Kepala Rumah Sakit Indonesia di Gaza syahid di bom kera zionis, rakyat ditembaki saat mengambil bantuan layaknya Serial Squid Game, dan yang paling membuatku muak adalah trump berlagak pahlawan setelah memeras uang Pemimpin Muslim, yang nyatanya negara mereka adalah aktor utama genosida Gaza hari ini.
Kondisi Gaza terkini sungguh memilukan hati. Sah-sah saja seandainya kita merasa sedih, bingung, atau sekadar flat, karena lemahnya umat muslim hari ini.
Jelas sekali Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalaam :
"....jumlah kita banyak, tapi selayaknya buih di lautan"
Mengutip Bang Amar Risalah di series "From Nusantara to Al-Aqsha" Syameela, saat Rasulullah Hijrah ke Madinah, kondisi umat muslim begitu lemah. Mereka harus hijrah, terusir dari kampung halaman--meninggalkan harta benda dan saudara. Akan tetapi, dua tahun setelahnya, dengan segala dinamika yang dihadali, Allah memberikan kemenangan yang gemilang di Perang Badar. Ini adalah bukti pertolongan Allah bagi orang yang beriman.
Kemenangan itu memang sudah ditakdirkan. Namun semua itu hadir bukan sekadar mengadahkan tangan, lalu beharap pertolongan Allah turun begitu saja.
Dua tahun adalah masa konsolidasi untuk merapatkan barisan. Setelah mengadakan perjanjian dengan Kaum Yahudi, meminimalisir Kaum Munafik, mereka menyongsong musuh bersamaan dengan melawan hawa nafsu (puasa). Kunci kemenangannya adalah kekuatan iman dan optimisme. Inilah mindset Badar.
Medan pertarungan kita berbeda dengan Para Mujahid di Lapangan. Merasa lelah pun rasanya kurang pantas. Selain boikot dan pencerdasan, memantaskan diri dengan menambah keimanan dan selalu optimis adalah hal penting yang bisa terus kita upayakan.
Syahidnya Yahya Sinwar, Ismail Haniyah, dan juga Para Mujahid tidak bertujuan membuat kita lemah dan putus asa dengan keadaan.
Percayalah, kemenangan itu sudah dekat.
Otsmani Coffee, 03 Juli 2025. Persiapan Melingkar Dalam Rangka Menguatkan Iman.