga Allah âAzza wa Jalla memberikan kita kemampuan untuk bisa memikul amanah kehidupan ini dengan hikmah dan penuh tanggung jawab. âââââ Selengkapnya kajian surat Al Asr oleh ustadz Nouman Ali Khan di https://medium.com/@faiza.fauziah/detikmu-hidupmu-c1bb194819fb
You canât trust your feelings
Although we would all like to trust our feelings, they are not a good guide for the ways things really are. They are often fickle and irrational â and not an accurate measure of reality. As youâve probably discovered:
1. Feelings vary depending on our health. If weâre sick we often feel despondent and blah.
2. Feelings vary depending on our hormones â which is why doctors recognize and treat PMS.
3. Feelings vary depending on events and the changing circumstances of our life. If things are going wrong, or weâre highly stressed, we feel inadequate and overwhelmed.
4. Feelings are affected by relationships. If we fall in love we feel happy and elated; if a relationship breaks up we feel rejected and depressed.
5. Feelings vary depending on the weather. If itâs sunny we feel happy and optimistic; if itâs cloudy and grey, we feel morose and negative.
6. Feelings can depend on the way weâre being treated. If someone in a store is rude to us, we may react with anger, or even feel ashamed.
7. Feelings are affected by our actions at the time. If we do something kind we feel good about ourselves; and if weâve hurt someoneâs feelings we may feel some regret.
So donât react and respond based on feelings alone. Always use your mind as well â and check your thoughts are accurate.
Kerja Keras atau Kerja Cerdas?
IMO, kerja keras dan kerja cerdas itu bukan dua hal yang perlu dibenturkan.
Kerja keras itu syarat minimum. Kalau kita bisa menambahkan dengan kerja cerdas, nilainya menjadi lebih baik.
Prinsip dasarnya: kerja cerdas, tidak boleh menghilangkan kerja keras.Â
Perkara seberapa keras definisi âkerja kerasâ-nya, disesuaikan saja dengan kemampuan masing-masing. Kita sinonimkan saja kata âkerasâ itu dengan âmaksimalâ, gimana?
Yang jelas, sebagai orang yang (mumpung) masih muda, saya masih memiliki keyakinan bahwa hasil yang baik, tidak ujug-ujug diperoleh dengan cara yang santai dan mudah.Â
Kalau kita merasa hasil yang saat ini sudah baik dengan cara yang effortless, percayalah, sebenarnya kita masih bisa menyajikan hasil yang jauh lebih baik dari itu.Â
Naikin standarnya. Jangan biarin standar kita, lebih rendah dari kemampuan kita yang sebenarnya jauh lebih tinggi.Â
Stabilitas itu milik orang-orang tua. Milik kita nanti di masa tua.
Karena sekarang kita masih muda, belilah tiket untuk menaiki wahana yang menakutkan dan mendebarkan. Memaksa kita untuk berfikir keras sampai pusing. Agar kita terlatih, agar kita menjadi entitas yang diperhitungkan di dunia, juga di akhirat kelak.
Selamat bekerja dengan cerdas dan keras. Jangan lupa juga untuk kerja ikhlas.
Push your limit!
â
Salam,
Pemuda Depok.
sumber gambar
What is 'Work'?
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat melakukan interview kepada salah seorang calon karyawan yang melamar kerja di perusahaan yang saat ini sedang saya bangun, sebutlah namanya Shinta. Di awal interview Shinta memperkenalkan dirinya dengan baik, dan sepanjang berjalannya interview juga menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan singkat, padat, lugas, itâs obvious she was being well-prepared.
Hingga sampailah pada satu pertanyaan terakhir, pertanyaannya sederhana:
âMenurut kamu, kerja itu apa sih? What is âworkâ?â
She look surprised.
Kali ini, dari ekspresinya kita tahu, bahwa Shinta tak menduga akan mendapatkan pertanyaan demikian. Sambil coba menjawab, Shinta terlihat lebih gugup, jawabannya tidak relevan, susunan kalimatnya berantakan, tanda otak dan mulutnya sedang bekerja bersamaan, namun terpisah satu sama lain.
Well, itâs not about Shinta. I never blame her. Itâs all about the question, and what should be the answer. Right?
But, why does it matter? Menurut saya, penting banget. Bayangin aja, kalau dipikir-pikir, dari 24 jam yang kita lewatin dalam sehari, let say kurang lebih 8 jam kita pakai buat tidur, dan 8-9 jam kita gunakan untuk bekerja (asumsi kita kerja 8 to 5). Itu kalau kerjanya âteng-goâ alias pulang tepat waktu, kalau lembur? bisa 10-11 jam kita bekerja. Itu belum sama waktu yang kita habiskan untuk transport berangkatnya ke kantor. Let say di Jakarta, yaa standard-nya kira-kira 1-2 jam lah sekali berangkat, pulangnya sama segitu juga, dengan kondisi harus menguras hati karena harus dempet-dempetan di KRL, atau macet-macetan di jalan. Berapa tuh totalnya? Minimal 12 jam! Bahkan kalau lembur bisa sampai 14 jam dari 24 jam yang kita punya dalam sehari. Gila ya?
Nah tapi faktanya, banyak banget orang-orang di dunia ini yang mengalami stress, bahkan depresi, karena kerja. Sampai ada yang sampai males banget ke kantor, menunggu-nunggu weekend datang dan terbeban ketika Senin tiba, sengaja berlama-lama di waktu istirahat, banyak yang menantikan hari libur, dan banyak lain hal. Buat yang sudah menikah, bahkan gak jarang karena kerjaan, gara-gara ada masalah di kantor, masalahnya hingga dibawa-bawa ke rumah tangga, komunikasi jadi gak berkualitas.
Bayangin tuh, the reason we woke up in the morning adalah untuk melakukan repeatable-action kayak yang saya sebutin di atas. Beberapa bahkan benar-benar ngelakuin itu berulang-ulang dari lulus kuliah sampai pensiun setelah puluhan tahun bekerja. Nah, pertanyaan besarnya adalah: Is that all worth it? Do we really spend our life, or waste our life? If itâs not worth it, so why do we do it?
For some reason, emang gak bisa munafik, âYa kalau lo gak kerja ya lo gak hidup, thereâs no free lunch!â. Sadly, itâs true. Nah, ini sebenarnya ya pilihan hidup masing-masing, kalau mau tetap begitu ya nggak apa juga. Tapi ya coba ditanya aja ke dalam diri sendiri: âIs that worth it?â. Jika jawabannya tidak, so there must be something wrong with you.
Trus apa tuh yang salah? Well, in my opinion, yang salah adalah cara kita memandang âkerjaâ itu sendiri. Bagi kebanyakan orang, kerja itu ya bertahan hidup, kita kerja hanya untuk makan. Waktu yang banyak kita habiskan itu, ya sekedar untuk survive. Apa implikasinya? Buat sebagian orang, jadinya meaningless. Gak ada purpose-nya, hilang arah, sehingga yang dirasakan ya hanya berlelah-lelahnya saja, berangkat ke kantor jadi beban. Kalaupun dapat gaji, ya toh gaji akan selalu habis juga tiap bulannya, gak peduli seberapa besar gaji yang didapat (btw ini bener lho).
Menurut saya, definisi âkerjaâ yang seharusnya, adalah #berkarya. Gimana tuh maksudnya? Coba sekarang bayangin, kalau seandainya di dunia ini semua orang dapat gaji yang memadai, tiap orang sudah bisa menghidupi dirinya masing-masing, urusan survive nya sudah selesai. Lalu? Apa yang akan kita lakukan? What would you do? Jalan-jalan sepuasnya? Shopping? hang out sama temen dan keluarga sepuasnya. Oke, tapi saya jamin gak akan lama. Paling sebulan dua bulan. Or let say setahun lah. Then what?
Kerja yang membuat kita bahagia, adalah kerja yang merupakan panggilan hidup kita, based on apa yang ingin kita tuju, kerja yang sesuai dengan life mission kita. Saya jamin, berapapun gajinya, kita akan lebih bahagia. At the other side, kalau kita bekerja sesuai dengan life mission kita, maka orientasi kita pun otomatis akan berubah, yang tadinya salary-oriented menjadi accomplishment-oriented. Hidup yang kita habiskan, jadi berharga. Meaningful.
Makna kerja dari seorang founder Startup yang lagi hits , Vestifarm nice reminder kakanda @dharmanjarrahmanâÂ
Novel Kang Abik dan Mensyukuri Muzammil
Dulu, setiap kali membaca novel karya Kang Abik, saya selalu merasa bahwa tokoh yang dilukiskan kang Abik dalam novel beliau terlalu malaikat. Fahri, Azzam, Fahmi, Afif, Anna, Aisha, Husna, hingga Aina. Semuanya adalah orang-orang keren yang luwes dan memahami Islam dengan sangat baik.
Saya dulu membayangkan bahwa mereka semua adalah tokoh dongeng yang tidak akan terwujud di dunia nyata. Tapi semakin jauh saya melangkah, saya menemukan banyak profil yang shalih, cedas dan matang. Alhamdulillah Allah mentakdirkan sebagiannya hadir tidak jauh dari jangkauan saya.
Tiga dari lima murobbiyah saya zaman kuliah, saat ini sedang menempuh PhD di Eropa (satu di Bristoll, satu di Frankfurt, dan satu lagi di Aberdeen). Murobbiyah saya yang di Aberdeen bahkan sudah menghafal 30 juz. Terakhir saya mendengar kabar bahwa beliau sudah menunaikan cita-cita beliau untuk murojaâah di Selat Bosphorus, Turki.
Sementara dua murobbiyah saya yang lain memilih menempuh jalan menjadi ibu rumah tangga yang bagi saya tidak kalah hebatnya. Ibu yang pertama punya 6 orang anak shalih shalihah. Beliau menjadi ibu rumah tangga yang juga sibuk berkhidmad di ruang publik dan aktif memberi penyuluhan tentang ketahanan rumah tangga. Ibu yang kedua punya satu anak (sekarang sedang hamil anak kedua) juga dekat dengan masyarakat dan banyak memberikan pelatihan tentang kerajinan tangan.
Melalui beliau semua, saya seolah menemukan profil wanita shalihah dan bermanfaat. Sejak itu, saya berfikir bahwa tokoh dalam novel-novel kang Abik bukanlah tokoh fiktif. Mereka bahkan bisa kita ikhtiarkan untuk âdicetakâ secara massal bila kita bergerak dan bersinergi dalam dakwah.
Keramaian hari patah hati nasional setelah Muzammil Hasballah menikah membuat saya geli sekaligus bersyukur. Geli melihat respon para akhwat yang minta dicubitâŚ..bisa-bisanya udah ngaji lama tapi kok masih posting galau lihat Muzammil nikah.
Bersyukur karena kita mulai bisa mengangkat profil idola baru yang berbeda dengan idola yang lain. Sebelumnya, hari patah hati nasional ada karena Song Joong Ki dan Hamish Daud ketemu jodoh, Alhamdulillah ternyata imam muda dari ITB ini juga bisa bersanding dengan dua figure sebelumnya dimana kalau dua figure sebelumnya diidolakan karena wajah, Muzammil diidolakan sebagai sosok shalih yang kekinian.
Saya, meskipun tidak suka dengan figuritas, tetap tidak bisa menafikan bahwa figur idola di suatu zaman pastilah menjadi standard dimana kalau orang lain ingin di sebut keren, dia harus bisa merubah dirinya menjadi mirip dengan figure yang diidolakan.
Lebaran tahun lalu, anak di kampung saya mengidolakan Boy dan motornya. Saya nggak tau Boy itu siapa, soalnya saya jarang banget nonton TV ~XD Kok pas ditanya si Boy siapa, ndilalah ternyata sosok Boy itu cuma cowok kaya yang hobi motoran ngalor ngidul bersama ceweknya. Kisah si Boy ini diramu seheroik mungkin hingga tokoh yang menurut saya biasa aja malah jadi idola para remaja tanggung.
Dunia kita ini selalu penuh perang pemikiran. Maka menghadirkan sosok idola yang baik juga termasuk dakwah bagi generasi muda. Saya kadang cemburu melihat sosok-sosok yang ada di hafidz Indonesia RCTI, iri ngelihat Wirda Mansyur yang masih muda tapi hafal Al Qurâan dan berwawasan luas sementara saya masih gini-gini aja.
Tapi setiap kali melihat mereka, saya semakin sadar bahwa pekerjaan rumah kita adalah mengkondisikan lingkungan agar bisa menghasilkan generasi-generasi yang cerdas dan mampu memikul amanah dakwah di usia muda. Seperti Usamah bin Zaid yang menjadi panglima di usia 17. Seperti Imam SyafiâI yang hafal Al Muwathaâ usia 9 tahun.
Kalau target kita adalah menghasilkan generasi-generasi unggul seperti Usamah dan Imam syafiâI (saya bilang generasi, bukan hanya anak kita aja), berapa jauh lagi perjalanan kita? Masih jauh banget.
Di tumblr aja umur 20 tahun masih sibuk nanya âGimana kalau kangen sama lawan jenis ~XDâ padahal udah tau kalo Islam udah ngasih tuntunan. Kalo kangen mestinya ya diberaniin ngelamar ato kalo nggak berani ya puasa terus dzikir ~XD. Saya ga ada maksud mengolok-olok recehnya pertanyaan ini. Toh bagaimanapun pertanyaan yang demikian juga ada karena lingkungan kita belum mampu untuk jadi support system buat numbuhin generasi yang matang di usia balighnya.
Jadi keinget pas ngobrol sama Bapak saya perkara usia siap nikah. Bapak saya ngejawab âYaa mestinya orang yang udah baligh dan mukallaf (bisa membedakan yang benar dan yang salah) udah bisa dikasih tanggung jawab buat nikahâ
âTapi kan umur segitu belom kerja Pak? Malah ngerepotin orang tua yang adaâ
âItukan logika kamu yang hidup di zaman kayak gini. Logika di zaman nabi beda karena di usia baligh, orang udah matang pikirannya. Abdullah bin Umar aja ikut perang umur berapa?â
Dakwah pada dasarnya harus punya visi untuk membentuk kestabilan diri juga membentuk kestabilan lingkungan hingga menghasilkan generasi yang shalih dan menshalihkan.
Meskipun perjalanan masih sangat jauh, saya bersyukur karena generasi muslim yang shalih seperti Muzammil Hasballah, Alvin Faiz dan Wirda Mansyur banyak bertumbuhan. Mestinya kita tidak hanya memandang fenomena pernikahan Muzammil dan Sonia ini dari euphoria hari patah hati nasional saja. Tapi bagaimana kita mengamati lingkungan tempat beliau tumbuh agar kelak kita bisa punya gambaran untuk menghasilkan generasi yang minimal shalih dan cerdasnya sama. Atau bahkan lebih shalih lagi.
Jadi buat sayaa, Itâs ok kalo ada ngerasa sedih pas lihat Muzammil menikah. Paling tidak, gambaran kalian tentang suami idaman udah lurus. Yang penting dijaga izzah dan iffahnya. Jangan khawatir, jodoh udah ada yang ngatur.
Dan bagi para Ikhwan, nggak perlu terlalu bahagia karena Muzammil sudah menikah terus kalian ngerasa saingan berkurang. Jodoh itu bukan piala yang harus diperebutkan. Juga bukan seperti sandal masjid yang bisa ditukar-tukar.
Yang penting bagi kita semua adalah bagaimana berusaha untuk terus memperbaiki diri, bukan hanya demi bersiap menyambut jodoh yang baik, tapi juga bersiap menunaikan amanah peradaban setelah menikah kelak.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Sebab tidak ada gunanya memperjuangkan seseorang yang tidak mau diperjuangkan. Sebab cinta itu tidak hanya sehari-sebulan. Butuh dua pihak yang sama-sama yakin sejak awal.
Dan bersedia memperjuangkan bersama-sama, tidak hanya salah satu.
Kurniawan Gunadi
(via kurniawangunadi)
By Emm Roy