Sejak punya anak, aku berubah menjadi orang yang berbeda, dan juga tersadarkan pada beberapa hal yang selama ini aku tidak pernah percaya itu nyata dan ada.
Menjadi orang yang berbeda maksudku di sini adalah, aku menjadi orang yang lebih sensitif dan ternyata aku memiliki kemampuan untuk memutus rantai luka yang “diwariskan” kepada aku. Aku sangat bangga akan hal itu.
Sebab, banyak orang yang masih terjebak di dalam ikatan rantai luka itu sehingga meneruskannya kepada orang-orang yang seharusnya mereka jaga dan lindungi, contohnya anak.
Segala hal yang dulu tidak pernah aku dapatkan dari orang tuaku, aku berikan seluruhnya kepada anakku. Hanya saja aku tahu bahwa aku belum sempurna, tapi setidaknya aku berusaha untuk itu, dan itu juga selalu menjadi pegangan untukku.
Selain itu, setelah punya anak, akhirnya aku percaya bahwa cinta sejati itu memang ada di dunia ini. Bahwa kita mencintai seseorang dan rela mati demi mereka, itu memang ada dan nyata. Karena hal itu yang aku rasakan pada anakku.
Apapun akan aku lakukan untuk anakku, apapun yang terbaik akan aku usahakan untuk anakku. Namun, aku harus tetap hidup dan bernapas, setidaknya sampai anakku bisa berjalan di kakinya sendiri dan mampu mempertahankan hak-hak nya sendiri.
Aku selalu berdoa hal itu kepada Tuhan. Sebab aku yakin tidak akan ada cinta seperti yang aku berikan kepada anakku, bahkan dari ayahnya juga berbeda. Bukan berarti ayahnya tidak cinta kepada anaknya, hanya saja, aku yakin cinta itu tidak melebihi bagaimana aku.
Karena hal itulah yang membuat aku harus tetap bertahan sampai anakku mampu berdiri di kakinya sendiri dan bertahan dalam segala hal tanpa bergantung kepada siapapun.
Sebegitunya aku, dan jika dijabarkan lebih detail akan sangat panjang dan luar biasa. Karena hal inilah yang aku rasakan, jadinya aku sangat heran, apa yang ada di dalam pikiran seorang Ibu yang cuek dan tidak merindukan anaknya. Bagaimana bisa seorang Ibu bisa seperti itu.
Padahal anak itu berasal dari dalam rahimnya, dia yang melahirkan, bagaimana mungkin bisa mereka tidak memperhatikan anaknya atau tidak merindukn anaknya. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan?
Kenapa ada seorang Ibu yang bisa bahagia di luar sana sedangkan anak-anaknya menunggu dan merindukan kehadirannya dirumah?
Konteksnya di sini adalah, si Ibu bisa bersenang-senang dengan perselingkuhan di luar sana. Dan apakah ketika melakukan itu dia tidak memikirkan bagaimana anaknya? Entahlah.