Perjalanan Emosi dalam 365 Hari
Desember tahun lalu, dalam sebuah momen family coaching, suami saya bertanya, "Kalau dibuat seperti tema, apa tema hidupmu di tahun depan?" Dengan penuh percaya diri, saya menjawab, "Grow in peace." Entah dari mana datangnya kepercayaan diri itu, tetapi saat itu saya begitu yakin bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun dimana saya banyak bertumbuh dalam sunyi, ketenangan, dan kedamaian.
Satu dua bulan pertama, rasanya hari-hari bergulir dengan damai. Saya lebih banyak fokus pada peran saya sebagai istri yang mensupport mimpi-mimpi suami sambil saya pun merawat mimpi saya sendiri. Tapi di bulan berikutnya, perjalanan takdir membawa saya kepada skenario-skenario yang berbeda.
Skenario "kehilangan" ternyata hadir. Memang bukan yang pertama di dalam hidup, tetapi rasanya tetap menyakitkan. Kehilangan itu dihadirkan Allah lewat berbagai perantara: kepulangan orang tersayang, terpisah dari anak-anak ideologis yang sudah saya "rawat" sejak lama, pergantian amanah, dsb. Dalam perasaan-perasaan yang tidak bisa dijelaskan, saya berteriak di dalam hati, "Ya Allah, ternyata memang nggak ada yang milikku ya di dunia ini?" Di satu sisi merasa menemukan hikmah, tetapi disisi lain saya harus rela menjumpai sisi diri saya yang ternyata masih terikat dan bergantung pada apa-apa yang tidak seharusnya.
Setelah kehilangan, selanjutnya ternyata adalah kekecewaan. Saya kecewa karena harus memaklumi orang lain atas kekeliruannya di saat saya sebenarnya tidak punya cukup energi untuk itu. Saya kecewa karena orang-orang yang saya pikir akan bisa melindungi saya dari rasa sakit tapi ternyata justru menorehkan luka yang dalam meski mereka tidak bermaksud untuk melakukannya. Saya juga kecewa karena ternyata saya harus melewati masa-masa kecewa ini sendirian: orang lain sedang sibuk dengan perasaannya, perubahan hidupnya, dsb. Sampai-sampai, saya muak mendengarkan cerita dari orang-orang terdekat. Seperti ingin berteriak, "Kenapa semua tentang kamu? Kapan kamu pernah bertanya tentang perasaanku?"
Belum cukup selesai dengan semua itu, saya pun harus berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa Allah menunda doa terbaik saya untuk dikabulkan. Sudah banyak waktu yang saya habiskan untuk menunggu, tapi rupanya Allah meminta saya untuk menunggu lagi. Pedihnya, dalam masa menunggu ini saya justru harus menyaksikan orang lain mendapatkan apa yang saya tunggu tanpa harus mereka menunggu sebagaimana saya menunggu. Sisi kekanakan saya berkata, "Ya Allah, boleh nggak sih saya ini dikasih bahagia? Boleh nggak doa yang ini tolong dikasih aja?" Hopeless~ Saya bahkan sempat merasakan tubuh saya begitu lemah, seperti tanpa tulang untuk bergerak.
Alih-alih grow in peace, rupanya Allah "memaksa" saya untuk grow in chaos. Saya merasa tidak punya prestasi apa-apa di tahun ini selain urusan bertahan hidup dan mempertahankan kewarasan diri. Rasanya seperti benih yang ditanam jauuuuh di dasar tanah. Pada suatu fase di hidup kita, bertumbuh itu ternyata bisa terasa sangat menyakitkan, ya!
Emosi saya di tahun ini naik dan turun. Banyak stabilnya, tapi episode tidak stabilnya pun qadarullah sering terjadi. Tapi setidaknya saya punya beberapa takeaways untuk reminder diri saya sendiri:
Grow in chaos masih lebih baik dari pada tidak bertumbuh sama sekali.
Hal-hal yang bisa membuat kita merasa utuh ternyata ada pada hal-hal kecil, sederhana, dan bahkan tidak diketahui orang lain, tetapi kita merasakannya.
Semua takdir adalah bentuk kasih sayang Allah meski sekarang kita belum bisa memahaminya.
Orang lain hidup dengan takdirnya, diuji dengan ujiannya, begitu juga kita dan keluarga.
Kata guru saya, nggak apa-apa kalau masalahnya belum selesai, toh penyelesaian juga datangnya dari Allah. Tetapi, selama kita tetap naik keimanannya, maka sebenarnya kita sedang menjemput keberhasilan kita dalam menghadapi ujian.
Subhanallah. Semoga Allah mengampuni atas setiap kekeliruan respon terhadap setiap situasi dan kondisi. Dan semoga Allah hantarkan diri kepada hikmah dari semua gelap dan rasa sakit. I'm planted seed, then I will grow and heal beautifully. InsyaAllah.
Kalau kamu, punya cerita apa di tahun ini?