Sepanjang perjalanan dari rumah menuju ke tempat pemberhentian angkot, salah satu doa yang di lafadzkan adalah meminta semoga Allah perjalankan dengan angkot yang ga lama ngetemnya 😅, karena cukup memakan waktu meskipun kesempatan yg ada membuka kesempatan untuk hal lainnya. Tapi ya, nunggu angkot ngetem itu lumayan.
Sampai di tempat angkot biasa berhenti, Alhamdulillah ada angkot yg sudah siap berangkat. Rasanya doa kontan Allah jawab. Didalamnya diisi anak² SDN pulang sekolah. Sepanjang perjalanan cukup terhibur dengan jokes antara abang supirnya dengan anak-anak. Mereka saling timpal menimpali. Riuh tawa memenuhi.
Sampailah ketika angkot berhenti di depan SDN lainnya, sang supir meneriaki beberapa anak yg menunggu angkutan untuk pulang.
"Ga ada uang bang" sahut seorang anak yg diajak menaiki angkotnya.
"Dah pada masuk aja. Gratis" Dengan keramahan hatinya sang supir menawarkan tumpangan.
Spontan beberapa anak segera menaiki angkot abangnya. Memenuhi tawaran abangnya.
Satu persatu turun, dan anak² yang turun membanyarnya dengan "Makasi bang", bukan berupa uang.
Hah? Kebaikan macam apa ini?
Seorang supir yang barangkali (dan biasanya begitu) perlu menyetorkan uang nariknya, dengan ringannya memberi tumpangan secara gratis kepada para anak² thalabul ilmi!
Ah! Kalau bukan karena hidayah yang Allah ilhamkan untuk menghadirkan kebaikan ke hati sang supir, tentu pemandangan ini tak akan semenakjubkan ini.
Kebaikan yg barangkali dilihat kecil tapi menakjubkan secara batin.
Anak² yang ditumpangi pun tak sedikit yg membekali doa pada sang abang, "semoga kaya raya bang!" "Semoga hari ini lu dapet banyak bang" "gw doain abis nganter gw penuh ntar angkot lu bang", dan lain sebagainya.
Wah, bukan kah doa mereka yg dosa nya masih sedikit akan lebih mudah sampai pada pengabulan? Bukankah doa seorang penuntut ilmu akan mendatangkan keberkahan ? Bukankah doa seorang saudara kepada saudara lainnya akan diaminkan para malaikat di sekelilingnya, apalagi telah disenangkan hatinya, doa nya akan semakin tulus terpanjatkan, kan?
Kebaikan kecil yang sederhana selalu bersahaja diterima jiwa. Ia langsung menyentuh rasa. Kontan memberikan kesan keteladanan yang menghadirkan panjangnya kebaikan pada yang lainnya.
Begitulah Allah, doa "curhatan" sederhana yang dipanjatkan selalu di kabulkan dengan kebaikan yg berlipat. Tak hanya dikabulkan angkot untuk laangsung jalan, tapi di berikan pula keteladanan yang mengagumkan. Yang lahir dari sebuah kesederhanaan, tapi melahirkan kebahagiaan bagi banyak hati yang membayarnya dengan doa keberkahan.
Sebuah teladan nyata bahwa kebaikan—infaq, tak terbatas bentuknya. Wujudnya beragam, yang jelas ia lahirnya dari hati, sehingga Allah karuniakan sampai ke hati.