Bintang yang Paling Terang
“Na, Lo seneng banget liat bintang ya...” gumam Desanda tanpa menoleh, tak bermaksud bertanya. Baginya, memandangi wajah Ana yang antusias—terhadap semua hal—selalu lebih menarik untuk diperhatikan. Lebih dari apapun.
“Yaelah, kayak baru kenal!” seru Ana seraya tertawa, dan tak lupa melayangkan tinjunya ke lengan Desanda. Matanya masih terpaku pada langit yang penuh bintang. “Emangnya kurang indah apa sih mereka? Ngeliatnya bikin adem tau, lega aja rasanya, kita tuh kayak di suatu tempat yang luaaaas banget. Eh, tapi gak gitu juga sih. Gimana ya.... pokoknya kita berasa kecil banget! Iya gak sih? Terus seketika aku gak inget semua masalah yang aku punya. Sampe gak inget juga kalo besok harus ngumpulin tugas makalah. Eh, apa? Tugas? Yaampun, Des! Aku belom ngerjaiiiiin hahaha!”
“Kebiasaan,” tukas Desanda, berusaha terdengar ketus seraya menyembunyikan senyumnya. Ia tak pernah mengerti bagaimana gadis yang satu ini mampu tertawa begitu lebarnya, seakan dia orang paling bahagia di dunia. Ia tak pernah mengerti bagaimana hal-hal tampak selalu indah dalam pandangannya. Dan ia tak pernah mengerti, bagaimana tawa gadis itu membuatnya selalu ingin bersamanya.
“Eeeh Des! Liat! Itu bintang jatuh bukan sih?! Ayo cepet kita buat harapan!” tanpa menunggu konfirmasi dari Desanda, Ana sudah lebih dulu menelungkupkan tangannya dan memejamkan mata dengan sangat antusias. Ana selalu percaya pada hal-hal magis, ia percaya hidupnya dipenuhi keajaiban.
20 detik. 30 detik. 1 menit...
“Na, Lo yasinan ya?” sedari tadi Desanda hanya menatap Ana yang merapal doa begitu khusyuk.
“Selesaaaaaaaaai!” seru Ana dengan senyum mengembang. “Kamu buat harapan apa aja tadi? Kasih tau dooong? Ah, pasti pengen jadi arsiteknya artis, ya? Hmm atau pengen mobil baru?! Eh, apa pengen jadi gitarisnya Kangen Band? Hahahaha atau jangan-jangaaan... Ah! Pengen nikah sama aku ya? Hahahahaha bercandaaaa!” Ana tertawa puas, menepuk-nepuk bahu Desanda sambil terpingkal.
“Ngarep banget Lo. Lagian ya, yang namanya bintang jatuh itu gak ada. Itu cuma meteor, cahayanya juga hasil dari gesekannya sama atmosfer bumi. Film kartun mana sih yang masih tega ngeracunin pikiran Lo? Sadaaaar woy.”
“Yee sewot mulu, terserah apa kata kamu lah! Yang jelas, dari dulu aku selalu kepingin jadi bintang yang paling terang. Kayak yang itu tuh! Bagus kan, Des?” Ana menatap langit dan mengarahkan telunjuknya pada satu arah. Matanya berbinar, antusias.
“Bodoh. Bintang yang paling terang itu punya suhu paling tinggi, kebayang gak tuh panasnya. Sedangkan bintang itu ngebakar dirinya sendiri. Jadi, bintang paling terang bakal paling cepet mati. Dan ketika bintang mati, apalagi bintang yang besar, dia bakal nyiptain ledakan yang namanya supernova. Itu ledakan mematikan, Na. Dan nantinya hasil ledakan itu bakal jadi blackhole yang punya daya gravitasi super-kuat dan seakan ngejatohin apapun yang ngelewatin dia. Biasanya, orang-orang salah kaprah dalam memvisualisasikan blackhole, mereka anggap blackhole itu semacam vacuum cleaner yang menghisap apapun di dekatnya.”
“Udah, jelasinnya?” tanya Ana kesal. Dibalik itu, ia selalu mengagumi laki-laki di sampingnya, yang selalu tahu akan banyak hal. Laki-laki itu mampu menjelaskan sebab-musabab di balik sebuah kejadian. Laki-laki itu mampu menanggapi celotehan Ana dengan logis. Namun juga selalu berhasil memutuskan dimensi khayal Ana.
“Capek ya jadi orang pinter...,” gumam Ana pelan, senyumnya hilang.
“Kamu tuh terlalu pemikir. Semua hal harus dijelasin pake teori. Fokus kamu itu cuma di satu titik. Sampe-sampe kamu lupa titik lainnya. Sampe-sampe kamu gak peka sama sekitar,” Ana menerawang, masih menatap langit. “Meskipun bintang yang paling terang itu bakal mati duluan, seengganya dia udah bermanfaat, kan? Liat, berapa bintang lain yang ngambil cahaya dari dia? Berapa nelayan yang pulang pergi melaut dibantu adanya dia? Dan berapa orang yang perasaannya jadi tenang cuma karna ngeliat dia? Aku dan kamu, misalnya! Hahaha,” Ana mendorong Desanda. “Lagian ya, kamu juga kan pernah bilang, kalo bintang itu umurnya panjang! Yang paling cepet mati aja bisa jutaan tahun. Gimana, sih...,” Ana menutup kalimatnya dengan senyuman. Kembali memandangi bintang.
“Des... terkadang, sesuatu yang gak masuk akal itu masuknya ke hati; cuma perasaan yang ngerti.”
“Kita gak selalu harus tahu alasan terjadinya sesuatu. Kita gak selalu harus mempertanyakan hal-hal yang terjadi di hidup kita. Dan kita gak selalu harus dapet jawaban atas misteri kehidupan. Sesekali yang perlu kita lakuin itu ya cukup merasakan kehidupan, dan bersyukur atas apa yang terjadi di kehidupan kita. Hmm, aku selalu bersyukur punya kamu di hidup aku.”
Deg. Desanda tertegun. Ada semacam desir di hatinya yang memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ini bukan Ana yang biasanya, batinnya.
“Dan aku, akan selalu ingin jadi bintang yang paling terang. Biarpun harus membakar diri sendiri, aku ingin buat orang-orang di sekitar aku bahagia. Biarpun aku harus sakit, aku selalu ingin jadi orang yang berguna. Dan biarpun jadi yang paling cepet mati, aku ingin orang-orang tersenyum atas kehadiran aku,” Ana memejamkan matanya dan tersenyum.
Desanda memerhatikan bintang yang tadi ditunjuk Ana; bintang yang ‘katanya’ paling terang. Ana benar, tak semua kejadian butuh penjelasan. Kita hanya perlu menikmati setiap detik yang ada dan mensyukuri segala sesuatu, untuk merasakan ketenangan yang sebenarnya.
“Na. Buat gue, Lo akan selalu jadi bintang yang paling terang.”
“Yeh, ini bocah udah teler.”
Tangerang, 20 Januari 2016 | FF Andiana