Setelah membaca Filosofi Teras, begitulah kemudian aku sadar dan merasa tervalidasi bahwa beberapa kerangka yang kupikir ini bernama Stoisisme. Dalam membacanya terasa janggal, karena seperti sedang membaca isi kepala yang dituliskan oleh orang lain, di sisi lain membacanya terasa bersyukur: syukur karena dipertemukan dan diizinkan Tuhan membaca buku ini.
Kapal karam penulis —Henry Manampiring—, adalah depresinya, sementara kapal karamku serta (mungkin) syukur terbesarku adalah sekolah kedinasan yang tentu saja membawa banyak efek domino terhadap hidupku. Secara negatif, berat badanku yang naik tak karu-karuan dan tentu saja glow down physically, didiagnosa depresi, kehilangan excitement dalam hidup, dan mungkin beberapa hal lainnya. Namun memang tidak dapat dipungkiri bahwa bertahan dan mampu lulus dari sekolah ini telah membawaku ke tempat yang lebih baik, tempatku bekerja sekarang beserta lingkungan di dalamnya, dapat membiayai hidupku sendiri, dan melakukan banyak hal yang kumau dengan uangku sendiri. Sekolah ini juga mempertemukanku dengan sahabat-sahabatku yang baiknya tak karuan, bertemu dengan orang-orang yang membuatku belajar banyak hal dalam hidup.
Ternyata aku sudah mempelajarinya: mencintai takdirku, amor fati.
Demikian caraku bertahan hidup dan menjaga diriku tetap waras, mencintai takdir dari-Nya. Namun beberapa hal baru saja ku pelajari dan (baru-baru ini kucoba untuk) kuterapkan dalam hidup ini. Kontrol. Percaya saja bahwa manusia tidak selalu memiliki kontrol atas segalanya, dan cara untuk tetap waras adalah paham hal itu dan hanya kontrol apa yang bisa kita kontrol.
Barusan cuci baju dan tiba-tiba hujan? Ya sudah, jangan marah, ngabisin tenaga. Dipinggirkan bajunya lalu ambil waktu itu sebagai waktu yang ideal untuk ngeteh dan berbincang dengan kesayangan. Saat berangkat pagi sudah mau telat tapi kena macet waktu di taksi? Jangan marah juga, nanti harinya jadi buruk. Gunakan waktumu menunggu untuk lakukan hal yang belum sempat kamu lakukan: baca buku yang belum sempat kamu selesaikan, cicil pekerjaan yang masih menumpuk, baca dzikir pagi. Apa? Kamu bawa kendaraan sendiri? Sambil menyelami kemacetan jalanan, kamu bisa lakukan hal-hal yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya: doakan setiap orang yang kamu lihat di jalan.
“Semoga Ibu itu hari ini dagangannya laris,”
“Semoga anak itu hari ini di sekolah dapat prestasi, bisa banggakan orang tuanya”
“Semoga Bapak itu hari ini rezekinya lancar dan bisa bawa hadiah atau makanan kecil itu keluarganya di rumah”
“Semoga kakek itu dikuatkan atas apapun beban hidupnya, bebannya diringankan, dan senantiasa dibersamai oleh-Mu”
Banyak sekali contoh-contoh sederhana yang dapat kita terapkan dalam hidup kita. Mungkin klisenya, ini akan cocok dengan ‘darling, see the good in everything’
Fakta paling mengejutkan yang ku baca dari buku ini: parenting adalah belajar untuk berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Betul. Manusia kecil itu —tidak dapat kita pungkiri— adalah insan lain. Insan lain yang punya timeline ala dia dan perasaan dalam kuasanya sendiri. Walaupun dia lahir dari orang tuanya, dia tetaplah seorang individu yang berbeda. Hanya soal waktu dia akan mandiri dan bertumpu pada dirinya sendiri. Sampai saat itu, tugas orang tua adalah belajar untuk memberikan ilmu dan bekal kepadanya akan dia gunakan untuk hidup dengan kakinya sendiri, dengan timelinenya sendiri, dengan masalahnya yang akan dia hadapi dalam hidupnya.
Lain halnya dengan kontrol, hal yang berkaitan dengan masalah sehari-hari kita adalah persepsi. Percaya nggak kalau semua hal yang terjadi adalah fakta? Bagaimana penilaian kita adalah hal lain. Manajemen persepsi adalah softskill mahal yang seharusnya kita miliki. Dalam suatu hari, pernah ku telfon sahabatku sambil mengeluhkan percintaanku yang jalan ceritanya aneh nan ajaib, dalam teleponnya dia berkata,
“Shan, dunia tuh baik-baik aja. Kita yang bikin kenapa-napa,”
Betul. Baru kusadari, betul. Setelah dengar hal itu beberapa hal menjadi tidak seberat sebelumnya, tidak seaneh sebelumnya, tidak sesulit sebelumnya. Kalau lelaki itu bisa dan mau diajak bekerja sama, ya work for it, jalani. Kalau memang dia tidak jelas, tidak mau, tidak bisa diajak bekerja sama, dilepas saja, jangan menghambat dirimu untuk bertemu dengan hal-hal baik yang sudah menunggumu di depan.
It is what it is, kita selalu bisa memilih untuk bersikap seperti apa.
Jam kerja di kantor kembali seperti sebelum pandemi. Awalnya jam kerja from 8 to 3, sekarang menjadi 8 to 4.30. Cuma beda satu setengah jam, tapi baca pengumuman resminya rasanya sudah lelah duluan pundak dan kepala ini, pening dan menyebalkan. Belum dilakukan, belum dihadapi, tapi sudah lelah. Tanpa sadar, alam bawah sadarku sudah membuat persepsi negatif yang super eeeewh atas pengumuman baru tersebut. Padahal 8 to 4.30 adalah fakta, tidak kurang, tidak lebih. Aku akan bekerja pukul delapan hingga setengah lima sore. Pikiran-pikiran lelah, sakit kepala, pundak capek, tidak nyaman, datangnya dari persepsiku sendiri. Sederhana saja, menyadari kalau 8 to 4.30 adalah sebuah fakta yang netral, semua rasa lelah itu hilang dan menjadi, “Ya sudah, ayo”
Hal paling kuat yang kupelajari setelah membaca Filosofi Teras adalah satu:
Our mind game is THAT strong, dont underestimate.