Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah Sulawesi Selatan. Ada tiga daerah yang saya kunjungi, Pare-Pare, Gowa dan Maros. Kebetulan ada event dari lembaga saya di Pare-Pare, namun karena setelah itu weekend, jadi saya teruskan saja perjalanan. Karena kebetulan rumah orangtua suami saya ada di Makassar, jadi gak perlu pusing mikirin biaya hotel hehehe. Jadi hanya teman saya saja yang menyewa hotel.
Perjalanan dimulai pada Rabu malam (9/8). Saya berangkat berdua dengan satu orang teman, Mas Dian namanya. Pesawat kami berangkat dari Halim menuju Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 22.00 dan sampai di Makassar sekitar pukul 02.00, agak lama, karena ada kendala parkir saat landing. Setelah menginap semalam di Makassar, kami pun langsung menuju Pare-Pare dengan menyewa mobil. 2 hari di Pare-Pare, kami pun kembali ke Makassar pada Jumat (10/8) sore.
Keseruan dimulai saat kami memutuskan untuk pergi ke peternakan di Maros dan Gowa pada Sabtu (11/9). Semenjak di Jakarta sebenarnya kami sudah merencanakan kunjungan ini, namun agak sempat ragu karena teman-teman kantor cabang Makassar yang tadinya mau menemani kami, tiba-tiba berhalangan karena satu kantor mereka mengadakan outing ke Malino. Untung masih ada satu orang yang bersedia menemani kami pergi ke peternakan. Kebetulan peternakan yang akan kami kunjungi ini adalah binaan dari lembaga tempat saya bekerja, dan yang mendampingi kami kebetulan pendamping program peternakan tpendamping program peternakan tersebut.
Singkat cerita, pertama kami mengunjungi peternakan yang ada di Gowa. Kurang lebih satu jam perjalanan dari rumah Ibu mertua saya di Sudiang, Makassar. Kami masih menumpang mobil yang kami sewa saat ke Pare-Pare. Beruntung supirnya sangat baik, tidak minta macam-macam, dan menguasai medan, jadi kalau mau cari makanan enak, tinggal tanya, HAHA. Di Gowa, kami mengunjungi sentra ternak kambing. Program pemberdayaan disini baru berjalan 4 bulan. Meski baru seumur jagung, para peternak binaan merespon positif program ini. Mereka yang sebelumnya bekerja serabutan, kini mereka memiliki harapan dengan menggembala domba. Yang unik dari peternakan ini adalah, para peternak tidak perlu repot-repot bersaing dengan peternak besar yang modalnya lebih tinggi. Mereka memiliki kepastian pasar, yaitu lewat program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa. Iya, saya kerja di Dompet Dhuafa, hehehe.
Tebar Hewan Kurban sendiri adalah salah satu program tahunan Dompet Dhuafa. Berbeda dengan kurban-kurban pada umumnya, kurban yang disalurkan lewat Dompet Dhuafa, akan disebar ke berbagai daerah di Indonesia dan juga negara-negara lain yang membutuhkan. Latar belakang diadakannya program ini sederhana, yaitu terlalu banyak daging kurban menumpuk di kota. Sedangkan di daerah-daerah terpencil diujung sana, banyak masyarakat yang bahkan makan daging setahun sekali pun sudah Alhamdulillah. Kita mungkin sering merasakannya sendiri, saat Idul Adha tiba, kulkas kita akan penuh dengan berkantung-kantung daging kurban. Ibu saya sendiri bahkan seringkali bilang “Bingung ini daging mau diapain lagi, dari di sate sampe di gule, tapi kok gak habis-habis.” Dan pastinya banyak ibu-ibu lain di daerah perkotaan yang merasakan hal yang sama. Untuk itulah Dompet Dhuafa dengan program Tebar Hewan Kurban nya, berinisiatif untuk menyebar kebahagiaan dari tiap potong daging kurban tersebut ke daerah-daerah.
Kembali ke perjalanan “tugas sekaligus pulang kampung” Saya. Setelah dari pemberdayaan kambing di Gowa, kami melanjutkan perjalanan ke peternakan Sapi di daerah Bantimurung, Maros. Terletak dibawah bukit-bukit, peternakan sapi ini dikelilingi oleh padang rumput yang luas. Berada disitu, membuat saya merasa berada di padang rumput di film-film koboy Amerika HAHA. Disitu, kami mengobrol panjang lebar dengan peternak binaan Dompet Dhuafa. Mereka sangat amaze dengan progres yang mereka rasakan semenjak ikut program Tebar Hewan Kurban. Kelompok peternak ini yang tadinyahanya mempunyai 4-8 sapi, kini bisa sampai 20-an sapi. Dan itu semua ludes habis terjual saat Idul Adha. Jadi bukan hanya menyebar kebahagiaan daging kurban ke pelosok, program ini juga ternyata membantu hajat hidup para peternak yang berpotensi tapi terbatas kemampuan manajerial maupun tergerus persaingan pasar. Unik!
Setelah 4 hari di Sulawesi Selatan, dan disusul suami *harus banget ditulis, De?* HAHA, akhirnya pada hari Minggu (13/8) Saya kembali ke Jakarta dengan sejuta hikmah *Lebay*. Setidaknya, walaupun tak banyak orang yang mengerti, perjalanan kemarin menjadi catatan indah yang akan saya sampaikan ke anak cucu saya. Bahwa bekerja itu tidak harus melulu di gedung pencakar langit, atau menjadi birokrat handal berpenampilan necis. Tapi filosofis bekerja adalah lebih dari sekedar menimbun kepingan uang, tapi juga harus menimbun kepingan hikmah. Dan perjalanan ini menjadi suntikan tenaga untuk saya di bulan ke-11 bekerja di lembaga ini. Semoga serum vitamin dari perjalanan kemarin bisa terus bertahan hingga nanti Allah benar-benar meminta saya untuk undur diri J
“So remember Me; I will remember you. And be grateful to Me and do not deny Me.” QS.Baqarah:152
Dari Gedung Filantropi lantai 2, tempat Saya ‘bersenang-senang’
Dea Putri Noviani Pratiwi.