Sering kudengar, seiring anak tambah besar, maka pengasuhan akan lebih mudah. Kupikir isu MPASI, toilet training, tantrum, dan semacamnya itu sudah cukup melelahkan. Lalu, di sinilah aku dan Luthfi sekarang: menghadapi anak pertama kami yang segera akan remaja.
Benar kata mereka, bahwa ketika remaja, anak merasa sudah mulai independen, ingin lebih terasosiasi dengan temannya daripada keluarga, dan mulai menunjukkan bahwa mereka bisa memperjuangkan pendapat mereka yang bertentangan dengan kita. Aku bukan tidak siap. Aku tahu ini semua akan terjadi. Tapi ternyata ketika menghadapinya, na no na no juga rasanya. Seringkali rasanya clueless, udah emosi duluan, nggak nyangka anak bisa mendebat kita, menunjukkan bahasa tubuh yang terasa tidak sopan, mengeluh hampir setiap kondisi. Rasanya sulit sekali membangun koneksi karena terasa searah. Mereka lebih senang membangun koneksi dengan temannya daripada dengan orang tuanya. Jadi orang tua terkesan controlling, nggak mau dengerin, dengan kata lain: antagonis.
Kami punya satu isu tambahan: membesarkan anak di Barat. Di sini, anak dipahamkan betul dengan Hak-Hak Anak. Setiap pekan dibacakan tuh, anak-anak berhak mendapat apa saja merujuk ke Children Rights UNICEF. Bagus memang untuk mencegah anak-anak menjadi korban abuse orang tuanya. Sayangnya, agak kurang berimbang. Hak-hak itu dilihat satu sisi saja, ya hak; tanpa menyebutkan bahwa mereka yang masih usia anak-anak itu tetap menjadi tanggung jawab orang tua mereka. Anak-anak sering tidak sadar bahwa ketika orang tua berusaha mengarahkan, itu bukan serta merta berusaha controlling. Tapi ya memang berusaha mengerjakan tanggung jawab untuk melindungi mereka. Apalagi di Islam, beuh, tanggung jawab soal anak ini kan kita pandang sebagai amanah dari Allah. Gak maen-maen bos!
Nah, clash itu kan seringkali terjadi di sini: orang tua berusaha mengarahkan, anak merasa terlalu dikontrol. Kalau sudah begitu, kedua pihak sama-sama enggan berusaha membangun koneksi. Kalau berkelanjutan, sudah lah, hubungan akan makin runyam ke depannya. Orang tua seringkali tidak siap karena menganggap bahwa anak yang baik itu ya anak yang selalu menurut, mendengarkan, dan menunjukkan kepatuhan. Padahal, seiring bertambahnya usia, anak akan mulai -dan memang seharusnya- menunjukkan bahwa mereka punya pendapat sendiri. Sungguh memanglah: pengasuhan itu sepanjang hayat.
Ceritanya, beberapa hari lalu aku mengecek hape Fahima dan kubacalah percakapannya dengan teman-temannya. Hatiku terasa merosot ke dasar bumi saat melihat Fahima menuliskan kata-kata kasar secara membabi buta. Rasanya tidak percaya, dia menuliskan itu. Tentang ayahnya pula. Dia terlihat sangat kesal saat dia sedang charging hape lalu tiba-tiba diambil Ayahnya karena 2 charger yang kita beri ke anak-anak sudah rusak semua. Luthfi gak mau kalau charger berikutnya rusak juga. Anakku terbaca sangat kesal dan mengeluarkan kata-kata kasar tentang Ayahnya. Aku meng-capture beberapa percakaan itu sambil berusaha tetap tenang. Di depan kami, Fahima selalu against using bad words. It's a big NO. Kaget juga ternyata dia berkata kasar selancar itu, segala bad words dipakai untuk menceritakan ayahnya. Aku paham juga, teman-teman dia di sini kan sangat mudah dan enteng menggunakan bad words. Ya sama juga dengan anak-anak di Indo yang kayanya sekarang gampang banget ngomong "anj...."
Kuceritakanlah ini semua kepada Luthfi. Dia pun kaget luar biasa. Aku berusaha memroses perasaanku, aku ini marah, kesal, sedih, kecewa, atau merasa gagal mendidik? Dan nampaknya, semuanya. Di situ aku benar-benar tak tahu harus apa dan cuma nyebut "Ya Allah. kasih petunjuk please." Kami butuh 3 hari untuk memproses ini bersama dan selama itu, kami bersikap biasa saja ke Fahima like nothing happened. Aku hanya berpikir, "kok bisa sih Nak, ayahmu kan yang tiap pagi nyiapin semua keperluan sekolahmu, inilah itulah...." tapi seriusan, sebagai orang tua, kita tu sangat mudah terjebak merasa berjasa atas segala yang kita lakukan ke anak sehingga merasa anak tu "harusnya bersyukur". Padahal poinnya bukan di sana. Ya memang anak kita lagi bertumbuh. Aku teringat kata Bu Ela bahwa, "momen anak berbuat salah itu penting. Karena dari momen itu, kita jadi bisa belajar."
Setelah diskusi panjang, kami sepakat harus ada intervensi tentang ini. Kami menyimpulkan poin-poin esensi yang harus kita sampaikan:
1. menegaskan kembali bahwa orang tua adalah penanggung jawab utama anak sampai mereka dewasa nanti. Suka tidak suka, Ayah dan Ibu akan tetap berusaha menjaga teteh sesuai dengan norma yang baik because otherwise, kita malah jadi neglecting. Meski demikian, kami berkomitmen akan berusaha memberi ruang dan menjadi tempat aman untuk teteh mengekspresikan segala hal;
2. segala obrolan tidak boleh mempermalukan dia sebagai anak. Dia masih sepuluh tahun, ya memang wajar jika berbuat salah. Intervensi tidak boleh membuat dia merasa dipermalukan, dipersalahkan, disudutkan, lalu benci pada dirinya sendiri,
3. harus ditegaskan bahwa apapun yang terjadi, ayah bunda tetap sayang sama Fahima. Ini poin yang sangat penting dan memang selalu kita tegaskan bahwa "I love you even if I'm angry",
4. tidak ada usaha untuk menghukum Fahima. Sempat terpikir kami akan mengambil handphone-nya. Tapi setelah dipikir, apa poin mengambil handphone? Justru, setelah intervensi ini, harapannya Fahima bisa berlatih lebih bijak menggunakan handphonenya, dan bisa berteman dengan lebih mindful. Sedekat-dekatnya dengan teman, harus tetap kritis, mana yang bisa kita ikuti dan mana yang enggak. Apalagi dengan kondisi di sini, teman-temannya teramat sangat beragam dari berbagai negara, agama, bahkan ateis.
Kadang orangtua juga terjebak ingin showing off power, ingin menunjukkan bahwa "hei, aku yang punya ini rumah, makanya aturannya, kamu harus ngikut apa kataku!"
Begitulah kami menyampaikan. Berteman boleh saja, bagus malah, apalagi Fahima yang jelas identitas muslimnya ini (pake kerudung, puasa saat Ramadan, dll) bisa berbaur dan diterima dengan baik oleh semuanya. Aku sangat bangga di situ.
Alhamdulillah selama berdialog, Allah bantu kami bisa tenang, obrolan mengalir lancar, Fahima terbuka dan kami tidak ada niat untuk mencari pengakuan bahwa dia sudah berbuat salah dan minta maaf segera saat itu juga. Kami tidak menyampaikan bahwa kami tahu chat-nya dengan temannya. Kami hanya ngobrol santai secara umum saja, atas nama teteh sudah mau SMP. Bahkan karena tidak tahu, Fahima masih tidak mengaku bahwa dia menggunakan bad words parah. Dan, yaah, tidak apa-apa. Tujuan ngobrol kami memang bukan untuk itu, tapi untuk membangun koneksi dan menegaskan kembali posisi orang tua. Ternyata, beberapa hari setelahnya, ....... bersambung.
*capek nulis kepanjangan wkwkkwk