Aku rindu Bandung sehabis hujan.
Beserta dirimu dan ribuan kenangan yang ada di dalamnya. Memikirkannya saja membuatku tenang. Memoriku kembali menapaki jalanan Braga yang basah, disertai sisa air hujan yang menetes dari dinding bangunan itu. Perlahan menyusuri trotoar di tengah udara dingin yang membuatku bisa merasakan hangat hadirmu meski tanpa kusentuh. Terdengar deru nafas dalammu, seolah melepaskan beban dari pundakmu.
Kala itu hujan tidak menentu, seakan menggoda untuk bermain. Gerimis datang dan pergi, tidak deras, namun cukup untuk membuat mantelmu basah karenanya. Berteduh di kanopi merah di simpang jalan, sambil menanti reda. Melihat paras elokmu dihiasi cahaya yang terpantul dari kendaraan yang melintas. Silih berganti seiring langkah kaki, seiring ayunan genggamanmu yang tak ingin ku lepas. Erat, hangat, dan halusnya genggaman tanganmu adalah nikmat Tuhan yang sering aku dustakan.
Senyummu saat kau bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Tawamu, tersipu, bercanda tentang masa lalu. Menyilaukan, tak tahan aku menatap matamu, juga rasa ingin mendekapmu. Untuk sejenak berhenti meragu, menghentikan waktu. "Aku tak ingin semua ini berakhir", ucapku dalam hati. "Dia adalah tempatku pergi dan kembali, alasan ku terbangun setiap hari, dan kekuatan yang selama ini membuatku bertahan". "Dia adalah penenang hati yang tak henti membuatku candu, aku ingin dia rasa apa yang aku rasakan saat ini". Semakin aku jauh, semakin aku terjatuh padamu. Meski bukan inginku untuk tak disampingmu, aku ingin berdua, bersama. Dan bukan bermaksud untuk mendahului Tuhan, tapi jika Tuhan berkenan, selamanya.



















