Kalau hatinya sudah pada level tinggi, maka dunia yang tak disetujui seakan-akan menjadi lucu. -Caknun-
Not today Justin
Interview Vampire Daily
tumblr dot com

KIROKAZE

PR's Tumblrdome
Claire Keane

bliss lane
Cosmic Funnies

oozey mess

blake kathryn

Andulka
ojovivo

Love Begins
Misplaced Lens Cap
Doug Jones
🪼
todays bird

tannertan36
🩵 avery cochrane 🩵

seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from Portugal
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Senegal
seen from France
seen from India

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from Canada
seen from United States
@cozallis
Kalau hatinya sudah pada level tinggi, maka dunia yang tak disetujui seakan-akan menjadi lucu. -Caknun-

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Attachment, Negosiasi, Integrasi
Dari sekian banyak konflik yang gue alami ketika berurusan dengan orang lain, gue jadi paham bahwa bekerja bersama orang lain itu memang akan mengekspose segala sisi buruk dalam diri kita wkwk. Sisi egoisnya, sisi tidak mau mendengarkan, kemelekatan, rasa takut yang nggak rasional dan banyak lagi. Makanya muamalah memang jadi salah satu jalur mengenal orang lain.
Ada hal menarik yang juga gue dapat dari konflik. Banyak konflik yang awalnya gue kira konflik antar manusia:
"Gue kok nggak nyaman ya sama dia? Sepertinya dia memang jahat"
"Gue kok nggak suka ya sama kritiknya dia? Sepertinya dia memang sengaja nyerang gue"
....lalu gue belajar memeriksa akar segala perasaan yang tidak nyaman. Turns out banyak konflik-konflik yang gue alami tuh dipicu ego dan kemelekatan (attachment) yang tidak sehat terhadap sesuatu.
Attachment jarang terlihat besar dan dramatis. Ia sering hadir dalam bentuk yang ketenangan dan ketekunan yang rasional. Kalau nggak tertrigger nggak kelihatan. Tapi begitu tertrigger, kita sadar bahwa ada banyak hal yang kita genggam terlalu berat. Entah itu ide, arah, peran, dan banyak hal yang lain. Ketika hal tersebut diusik oleh orang lain, kita ikut terasa terguncang.
Attachment yang sehat memberi kita energi. Ia membuat kita bisa konsisten dan disiplin menjalankan sesuatu. Tanpa attachment, kita mungkin tidak punya daya juang. Tetapi attachment juga membawa beban. Ketika kita melekat terlalu dalam terhadap satu hal, maka perbedaan perspektif tentang hal tersebut jadi terasa ancaman. Bahkan koreksi dari orang lain seperti serangan. Dan kegagalan kecil bisa berkembang menjadi kekalahan pribadi yang traumatis.
Contoh konkretnya apa?
Gue ngedesain program sampai lembur malam-malam. Lalu ketika orang lain mengkritik, maka respon reflek pertama pasti membuktikan kualitas program kita. Meyakinkan biar program kita diterima. Bukan mendengarkan kritik dengan tenang.
Gue ga nyuruh meragukan diri sendiri atau sampai second guessing ya. Tapi ada bedanya orang yang mendengar untuk mendengar atau mendengar untuk menjawab ~XD Nah yang mendengar untuk menjawab ini seringkali akarnya attachment yang ga sadar. Yang bikin kita "orang ini nyerang ide baruku" sehingga kita menjadi bias dan tidak bisa memahami bahwa hal baru ya memang biasanya diragukan dulu. Apalagi kalo resourcenya dikit.
Pernah juga gue mengalami perasaan:
"Kok kalo gue achieve sesuatu, gue nggak dipuji ya? si xyz sering dipuji padahal ga setinggi gue. Si xyz vokal banget dan suaranya keras. Apa gue ngikutin dia aja biar didengerin"
kemudian perasaan tersebut berkembang:
"Apa gue iri ke xyz?"
Gue istighfar wkwkwk. Ini perasaan macam apaaa. Udah umur 35 baru mengalami perasaan semacam ini.
Negosiasi: Percakapan yang Tidak Terdengar
Suara hati kita seringkali memang suara yang paling jujur. Tapi kejujuran itu tidak sama dengan fakta wkwk. Memori manusia itu hasil rekonstruksi otak. Hampir bisa dipastikan bercampur dengan emosi. Itulah kenapa saat kita sebel sama orang, otak seringkali mengambil perspektif yang jelek-jelek tentang orang tersebut.
Again ini obrolan bukan buat meragukan diri sendiri yaaaa. Lebih mengajak untuk punya jeda saat nemu problem. Lanjutan suara hati gue yang tadi:
"Apakah Dea iri dengan xyz?"
"Apakah gue insecure sama xyz?"
..... atau gue sebenernya cuma jenuh dan merasa dunia gue terlalu kecil? gue sendiripun di posisi ga bisa mengendalikan respon orang lain terhadap sesuatu. Masak iya gue bilang ke semua orang:
"Eh kamu harus menghargai pencapaianku"
Gue pun meninggalkan percakapan ini sambil banyak istighfar. Sampai suatu hari gue sibuk kerjaan lain yang bikin gue happy dan gue lupa sama rasa nggak nyaman perkara achievement yang ga dipuji tadi.
Di titik ini gue jadi paham bahwa gue sebenernya nggak iri wkwk. Gue cuma terlalu menempelkan kampus ke identitas. Sejak itu, gue belajar bahwa kerjaan ya memang kerjaan aja. Bukan sesuatu yang perlu kita bawa sampai rumah, sampai hari libur, sampai memakan hidup kita. Biar dunia kita lebih luas.
Ini cuma contoh kasus sederhana aja. Di luar itu masih banyak lagi. Contohnya pas rapat di satu forum yang hirarkis. Mau serasional apapun argumen kita, arah respon forum akan selalu sama. Nggak akan mendengarkan kita. Gue yang dulu mikir:
"Apa gue perlu jadi orang yang kuat dulu ya?"
Sampai sekarang paham bahwa setiap tempat punya tipe pembicaraan sendiri dan punya porsi alokasi energi sendiri. Ga perlu terlalu attach dengan perdebatan. Alokasikan energi secukupnya saja.
Saat gue melewati banyak sekali gesekan, sebelum arguing keluar, ternyata ada banyak negosiasi di dalam yang perlu kita lewati. Negosiasi ini sunyi. Ia muncul dalam bentuk pertanyaan kecil: Apakah ini perlu dibela? Apakah ini tentang nilai atau tentang harga diri? Jika hasilnya tidak sesuai, apakah aku tetap utuh?
Negosiasi bukan tentang mengalah. Ia tentang memeriksa kemelekatan. Kadang kita sadar bahwa yang kita pertahankan bukan hal mendasar. Kadang kita justru semakin yakin bahwa ini memang prinsip.
Negosiasi membuat kita tidak langsung reaktif. Ia memberi jarak antara emosi dan tindakan. Tanpa negosiasi, attachment berubah menjadi impuls yang membuat kita selalu reaktif.
Integrasi: Melepas Tanpa Menghapus
Setelah proses negosiasi, biasanya ada proses integrasi. Kadang integrasi itu nampak seperti netral dan plin-plan. Atau mungkin tidak tegas wkwk. Saat muda, kita mungkin suka ketegasan. Tapi semakin berumur, ternyata yang kita butuhkan adalah keluasan sudut pandang dan kemampuan memegang kontradiksi dengan tenang.
Lantas integrasi itu apa?
Integrasi adalah kemampuan untuk tetap memegang nilai tanpa menggenggamnya terlalu keras.
Kita bisa berkata: “Aku tetap percaya ini penting.” Tapi di saat yang sama, kita bisa cukup sadar untuk mengambil sikap: “Aku tidak perlu memaksakan hasilnya.”
Integrasi membuat kita bisa menerima bahwa kita bisa benar, tanpa harus menang. Kita bisa kalah, tanpa kehilangan harga diri. Kita bisa terluka, tanpa menjadi pahit. Jangan sampai disalahpahami bahwa integrasi itu menghapus emosi. Tidak. Emosi tetap ada. Attachment tetap terasa. Tetapi ia tidak lagi mengendalikan keputusan. Karena proses negosiasi sebelumnya membantu kita memberi jarak antara emosi dan masalah sehingga ada proses regulasi di dalamnya
Ruang yang Lebih Luas
Ketika attachment dikenali dan negosiasi dilakukan dengan jujur, awalnya memang terasa sakit wkwk. Tapi setelah semua gejolak emosinya reda dan proses integrasi selesai, ruang batin menjadi lebih luas. Kita tidak lagi perlu membela semua hal. Kita tidak lagi merasa setiap perbedaan adalah ujian eksistensi. Dan dari ruang itu, kita bisa bergerak lebih ringan.
Mungkin kedewasaan bukan tentang tidak lagi melekat. Tetapi tentang mampu melihat keterikatan kita, bernegosiasi dengannya, lalu memilih hidup dengan tenang.
Dan di dalam ketenangan itu, kita tetap manusia biasa. Punya emosi, punya kehendak, dan punya keterikatan. Tapi tidak lagi dikendalikan.
Kenapa kebanyakan penerima beasiswa adalah mahasiswa privileged?
Jauh sebelum video Dwi Sasetyaningtyas viral, saya sudah bertanya-tanya di dalam hati: apakah semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa negara lewat LPDP? Tapi kenapa justru banyak penerima beasiswa tersebut berasal dari kalangan orang2 kaya? Diantaranya ada lusinan anak pejabat dan artis yang menerima beasiswa LPDP yang ini pernah dikritisi banyak pihak.
Salahnya dimana? Tidak salah. Beasiswa LPDP diberikan bukan berdasarkan taraf ekonomi. Ia bukan bantuan sosial. Beasiswa ini diberikan pada mereka yang memiliki potensi akademik yang bagus yang diharapkan bisa berkontribusi.
Masalahnya bukan di sana. MASALAHNYA ADA PADA KETIMPANGAN SISTEM PENDIDIKAN DAN PROSES BELASAN TAHUN SEBELUM MENERIMA BEASISWA ITU.
Tapi di benak kita selalu ada narasi seragam: semua orang punya kesempatan yang sama. Kalau dia bisa, siapa pun pasti bisa. Narasi yang terdengar indah. Heroik. Menggetarkan. Seolah hidup ini lomba lari 100 meter. Semua berdiri di garis start yang sama. Tinggal siapa paling rajin, paling disiplin, paling gigih.
Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.
Mari kita jujur. Mengapa banyak “orang pintar” lahir dari keluarga berpunya?
Bukan semata-mata karena genetik. Tapi karena ada infrastruktur yang menopang kepintaran itu sejak kecil. Nutrisi yang cukup. Buku bacaan yang melimpah. Les tambahan. Bimbingan belajar. Lingkungan kompetitif. Guru-guru terbaik. Sekolah unggulan dengan kurikulum mutakhir. Semuanya butuh banyak uang! Dan yang sering luput dibicarakan: orang tua yang well educated dan punya waktu untuk mengarahkan.
Sementara itu, di sisi lain negeri, ada anak yang berhenti sekolah karena orang tuanya tak mampu bayar seragam. Ada yang sekolah di madrasah pinggiran dengan fasilitas sekadarnya. Ada yang bahkan tidak pernah mendapatkan informasi tentang cara mendaftar kuliah, apalagi beasiswa.
Saya pernah berada di titik itu.
Saya bersekolah di sekolah swasta untuk dhuafa. Gedung sederhana. Guru terbatas. Informasi minim. Menjelang kelulusan, tak ada pendampingan serius tentang prospek studi lanjut. Tidak ada sesi khusus tentang cara mendaftar perguruan tinggi, apalagi strategi berburu beasiswa. Seolah setelah lulus, ya sudah, hidup masing-masing.
Hasilnya bisa ditebak. Banyak teman yang sebenarnya cerdas hilang arah. Mereka masuk dunia kerja bukan karena itu cita-cita, melainkan karena itu satu-satunya pintu yang terlihat.
Saya sendiri pernah menganggur setahun setelah lulus SMA. Lalu kuliah di jurusan yang bukan passion, dengan beasiswa yang saya cari sendiri. Itu pun lebih karena kebetulan daripada terencana. Alhamdulillah.
Kita sering lupa bahwa kemiskinan itu bukan sekadar ketiadaan uang. Ia adalah jaringan keterbatasan yang saling terhubung.
Pertama, ada keterbatasan informasi. Banyak siswa dari sekolah pinggiran tidak tahu jalur SNBP, tidak tahu perbedaan beasiswa A dan B, tidak tahu bahwa ada tenggat yang harus dikejar jauh hari. Bagi mereka, dunia kampus seperti diliputi kabut tebal.
Kedua, ada kemiskinan relasi. Anak orang kaya punya jaringan. Ada senior, kolega orang tua, komunitas profesional, yang bisa memberi arahan. Sementara anak miskin sering berjalan sendirian. Kalau tersandung, ya bangun sendiri.
Ketiga, ada kemiskinan waktu. Ada anak yang sebenarnya pintar, tapi harus bekerja karena menjadi tulang punggung keluarga. Ia tahu alurnya, paham peluangnya, tapi realitas menuntutnya memilih antara mimpi dan makan.
Keempat, ada kemiskinan mental akibat pewarisan pola pikir. Tidak semua orang tua miskin tidak peduli pendidikan, tentu saja tidak. Tapi tak bisa dimungkiri, ada keluarga yang sejak awal tidak melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Ketika kebutuhan hari ini mendesak, visi lima tahun ke depan terasa seperti kemewahan.
Inilah yang sering disebut sebagai kemiskinan struktural. Sebuah situasi ketika sistem sosial, ekonomi, dan pendidikan saling mengunci sehingga mobilitas sosial menjadi sangat sulit.
Maka ketika kita mengatakan “semua orang punya kesempatan yang sama”, itu terdengar seperti lelucon. Secara aturan, iya. Secara kenyataan, belum tentu.
Mari kita bandingkan.
Anak dari keluarga mapan dan cerdas.
Nutrisi dan gizi optimal? ✅️.
Les bahasa Inggris sejak SD? ✅️.
Bimbel intensif UTBK? ✅️.
Sekolah favorit dengan guru berkualitas? ✅️.
Orang tua terdidik dengan rencana pendidikan matang? ✅️.
Menjelang lulus, mereka sudah punya roadmap. Mau ambil S1 di mana, lanjut S2 di mana, beasiswa apa yang dibidik. Bahkan dana pendidikan sudah dialokasikan jauh-jauh hari.
Lalu ketika mereka mendaftar beasiswa seperti LPDP, tentu peluangnya besar. CV mereka tebal. Prestasi mereka rapi. Esai mereka matang. Bahasa Inggris mereka fasih. Wawancara mereka percaya diri.
Apakah itu salah? Tidak.
Apakah itu hasil kerja keras? Ya.
Tapi apakah itu murni hasil kerja keras individual? Tidak juga.
Ada modal sosial, modal ekonomi, dan modal budaya yang bekerja di belakang layar.
Sebaliknya, anak miskin pintar mungkin harus berjuang lebih keras hanya untuk sampai pada titik yang sama. Ia mungkin harus belajar bahasa Inggris secara otodidak dari YouTube. Ia mungkin harus berbagi waktu antara kerja dan kuliah. Ia mungkin tidak punya mentor untuk mengoreksi esainya.
Kalau ia gagal, sistem tidak akan berkata: “Maaf, kamu kalah karena kurang privilege.”
Sistem hanya berkata: “Maaf, kamu belum memenuhi kriteria.”
Ironisnya, narasi yang dominan di media sosial justru menekankan aspek individual. Seolah semua adalah soal tekad dan disiplin.
Tentu tekad itu penting. Tapi ketika kita menghapus konteks struktural, kita sedang menyederhanakan realitas yang rumit.
Lebih jauh lagi, ada fenomena lain yang jarang dibicarakan: beasiswa sebagai simbol status. Bukan lagi sekadar alat mobilitas sosial, tapi juga lencana prestise. Feed Instagram menjadi etalase pencapaian. Tips dan trik dibagikan. Webinar digelar. Personal branding dirawat.
Padahal, kalau mau jujur, tidak semua awardee nantinya memberi dampak signifikan bagi negeri. Banyak yang setelah lulus hanya fokus pada karier pribadi. Itu hak mereka, tentu saja. Tapi jangan lagi membungkus semuanya dengan narasi pengabdian besar jika realitasnya biasa-biasa saja.
Di sisi lain, ada juga anak orang kaya yang memilih tidak mengambil beasiswa karena merasa lebih layak diberikan kepada yang membutuhkan. Mereka kuliah mandiri. Mereka tahu diri. Mereka tidak perlu validasi publik.
Ada pula anak miskin yang berhasil menembus segala keterbatasan dan meraih beasiswa penuh. Mereka ada. Tapi jumlahnya tidak sebanyak yang kita bayangkan. Dan keberhasilan mereka sering kali juga dipengaruhi satu faktor penting: keberuntungan bertemu informasi dan dukungan pada waktu yang tepat.
Pertanyaannya sederhana: dari sekian banyak anak miskin pintar, berapa yang sampai di panggung itu?
Esai ini bukan untuk meremehkan perjuangan awardee. Mendapatkan beasiswa, apalagi ke luar negeri, tetaplah pencapaian yang patut diapresiasi.
Tapi mungkin yang perlu kita ubah adalah narasinya.
Alih-alih berkata, “Kalau saya bisa, kamu juga pasti bisa,” mungkin lebih jujur jika berkata, “Saya bisa karena kombinasi kerja keras, dukungan, dan peluang yang saya miliki. Jika kamu ingin mencoba, saya akan bantu semampu saya.”
Kalimat kedua lebih rendah hati. Lebih manusiawi. Lebih sadar konteks.
Kita tidak sedang menolak mimpi. Kita hanya sedang mengingatkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang start dari lintasan empuk. Ada yang dari jalan berbatu.
Dan bagi kamu yang hari ini merasa tertinggal karena belum dapat beasiswa, belum kuliah di luar negeri, belum punya foto di depan kampus bergengsi—mungkin kamu tidak gagal. Mungkin kamu hanya sedang berjuang di medan yang lebih berat.
Kesuksesan akademik tidak selalu diukur dari stempel luar negeri atau label awardee. Kadang, bertahan kuliah sambil kerja sudah merupakan pencapaian luar biasa. Kadang, menjadi orang pertama di keluarga yang lulus sarjana saja itu sudah luar biasa.
Media sosial boleh saja merayakan senyum lebar di depan gedung universitas luar negeri bergengsi. Tapi kehidupan nyata jauh lebih kompleks dari satu frame foto.
Dan mungkin, yang lebih penting dari sekadar lolos beasiswa adalah bagaimana kita menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya soal siapa yang paling keras berlari, melainkan juga siapa yang sejak awal diberi sepatu.
---
from Reddit u/makan-tahi
Hindia timoer 31-03-1927
Gak sia-sia ya
Jadwal yang sangat amat berantakan harus ditata ulang lagi. Berlapis-lapis buat beberapa part untuk sisakan waktu untuk ini, priorty buat hari ini, nanti mau ngapain, besok, lusa dan hari selanjutnya. Berantakan lagi, bikin lagi, udah di susun malah ngaco lagi, shit man. Udah dibuat malah dirombak. Yaa sudahlah, kalau emang di bikin acak-acakan mah, keknya harus nuntut lagi sih ini mah, karena disamping "berantakannya waktu" malah menangih-nagih waktu. Paling bencii banget aing kalau udah masuk di waktu yang penting malah sebentar doang. Entah apa takdir ini yang bikin hidup w berantakan. Ya gak sia-sia.
Sia-sia?
Benget sia hurung. Gak tau, aing gak tau apa ini sukses atau gagal. Tapi mungkin dibalik antara itu, ya sia-sia, atau mungkin keduanya. Sukses dan gagalnya ya sia-sia saja. Untuk sekarang mah aing merasa banyak penyesalan, tapi sebenarnya gak mutlak salah aing, anehnya aing nyesel dalem banget. Kedepannya aing gak tau ah, tapi semoga gak gila aja.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pada ujungnya kita terpisah oleh waktu yang semakin menyesakkan. Semakin besar dan tua. Menjadi tau, paham, dan bijaksana. Hey, tidak mudah untuk membangun kesadaran kembali bahwa hidup benar-benar bergelut dengan waktu, begitupun dengan diri sendiri. Musuhku adalah aku. Tapi hal apa yang menentukan musuhku adalah aku. Apa boleh membenci diri karena betul bahwa diriku sendiri adalah musuh. Berdamai dengan diri adalah mengalahkan diri, begitu kira-kira.
Sebelum tertidur aku selalu membayangkan hal-hal yang terluka dan berdarah saat sebelum nanti terbangun— tiba-tiba lenyap dari peredaran bumi tanpa aku ketahui seperti apa cara berpamitan yang layak—. Aku tinggalkan beberapa kenangan yang mungkin akan menjadi pantas untuk itu nanti. Diusia sekarang ini, aku belum cukup tumbuh. Dewasa bukan hanya soal fisik, ia adalah kata sifat yang bisa dirujuk oleh semua umur bagi siapapun. Kita masih terus bertengkar karena pribadi masing-masing yang kekanak-kanakan. Semoga nanti tak ada sisa kenangan seperti itu.
Selama masalah kita belum terungkapkan, anak kecil lebih pantas menghinanya. Bagaimana tidak, toh jika mereka berkonflik dengan teman bermainnya, saat itu juga mereka ungkapkan meskipun saling menyalahkan, lalu berdamai semudah mengulurkan tangan. Tapi siapa yang peduli dengan anak kecil.
Pada akhirnya memang betul, kita saling bertengkar hanya karena hal teknis melulu.
Meski kadang kala renggang, bukan maksud hati~
—Tuan Sendiri.
Kayaknya bakal perpanjang lagi, ukt gak semurah semester kemarin. Ku kira tagihannya bakal sama, ternyata engga gitu. Potongannya lebih dibatasi lagi, sebenernya masih kurang buat bayar, apa sambil ngajar lagi aja kali ya, sebulan aja sih cukup buat nambahin. Hmm. Irit-irit lagi bos uangnya. Sedih gini.
Katanya kebahagiaan bukan dari uang. Tapi apa-apa dibeli pake uang, dan itu bahagia. Katanyaa sih gitu. Hmm, dihadapan aku yang sekarang lagi stress karena liat tagihan ukt kemarin terkaget-kaget sampai gk bisa tidur lagi wkwk. Karena takut gak ke bayar aja sih. Mereka bilang lebar atuh bayar ukt lagi ngan skripsian hungkul mah, kan bisa tuh uangnya ditabung buat beli kebutuhan lain. Huuh memang betul, tapi buat diri aing yang merasa bahwa rasanya waktu terlalu singkat buat nyusun, terlebih kualitatif yang edan edanan harus menghighlight lagi bacaan koran ±200 edisi tahun 1949. Gak masalah sih nambah semester lagi, daripada di buru-buru gak karuan, bisa-bisa aku jadi sakit, kena ke mental, emosi, dan gak tentu juga bakal beres, jadinya malah menderita.
Yang penting harus tegas, tenang, gak males, selagi sempet kerjakan dan utamakan prioritas. Lagian skripsi apa pentingnya buat hidup sekarang wkwkk yaa penting dong buat flexing chuakss. Gak deng. Tapi jadi inget klo gak salah seorang anak di china umur 16 tahun udah dapet gelar PhD, karena memang latar belakangnya sering di push orangtuanya, kayak harus ngikutin harapan besar orang tua lahh, ngebahagiain kolotna. Tapi setelah lulus, plot twist nya dia malah milih jadi pengangguran dirumah, asik main. Dia menganggapnya kan selama pencapaian gelarnya itu udah memenuhi harapan orang tua, bukan karena keinginan dirinya, sekarang kebalikannya, orang tuanyalah yang harus memenuhi dirinya. Ya dikatakan salah juga tidak benar. Tapi di kita gk gitu kan, aku yakin ada alasan yang jelas.
Awalnya dulu mikir aneh ke orang-orang yang aku pernah kenal yang memang orangnya gak kunjung lulus kuliah, bahkan ada yang sampai udah di ujung banget akhir semester. Kok mereka gak lulus-lulus, apa yang salah sama penelitiannya, bodo bet ibatatnya kyk udah di depan garis finis malah di lama-lamain, emang mereka sibuk ngapain aja sampai lupa skripsi, bisa-bisanya meremehkan harapan orang tua padahal mereka pinter-pinter, mustahil. Nah, sekarang aku yang malah kena, gini ya rasanya, ditengah kesibukan yang ternyata gak semua orang perlu tahu sedang ngurusin apa aja, kadang sering didatangkan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Holy. Bukan sok sibuk yee, daripada nganggur.
~Waktu sangat berharga harus selalu di isi. Belajar sungguh-sungguh, mengejar tugas akhir..
Situasi Dilematis
(Nanti jadi Bapak lagi)
Sebenernya jadi bapak bukan cuma 2 semester aja (2023-2024), pertengahan bulan Juni tahun kemarin kan pentas seni, terus bagi rapot, libur kenaikan kelas, udah weh beres, cuti. Sebelumnya di awal bulan Juli udah punya rencana mau fokus nyusun dulu, mau di cutikan dulu, terus kalau udah sidang nanti bisa masuk lagi. Nah rencananya lagi, untuk nanti pas sekolah masuk murid baru (2024-2025), disamping aku fokus nyusun, aku diganti oleh my rai. Tapi ternyataa yah qodarullah bulan Juli aku disuruh masuk lagi, my rai cuma masuk awal bulan doang —kirain sampai tahun sekarang. Guru masih ada 5, sama ganti nama kelas jadinya Al-Bayan, Al-Huda, dan Al-Furqon. Intinya rencana nyusun jadi buyarr wkw.
Sedikit cerita aja, kalau murid angkatan sekarang biasa-biasa aja sih. Konten Palestina perlahan udah gak jadi trending topik di sekolah ya karena udah beda konteksnya. Paling sempet sih mereka nyanyi-nyanyi oke gas oke gas wkwk pilpres 02. Terus hal-hal yang aku highlight mah ttg cita-cita; ada yang mau jadi batman (besoknya ditanya lagi malah jadi Spiderman), jadi kasir griya sama ojol (karena liat orang tuanya), jadi dokter sunat (ini gak tau apa motivasinya dah). Itu aja sih, aku mulai bosan wkwkk gak banyak kekonyolan.
Balik lagi. Selanjutnya aku bilang, ya insyallah Desember jadi sidang kalau aku bener-bener ada yang ngegantiin jadi guru. Dalam pikirku, kalau aku paksa mengundurkan diri tanpa ada yang backup yaa rasanya kurang etis, kasian gak ada yang bantuin. Pertengahan semester 1 masih ditagih aja tuh kapann mulai nyusun teh wkwkk yaa gimana, mana yang backup juga gak mau ngajar kan aneh teu support pisan. Sampailah masuk bulan Desember gak ada tuh yang backup, cuman klo aku lagi sakit doang sih dia datang. Bulan Desember tgl 19 sampai tgl 5 Januari tuh liburan semester ya, dan ya lagi lagi gak kekerjain tuh skripsi, ada aja waktu yang gak bisa dikosongin. Sebelum libur aku udah bilang kalo dikasih waktu libur cuma 2 minggu buat nyusun ya kurang, kemungkinan di tanggal segitu bakal sibuk. Tapi kebayangnya mah kayaknya bulan februari bisa nih kekejar sidang. Aku berharap kalo di semester 2 nanti bakal beneran cuti. Sing weh dunungan kahartos meureun kondisi aku dah mulai diujung tanduk.
Ternyata gak jadi cuti yahh, 2025 masih jadi bapak lagi dong. Padahal mah udah buat rencana kalau bulan ini mau bener-bener nyusun, februari sidang. Kalau lewat dari februari, mau gak mau ya nambah lagi. Jadi gaji aku banyaknya buat bayar ukt lagi dong, kan sayang lebar duit mau beli sepatu running padahal mah. Apa aku open donasi aja kali ya yihaa.
Sekarang lagi aku nego-in, bulan ini harusss ada yang backup —sebenernya yang backup ada, cuma dianya males banget ngajar—, soalnya udah di tanyain dunungan "kapannn beres nyusunnya" dengan nada agak menekan. Aku cuma ketawa hehe, iya, tapi kayaknya nambah lagi. Loh kataya februari sidang maenya nambah deui, ceuk my dunungan teh. Wkwk aku cuma senyum ketawa aja tanpa ucap apapun, mau aku respon takut meledak. Berkali-kali udah ku bilang tapi belum juga tepat. Berkali-kali aku berjanji menyertakan waktu tapi tak kunjung tuntas, mengingkari diri, dan lagi.
Kayaknya aing nulis sambil stress juga, apa gara gara kurang tidur aja mungkin, maenya we cemen parah. Gak tau deng sedih atau senang yaa pokoknya aku dilema, kyknya baru kerasa sekarang yang padahal udh dari tadi. Semoga good morning. Aamiin.
Adakalanya hati kecilmu ingin menumpahkan kata-kata penuh amarah, resah, dan patah; kepada sepasang telinga yang sedia hadir; sepasang telinga yang siap menerima
Namun manusia terkadang melupakan di mana ia menaruh hatinya; kehilangan hati adalah kehilangan rasa empati; dan akhirnya manusia malah menabur garam di atas luka
Harap dimaklumi; kesempatan manusia hidup di bumi cuma sekali dan untuk yang pertama kali; mustahil berjalan di atasnya dengan nilai sempurna
Di saat orang-orang terdekatmu mulai terasa asing; dan kesendirian mendekapmu di sebuah lorong yang memanjang tanpa ujung; di saat itulah seharusnya kau sadar…
inilah waktumu untuk ‘berdua’ dengan Yang Maha Pengasih, Maha Adil, dan Maha Cinta; sebab Dialah yang paling memahami apa yang bersemayam di hati makhluk-Nya yang terdalam!
Pamekasan, 29 Desember 2024
Selintas 2024
Mewajarkan yang baik-baik, yang jeleknya jadi pelajaran. Atau apa ya, intinya urg ngeliatnya "Kemajuan informasi, kemunduran justifikasi." Generalis sih.
Beberapa hal yang urang liat buat jaman sekarang tuh dari Segi sosmednya, terutama yang paling ramai narasi Gen Z. Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan generasi Z mulai mengubah dunia. Kita masuk dalam kategori bonus demografi, usia produktif yang lebih banyak. Jaman saat orang tua kita dulu menganggap "banyak anak, banyak rejeki" nah, mungkin jadi suatu alasan kenapa generasi kita jadi lebih banyak ketimbang generasi sebelumnya. Cara bertahan hidup orang tua kita juga mungkin relatif lebih optimal ketimbang jaman dulu dan jaman saat kita lahir, mengingat saat masa awal reformasi menekan krisis moneter, mungkin. Gen-gen kedepan entahlah gen alpha klo gk salah. Justru kedepannya terpengaruh oleh gen z, sementara urg liatnya gen z tuh ngerasa makin bobrok aja. Bobrok karena menghadapi peristiwa sosial, ya sekarang narasi-narasi yang malah dirasa kayak ingin menghancurkan peradaban sekarang dan ke depan —yang entah narasi itu kapan dan dari mana asalnya— udah mulai terasa.
Gen kita kebanyakan sudah masuk di usia siap berumah tangga, tapi ditengah arus globalisasi, cepatnya informasi yang tersebar, kita konsumsi pula begitu cepat tanpa memilah. Narasi LG*TI, Gender, FWB, child free, perselingkuhan, aborsi, free sex, pergaulan bebas, itu udah jadi barang yang siap kita lahap diam-diam. Siapa sih bangsat yang pertama bikin begituan. Lagi-lagi kan jatuhnya karena kontruksi sosial, awalnya definisi dan maknanya udah bulat memang begitu, tapi karena netizen yang banyak sangat opininya dilontarkan tanpa makna dan definisi yang sebenarnya, jadinya "hal yang diikuti kebanyakan orang jadi dianggap benar". Cara merespon orang kan beda-beda sesuai kapasitas rasio-mentalnya. "Menurut gue, pengalaman gue, yang pernah gue rasakan begini begitu.." terus didukung pernyataan "gue setuju banget, fix kita sama, eh kirain gue doang yg gitu..", halahh cuih. Urg sebel parah klo liat orang model gituan. Justifikasinya tuh bakal merembet kemana-mana, dan jatuhnya belum tentu bener.
Punya sosmed pribadi memang betul tempat seneng-seneng (selain akses informasi) doang, klo punya akun kedua mah katanya khusus buat sambat. Tapi rasanya kalau ada yang beda pendapat aja terlepas dari netral bener atau salah ya pasti di hujat, masalahnya kita menghindari itu, dihujat. Kebebasan berpendapat oleh diri kita sendiri malah ditutup tak sengaja secara mental penggunanya. Gen z sedang mengahadapi itu, kalau terus berlanjut, urg yakin kedepannya bakal muncul istilah istilah baru yang justru bisa jadi di paten. Dari istilah itu muncullah makna yang akan kita gunakan dikehidupan, sebagai pemahaman baru.
Misalkan istilah "Insecure". Secara gak langsung, karena banyak yang paka tuh istilah insecure dikalangan muda gaul, sosoan kena isu mental health insecure, jadi sulit membedakan mana yang bener-bener orang yang Insecure betulan. Padahal mah mereka cuma gak pede aja, gak produktif aja idupnya, pemalas, jadi justifikasi weh aku teh orangnya insecure wkwk. Insecure sebenar-benarnya tuh udah main self harm, bener-bener karena trauma sejak kecil karena peristiwa tertentu, karena pembullyan. Rasanya istilah insecure udah diambil haknya dari orang yang betulan butuh penanganan. Terus istilah "gabut" Gaji Buta. Aduhh gabut banget gue yu kita main, lahh lu enak dong gabut duit lu ngalir kerjaan lu apa adanya. Yaa pergeseran makna masih banyak lah.
Serius lah, sosmed jadi senjata buat semua umur. Realitas kita dikendalikan oleh layar kotak. Hanya layar kotak doang loh, kita bisa terapkan melalui itu dialam bawah sadar. Gak ada yang sebenernya harus di takutkan, cuma karena pikiran kita aja yang membuat kita jadi mundur. Lagi-lagi karena mindset yang mengendalikan, penyebabnya oleh konsumsi informasi yang salah cara mengolahnya. Seberpengaruh itu mindset buat kehidupan, bisa merubah kebiasaan yang padahal biasa-biasa aja di mata orang lain tapi buat kita adalah hal yang bukan biasa.
Solusinya apa. Apa mungkin kita menjauh aja dari sosmed? Kebiasaan informasi yang kita konsumsi sekarang di atur oleh algoritma. Kalau A ya kedepannya bakal A terus, jadi A.A, A.B, A.C dan akan terus berkembang. Jadi mungkin solusinya harus timbul kesadaran. Ya bijak lah bersosmed, konklusinya jangan terjebak fomo. Fomo yang positif-positif aja, sekarang kan lagi trennya lari, nah semua orang bisa tuh lari. Tren naik gunung, tapi gak kayak ke kebun teh pangalengan juga kali prepare nya. Fomo juga sebenernya buruk, ya ala kadarnya lah, gak perlu maksain juga harus butuh ini itu padahal cuma flexing doang jiahh, seadanya aja.
Pokoknya hal-hal yang goblog jadi lumrah dimata masyarakat, terutama kita yang menyemat Islam terbanyak. Dari dulu orang pacaran udah jadi lumrah, sekelas orang alim aja pacaran. Lanjut perseleingkuhan, nanti free sex, FWB, dan itu udah terjadi sih. Judi online juga. Urg nganggepnya emg udah gak aneh sih jaman sekarang, maksudnya propaganda yang begituan udah memang takdirnya, tugas "mereka" memang menghancurkan peradaban, tapi aneh kenapa kita orang Islam ikut-ikutan? Takdirnya emg ikut-ikutan juga wkwk takdirnya emg dirusak, gitu kali yak. Holy shit man. Disetiap diri kita punya cahaya api yang gak bisa dipadamkan, ibarat lentera, kalau cahayanya remang itu karena kacanya aja yang kotor. Tugas mereka yang mengotori, kita cuma ngelap kacanya aja. Kalau ibadah kencang maksiat kenceng, lu pikir bakal seimbang gitu amal lu, ya percuma. Lu gedein tuh sumbunya sampe panas pun klo kacanya udah hitam tetep aja bullshit.
Isu agama ya, makin melenceng aja. Mama ghufron si makoli, si gus jelek adab, terus juga ponpes, ustad cabul, tiba-tiba santriwati dinikahin ustadz tanpa sepengetahuan orang tuanya, solawatan dangdut koplo, metal, wkwk ada ada aja. Kata netizen mah "agama jawa", bukan islam lagi. Jadinya mikir-mikir lagi tuh sekolah di ponpes. Jualan agama udah paling laris lah di jawa. Orang-orang modelan mereka apa gak salah tuh udah kayak penjilat tuhan, minta surga tapi gak becus mengajari umat. Gak sadar apa Islam sekarang tertindas.
Dah lah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nanti Jadi Bapak Lagi ⁵
Jadi, kalau dilihat dari masyarakat disana. Sebenernya banyak diantara mereka yang masih membutuhkan sekolah anak-anak. Cuma sekolah menyadari lingkungannya yang memang masyarakatnya hidup di taraf golongan menengah kebawah. Sebenarnya sekolah kami bisa disebut gedung yang dititipkan dari masyarakat sana. Sudah lama bangunan itu berdiri semenjak sesepuh warga sana saat kecilnya pernah sekolah disana. Kira kira 1970an, sekolah SD. Tapi karena suatu lain hal, sekolah berhenti operasi jadi tak terawat baik. Nah, dari pada tidak terawat baik, kami akhirnya mengambil alih bangunan itu dan akhirnya dijadikanlah sekolah RA, dan warga setuju. Dari sini lah ada harapan bagi anak-anak warga disana untuk bisa sekolah kembali. Dan sekolah mengerti hal-hal kondisi warga, segala pengeluaran yang harus dibayarkan orang tua murid diperhitungkan. Jadi, tidak sedikit masyarakat sana minta keringanan dana. Sebenernya guru mengeluhkan juga karena saking banyaknya yang minta keringanan, mau tak mau ya begitulah... tapi gak jadi soal sih. Justru kalau warga yang gak mau sekolahkan anaknya disana malah yang jadi soal besar. Intinya sekolah udah baik banget lah. Semoga Allah merahmatinya.
Di penghujung taun ini, sekarang aku yang mungkin akan di cuti kan dulu jadi seorang bapak guru. Ya sebenernya masih mau masuk, karena ya kayak jadi nagih aja ngelihat kelakuan bocil-bocil belajar, dari yang awalnya gak bisa apa-apa, pas kita ajarin jadi bisa, nahh itu tuh yang bikin nagih. Mungkin gini rasanya klo punya anak, makanya orang tua banyak berkorban tuh pengen lihat anak-anaknya belajar tumbuh. Nagih, candu, atau apalah, tapi disamping karena punya tanggung jawab sih ya udah pasti. Terus ya mungkin terpaksa juga aku emang harus cuti dulu, karena skrisi can beres wae wkwk. Sebagai satu alasan kenapa belum lulus, ya karena ngajar dulu. Aku udah usahain buat nyusun, tapi asa karagok. Pulang sekolah bawaannya cape banget, ngantuk, energy tuh rasanya diserap anak-anak. Klo malem atau hari libur yaa ada jadwal lain. Mood buat nyusun bener-bener ilang. Ditambah harus ngurusin komunitas lari wahh dah lah. Semoga taun depan beres.
Sebenernya masih banyak lagi yang mau diceritain. Tapi udah kepanjangan teuing keknya bosen ceritanya wkwk aku nulis dadakan aja ngalir, gak di sunting, masih berantakan, plek ke tiplek duarr. Udah lama gak nulis jadi gini lah, plotnya loncat maju mundur kesamping, bahasannya gak begitu nyambung.
EFFORT
Saya kadang aneh dengan kebanyakan perempuan di Indonesia. Jamak mereka merasa dirinya harus dikejar, diraih, diusahakan. Mereka merasa sudah tertanam di DNA masing-masing bahwa perempuan harus diupayakan dan lelaki harus mengupayakan. Laki-laki harus mengejar mereka jika tertarik. Bahkan mereka rela jika menganggap diri mereka bagaikan trofi yang diperjuangkan. Ini dasarnya dari mana? Mentalitas begini yang justru melestarikan budaya patriarki, male-dom, dan objektifikasi perempuan. Seolah perempuan itu materi yang kadang perlu diperebutkan. Tidakkah cukup hikayat-hikayat masa lalu tentang perempuan yang selalu menjadi simbol piala; subordinat yang tidak pernah menjadi aktor utama alias figuran-figuran? Mengapa masih mempertahankan budaya subordinasi ini sementara peradaban kita telah berkembang? Bahkan, agama yang bersifat holistik sampai turun tangan membebaskan kita dari ketidaksetaraan kedudukan.
Padahal, hubungan itu yang seharusnya diperjuangkan. Sama-sama mengupayakan, sama-sama saling melengkapi. Tidak ada yang dibuat lebih berupaya, semua sama-sama punya upaya. Bertemu di titik tengah. Laki-lakinya ke situ, perempuannya juga ke situ. Karena upaya yang tidak seimbang hanya akan menghasilkan dominasi sepihak. Bahkan, ada yang akan fatique lebih dahulu karena usaha telah keluar banyak. Ini yang membuat hubungan langgeng karena semua pihak punya effort yang sama.
Sekarang Jadi Bapak Dulu ⁴
Tahun ajaran 2023-2024 (POV)
Wanita menjadi Ibu guru RA, dalam pikirku itu lebih pantas. Pengajaran yang lebih tulus mendalam dengan penuh pengertian. Dekapan mereka lebih nyaman ketimbang seorang pria. Sabarnya yang tiada tara. Jika mereka marah, aku yakin hal itu merupakan bentuk kasih sayang yang sebenar-benarnya, tak seperti aku, marah ya benar-benar marah haha. Pokoknya ya kayak bener-bener berperan sebagaimana ibu dalam keluarga. Cocok sih buat melatih soft skill menjadi seorang ibu, kiat-kiat menjadi seorang ibu yang baik dan benar yahaha.
Ohya, sekolah juga memfasilitasi TPA, kira-kira usia 3-6 tahun, jadi bener-bener ngurusin anak dari pagi sampe sore. Uniknya, anak usia dibawah 5 tahun boleh ikut gabung belajar kelas A, tapi gak terikat, soalnya gak di tuntut buat kesana, ya anak bawang lah. Nanti pas naik jenjang kelas A akan lebih paham tuh. Nah, kalau anak di usia yang udah masuk RA tuh cuma dari siang sampe sore aja. Kegiatannya makan siang, tidur siang, mandi, pulang sore. Biasanya yang anak TPA orang tuanya yang sibuk-sibuk.
Pikirku lagi, hmm pria mana yang ingin menjadi guru bagi anak early childhood. Coba ku ingat, teman yang pernah aku kenali nyatanya tak ada satupun yang begitu, paling guru MA-MTs. Kalau wanita tentu ada. Jadi, kalau mau ceritain pengalaman atau sekedar sharing dalam hal pekerjaan yang sama kayak aku tuh betul-betul gak ada, kalau laki-laki mah. Hmm.. oke, aku jadi pelopor dong, seorang pria yang mengajari bocil-bocil RA.
Orang terdekatku yang jurusan kuliahnya PAUD, dalam perspektif dia pernah bilang bahwa anak TK dari dulu sampai sekarang kebanyakan gurunya perempuan semua, jarang banget tuh laki-laki yang jadi guru TK, semetara murid-muridnya kan gak semuanya perempuan, ada laki-lakinya juga, tingkah laku dan mental anak-anak tidak begitu cukup terbentuk dalam tahap awal dikarena kurangnya melihat sosok pria. Kurang lebih begitu katanya.
Cukup masuk akal, dan akupun setuju itu. Dan memang kenyataannya murid perempuan dan laki-laki kayak melihat aku tuh sebagai sosok baru, kek "wah mainan baru nih" wkwk. Terlepas dari POV anak-anak melihat aku sebagai sosok apa, entah sama seperti ibu-ibu atau bapak-bapak, atau om-om, aa-aa, hal yang pertama aku ingin pahami ke mereka tuh minimal mereka pernah ada pengalaman berinteraksi dengan pria. Secara yang jelas dari verbal mereka, ada yang nganggepnya kyk temen main, temen ngobrol, temen herey. Ya entahlah. Bukan berarti aku sebagai pengajar gak begitu membebaskan murid, ada batas-batasnya yang harus di garis tegas.
Tapi kalau dilihat riwayat hidup mereka ada aja yang sedih. Bayangin, ada tuh anaknya yang baru aja lahir, bapaknya udah menghilang, kan baru lihat ibunya doang, bapaknya kemana coba. Mungkin bagi dia saat masuk jenjang sekolah, memangil nama "bapak" baru terucap, mungkin sosok pertama bagi seorang bapaknya adalah aku (gr gini aing wkwk). Ada lagi tuh yang memang ayahnya sibukk terus jarang ketemu anaknya. Seingat aku sih ada yang bapaknya melaut berbulan bulan, anaknya kalau nangis manggil aku "Ayahhh" meluk-meluk wkwk sedih gini asli kyknya saking jarang banget nyebut ayah. Semoga mereka dapat kebahagiaan yang lebih istimewa.
Nanti lanjut lagi.
Pertanyaan Anak Kecil
Suatu waktu, dapet soal dari murid yaa pertanyaan biasa aja, tapi kalau bagi seusianya itu cukup lumayan berat. Saat itu kelas tengah nonton video tentang animasi kisah para nabi yang memang buat anak-anak. Tapi yang paling banyak ditanyain tuh kisah Nabi Ibrahim.
"Itu siapa?" Itu Nabi Ibrahim.
"kalau itu?" Itu bapaknya Nabi Ibrahim.
"Siapa namanya?" Namanya Azra, tuh lagi bikin patung buat disembah. Tuh liat, pada nyembah patung.
"Nyembah patung teh apa?" Nyembah teh ibadahnya ke patung. —malah diem kebingungan, masih belum ngerti Ibadah,— ibadah teh nyembah ke patung, jadi sujudnya malah ke patung, harusnya gak boleh sujud ke patung mah. Tuh liat patungnya dihancurin sama Nabi Ibrahim. Da Islam mah bukan nyembah patung. "Iya, masa sujudnya ke patung ya..!?"
"Ai nabi Ibrahim teh Islam?" Iya itu Islam, semua nabi juga agamanya islam da.
"Tapi ada juga nabi yang bukan dari Islam, namanya teh, itu eehh lupa.. namanya teh kirtan, keritan." Kristen? iya itu agama selain Islam.
"Iya itu, kristen juga ada Nabinya." Siapa emang nabinya? Setau bapak mah gak ada.
"Ada tau" — (tetiba diem)
"Kok, kenapa itu gak ada mukanya, kan itu nabi." Iya, soalnya kalau nabi-nabi gak boleh digambarin, gak boleh dibikin mukanya. Kalau digambarin nanti dosa.
"ohh, iya ih itu mukanya bercahaya " Iya ya, soalnya nabi itu cahaya.
(Scan berganti menampilkan lafadz Allah)
"Bapak, itu apa Pak?" Itu teh Allah.
"Kok cuma bulet bercahaya doang sih??" Iya, soalnya Allah gak ada yang tau kayak gimana, dan gak boleh di gambar, namanya juga kartun.
"Yahh udahan.."
...
Memberi pengajaran ke anak kecil tuh agak sulit, harus menyesuaikan bahasa dia supaya benar-benar paham. Hal yang sederhana tapi kalau dibahasakan ya lumayan.
Siapa sih yang suka dikritik?
Ngga ada.
Manusia, pada dasarnya, cenderung menghindari kritik. Seberapa terbuka pun seseorang, saat menerima kritik, tubuhnya akan bereaksi secara alami: tegang, kontak mata jadi canggung, kadang ngefreeze karena bingung bagaimana harus merespons.
Karena itu, penting bagi kita untuk belajar menyampaikan kritik dengan cara yang baik.
Mungkin kamu pernah dengar tentang teknik sandwich. Dalam teknik ini, kritik disampaikan dengan cara yang “dibungkus” di antara dua lapisan apresiasi. Mulanya kita memberikan pujian, lalu menyisipkan kritik, dan menutupnya lagi dengan apresiasi.
Awalnya, saya juga skeptis dengan teknik ini. Saya lebih suka bicara blak-blakan saat memberikan kritik. Saya pikir teknik sandwich ini omong kosong motivator aja. Tapi ternyata, saya cuma kekurangan contoh dan referensi.
Akhirnya, saya bertemu seseorang yang pandai dalam menggunakan teknik sandwich ini. Beliau benar-benar membuka perspektif saya bahwa teknik ini bisa tetap relevan, sekalipun saat kita bicara dengan orang yang tahu teknik ini.
Coba bandingkan dua pernyataan berikut:
A. "Desainnya bagus, tapi terlalu kompleks dan banyak komponen custom, sehingga waktu pengerjaannya akan lebih lama. Mungkin bisa disederhanakan untuk memudahkan implementasinya. Tapi konsepnya bagus, kok."
B. "Desain ini terlihat modern dan punya sentuhan yang segar, terutama di hero section-nya. Kalau mempertimbangkan manpower dan waktu yang ada, menurut saya kita bisa memprioritaskan elemen-elemen yang paling penting dulu untuk tahap awal, lalu sisanya bisa kita rencanakan untuk iterasi berikutnya. Kalau ini terealisasi, saya yakin hasil akhirnya akan jadi sesuatu yang luar biasa."
Apa perbedaan keduanya?
Pernyataan kedua memberikan pujian yang lebih spesifik. Ketika kita bisa memberikan apresiasi yang spesifik, orang lain akan merasa dihargai secara tulus, bukan sekadar formalitas.
Selain itu, pernyataan kedua memosisikan kita di sisi yang sama dengan penerima kritik. Alih-alih menjadi pihak yang berseberangan, kita menunjukkan bahwa kita punya kepentingan yang sama dan menawarkan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi bersama.
Kata "tapi" juga sebaiknya dihindari karena bisa menegasikan pujian yang sudah disampaikan.
Pernyataan kedua ditutup dengan optimisme yang bisa menguatkan motivasi lawan bicara.
Pendekatan ini juga efektif untuk memberikan kritik kepada anak-anak.
Anak-anak sedang dalam fase belajar dan pasti sering membuat kesalahan. Agar mereka tetap semangat belajar dari kesalahan tanpa merasa terhakimi, kita bisa menggunakan teknik sandwich.
Contoh:
A. "Wah, kamu hebat udah mau beresin kamar. Tapi masih ada mainan-mainan yang ketinggalan di sini. Jangan lupa diberesin juga, ya. Makasih, I love you."
B. "Wah, kamarnya sekarang sudah terasa lebih rapi dan nyaman banget, apalagi kasurnya. Tinggal sedikit lagi selesai, nih. Kalau mainan-mainan ini juga dibereskan, kamar kamu bakal jadi super nyaman. Setelah itu, kita sarapan bareng, ya. Makasih, I love you."
Kedua pernyataan ini sama-sama bagus, tapi pernyataan kedua terasa lebih kuat karena:
Memberikan pujian yang spesifik, sehingga terasa lebih tulus.
Mengarahkan apresiasi pada hasil dari usaha anak, bukan hanya tindakannya. Hal ini membantu anak belajar mencintai proses usaha mereka.
Menghindari kata “tapi” yang sering kali membuat pujian terasa “batal” oleh kritik.
Teknik sandwich bisa terasa cheesy kalau kita menggunakannya sebagai template.
Tapi, kalau kita benar-benar mengadopsinya sebagai cara pandang, teknik ini akan membentuk pola pikir dan komunikasi kita, sehingga kritik dapat disampaikan dengan lebih efektif dan membangun.
Sekian dan terima kasih.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
mengapa literasi lebih akrab ditelinga kita ketimbang sastra untuk dipelajari?
Pekak teliga ini mendengar "Bagaimana cara kita untuk menumbuhkan jiwa literasi? mengapa negara kita dalam ambang kehancuran membaca buku?."
Semua hal-hal lain mengenai literasi seakan-akan kita adalah negara terpuruk dalam segala bidang. Untuk mencari solusi paling ampuh, kita berupaya keras menanggulangi kebodohan masyarakat perkotaan maupun desa, seperti memperbanyak buku, sosialisasi pentingnya membaca buku, dan motivasi-inspirasi dari beberapa tokoh ternama.
Mengapa kita terlalu fokus pada kebodohan kita sendiri tentang kepintaran manusia yang tergantung pada seberapa banyak membaca buku? Tentunya selain mahir menghitung.
Tampaknya zaman sekarang penulis adalah kata kerja yang paling dihindari oleh semua kalangan.
Terlepas dari pekerjaan mulia itu, literasi rasanya menjadi tidak adil jika yang hanya dipandang sepenuhnya kepada buku-buku. Makna sederhana dari literasi ialah tidak buta huruf. Dengan penduduk sebanyak 270 juta jiwa, angka buta huruf di negara kita hanya 3,62% pada tahun 2020. Hebatnya lagi, kita pernah berada di peringkat ke-4 dari seluruh negara dalam kategori angka buta huruf terendah pada tahun 2017.
Guna keseluruhan dari literasi yakni mengetahui informasi. Lantas apakah betul rendahnya minat baca menjadi acuan?
"Buku tak ubahnya dengan sepatu yaitu hanya semacam komoditas yang menghasilkan untung, tidak pernah dipikirkan bahwa buku itu merupakan karya budaya yang akan mempunyai pengaruh kepada jiwa dan mental orang yang membacanya. (Pejabat perbukuan)
Berkualitas tidaknya suatu lembaga pendidikan ditentukan oleh sejauh mana tingkat minat baca para peserta didiknya. Membaca merupakan instrumen fundamental dalam melakukan transformasi pribadi, masyarakat, dan bangsa.
Penerbitan buku yang pernah tercatat di Indonesia sekitar 12 ribu judul buku setiap tahun dengan oplah hanya 2-3 ribu setiap judul bagi bangsa dengan penduduk 225 juta.
12 ribu x 5 ribu = 60 juta buku
60 juta buku / 225 juta penduduk = 0,27 judul buku dalam setahun. Setiap buku rata-ratanya 100 halaman. Dalam setahun, setiap orang hanya membaca 27 halman atau itu berarti setiap halaman dibaca selama 2 minggu.
Sekarang Jadi Bapak Dulu ³
Tahun ajaran 2023-2024. (Menangkap informasi)
Aku mulai dari pertama kali masuk kerja. Awalnya dipikirku pastilah akan ada perkenalan diri pada anak-anak, tapi nyatanya tidak. Jadi langsung aja mengajar dan bercakap-cakap sama anak-anak. Tinggi badan mereka kira-kira setinggi pahaku, gereget mau ditajong kayaknya seru deh wkwk mental-mental kek pin ball game windows. Beberapa murid bertanya nama bapak siapa, seorang murid menjawab duluan "namanya kan Bob, Pak Bob. Iya kan Pak?" Lohh kok Pak Bob, siapa yang ngasih nama panggilan nih? Nyatanya setelah ditelusuri, saat my lanceuk ngajar sehari tuh dia udah perkenalan, panggilan namanya Pak Bob, padahal nama aslinya jauh beda sama panggilan wkwk. Entahlah apa yang dipikirkan. Tapi kalau anak-anak panggil aku Pak Bob, ya gak masalah, udah terlanjur. Tapi uniknya ada tuh satu anak yang di tanya oleh bu guru "Tau gak itu namanya Bapak siapa?" sambil nunjukkin aku. Terus dia jawabnya "namanya aaall..?" dengan intonasi nada yang dipanjangin, mungkin dipikirannya dia ngikutin cara panggilannya dari para bu guru kalau manggil aku wkwk dasar bocil. Ya terserahlah, untuk kali ini hepi-hepi ajalah, nyari kenyamanan dulu buat adaptasi, asalkan banyak ketawa ya aku nyaman.
Pukul 08.00 baris diluar kelas, dengan nyayian biasa yang seringkali mereka dengarkan bersautan. Semangat pagi mereka tergambarkan dari teriakan yang kencang sampai ditegur guru 'jangan teriak-teriak nanti tenggorokannya sakit'.
Pukul 08.20 mereka masuk kelas untuk latihan solat satu waktu. Diatas karpet berjajar antara bintun (perempuan) saf belakang dan waladun (laki-laki) di saf depan, serta beberapa waladun menjadi muadzin, iqomah dan imam. Lagi-lagi beberapa murid waladun berteriakkan melantunkan bacaan solat. "Jangan teriak eh, nanti ininya bolong (tenggorokan)" kata ku. Mereka hanya tertawa manis 'hehe' lalu suara pun dipelankan.
Lalu Pukul 09.00 mereka keluar kelas dengan teriakan lagi "yeaayy" sambil berlarian memakai sendal untuk melakukan motorik kasar. Ya tingkah laku mereka yang banyak salah dan konyol itu membuatku senyum tertawa sembari diberi contoh yang benar.
Setelah itu pukul 09.30 masuk kelas persiapan baca doa makan bekal. Baca doanya pun nyanyi bersama-sama "Sebelum makan, berdoa dulu, supaya setan, tidak ikut makan, coba dengarkan, ini doanya, doa sebelum makan..." Semua murid diwajibkan doa sebelum makan dan sesudah makan. Untuk doa sesudah makan itu menyesuaikan habisnya bekal anak-anak, jadi gak semua barengan berdoa, kalau seorang anak habis bekalnya, hampiri guru lalu doa sesudah makan. Hebatnya mereka sudah hapal doa arab dan artinya. Setelah itu bebas main.
Di jam jam istirahat tuh, anak-anak ada aja sih konfliknya:
"Pak guru, itu waladunnya gak dibolehin main disitu (panjatan)." Masa ga boleh sih, kan punya sekolah. Sini, waladun mainnya barengan ya sama bintun, sok dibagi dua.
"pak, itu marah-marah wae ke aku". Siapa yang marah? jangan marah-marah atuh ya, kan kalian teh temenan (padahal nada bicaranya emg kayak marah aja itu mah wkwk)
"pak, itu mau minjem mainan tapi gak dibolehin." Ya jangan dipaksa atuh, kalau gak mau yaudah main yang lain dulu, kan banyak mainnan mah.
"pak itu nangis sama bintun di ciwitan". Waduh masa laki-laki nangis, siapa yang nyiwit? Sini ayo kita samperin... Kenapa nyiwit-nyiwit? (Emg yang diciwit duluan masalahnya) makanya diciwit da kamunya yang duluan. Sok maapan ya jangan lagi kayak gitu,
"itu tuh pak si itu meni gak mau main bareng sama aku" ya mungkin mau main yang lain. Udah, main sama yang lain aja, main sama bapak mau? (Laah malah girang).
Pukul 10.30 masuk kelas belajar calistung. Pukul 11. 50 persiapan pulang.
Satu hal yang membuat aku mulai tertarik jadi pengajar adalah karena ingin mengamati perkembangan bocil-bocil. Penasaran, bagaimana pertumbuhan softskill mereka (terutama interaksi) dengan kelahiran tahun 2018, apa aja yang mereka telah pelajari saat dirumahnya, pengalaman mainnya, atau tumbuh kembang rasio mereka terhadap dunia; seperti konten apa yang mereka konsumsi dari orang tuanya atau secara pribadinya dalam menangkap informasi. Begini loh, simpelenya aku ingin tahu dijaman sekarang yang serba canggih dan informasi yang mudah dijangkau, apakah mereka mengikuti konteks perkembangan dunia atau masih sama seperti dulu (dulu bocil tidak merasakan majunya teknologi) cuma tau main.
Akhirnya terjawab, sesuai yang aku harapkan. Bocil sekarang semua pernah pegang hp. Mereka menangkap informasi dari berbagai hal, Tiktok, youtube, instagram. Mereka tau game online Mobile Legend, PUBG, FF, ya sama seperti umur kita, kita aja masih main wkwk. Konten-konten dengan template soundtrack background nya mereka sampai nyanyiin di kelas. Konten fyp yang booming saat itu pun mereka bahas di kelas.
Paling menarik tuh kan saat itu konteks dunia tertuju pada konflik Palestina-Israel, dan mereka konsumsi juga, jadi masih anget-angetnya mereka sering bahas dengan temennya, ya dengan bapak juga wkwk. Dijam jam istirahat kalau mereka lagi giat menggambar, mereka bikin tuh banyak bendera palestina vs bendera Islael, dengan kancah pertempuran tank-tank menambak, api dan tentaranya berperang, pokoknya semangat betul mereka menggambar gituan.
"Bapak, ini bendera Israel." sambil mewarnai.
Dia gambarnya gede, satu kertas penuh warna biru bintang david. "Gede banget, mana bendera Palestinanya dek?"
"ini teh nanti bendera Israel mau di sobek-sobek Pak". Atuh lebar kertas, jangan disobek, simpen aja, masa udah di bikin disobek sobek kata gue teh (mau liat juga sih bagaimana responnya)
"ai bapak israel kan jahat".
Udah beres mewarnainya, dia keluar kelas, panggil lah temen-temen "woi ayok kita sobek ini Israel...!" Wahh bener aja yang lain pada datang tuh ikut sobek-sobekin kertasnya, akhirnya ya jadi barala sobekan Israel. Kalau udah disobek beresin ya, bekasnya buang di keranjang sampah kata gue teh. Ya mereka lakuin itu, dibuang sambil dihentak "tah sia israel..!" Meni kasar wkwk.
Satu momen ketika mau makan bekal, bapak sama bocil-bocil duduk melingkar dulu tuh persiapan doa sebelum makan. Kan mereka banyak tuh bekelnya macem-macem, oreo, malkits, nabati, susu, dst. Disamping persiapan doa, mereka bertanya tuh bekal yanh mereka bawa. "ini pak, produk dari israel bukan?", "pak, ini mah bukan produk israel ya pak", "ini pak produk dari indonesia kan ya pak". Yaa hampir setiap mau makan begitu terus, nanya dulu ini produk dari mana. Yang pasti kalau bekelnya dari produk nestle, atau oreo, bapak jawabnya "iya ih, itu dari israel, nanti mah jangan jajan itu lagi ya." Ya maksudnya kerjasama sama Israel kan, gak salah juga toh.
Dengan begitu, guru-guru jadi mudah masukin insight ke muridnya tentang Islam, disamping bercerita tentang palestina, anak-anak kecil yang jadi korban bombardir Israel, kelaparan. Ya mereka tertegun lah mendengar cerita itu, dan banyak respon positif. Abu Ubaidah, juru bicara militer palestina mereka tau. Hebat-hebatlah bocil sekarang. Saking banyak terlibatnya dengan konteks dunia luar yang mungkin berawal dari lewat didikan orang tuanya, mereka cukup mendalami segala informasi yang masuk, dan tau betul untuk menyadari dimana posisi mereka harus membela yang benar.
Ini salah satu contoh, foto gambar lainnya kehapus ah lebar. Nanti lanjut lagi.