Kembali ke Kota ini
Agustus tahun lalu, aku meninggalkan kamar tiga kali empat yang tiap paginya dihiasi sinar matahari dan aku bisa menatap matahari terbit seperti seorang yang sedang patah hidupnya. Hidupku memang patah pergi dari satu tempat yang membuatku merasa menjadi karakter baru dalam sebuah TV show yang dikontrak dua tahun oleh perusahaan. Hidup harus berlanjut sebab usia sudah mengganjal pertanyaan-pertanyaan yang sudah membosankan. Selama September hingga Desember nasib kadang tak menetapi doa-doa yang dipanjatkan tiap usah ibadah. Aku menghabiskan Oktober hingga November di pulau seberang, ternyata menyenangkan mendobrak diri dari hal-hal yang tak pernah kita harapkan.
Tahun ini aku kembali, ke kota yang kata orang itu istimewa, tentu saja ketika mendengar kata istimewa kalian tahu itu tertuju pada apa. Aku tak pernah benar-benar berharap kembali di sini, tapi seperti yang kubilang kadang nasib mengelabui doa kita, entah untuk apa maksudnya. Sempat kutelpon kawan lalu ia menjawab “semua berawal dari kota itu, dan mungkin kamu harus mengakhiri semuanya dari kota itu”













