It’s ok.


@theartofmadeline
Acquired Stardust

oozey mess
he wasn't even looking at me and he found me
Not today Justin

blake kathryn

JVL

titsay
taylor price
Claire Keane

★

izzy's playlists!
sheepfilms

⁂

祝日 / Permanent Vacation

roma★
Show & Tell
AnasAbdin
seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from Indonesia

seen from Taiwan
seen from United States
seen from United States
seen from Georgia
seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from India
seen from United States

seen from Germany

seen from Colombia

seen from Singapore
@philosofio
It’s ok.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Wahana Diving | Pra Bunsay 6
Menyelami diri sendiri, bertemu dengan saya—di usia ke-26 ini rasanya banyak yang berubah. Sebelum mengikuti rangkaian kelas di IIP saya biasa saja, seperti tidak tahu cara meningkatkan kemampuan diri sebagai perempuan yang berperan menjadi istri dan ibu.
Saya bahagia menjalani peran ini, tapi tidak menampik bahwa sesekali ada rasa jenuh juga. Tapi tergabungnya saya dalam perkuliahan membuat saya sering mengingatkan diri: malu sama ilmu kalau nggak dipraktekkan. Jujur saya merasa sekarang sudah lebih mandiri, saya menjadi dewasa, karena saya tahu tanggung jawab yang saya ambil ini.
Yang Ingin Saya Perjuangkan:
Ke depan, saya bukan ingin menjadi orang lain. Saya ingin mencintai diri sendiri yang berhasil menjalankan peran ini sesuai jalurnya. Saya ingin menjadi contoh yang layak buat keempat adik perempuan saya, saya ingin menjadi istri yang layak untuk mendampingi suami saya, dan menjadi ibu yang layak bagi anak-anak kami.
Caranya? Dengan konsistensi belajar dan mempraktekkan ilmu yang saya miliki. Saya tidak ingin mengubah orang lain, tapi saya ingin menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Piramida di atas adalah gambaran yang menjadi acuan, dengan adab yang baik kita bisa bersosialisasi ke berbagai hal.
Jam tujuh pagi, Emilia bersiap berangkat ke tempat kerjanya. Sambil perlahan menuruni anak tangga, tangan kanannya menelepon Mario.
“Sorry, semalam gue lupa charge hp. Iya hari ini gue ke kantor kok, Mas. Lumayan banyak kerjaan,” gadis itu tiba tiba terhenyak. “Ya udah ya, gue sarapan dulu. Bye.”
Sosok Arsen sedang duduk di kursi makan sambil menikmati roti buatan Mama.
“Hai Mil,” dia menyapa dengan santai. “Aku antar ke kantor ya?”
“Sarapan dulu, Mil.”
“Bawa bekal aja Ma,” Emilia menyiapkan beberapa helai roti untuk dibawa. “Aku mau cepat sampai ke kantor.”
Arsen pamit pada Mama, Emilia tak banyak komplain. Dia bersedia diantar Arsen.
“Cowok yang kemarin itu udah nungguin di kantor?”
“Iya. Mau sarapan bareng!”
“Kamu nggak akan bisa bikin aku nyerah dengan cara kayak gini, Mil. Kasihan cowok itu.” Arsen memasangkan seat belt di bangku Emilia. “Kenapa aku kayak gini? Karena kamu ada dalam rencanaku... aku belum gagal.”
“Arsen,”
“Aku tau kamu nggak bisa jauh sama aku. Itu nggak akan terulang...”
“Aku nggak ngerti.”
“Kamu mau nikah sama aku nggak?” Tanya Arsen serius. Dia menyalakan mesin mobil lalu bergegas mencari jalan menuju kantor Emilia.
Sementara itu Emilia terdiam, belum memberi jawaban. Masih ada ruang di hatinya untuk Arsen, tapi ini terlalu cepat. Bagaimana dengan Mario yang selama ini ada di dekatnya? Lelaki itu juga sudah mengungkapkan perasaannya.
“Aku serius, Mil.”
“Stop. Berhenti. Aku mau turun di sini. Jangan antar aku ke kantor.”
“Kamu mau diantar ke mana?”
“Aku nggak mau diantar kamu, Arsen. Cukup.”
Arsen bergeming, dia tak menahan Emilia. Gadis itu keluar dari mobilnya setelah ia berhenti di depan sebuah halte. Ini baru hari kedua, pikir Arsen. Memang butuh waktu untuk kembali menerima, butuh waktu untuk memberikan jawaban. Arsen tidak memaksa, tapi usahanya sudah sejauh ini—sejauh langkahnya dari Amerika menuju Jakarta.
Pukul 10.00 Emilia sampai di kantor, Mario mendekati mejanya. Raut wajah Emilia tampak suntuk. Lelaki itu meletakkan satu cup capuccino yang masih hangat di meja Emilia.
“Ada masalah Mil?”
“Nggak ada,”
“Temen SMA lo gangguin lo?”
Emilia menggeleng. Tidak mungkin bercerita pada Mario tentang Arsen, sebab Mario pun menunggu hatinya terbuka. Sementara Arsen yang datang kembali membuat hatinya kacau.
“It’s okay, Mil.” Mario menatapnya lurus. Sedikit mengulas senyum. “Cowok itu datang bukan tanpa maksud. Gue tau karena gue cowok.”
“Apaan sih Mas, nggak jelas banget...”
“Dia mantan lo kan?”
Emilia melebarkan mata. “Lo tau dari mana?”
“Maaf ya, tapi gue pernah baca curhatan lo... di blog lo yang lama.”
Emilia menghela nafas. Dia nggak tau harus bicara apa lagi. Mario tahu tentang Ray dan sekarang Arsen. Pusing dengan persoalan ini, Emilia memilih tak peduli dengan tatapan Mario. Dia menghadapkan wajahnya ke layar laptop dan meneruskan pekerjaannya.
Ponselnya berdenting, itu pasti Arsen, pikir Emilia. Tak lama, ponselnya berdering dan nama Arsen yang muncul.
“Mil, kalau di hadapan lo ada 2 pilihan... lo berhak untuk memilih salah satunya kok.” Kata Mario sebelum beranjak dari sisi Emilia.
Seolah membiarkan Emilia menjawab telepon dari Arsen, lelaki berjaket abu-abu itu keluar dari ruangan. Dengan malas, Emilia mendekatkan handphonenya ke telinga.
“Ada apa?”
“Aku mau makan siang bareng kamu,”
“Aku nggak mau.”
“As a friend. Janji, aku nggak bahas hal yang kamu nggak mau bahas.” Ujar Arsen, tapi Emilia tak menyahut.
“Janji nggak lama lama kok, oke?”
“Liat aja nanti,”
“Oke, makan di resto deket kantor kamu.”
*
Kesempatan yang datang ini sebetulnya untuk siapa? Setelah Ray pergi meninggalkannya, Mario ada di dekatnya. Setelah Mario mengatakan perasaannya, Arsen justru datang kembali. Situasi ini tidak menyenangkan untuk Emilia, apa benar dirinya punya pilihan? Lalu mengapa sikapnya selalu dingin pada dua pria yang mendekatinya ini?
“It’s okay. Nggak masalah. Yang penting sekarang aku udah ketemu kamu lagi.”
Lelaki itu tak berubah, masih dengan caranya yang dulu ketika ia sesekali tersenyum sambil melirik ke arah Emilia. Perasaan lelaki itu terpancar dari perlakuannya.
“Mama kamu apa kabar?”
“Baik.”
“Aku senang bisa ketemu lagi sama kamu, Mil. Aku ke sini juga untuk cari kamu...” kata Arsen. “Aku berharap kita bisa lanjut,” Dia bahkan terlalu cepat berterus terang.
“Kita udah selesai di masa lalu, Arsen.”
“Salahku apa Mil?”
“Nggak ada.”
“Harusnya nggak ada alasan untuk kamu ninggalin aku, Mil.”
“Kamu yang ninggalin aku!” Emilia sedikit meninggi. “Please nggak usah bahas masa lalu.” Tegasnya.
Gadis itu melempar pandangan keluar jendela.
“How about August Raymond Ferdinand? Who is he?” Arsen bertanya lagi tentang Ray.
Emilia tidak menjawab. Seperti disudutkan oleh pertanyaan itu. Dulu, dia yang memutuskan semua komunikasi dengan Arsen. Jarak jauh, waktu yang berbeda, keterbatasan itu membuat Emilia jenuh dan memilih menyerah. Selang berapa tahun berikutnya, dia mengenal Ray. Dia juga jatuh cinta dengan lelaki itu, singkat waktu sebelum akhirnya Ray wafat.
“Tahu dari mana?”
“Your last post.”
Arsen belum ingin berpisah, tapi mobilnya sudah sampai di depan rumah Emilia. Cukup untuk mengantar sampai sini, masih ada hari esok untuk berjumpa lagi.
“Last question, kamu harus jawab jujur Mil...”
“Apa lagi?”
“Kamu kangen aku nggak?” Arsen menatap lurus mata Emilia, mencari jawaban di mata gadis itu.
“Kamu tebak aja dan anggap itu benar. Makasih udah nganterin.”
*
Mario menatap langit langit kamarnya, gelisah karena Emilia belum mengabarinya. Apa dia baik baik saja? Lelaki itu siapa? Mungkinkah hanya teman? Kenapa tatapannya begitu dalam pada Emilia?
Dia mencoba mengirim chat, tapi Emilia tak menjawabnya.
*
“Ma, Arsen ada di Jakarta.”
Mama sedikit kaget. “Wow, apa kabarnya dia?”
“Baik.”
“Kamu ketemu dia?”
“Iya. Aku dianterin pulang sama dia...”
Emilia tampak lesu, dia juga tidak melanjutkan cerita. Setelah bicara sebentar dengan mamanya, gadis itu pergi ke kamar dan tidak keluar lagi. Ponselnya dinonaktifkan, bahkan dia tidak ingat untuk memberi kabar pada Mario.
Emilia masih tak habis pikir, tak juga menyangka bahwa ceritanya akan begini. Mario bukan lelaki idamannya, dia hanya nyaman berteman dengan lelaki itu. Sebab bertemu dalam bidang yang sama dan itu bukanlah impiannya. Sengaja atau tidak, batinnya membandingkan sosok Ray dan Mario. Keduanya memang punya kesamaan, tapi dia tidak ingin bayang bayang Ray melekat pada diri Mario.
“Kok ngelamun?” Mama memperhatikannya sejak Emilia duduk di kursi makan tanpa menyentuh sarapannya. “Mil...” panggil Mama sambil menyentuh bahu Emilia.
“Eh-iya Ma...”
“Ini tadi ada ojek online kirim sarapan, katanya dari Mario.”
Hah? Mario? Ngapain kirim sarapan pakai ojol? Ihhhh. Geramnya dalam hati.
“Kabarin gih, bilang terima kasih.” Ujar Mama.
Emilia tidak menyahuti. Dua porsi bubur ayam kiriman Mario disantap dengan baik olehnya dan Mama. Usai sarapan, dilihatnya layar ponsel. Lelaki itu mengirim pesan, enjoy your breakfast ya Mil. Gue pingin lo cobain bubur dagangan gue, walaupun bukan gue yang bikin hehe.
Thank you, Mas. Balas Emilia singkat.
*
Rasanya capek patah hati, kali ini nggak tahu juga harus merespon gimana. Yakin nggak, ragu juga nggak. Pertama kali patah hati, lelaki itu pergi pindah tempat tinggal. Dia menemukan teman baru yang aku nggak bisa adaptasi di sini, adaptasi dengan jarak. Aku nggak bisa mencintai keterpisahan. Kedua kali, aku jatuh hati tapi lelaki itu pergi juga—bedanya selamanya. Nggak mungkin kembali lagi. Kali ini aku bingung, apa yang harus dilakukan?
Apa aku nggak memerlukan pasangan? Apa aku hanya perlu sendiri saja? Jujur ini begitu melelahkan.
*
Pukul 08.00 pagi, Emilia hendak menghadiri undangan workshop. Ia baru saja tiba di lobby sebuah hotel di Jakarta. Kemudian seseorang berdiri menghadangnya.
“Mil,” sosok lelaki yang tidak asing buatnya.
“Arsen...”
Lelaki itu tersenyum lebar. “Apa kabar, Mil?”
“Baik,” singkat saja jawabnya, karena gadis itu mulai grogi.
“Aku di sini lagi ada acara, Mil. Boleh minta nomor hp kamu?”
Waktu seakan berhenti, Emilia gugup. Setelah perpisahan 7 tahun yang lalu, Arsen muncul di hadapannya dan menyapanya lagi. Lelaki yang pernah dia sayangi, datang lagi seperti pertama kali.
“Sen sorry, buru buru nih.”
“Mil, please...”
Emilia tergesa gesa meninggalkan Arsen di lobby. Dia berjalan cepat menuju hall tempat workshop. Berharap tidak bertemu lagi dengan lelaki itu. Tapi semesta memang menggariskan pertemuan ini, saat Emilia sudah duduk di kursi dan siap mengikuti acara. Rupanya dia baru menyadari, Arsen adalah salah satu pembicara dalam workshop. Selama berlangsungnya acara, dalam hati dia tak berhenti merutuk. Bayar mahal ikut workshop ternyata untuk ketemu mantan? Arghhh.
Di kesempatan yang sama, Arsen mencuri pandang ke arah Emilia. Perempuan itu terlihat lebih dewasa. Ya, pertemuan terakhir mereka di bandara, saat itu Emilia belum mengerti make up. Berbeda dengan hari ini, Emilia yang dewasa. Apa yang membawa dia ke sini? Sebagai peserta workshopku? Begitu pikir Arsen.
Arsen Adam Jefferson, lelaki blasteran Amerika-Jawa Barat yang lahir di Indonesia. Tumbuh besar di Jakarta, teman SMA Emilia. Saat banyak perempuan kagum padanya, Emilia tidak. Apa istimewanya sih? Ternyata saat lelaki itu jatuh cinta padanya, benar Arsen istimewa. Namun, bukan karena fisik dan blasterannya, tetapi karena benar dia baik. Sekilas kenangan tentang Arsen kembali terputar di ingatannya.
Selesai acara, Emilia hendak meninggalkan tempat itu. Tapi Arsen sudah berdiri di hadapannya lagi.
“Mil, jangan pergi dulu. Please.” Ujar Arsen.
“Aku harus ke kantor.”
“Aku antar ya?”
“Pokoknya aku antar.”
Belum sempat dijawab, Arsen sudah memutuskan. Emilia tidak banyak bicara, dia melenggang pergi begitu saja. Arsen mengejarnya, dia ingin bicara.
“Mil... please. Sebentar, ngobrol.”
“Waktuku nggak banyak.”
“Ya udah kalo gitu minta nomor hp kamu, oke?”
“Nggak.” Tegas Emilia. “Kalo kamu masih ngikutin aku, aku teriak supaya satpam ke sini ya Arsen. Aku nggak main main.” Arsen tertahan. Emilia berjalan terus menuju pintu keluar.
Tapi Arsen punya ide, dia mencari data peserta workshop dan mencari nama Emilia berseta kontaknya. Dia juga mencari perempuan itu di sosial media. Instagram, satu satunya sosial media yang tidak diprivat. Ada satu foto yang sangat membuatnya bertanya tanya, foto siluet lelaki dengan caption ‘Fly higher dear you August Raymond Ferdinand, thank you for the love, the joy, for the time. It’s feel like an empty place here, I can’t find you, I can’t see your eyes. But you’ll always live in my forever prayer. I miss you so badly.’ Dan foto itu baru diupload lima hari lalu.
Siapa lelaki itu? Apakah Emilia sudah menikah? Di mana dia kerja sekarang? Apa rumahnya masih yang dulu? Begitu banyak pertanyaan di kepala Arsen serta persaan yang ingin disampaikan, bahwa aku sangat merindukanmu Emilia. Aku masih sendiri. Aku belum menikah.
*
Emilia, ini aku Arsen. Jangan abaikan aku lagi Mil, aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku datang ke sini, mau ketemu kamu Mil.
Emilia mematung setelah membaca chat WhatsApp yang baru saja masuk, sebuah nomor yang tak dikenalnya. Kemudian ponselnya berdenting lagi, satu chat baru.
Mil, mau pulang jam berapa lo? Udah mau maghrib.
Ternyata chat dari Mario. Lelaki itu sudah menunggunya di lobby kantor.
Emilia tidak membalas satupun. Dia sudah lelah hari ini, sudah lelah dengan kehilangan dan kejutan. Dia ingin pulang, merebahkan diri dan terlelap.
*
“Mil, ngapain aja lo di atas lama banget. Betah?” Mario segera menghampirinya setelah gadis itu keluar dari lift.
“Mil, ayo aku antar.” Ada suara lain di antara mereka.
Mario menoleh, lalu memandang Emilia yang terpaku. Gadis itu seolah tercekat. Apa apaan ini? Kenapa Arsen ke sini?
“Dia siapa Mil?” Tanya Mario.
“Teman. Teman SMA gue, Mas.”
“Oh, janjian dijemput sama dia?” Mario mulai penasaran.
“Iya. Ada perlu. Mas duluan aja. Sorry tadi nggak balas chat, lagi beresin komputer.”
“It’s ok. Jangan lupa makan ya.” Mario mengelus kepala Emilia seperti anak kecil.
“Duh iya iya. Udah sana pulang.” Emilia mencair dari kekakuannya. “Hati hati ya!”
Arsen masih berdiri di sana, Mario pergi. Emilia melunak, Arsen mengantarnya pulang. Dalam hati lelaki itu bersorak, senang sekali dia bisa bersama lagi walau mungkin hanya sebentar.
“Aku di Jakarta cuma seminggu, lalu pulang.” Arsen membuka pembicaraan sambil tetap menyetir.
“Kamu apa kabar?” Tanya Emilia datar, tapi Arsen tersenyum lebar.
“Baik. Aku... nggak pernah cari pengganti kamu, Mil.” Jawabnya tepat sasaran, memuaskan rasa penasaran.
“Sebaiknya kita nggak bahas masa lalu, Arsen.”
“Ok, kalau gitu... how about August Raymond Ferdinand?”
“Someone special,”
“More special than me?”
Emilia tidak menjawab. Arsen lebih spesial, dia yang pertama.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mario terbelalak, Emilia bergegas pergi. Dia nggak tahu sebenarnya wajah Ray, orang yang pernah diceritakan Emilia. Jika benar begitu, tentu sulit bagi keduanya. Siapa yang sudi berpasangan tapi dibayang bayangi masa lalu dari salah satunya? Dan Emilia tidak ingin menyakiti Mario, terlebih menyakiti dirinya sendiri.
Setahun belakangan, setelah surat pertama dan terakhir Ray sampai di tangannya—Emilia melanjutkan hidup. Bertemu orang orang baru, termasuk Mario yang wajahnya mirip dengan Ray. Hanya berbeda sedikit karena Mario begitu humoris dan bukan penyuka espresso.
Apa benar takdir mampir ke sini? Atau salah aku mengenalnya? Emilia membatin. Apa perlu aku menyesal?
“Udah di rumah, Mil?”
“Udah,”
Boleh nggak sih berharap... supaya jangan ada yang berubah? Mario bertanya dalam hati. Ternyata nggak segampang yang dipikirkan, mendekati gadis—yang belum tentu berminat dengannya.
“Masih mau temenan kan sama gue?”
“Anggap aja tadi nggak bahas apa-apa ya kan?” Emilia mencoba mengkonfirmasi. “Tenang aja, Mas.”
“Jadi nggak seru ya, Mil... sorry.”
“It’s ok.”
“Ya udah deh, good night ya Mil.”
Dan biasanya kata good night tak terasa seperti barusan, kedengaran begitu sopan. Ya, benar—nggak seru lagi katanya. Emilia terkejut bukan karena dia menyukai Mario, tapi dirinya tidak siap dengan kejujuran lelaki itu.
Sikapnya bisa berubah kapan saja, hak dia jika tidak punya rasa yang sama. Tidak disambut tidak apa, ditinggal lagi juga risikonya. Emilia mungkin kebetulan dekat dengannya, tapi dia juga tidak tahu bagaimana jika gadis itu bukan Emilia.
Mario memejamkan mata, mungkin besok ada petunjuk lain. Entah menyenangkan atau tidak buatnya, asal Emilia masih mau bicara. Itu saja.
Aku dizolimi, atau hanya perasaanku saja yang mengira mereka jahat? Aku kecewa, atau hanya terlalu tinggi berharap?
Di antara Kita Tak Ada yang Bercanda
“Aku akan pergi, kamu nggak usah cari ya.” Katanya membuka pembicaraan kami. “Janji jangan cari ya?” Ucapnya serius, ia lalu menyicip segelas espresso hangat dari cangkirnya.
“Pede amat bakalan aku cari sih, Mas?” Balasku sekenanya.
“Aku yakin kamu akan cari aku, Mil. Biasanya feelingku nggak pernah meleset...”
“Emangnya Mas mau ke mana sih?”
“Pergi.”
“Jangan becanda dong, seriuslah. Males aku...”
“Aku nggak bercanda, Emilia.”
“Ok baiklah... Mas pergi, aku nggak dikasih tau, aku nggak boleh cari. Ada lagi pesan terakhirnya?”
“Aku minta maaf.”
“Aku maafin. Aku orangnya pemaaf kok, Mas.”
Lelaki itu menghela nafas, lalu diam cukup lama. Aku tahu dia tidak pernah bercanda, apalagi untuk pamitnya ini. Lelaki yang baru lima bulan kukenal, terkadang dia begitu posesif tapi selalu menyenangkan. Seperti seorang yang tepat untuk hadir di usiaku yang sudah 24 tahun. Ketika teman sepermainanku hampir semua sudah menikah, aku justru baru bertemu dengan lelaki ini. August Raymond Ferdinand.
“Aku juga minta maaf, Mas. Aku nggak mengucapkan apa apa untuk perayaan natalmu.”
“It’s ok, aku nggak minta. Aku tahu alasanmu.”
Ray sosok yang belum pernah kutemui, tidak ada lelaki yang sama seperti dia. Dia sopan memperlakukanku, meski kadang bicaranya spontan kasar saat mengumpat suatu hal.
“Mau pesen makan nggak? Aku traktir deh, aku baru gajian nih. Kan mau libur akhir tahun, gajiannya diduluin gitu.”
Dia menggeleng lalu tersenyum. “Thanks. Kan aku yang ngajak ketemu, masa kamu yang bayar...”
“Ok baiklah, back to the topic.”
“Aku bingung mulai dari mana,”
“Dari tadi Mas Ray udah ngomong panjang kok, dan aku dengar.”
Dia nyengir. Salah tingkah. “Sorry.”
Aku nggak tahu, apa yang membuat dia harus bertemu denganku sore ini. Pun aku nggak tahu, apa yang membuat kami harus berkenalan awalnya di sebuah halte. Lebih parah lagi, aku nggak tahu siapa dia sebenarnya. Di mana dia tinggal dan... ya aku nggak tahu apa-apa tentang dia.
“Mas, Mas bukan kriminal kan? Bukan buron kan?”
“Bukan! Ngaco ya kamu.”
Aku hanya pernah sekali berusaha cari tahu tentang dia, tapi hanya sekali juga dia kasih tahu KTP nya. Dia tinggal di Jakarta, tapi sudah nggak tinggal di alamat yang tertera. Bingung aku tuh. Tapi benar, namanya August Raymond Ferdinand. Seorang katolik dan bergolongan darah A.
“Aku mau jujur sama kamu Mil...” katanya pelan sekali. “Ini akan jadi pertemuan terakhir kita.” Lanjutnya.
Aku nggak yakin kalau dia sedang mengerjaiku. Matanya tampak berkaca kaca saat bicara.
“Kamu dengar aku dulu ya, sampai aku selesai.”
“Iya, Mas. Silakan...”
Dan gelisah datang memeluk perasaanku. Mas Ray bicara banyak tentang perasaannya. Padaku. Ternyata perasaan kami sama, entahlah... aku senang, tapi sadar ini tak seharusnya. Bukankah ada tembok pembatas tertinggi di antara kami?
“Aku tadinya anggap kamu kayak adik, makanya aku nggak pingin kamu pulang malam malam. Saat kerja atau main atau saat kita ketemuan.” Pelan pelan dia menjelaskan. “Aku nggak tergoda dengan kamu karena kita beda agama, sama sekali nggak. Aku nggak penasaran. Aku cuma nggak bisa menampik, aku jatuh hati sama kamu Mil.”
Deg. Are you sure? Mas?
“Maaf ya Mil...”
Dia tidak gugup, tapi aku nggak tahu ekspresi macam ini. Wajahnya datar, bicaranya pelan. Apakah perasaannya sebegitu rahasia?
“Maaf ya Mil, karena kita nggak mungkin bersama. Aku mungkin nggak akan ketemu kamu lagi.”
“Udah boleh nanya belum?”
Dia mengangguk.
“Mas jujur, tapi Mas nggak ngasih tau mau ke mana. Mas kepedean, dengan ngungkapin perasaan Mas itu dikira aku juga sama?”
“Iya. Maaf ya Mil...”
Azan berkumandang, aku beranjak ke mushola kafe sebentar. Dia masih duduk, espressonya sudah habis saat aku kembali.
“Sudah yuk, aku antar pulang.”
“Ada permintaan terakhir?”
“Ada.”
“Apa?”
“Mohon izin, peluk sebentar.”
“Nggak diizinkan. Bukan mahrom!”
“It’s ok, aku ngerti.”
Dia mengantarku pulang. Selama di mobil, kami semakin hemat bicara. Mungkin karena permintaannya ditolak, dia malu atau gengsi atau apalah. Pria berbadan tegap itu menjadi sangat fokus menyetir. Tak ada lagu lagu yang diputar, aku pun berkali kali membuang pandangan ke luar jendela.
“Mas pasti udah pernah peluk cewek ya?” Tuduhku tiba-tiba.
“Pernah.”
“Emang meluk meluk tuh enak?”
“Aku peluk ibuku, Mil.”
Astaghfirullah. Malu deh gue!
“Ya kenapa nggak minta peluk ibu Mas Ray aja lagi?”
“Udah meninggal, Mil.”
Ya Allah gusti mulut gue...
“Ya Allah maafin aku ya Mas...”
“Nggak apa apa, kamu kan nggak tau.”
Sampai di depan rumah, sebelum aku pamit, dia memberiku sebuah bingkisan. Dia bilang nanti saja dibukanya. Jujur, berat sekali aku melangkah. Kali ini dia benar benar memandangiku sambil tersenyum.
“Aku sayang kamu, Emilia. Jaga diri baik baik ya, tetap fokus sama cita cita kamu. Jangan berhenti... meski hatimu patah lagi.” Ujarnya serius.
“Hati hati ya Mas, sampai ketemu lagi...” balasku sebelum turun dari mobilnya.
*
Pria itu benar benar hilang. Sudah satu tahun. Aku bukan menunggunya, aku benar benar mencarinya. Apa aku ditipu? Tapi tak satupun dariku dirugikan. Mas Ray tak mengambil apapun dariku. Sial, dia tidak punya sosmed sama sekali. Aku tak pernah mengenalnya. Jangan jangan KTP itu palsu? Apa sih yang dia mau? Untuk apa menghilang setelah bilang jatuh hati dan sayang padaku?
Di tempat yang sama, satu tahun lalu. Aku mengenakan jam tangan pemberiannya, bahkan isi surat terakhirnya selalu kubawa. Ada apa denganku? Aku jatuh cinta? Dengan lelaki yang sudah meninggalkanku?
Dear, Emilia
Jam tangan ini suatu saat akan berhenti, seperti halnya waktuku. Terima kasih sudah mau berbagi banyak hal denganku, juga keluargamu yang hangat.
Nanti kalau sudah ketemu jodohmu, menikahlah dan cintailah dia Mil. Dia beruntung dicintaimu. Di manapun aku, aku selalu merindukanmu.
-Ray-
*
Desember 2019
Lututku lemas setelah menerima sepucuk surat yang dikirim dari seseorang. Ia mengaku adik Mas Ray, dia bilang Mas Ray gugur saat bertugas di negara konflik. Dia juga menjelaskan siapa seorang yang tak benar benar kukenal itu. Lewat sebuah foto, pria itu berseragam militer. Gagah sekali dia. Tak hanya foto itu, adiknya juga mengirimkan foto dokumen yang menandakan Mas Ray sudah tiada.
Aku adiknya Mbak, namaku Ve. Mas Ray nggak akan pernah ngasih tau identitas aslinya, itu berbahaya buat orang lain. Mbak Emilia, kakakku itu beneran suka sama Mbak. Dia belum pernah jatuh cinta sama cewek. Dia nggak pintar ngungkapin perasaannya. Maafin kakakku itu ya, Mbak. Supaya tenang di alam sana...
Mas Ray baru pertama kali jatuh cinta? Sama aku? Selama ini dia sibuk bela negara sampai lupa sama dirinya sendiri? Dan buatku... ini adalah kehilangan yang kedua. Patah hatiku yang kedua. Mas... pantas aja kamu sepede itu sama perasaanmu ya, kamu yakin kalau aku bakal sangat kehilangan.
“Mil... jangan ngelamun,” kata Mama. “Ya sudah didoakan saja ya, semoga tenang di alam sana.”
“Rasanya kayak mimpi, Ma...”
“Kamu beruntung kenal dia, dia juga beruntung kenal kamu...”
Tangisku pecah saat Mama meninggalkanku di kamar. Foto Mas Ray di ponselku cukup banyak, dia meninggalkan jejak di kameraku. Bahkan dia sempat membuat video pesan singkat buatku, selalu kuputar ulang untuk mengobati rindu.
“Hai Mil, kamu tuh kebanyakan bercanda ya. Kayak nggak punya beban hidup... tapi aku salut sih, kamu kuat juga ya ditinggal teman temanmu nikah.”
“Mil, agakugu sagayagang kagamuguuu!”
Pergilah Mas, terima kasih buat perasaanmu dan rindu yang sudah kamu janjikan. Terima kasih, ya, Mas.
Rupanya aku kehilangan kata kata ketika suasana tak sejalan dengan rencana. Memilih diam, sebab kosong diksi di kepala. Biar giliranmu berbicara, lepas tanpa disela. Bahkan yang kau ingin dengar dariku pun tak terucap. Salahkan aku saja, aku terima. Siang itu, aku tersudut oleh rasa bersalah tanpa ingin disalahkan.
Tak Ada Hal yang Ia Benci Darimu
Tak ada hal yang ia benci darimu, terkadang ia benci dirinya sendiri: yang belum melupakanmu. Pada malam, pada hujan, pada cahaya lampu kota yang tak pernah tidur. Tentang canda, tawa, keterdiaman, hingga keterpisahan. Suatu kali ia merasa lelah, tapi memilih tabah dan bersembunyi. Dia tahu, kamu masih melihatnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Gelombang Dahsyat Itu Bernama Cinta
Berseri-seri, wajah jatuh cinta. Segar ia tampak selalu belia nan bersemangat. Disimpannya semua playlist lagu cinta, terputar irama bersama wajah pujaan hati. Itu cerita sederhana, tentang wajah jatuh cinta. Hatinya tengah berbunga-bunga, dilanda badai cinta.
Cinta itu dahsyat, ia bagai gelombang yang menggairahkan saat seseorang jatuh cinta. Pun putus cinta, ketika pupus harapannya--dunia seolah tak layak lagi dihuni.
“Kenapa?”
Aku tidak tahu, bertanya “kenapa?” membuatmu begitu kesal. Apa aku tidak boleh tahu apa yang kau pikirkan tentang aku? Sementara kata kataku, tak kelihatan ada artinya. Barangkali, saling memahami menjadi episode paling rumit—karena kita hanya sedikit bicara tentang perasaan, sementara kisah kita terus berlanjut. Kau tahu, aku punya kata kata yang ingin kuutarakan. Kau sebenarnya hanya perlu mendengar, meski sebagian besar tak pernah ingin kau setuju. Aku tahu, aku tak ingin menebakmu—tetapi firasatku bilang begitu.
Bahagia dan Luka-Luka
Tampak seperti terduduk di sudut ruang hampa, menangis tanpa suara, dan bicara tanpa kata. Tak ada seorang yang ingin dipercaya, sebab rasanya luka akan sembuh sangat lama. Tawa biasanya renyah, guyonan murah mudah ditemui—tapi yang luka tetaplah luka. Orang berbahagia, bukan tanpa luka, semuanya punya cerita yang bisa ditutupinya.
Mati Rasa
Setahuku, peluru yang menembus tubuh pertama kali sakitnya sangat parah. Tembakan kedua, sakitnya tak lagi terasa. Karena yang pertama menembus jantung, berhasil menghentikan kerja si jantung. Mati Rasa. Kematian rasa dan itu nyata. Tak tertolong. Sulit diterjemahkan melalui kata kata, mengurainya pun rumit. Bak benang kusut yang hanya bisa dipotong. Terimalah luka luka, kebal sayat kebal tusuk. Tertipu dan telanjur, semua sudah diatur.
Reminder
Sakinah itu diperlukan oleh dua orang yang saling mencintai karena Allah. Sebab baik suami dan istri sama sama membutuhkan, maka keduanya harus mampu menjadi sumber ketenangan bukan ketegangan. Dan sakinah yang diimpikan banyak orang bisa diusahakan di masing masing rumah tangga, bukan melihat di rumah orang lain.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Curhat
Baru aja nyelesain NHW 4 alias Nice Homework ke-4 a.k.a tugas kuliah matrikulasi. Sebenernya kuliah kali ini asli gue norak yeu... kurang fokus dalam mengerjakan tugas, padahal tugas ini bukan buat dapetin nilai dari dosen, bukan buat ngejar poin 100. Namun, tugas tugas ini adalah perenungan. Institut Ibu Profesional, di mana setiap hari gue berpikir gimana caranya jadi ibu yang profesional? Kalau setiap pagi aja gue bangun kesiangan. Kenapa begini? Mesti ada yang salah dari diri gue... Gue belom jadi istri yang baik sesuai harapan suami. Sedih, udah hampir dua tahun tapi nggak ada yang berubah dari kebiasaan jelek gue. Kenapa?
Beri Jeda
Bahwa apa yang terjadi adalah bagian dari takdir. Keterkaitan takdir kita dengan orang lain, tak dipungkiri benar adanya. Malam ini, setelah menuliskan milestone kehidupan—tugas kuliah, rasanya pingin buat refleksi di sini. Sebuah tempat ternyaman sejak dulu, tumblrku. Banyak rahasia di sini, bertumpuk, mungkin juga banyak yang kuhapus. Semua kata kutuang di sini. Kilometer 0 Adalah tahun 2012, garis start menjadi orang dewasa muda. Kuliah - karir - nikah, sekarang udah 2019. Cepat sekali... ada suka ada duka. Sekarang peranku jadi seorang ibu, semestinya semakin baik dan semakin fokus. Aku yakin dan percaya diri akan kemampuanku, aku pembelajar. Aku sudah paham dengan konsep diriku. Aku tahu cara mengcounter omongan negatif orang lain. Aku belajar dan aku nggak mau gampang jatuh. Itu saja. Tidak buru buru menamai emosi, hanya perlu memberi jeda. Tarik nafas, semua ada solusinya. 7 tahun sudah dari titik KM 0 itu, banyak perubahan. Ah, aku sudah tiba di masa depan... selamat datang wahai diri!