Musa Khazim & Alfian Hamzah "Kabar Gembira bagi Pendosa"
Imam Al Ghazali 'Dibalik Ketajaman Mata Hati'
jurnal baiq, 5 Juni 2021

Misplaced Lens Cap
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

izzy's playlists!
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
EXPECTATIONS
Color Me Curious

Product Placement
🩵 avery cochrane 🩵
Sade Olutola
KIROKAZE

Game Changer & Make Some Noise
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

titsay

Show & Tell
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
ojovivo

seen from United States

seen from United States
seen from Colombia

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine

seen from Syria
seen from United Arab Emirates
seen from Vietnam
seen from Italy
seen from Kenya

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Spain
@bulaanbaaiq
Musa Khazim & Alfian Hamzah "Kabar Gembira bagi Pendosa"
Imam Al Ghazali 'Dibalik Ketajaman Mata Hati'
jurnal baiq, 5 Juni 2021

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lesson from Surah Yusuf:
The closest of people can deceive you.
Broken heart can be restored through love. 3. Ease comes after hardship.
Being sad doesn't equal being ungrateful.
Those who decide to trust Allah's plan will win.
People with patience have a beautiful ending.
Menyadarkan diri
Jangan pernah membayangkan kisah cintamu akan sama seperti drama romance yang ada di drama korea atau drama cina.
dahlah lan, hanya karena eye contact beberapa kali sama dia belum tentu dia tertarik sama kamu. Muka pas-pasan jangan sampe kepedean dan menghayal jadi female di drakor romcom😌
yang sewajarnya saja, jangan sampe menghayal-menghayal, Allah ga suka😌
Lathif
Gara-gara membahas doa Nabi Yusuf AS, gue juga jadi teringat dengan makna kata Laṭīf.
Di Indonesia, Al-Laṭīf biasanya diterjemahkan dengan "Maha Lembut". Tapi kalau kita membaca tafsir para ulama, makna "lembut" dalam bahasa Indonesia jadi terasa sempit sekali.
Kata Laṭīf mengandung makna sesuatu yang halus, detail, samar, dan bekerja dengan cara yang tidak selalu terlihat. Ada nuansa gentle sekaligus subtle. Sampai-sampai kebaikan-kebaikan Allah terkadang sampai kepada hamba-Nya melalui cara yang tidak kentara, sehingga kita tidak akan menyadarinya kalau tidak mencoba connecting the dots.
Makanya dulu waktu membaca terjemahan secara literal, gue sempat bertanya-tanya:
"Lah, Nabi Yusuf AS dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, dan dilupakan. Kok masih mengatakan bahwa Rabbnya Maha Lembut?"
Ternyata setelah membaca tafsir para ulama, baru paham bahwa Nabi Yusuf AS mengucapkan:
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ "Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
bukan ketika beliau berada di sumur atau di penjara.
Beliau mengucapkannya setelah seluruh perjalanan hidupnya tersambung. Setelah beliau melihat bagaimana Allah mengeluarkannya dari sumur, membawanya ke rumah Al-Aziz, memasukkannya ke penjara, mempertemukannya dengan raja, mempertemukannya kembali dengan keluarganya, dan menjadikan semua luka itu tidak sia-sia.
Maka ucapan itu seolah bermakna:
"Sesungguhnya Rabbku mengatur semuanya dengan cara yang begitu halus, begitu detail, dan begitu rapi."
Ada jalan-jalan yang dahulu tampak seperti musibah, tetapi ternyata merupakan bagian dari pertolongan-Nya. Ada sebab-sebab yang dahulu terlihat acak, tetapi ternyata berada dalam pengaturan-Nya yang sangat teliti. Kadang keterbatasan bahasa memang membuat kita ikut terbatas dalam memahami.
Dan mungkin memang sebagian kelembutan Allah baru bisa dikenali ketika kita sudah cukup jauh berjalan dan menoleh ke belakang.
Lalu berkata seperti Nabi Yusuf AS:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
Masa Muda Tidak Boleh Bertemu dengan Waktu Luang, Bahaya
Ramadan ini tiba-tiba banyak sekali yang harus dikerjakan. Urusan domestik di rumah, amanah di tempat kerja, belum lagi agenda buka puasa bersama dengan warga komplek, sampai shalat tarawih.
Ketika membuka sosial media banyak konten tentang banyaknya ayat Quran yang dibaca selama Ramadan. Ada yang 2 kali khatam, 3 kali khatam dan sebagainya. Ada juga yang bilang, banyakin tadabur Quran dengan membaca kitab tafsirnya sampai ikut kajian tafsir Quran. Lantas kita ingin khatam 2 kali selama Ramadan ditambah mentadaburi ditambah mengkaji. Semua ingin dilakukan.
Rasanya begitu sibuk, ya? Sampai harus pintar-pintar membagi waktu untuk tidur, memasak, atau urusan diri sendiri yang lainnya.
Kata guruku, barangkali inilah kesibukan yang Allah sukai. Kesibukan yang membuat hidup kita semakin hidup. Ditambah serangkaian rencana untuk mudik, berbagi THR dan hal lainnya yang menyibukkan pikiran kita.
Hari-hari biasa mungkin kita tidak sesibuk ini. Banyak waktu luang. Bahkan sering bertemu dengan kebosanan. Tapi di Ramadan, seakan 24 jam sehari sangat amat kurang.
Bagi pemuda, memiliki tenaga yang masih kuat dan keinginan yang begitu banyak, Ramadan menjadi tolok ukur, bahwa kesibukan selama Ramadan harusnya bisa dilanjutkan setelah Ramadan. Sebab dalam keadaan berpuasa saja kita begitu produktif.
Atau jangan-jangan memang inilah waktu latihan sesungguhnya. Seakan Allah minta, "Udah, lakuin amal shalih lain, urusan makan bisa nanti," sebab bagi anak muda, bertemu dengan waktu luang adalah bahaya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Not the Same Energy
Beberapa hari yang lalu, agak kaget pas lagi ngobrol santai. Entah darimana pembicaraannya, beberapa temanku ini menganggapku ambisius. Padahal aku nggak ada capaian apa-apa. Namun, bagi mereka tidak begitu. Aku dianggap membuat arena persaingan, dianggap perfeksionis dan ambisius. Agak aneh sih menurutku. Aku cuma melakukan sesuatu yang memang tugasku semaksimal mungkin. Bukankah ini hal yang wajar?
Jujur aku emang ambis dari kecil, orang tuaku mendidik seperti itu. Namun, semenjak punya anak dengan neurodivergent, aku sering merasa stuck, gak punya capaian apa-apa karena energiku banyak terkuras disitu.
Selama ini aku cuma mengajar, membersamai, memberikan yang terbaik untuk murid-muridku, melakukan tugasku dengan baik. Tidak menyenggol orang lain, tidak merasa bersaing dengan siapapun. Apa ada yang aneh?
Jadi pertanyaanku selama ini mulai tercerahkan. Sepertinya kebiasaanku inilah yang membuat beberapa orang di sekitarku terganggu, sampai-sampai awal aku masuk, aku dianggap tidak kompeten karena bukan lulusan LIPIA. Mau lulusan manapun, tetaplah belajar dan rendah hati. Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kita dapat di bangku kuliah. Bukankah belajar itu seumur hidup?
Meninggilah tidak mengapa, kalau memang kamu percaya dengan value yang kamu punya, tapi bukan dengan cara mengerdilkan orang lain.
Bukan aku yang salah, bukan pula mereka. Hanya saja energi ini berbeda. Yang kelihatan mencolok dicurigai; yang bekerja dengan sungguh dianggap ambisius, ternyata karena kebiasaan, standar, dan mental setiap orang berbeda.
Well, setiap orang memiliki kapasitas, kesempatan, dan energi yang berbeda. Perbedaan itu juga tidak menjadikan siapapun lebih baik atau lebih buruk.
Barangkali kita punya standar yang tinggi untuk kata "ambisius", namun yang perlu kita pahami, tidak harus menjadikannya sebagai standar pada orang lain.
Tidak perlu mengecilkan standar diri agar orang lain nyaman. At the same time, kita juga tidak perlu memaksakan orang lain agar memiliki standar yang sama.
Ditulis di Jakarta, sebelum kembali menjadi warga kabupaten
Manusia yang berencana, namun Allah yang berkuasa.
Kenapa ya aku ga suka dikatakan "jadi manusia sewajarnya, jadi guru biasa saja"
Gelembung Emosi.
"Marah aja mba, gapapa diluapin. Ga baik juga kalo ditahan-tahan. Kalau udah rilis emosinya kan jadi lebih tenang."
—kurang lebih begitu kata seorang teman kepadaku, setelah akhirnya aku 'meletupkan' gelembung emosiku sore tadi.
Ceritanya, aku sedang bertugas mengerjakan suatu hal. Setelah duduk lama depan laptop, dan hampir tidak beranjak sejak pagi ke sore (kecuali saat ishoma dzhuhur), aku izin sebentar untuk menunaikan sholat ashar. Sebentar. Sekitar 10 menit kurang lebihnya.
Yang lelah tentu saja bukan hanya fisik dan ragaku tapi jiwa dan mentalku juga. Itulah kenapa, bagiku sholat adalah salah satu waktu tenang yang kusuka untuk mengadu, menguraikan segala kecamuk perasaan, dan mengistirahatkan riuhnya otak dan pikiranku tentang dunia —yang mostly berkaitan dengan pekerjaanku.
Belum ada 10 menit, hp-ku bergetar tak henti. Perasaanku mulai tak enak. Kuabaikan sebentar karena masih ingin menengadahkan tangan pada-Nya. Kembali hp-ku bergetar, kali ini kuangkat karena aku sudah kehilangan fokusku berdoa. Sebuah panggilan masuk untuk kembali bekerja.
Yaa Allah, maafkan hamba-Mu ini. Kali ini marahku bukan karena harus bekerja. Aku tahu bekerja adalah kewajibanku dan tanggungjawab yang harus kutunaikan. Tapi aku marah karena waktu berdoa-ku yang singkat ini diinterupsi untuk pada akhirnya tak terpakai setergesa itu. Apasih yang dikejar?
Aku bahkan sudah menurunkan ekspektasi ke orang-orang, aku ga berharap banyak akan ada yang berinisiatif membuka laptopku dan mencoba berusaha mengerti dan mencari jalan keluar sementara sambil menungguku berjalan sejauh 3 meter. Iya, 3 meter atau paling jauh 4 meter dari mushola ke kursi yang kududuki untuk bekerja.
Silakan telpon kalau memang aku mengobrol, keliling, jalan-jalan. Tapi, kan, aku sholat.. Dia bahkan tahu aku tak beranjak kemanapun sejak pagi tadi.
Dan sampailah aku di meja kerja, meletupkan gelembung emosiku. Kusampaikan aku marah. Tapi tetap kulanjutkan pekerjaanku. Seorang teman memahami kemarahanku, menepuk-nepuk bahuku. Aku diam karena takut semakin jadi emosi.
Sampai setelah kehebohan itu mereda, aku duduk berdua dengan salah seorang temanku tadi. Kubisikkan pelan padanya, "Kenapa ya tadi aku harus marah segitunya mba. Kok kaya ga pantes ya." Sambil menatap dan mengangguk pelan, dia memberi validasi atas kemarahanku.
Dan malam ini, sepulang kerja, aku merenungi ulang kejadian sore tadi. Tentu kita kesal saat diinterupsi ketika sedang dalam momen penting, atau obrolan berharga, atau di kegiatan-kegiatan tertentu lainnya. Lalu apa bedanya aku, masih sering menginterupsi waktu panggilan-Nya dengan urusan-urusan kecil duniawiku yang bahkan tak pantas dibandingkan ini?
(Semarang, 26 Agustus 2025. 22:22. Kamar kosan, ha(AAArRrggghhh)i yang mantap, aduh sedap. Merenung)
168
“Jangan playing victim sama Allah.”
Kami—aku dan tiga temanku, sedang quality time setelah sekian lama tidak bertemu, makan-makan, biasalah: update masalah hidup tanpa berbagi solusi.
Lalu sampai giliran salah satu kawan kami, berbagi masalah yang solusinya, entah... Hanya Allah yang tahu. Berulang kali menceritakan hal yang sama, berulang kali kami berikan alternatif solusi, berulang kali juga masalah itu kembali lagi.
Teman kami satunya lagi bersuara, “Coba deh lu tahajjud. Solusi lu itu udah bukan ranah manusia lagi, itu udah harus ngadu langsung, minta solusi langsung sama Allah. Apalagi masalah hati, Allah yang bisa bolak-balik hati seseorang tuh."
Aku masih belum ikut membuka suara. Mendengarkan mereka beradu pandangan.
“Tapi aku tuh malu mau tahajjud. Bacaanku itu-itu doang, mana sholat wajibku nggak on time. Nggak enak sama Allah. Hehe.” Jawabnya antara serius dan tidak.
“Heh, jangan playing victim lu sama Allah! Lu pikir Allah apaan? ”
Lalu kami tertawa, namun dengan hati yang tercubit, aku turut membenarkan: Kalau kita terus-menerus malu menghadap Allah dalam keadaan tidak terbaik, bukankah itu tanda kita harus memperbaiki? Bukankah ketika kita sadar sedang dalam keadaan yang tidak baik, itu artinya kita selangkah menuju kebaikan?
Allah memang menerima yang baik-baik, tapi Allah juga bukakan pintu untuk mereka yang tertatih ke arah-Nya ketika luka dan penuh noda untuk bertaubat. Allah adalah satu-satunya tempat dimana mereka yang penuh dosa mengadu ketika manusia enggan mendengar dan sibuk memilih.
jika seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sejengkal, maka Allah akan mendekat kepadanya sehasta; jika ia mendekat sehasta, Allah akan mendekat sedepa; dan jika ia berjalan mendekat, Allah akan mendatanginya dengan berlari.
Selamat menemukan kembali jalan pulangmu.
@ffahraa

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Marry someone who reminds you of Allah, someone who is deeply interested in deen, someone who will teach your children the meaning of loving Allah and push you towards Jannah.
Hajj 2026
Green is Heal☘️🌱🤍
Sebut saja dia F.
Di setiap jurnal yang ku tulis sejak SMA, kuliah hingga bekerja, tokoh utamanya masih sama. Nama yang paling sering kusebut masih satu orang.
F.
Itulah inisial yang aku tulis dalam jurnalku, sosok laki-laki yang baik, pintar, soft spoken, friendly dan bonus cakep. Selama ini aku selalu merasa beruntung bisa mengenalnya, padahal kami tak punya circle untuk punya kesempatan bertemu.
Sudah hampir 11 tahun dia menjadi tokoh utama dalam jurnalku. Dan diujung tahun 2024 ini, aku ingin menghapusnya dalam jurnalku. Namun bisakah aku menemukan sosok lain yang akan menggantikan dirinya di jurnalku?
Bulan Bercerita | 30 Desember 2024
Hari ini lelaki baik itu sudah membuka lembaran hidup baru bersama pasangannya.
Ga ada lagi si F dalam jurnalku.
16 Mei 2026
مهما عز طلبك تذكر قُدرة الله.
No matter how difficult your request is, remember the power of Allah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ya Allah, hamba berlindung kepadaMu dengan mengharap ridhoMu. Ya Rabb... Jauhkan hamba dari apa yang Engkau murkai.
dan hamba berlindung kepadaMu ya Rabb, dengan segala penjagaan dan pemaafanMu. Tolong jaga hamba dari segala hukuman-hukuman di dunia dan di akhirat.
Jangan pernah berharap kepada manusia, sebab hal-hal baik hanya datang dari Allah bukan dari mereka.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)