âSooner or later, different scares peopleâ.-The neurologist to Christianâs father
Genre: Aksi/Kriminal/Drama
Sutradara: Gavin OâConnor
Penulis skenario: Bill Dubuque
Rating Imdb: 7,8/10 dari 14.356 suara
Stars: Ben Affleck, Anna Kendrick, J.K. Simmons.
Film yang mengangkat tokoh dengan karakteristik psikologis unik (jika tidak ingin disebut gangguan) tampaknya kian banyak. Jika dulu Tom Hanks sukses memerankan seorang ahli matematika dengan Skizofrenia dalam Beautiful Mind, lalu ada kisah Alan Turing, seorang kriptoanalis yang mengaku homoseksual dalam The Imitation Game, tahun ini muncul The Accountant.
Umumnya, persamaan dari film-film ini adalah tokoh utama dengan keahlian melebihi rata-rata, meski memiliki perbedaan psikis tertentu, begitupun karakter utama di The Accountant. Awalnya, kita bisa menebak film ini akan lebih banyak bercerita tentang seseorang dengan komputasi neraca yang harus balans dan sebagainya. Nyatanya, film ini justru lebih menekankan pada sisi action dan kriminalitasnya.
Christian Wolff (Ben Affleck â yeah, heâs Bruce Wayne from Batman vs Superman) sejak kecil tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai pekerja militer dan adik laki-lakinya. Sang ibu meninggalkan rumah karena merasa nggak sanggup menjalani hidup yang complicated bersama Wolff yang menderita autisme dan OCD. Sementara sang ayah, merasa yakin perbedaan pada diri Wolff bukanlah penghalang. Untuk mengalihkan Wolff dari âduniaâ-nya, mereka berpindah-pindah dari negara ke negara, termasuk Indonesia. Di sini, ada scene di mana Wolff kecil dilatih pencak silat dan ayahnya memegang koran Jakarta Post. Uwoh! Bahkan, Wolff kecil sempat ngomong bahasa Indonesia walau dengan terbata-bata.
Sesuai tebakan sang ayah, Wolff memang tumbuh layaknya anak-anak lain, namun dengan kemampuan analis melebihi rata-rata. Suatu tragedi menyebabkan ayahnya terbunuh dan Wolff harus masuk penjara. Wolff kemudian berteman dengan seorang ahli matematika lain yang menjadi sahabat karibnya selama di penjara. Kematian sahabat karibnya ini membuat Wolff melakukan tindakan kriminal yang membuat seorang petinggi di Treasury Departement, Raymond King (J.K. Simmons), merekrut wanita bernama Medina untuk melacak sosok Wolff. Alasannya, petinggi ini mengetahui masa lalu Wolff.
Di sudut kota lain, Wolff direkrut untuk melacak ketidakseimbangan kas di perusahaan Living Robotics yang ditemukan analis in-house bernama Dana Cummings (Anna Kendrick). Anehnya, para manajer di Living Robotics meminta mereka menghentikan analisis itu. Usaha ini juga membuat Wolff maupun Dana diincar untuk dibunuh, sehingga mereka harus bersembunyi di sebuah hotel mahal di mana mereka akhirnya tahu alasan penelitian tersebut dihentikan. Satu per satu petinggi di Living Robotics juga ditemukan mati secara tak wajar.
Wolff akhirnya menemukan titik terang kenyataan tersebut ketika berusaha menyusup ke kediaman keluarga Gambino yang telah membunuh sahabat karibnya di penjara dulu. Wolff bertemu dengan The Assassin, sosok yang memimpin tindakan kejahatan, termasuk yang berkaitan dengan Living Robotics. The Assassin, pada akhirnya, diketahui adalah orang penting dari masa lalu Wolff yang mengenali Wolff dewasa dari gumaman Wolff selama membunuh krunya lewat pantauan cctv. Gumaman yang sering dinyanyikan sang ayah ketika Wolff kecil penderita autis tengah tantrum.
Karakter yang dibawakan Ben Affleck (Wolff dewasa) menurut gue agak mirip dengan sosok Bruce Wayne; cool, tampang datar, kuat, anti-mengeluh. Superhero look alike begitulah. Selain menampilkan adegan aksi yang seru (karena ada adegan tembak menembak panjang, orang mati sana-sini, dan tetap si Wolff ini pasang tampang datar. WTH!), film ini tetap memunculkan nilai kekeluargaan antara ayah dan kedua anak laki-lakinya, juga Wolff dan adiknya, meski nggak sekentara adegan kriminalnya.
Awal film didahului dengan konflik dan pembahasan masalah akuntasi dan pajak yang mungkin agak sedikit bikin mikir atau ngantuk, kecuali orang akuntansi kali, ya, yang nonton. Anna Kendrick yang petite disandingkan dengan Ben Affleck yang tinggi, besar (dan lebar) itu sungguh sebuah pemandangan yang unik, juga karena karakter Dana yang ceria dan Wolff yang datar. Sesuai quotes di atas, film ini menitipkan pesan bahwa pada dasarnya perbedaan akan membuat orang lain ketakutan, bahkan menjauh, karena orang cenderung membenci yang tidak mereka mengerti. Namun, Wolff dapat membuktikan perbedaan yang dimiliki justru membuat ia akhirnya mendahului yang lainnya. Hidup yang tidak biasa-biasa saja. Pengalaman yang luar biasa.