Aku suka membayangkan takdir seperti tanda lahir di tengkuk. Sering kulupakan, jarang terlihat, tapi selalu ada di sana. Menempel, menunggu waktu untuk kembali disadari.
Aku pernah mendengar orang berkata, hidupmu di tanganmu. Ah, andai semudah itu.
Kalau memang di tanganku, kenapa jantung tetap berdetak tanpa izinku?
Kenapa hujan tetap turun meski aku tak butuh ia turun di waktu tertentu?
Kenapa luka tetap saja mampir bahkan di jalan lurus yang kukira aman dilalui?
Takdir itu agaknya licin. Jika kupaksakan ia tunduk padaku, ia justru akan merayap lewat celah yang tak kuduga. Seperti sungai yang kubendung, air akan mencari retakan, merembes di antara bebatuan, merusak bentengku sendiri.
Jadi, berjalan, ya berjalan. Berusaha, ya berusaha. Berdoa, ya berdoa. Tanpa menganggap diriku lebih pandai dari peta rahasia bernama takdir yang Tuhan sembunyikan di bawah kulitku sendiri.
Jika jalannya terjal, mungkin aku butuh mendengar suaraku sendiri saat terengah-engah.
Jika aku disesatkan arah, mungkin agar aku tahu betapa nikmat rasanya pulang.
Jika aku dihadapkan pada retak, mungkin agar aku tak jumawa menatap utuh.
Meski tak selalu indah, tapi selalu benar pada waktunya.
Di dalam takdir, aku ini mungkin hanya tamu singgah. Aku ini mungkin angin pinjaman, atau mungkin sebutir debu di gelombang galaksi. Tapi punya Tuhan yang sudi menulis ulang aku, setiap kali aku lupa pulang.
Aku perlu hidup dengan hormat pada peta rahasia itu. Bernafas dengan rendah hati pada rancangan yang kukira kebetulan itu. Lalu kalau nanti jalanku buntu, aku tak lagi buru-buru melawan.
Barangkali, peta rahasia cuma ingin aku berhenti. Duduk sebentar. Mengamini patah.
Barangkali di situlah doa paling jujurku bisa lahir. Bukan untuk mengubah takdir, tapi agar aku cukup berani menempuhnya. Lagi.