Dulu aku kira, yang paling menyakitkan adalah ditinggalkan.
Ternyata bukan.
Yang paling menyakitkan adalah tetap bertahan ketika orang yang paling ingin kau perjuangkan, justru memilih menyerah lebih dulu.
Aku pernah jadi orang yang memohon agar semuanya jangan selesai. Meyakinkan bahwa kita masih bisa diperbaiki. Tapi waktu itu, cintaku kalah oleh keyakinannya untuk pergi. Katanya sudah tidak melihat masa depan. Katanya sudah lelah.
Jadi aku belajar.
Belajar pulang ke diri sendiri, walau tiap malam rasanya seperti ada ruang kosong yang tak bisa diisi apa pun. Belajar tersenyum di depan orang lain, padahal di dalam kepala masih ribut dengan kenangan. Belajar menerima bahwa kadang, mencintai saja memang tidak cukup.
Lucunya hidup...
Saat aku mulai terbiasa hidup tanpa kabarmu, semesta malah mempertemukanmu lagi. Berkali-kali. Seolah sengaja mengingatkan luka yang belum benar-benar menjadi bekas.
Lalu suatu hari, justru kamu yang datang.
Bukan membawa alasan. Tapi membawa penyesalan.
Katamu rindu. Katamu hampa. Katamu baru sadar bahwa kehilangan itu ternyata sesakit ini.
Ironis ya?
Dulu aku yang mengejar langkahmu. Sekarang kamu yang mencari jalan pulang.
Aku tidak marah. Tidak juga membenci. Karena seiring waktu aku sadar, dendam cuma bikin hati tetap tinggal di masa lalu.
Yang membuatku diam hanyalah satu pertanyaan...
"Kenapa baru sekarang?"
Karena orang yang pernah kau tinggalkan, tidak akan pernah benar-benar menjadi orang yang sama saat kau kembali.
Aku sudah melewati malam-malam yang seharusnya kamu temani. Sudah belajar berdiri tanpa tanganmu. Sudah memaksa hati menerima bahwa namamu mungkin hanya akan tinggal sebagai kenangan.
Jadi kalau hari ini kita memilih mencoba lagi...
Itu bukan karena aku lupa rasa sakitnya.
Tapi karena aku ingin percaya, bahwa dua orang yang sama masih bisa memiliki cerita yang berbeda... selama keduanya benar-benar datang untuk memperbaiki, bukan sekadar mengobati rasa sepi.
Sebab cinta bukan tentang siapa yang pergi atau siapa yang kembali.
Cinta adalah tentang siapa yang akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal.













