Bayangkan, hari itu kamu pergi kerja, menggunakan mobil yang biasa kau pakai setiap hari. Sesaat sebelum kamu pergi, istrimu berkata
“Ayah, kapan rem mobilnya diperbaiki? sudah 1 bulan, belum dibawa terus ke bengkel. Nanti-nanti terus”
Lalu kamu membalas “Iya Bu, nanti diperbaiki. Sekarang kan masih sibuk. Minggu depan deh ya, janji.”
Bayangkan, hari itu kamu menggunakan mobil kesayanganmu ke tempat kerjamu. Saat kamu lihat, ternyata waktu yang tersedia tidak banyak, akhirnya kamu melaju lebih kencang.
Bayangkan, saat itu, dari kejauhan, nampak lampu yang berwarna hijau, berubah menjadi kuning. Kamu yang sedang melaju kencang, menekan rem untuk berhenti. Namun apa yang terjadi? Mobil itu tetap melaju kencang, melewati stopan, melewati lampu lalu lintas yang kini sudah menjadi merah.
Bayangkan, kamu bertanya, kenapa tidak berhenti? Dalam sepersekian detik itu kamu baru inget, rem mobilmu rusak. Ya, kamu tahu rem mobilmu rusak, namun kamu tak pernah menyangka bahwa ia akan benar-benar rusak di saat seperti ini.
Bayangkan, sambil kamu sibuk dengan rasa kagetmu, sebuah mobil melaju di hadapanmu. Sebuah mobil yang taat aturan, mobil yang maju ketika lampu hijau menyala, tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Sebuah mobil yang terawat, tak ada kerusakan di mobilnya sama sekali, ia melaju dengan normal. Namun sayang, segala kehati-hatiannya, hari ini tak bisa menghindarkannya dari kesialan. Hari itu, mobilmu menabrak mobil orang untuk kali pertama.
Bayangkan, mobilmu berhenti, kamu bangun dari kagetmu, kamu tidak celaka karena sabuk yang kamu gunakan, hanya saja rasa sakit pada kepala yang membentur stir. Ketika kamu lihat ke depan, mobil yang kamu tabrak, terguling.
Bayangkan, kamu keluar dari mobil, mencari korban dari mobil itu, nampak warga berkerumun, di tengah kerumunan itu ada seorang ayah, dengan 2 orang anak. 1 anak laki-laki, tergeletak dekat ayahnya, mengerang kesakitan, nampak ada yang tidak normal pada kakinya. Ada lagi, 1 anak perempuan, masih kecil, usianya 5 tahun, terbujur kaku, duduk sambil dipeluk erat di pangkuan ayahnya.
Bayangkan, kamu mendekat, mendengar sang ayah berbisik kepada anak perempuannya.
“Asyhaduallailahaillallah, waasyhaduannamuhammadarrasulullah”
“Asyhaduallailahaillallah, waasyhaduannamuhammadarrasulullah”
“Asyhaduallailahaillallah, waasyhaduannamuhammadarrasulullah”
Sang anak perempuan itu, sudah tidak bernyawa. Sedang sang adik, harus kehilangan kakiknya.
Bayangkan, kamu merasa menyesal, kamu membantu keluarga yang tertabrak itu, kamu biayai semua biaya pengobatannya, harganya begitu mahal, jauh lebih mahal dari biaya perbaikan rem, tapi tetap kamu bayar karena tak enak.
Bayangkan, kamu merasa menyesal, kamu menunggu keluarga itu sampai mereka keluar dari rumah sakit,waktunya begitu lama, bahkan jauh lebih lama dari waktu perbaikan rem, tapi tetap kamu tunggu karena kamu merasa harus gentle.
Bayangkan, kamu merasa bersalah, kamu ganti mobil keluarga tersebut dengan mobil baru, harganya jauh lebih bahal dari biaya perbaikan mobilmu, tapi tetap kamu bayar sebagai bentuk tanggung jawab.
Bayangkan, beberapa waktu setelah itu, kamu hidup seperti biasa lagi, ada perasaan bersalah, tapi semua itu tersapu dengan kesibukanmu. Tapi, di tempat lain, seorang ayah hidupnya kini hancur, putri kesayangannya hilang seketika, sedang anak laki-laki jagoannya, kini tak bisa berjalan seperti biasanya.
Bayangkan, semua ini, hanya karena sebuah penundaan, hanya karena kamu tidak mau mengorbankan waktumu sejenak, karena kamu tidak mau mengorbankan biaya yang memang tidak seberapa.
Bayangkan, karena kelalaianmu, hidup orang lain jadi taruhannya.
Untungya, ini hanya bayangan, bukan kejadian nyata. Lagipula, orang macam apa yang kendaraannya rusak lantas ia membiarkannya? Bukankah itu sama saja dengan menyiapkan kecelakaan?
Ah, tak mungkin, semua orang disini kan orangnya semua peduli, mereka pasti tidak akan melakukan hal semacam itu. Betul bukan?
Semoga bayangan diatas, hanya sebuah bayangan, dan tak pernah kita alami.
BAYANGKAN
Bandung, 1 Agustus 2019
@choqi-isyraqi