Orang itu
saat kamu sedang dalam keadaan susah atau down lalu datanglah sesosok seseorang menemanimu dan memberimu support datang maka pada saat itulah kamu merasa orang ini sangat berharga, tanpa dipaksa ikatan batin kamu kepada orang ini akan jauh lebih kuat, dalam artian ketika kamu dekat dengannya, akan ada perasaan-perasaan damai nan menenangkan, kamu akan jauh menyayangi sosok ini berkali-kali lipat dari sebelumnya, jika biasanya orang yang menolongmu akan mendapat julukan malaikat, orang tadi lebih dari itu, mereka akan menempati suatu ruang dalam hatimu. . . walaupun belum tentu mereka merasa sebaliknya. . . belakangan ini topik depresi hangat diperbincangkan, aku kurang mengerti kenapa baru belakangan ini, apakah karena perkembangan zaman akhirnya orang-orang lebih mudah membagikan informasi mengenai depresi sehingga orang-orang jadi merasa mengidap karena telah membaca kisah depresi, atau karena orang dulu tidak mengerti mengenai bahaya dari sebuah depresi, menganggap penyakit ini sebagai suatu bentuk ketidak bersyukuran. ya, apapun itu, topik ini akan selalu menarik untuk diperbincangkan. . masih berhubungan dengan "orang itu", cerita ini akan aku mulai dengan narasi singkat mengenai depresi. Dari yang aku baca, depresi ini tumpukan rasa kesedihan, kekecewaan, yang numpuk numpuk numpuk seperti gunung sehingga memberikan dampak negatif terhadap diri. mau ketawa nggak bisa, mau menjalani hari-hari udah ngerasa takut, sampai akhirnya udah nggak mau hidup. sumber kesedihan dan kekecewaan yang menjadi penyebab dari depresi ini bisa dari mana saja. kalian pernah mengalami bad day, dimarahin atasan, dijudesi temen, ada yang bisik-bisik gosipin, mau makan di kantin menu favoritnya abis, bahkan sampai hal kecil kaya "aku tadi ngomong kaya gitu kelewatan nggak ya", nah itu bisa menjadi sumber dari depresi, kalau kita tumpuk terus, depresi bisa menjadi tambah parah. . maka dari itu, sosok seperti "orang itu" akan sangat dibutuhkan untuk orang yang sedang mengalami depresi, karena orang depresi akan menganggap bahwa hidupnya tidak berguna. sehingga jika ada orang yang mengerti bagaimana berharganya orang lain, bagaimana berharganya hidup yang tentu saja akan ada indahnya juga walau tetap ada pedihnya. . aku memang nggak pernah ngerasain yang namanya depresi, tapi aku pernah ngerasain gimana sedih berhari-hari sampai nggak sanggup untuk ngapa-ngapain, bangun tidur pengen nangis, mandi pengen nangis, naik kereta pengen nangis, seharian selama nggak tidur rasanya pengen nangis. tapi aku sangat bersyukur, pada saat itu langsung ada keadaan yang membuat aku langsung happy lagi, detail dari kisah ini nggak bakalan aku ceritain. . . kembali membahas sosok orang itu aku mau nulis sesuatu di note lain namun fiksi.











