Dari Layar ke Lembar
Budaya membaca ulasan film di media sosial dapat memantik minat baca dan menulis pada remaja.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

★
$LAYYYTER
Stranger Things

gracie abrams
I'd rather be in outer space 🛸

Kiana Khansmith
Claire Keane

bliss lane

cherry valley forever

shark vs the universe
Lint Roller? I Barely Know Her
Show & Tell
Misplaced Lens Cap
tumblr dot com

Origami Around
trying on a metaphor

titsay

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Peru
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from United States
seen from Congo - Brazzaville
seen from Russia
seen from Germany

seen from Russia

seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Argentina
seen from Italy
@aldaimelda
Dari Layar ke Lembar
Budaya membaca ulasan film di media sosial dapat memantik minat baca dan menulis pada remaja.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dari Layar ke Lembar: Budaya Membaca Ulasan Film di Media Sosial yang Memantik Minat Baca Remaja
Malam datang menyambut, waktu kini menunjukkan pukul 20.30 WIB. Hanya suara detik jarum jam dinding yang menemani suasana sunyi di kamar ini. Alih-alih menyelesaikan tugas menulis yang sudah setengah jalan, Bunga malah asyik menggulir ulasan film yang kebetulan sekali lewat beranda media sosial miliknya. Tatapannya serius, meski sisa tugasnya tak terurus. Jari lentik Bunga mengarah pada ikon like seraya bergumam pelan, “ulasannya rapi sekali, suka deh.”
Setelah menyukai postingan random itu, Bunga memutuskan untuk menonton film dari ulasan tersebut. Tugasnya? Biarkan saja, masih ada hari esok, pikir Bunga. Selagi ia menonton, mari kita telusuri lebih dalam kebiasaan kecil yang ternyata punya makna besar ini.
Membaca ulasan film sudah menjadi suatu kebiasaan kecil yang dilakukan oleh Bunga, entah ketika hendak menonton film atau seperti kegiatan kali ini yang tidak disengaja. Selain gemar menonton, Bunga juga senang membaca ulasan suatu tontonan. Menurutnya, membaca ulasan film juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan literasi, sebab pembaca dapat mengetahui dan mengolah informasi.
Pendapat Bunga ini ternyata sejalan dengan pengalaman Reina, teman sebaya Bunga. Jika Bunga lebih sering menjadi pembaca ulasan, Reina justru senang menulis ulasan film di berbagai media sosial. “Menurutku, membaca ulasan film nggak hanya suatu kegiatan kecil, karena bukan sekadar melihat, tetapi juga membaca dan memahami apa yang ingin disampaikan oleh si penulis terkait suatu film,” ujar Reina saat pertemuan mereka sore tadi. Mengingatnya, Bunga jadi mengangguk-ngangguk sendiri. Pembahasan mereka tentang literasi menjadi cukup unik, mengingat keduanya lebih suka menonton daripada membaca.
Reina bahkan aktif menulis ulasan di Letterboxd, sebuah platform media sosial berbasis film. Di sana, pengguna dapat memberi rating, menulis komentar, hingga membuat daftar film favorit. “Vibes-nya beda, lebih fokus ke film. Ulasan orang-orang juga beragam, ada yang kritis, ada yang lucu banget. Jadi bukan hanya sekadar memberi bintang, tetapi juga mendapat perspektif baru soal film yang bikin pengalaman nonton jadi lebih seru,” jelasnya. Dari aktivitas ini, Reina mengaku kemampuan menulisnya terasah, mulai dari ketelitian tanda baca hingga merangkai kalimat agar lebih enak dibaca.
Bunga pun merasakan hal yang sama. Setelah menonton film, ia biasanya menulis catatan singkat di Twitter/X. Seperti saat ini, tak terasa Bunga sudah selesai menonton film berdurasi 2 jam kurang 3 menit itu. Tujuannya sederhana: berbagi rekomendasi sekaligus mencatat film yang pernah ditonton. Lama-kelamaan, kebiasaan kecil itu melatihnya untuk menyusun kalimat menjadi lebih menarik.
Dari sini, terlihat bahwa meskipun Bunga dan Reina lebih suka menonton daripada membaca buku, kebiasaan mereka dengan ulasan film tetap mengasah keterampilan berbahasa: khususnya membaca dan menulis. Semua terjadi dalam satu aktivitas sederhana. Tak jarang, keduanya juga tertarik mencari tahu apakah film yang mereka tonton diadaptasi dari novel. Jika iya, mereka pun terdorong untuk membaca versi bukunya.
Malam sudah semakin larut, Bunga sudah selesai menulis ulasan ke-60 miliknya. Senyumnya merekah, senang meskipun sejauh ini pembaca thread X miliknya hanya terhitung jari. Bunga tak memusingkan hal itu, jarinya sendiri sudah siap mematikan lampu tidur.
Sementara di tempat lain, Reina terlonjak kecil ketika notifikasi like dari Bunga masuk di Letterboxd. Tanpa mereka sadari, langkah kecil itu menjadi jembatan: dari layar ponsel yang penuh ulasan film menuju lembar-lembar tulisan yang melatih kemampuan mereka. Dari layar ke lembar, kebiasaan sederhana ini membuktikan bahwa literasi bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari layar yang sering dianggap sebagai hiburan.
_______________________________________
Nama : Alda Imelda
NPM : 2410631080054
Kelas : 3C
Mata Kuliah : Penulisan Kreatif
Dosen Pengampu : Dian Hartati, S.S., M. Pd.
Ketika Infrastruktur Kampus Tak Sejalan dengan Misi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Di tengah pesatnya perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia, ada sebuah realitas yang sering kali luput dari perhatian, yaitu infrastruktur universitas yang seolah berjalan di tempat. Fenomena ini bukan sekadar persoalan fasilitas, melainkan cerminan dari prioritas yang kurang tepat dalam manajemen institusi. Saya menyoroti tiga contoh nyata di sebuah universitas, yakni Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika). Fenomena ini secara nyata ditemukan di universitas kebanggaan, yaitu: Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang tidak memiliki lift, Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan pendingin ruangan yang tidak berfungsi secara optimal, dan Gedung Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) yang digabung dengan perpustakaan. Jika direnungkan lebih dalam, fenomena ini menggambarkan bagaimana idealisme Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) dapat terhambat oleh masalah-masalah teknis yang fundamental.
Mari kita mulai dari Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang menjulang tinggi tanpa lift. Tentu, bagi mahasiswa yang sehat, menaiki tangga adalah hal biasa. Namun, hal ini dapat menyulitkan mahasiswa maupun dosen yang memiliki disabilitas fisik, sedang cedera, atau bahkan mengalami keterbatasan mobilitas. Ketiadaan lift bukan hanya menyusahkan, tetapi juga menciptakan hambatan aksesibilitas yang serius. Sebuah kampus seharusnya menjadi ruang yang inklusif bagi setiap individu, terlepas dari kondisi fisiknya tetap memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan dan fasilitas. Tanpa lift, mahasiswa disabilitas terpaksa mengorbankan kesempatan untuk mengikuti kelas atau kegiatan di lantai atas. Hal ini bertentangan dengan semangat inklusivitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh institusi pendidikan.
Selanjutnya, kita beralih ke Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). FKIP sering kali menjadi "ruang sauna dadakan" karena pendingin ruangan (AC) yang tidak berfungsi optimal. Ruang kelas yang panas dan gerah bukan hanya membuat mahasiswa tidak nyaman, tetapi juga secara langsung memengaruhi konsentrasi dan efektivitas proses belajar-mengajar. Sebab, tidak semua mahasiswa dapat fokus mendengarkan materi perkuliahan atau dosen bisa menyampaikan ilmunya dengan baik jika mereka harus berjuang melawan cuaca panas yang menyesakkan, apalagi daerah Karawang suhu panasnya di atas rata-rata. Hal ini menjadi masalah yang sering sekali dianggap remeh, padahal dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas pendidikan. Lingkungan belajar yang nyaman adalah prasyarat dasar untuk menciptakan suasana akademik yang kondusif. Jika prasyarat ini tidak terpenuhi, maka kita tidak bisa mengharapkan hasil yang optimal dari proses pembelajaran.
Terakhir, fenomena Gedung Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) yang digabungkan dengan perpustakaan. Ide dibaliknya mungkin adalah efisiensi dan integrasi. Namun, dalam praktiknya, penggabungan ini sering kali menimbulkan masalah baru. Perpustakaan seharusnya menjadi oasis ketenangan dan tempat konsentrasi, sementara Gedung Fasilkom bisa saja menjadi pusat kegiatan yang ramai dan bising di waktu-waktu tertentu, seperti diskusi kelompok, praktik, dan berbagai aktivitas komputasi. Menggabungkan kedua fungsi ini bisa menciptakan konflik yang tak terhindarkan. Suara-suara dari aktivitas di Fasilkom dapat mengganggu mereka yang ingin belajar dengan tenang di perpustakaan. Begitu pula sebaliknya, peraturan yang ada di perpustakaan bisa saja membatasi kreativitas dan interaksi yang dinamis di Fasilkom. Integrasi memang penting, tetapi harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak mengorbankan fungsi esensial dari masing-masing fasilitas.
Ketiga contoh ini, meskipun tampak sepele, adalah gejala dari masalah yang lebih besar, yaitu kurangnya perhatian terhadap detail dan kebutuhan civitas akademika. Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk perbaikan dan pemeliharaan fasilitas tidak memadai atau dialihkan ke proyek lain yang mungkin lebih "prestisius" di mata publik. Akibatnya, kualitas infrastruktur menjadi terbengkalai. Sudah saatnya pihak manajemen kampus tidak hanya fokus pada pembangunan gedung-gedung baru yang megah, tetapi juga memastikan bahwa fasilitas yang sudah ada berfungsi dengan baik dan dapat mendukung misi pendidikan secara optimal. Sebab pada akhirnya, sebuah universitas yang maju tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari seberapa besar infrastrukturnya mampu memfasilitasi setiap individu untuk belajar, berkarya, dan berprestasi.
_______________________________________
Nama : Alda Imelda
NPM : 2410631080054
Kelas: 3C
Ketika Infrastruktur Kampus Tak Sejalan dengan Misi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Di tengah pesatnya perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia, ada sebuah realitas yang sering kali luput dari perhatian, yaitu infrastruktur universitas yang seolah berjalan di tempat. Fenomena ini bukan sekadar persoalan fasilitas, melainkan cerminan dari prioritas yang kurang tepat dalam manajemen institusi. Saya menyoroti tiga contoh nyata di sebuah universitas, yakni Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Fenomena ini secara nyata ditemukan di universitas kebanggaan, yaitu: Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang tidak memiliki lift, Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan pendingin ruangan yang tidak berfungsi secara optimal, dan Gedung Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) yang digabung dengan perpustakaan. Ketiga fenomena ini, jika direnungkan lebih dalam, menggambarkan bagaimana idealisme Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) dapat terhambat oleh masalah-masalah teknis yang fundamental.
Mari kita mulai dari Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang menjulang tinggi tanpa lift. Tentu, bagi mahasiswa yang sehat, menaiki tangga adalah hal biasa. Namun, bagaimana dengan mahasiswa maupun dosen yang memiliki disabilitas fisik, sedang cedera, atau bahkan mengalami keterbatasan mobilitas? Ketiadaan lift bukan hanya menyulitkan, tetapi juga menciptakan hambatan aksesibilitas yang serius. Sebuah kampus seharusnya menjadi ruang yang inklusif bagi setiap individu, terlepas dari kondisi fisiknya tetap memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan dan fasilitas. Tanpa lift, mahasiswa disabilitas terpaksa mengorbankan kesempatan untuk mengikuti kelas atau kegiatan di lantai atas. Hal ini bertentangan dengan semangat inklusivitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh institusi pendidikan. Pertanyaannya, apakah pihak manajemen benar-benar memikirkan semua civitas akademika saat merancang atau merenovasi gedung?
Selanjutnya, kita beralih ke Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). FKIP sering kali menjadi "ruang sauna dadakan" karena pendingin ruangan (AC) yang tidak berfungsi optimal. Ruang kelas yang panas dan gerah bukan hanya membuat mahasiswa tidak nyaman, tetapi juga secara langsung memengaruhi konsentrasi dan efektivitas proses belajar-mengajar. Bagaimana mungkin mahasiswa bisa fokus mendengarkan materi perkuliahan atau dosen bisa menyampaikan ilmunya dengan baik jika mereka harus berjuang melawan cuaca panas yang menyesakkan? Apalagi di daerah Karawang yang suhu panasnya di atas rata-rata. Hal ini menjadi masalah yang sering sekali dianggap remeh, padahal dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas pendidikan. Lingkungan belajar yang nyaman adalah prasyarat dasar untuk menciptakan suasana akademik yang kondusif. Jika prasyarat ini tidak terpenuhi, maka kita tidak bisa mengharapkan hasil yang optimal dari proses pembelajaran.
Terakhir, fenomena Gedung Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) yang digabungkan dengan perpustakaan. Ide dibaliknya mungkin adalah efisiensi dan integrasi. Namun, dalam praktiknya, penggabungan ini sering kali menimbulkan masalah baru. Perpustakaan seharusnya menjadi oasis ketenangan dan tempat konsentrasi, sementara Gedung Fasilkom bisa saja menjadi pusat kegiatan yang ramai dan bising di waktu-waktu tertentu, seperti diskusi kelompok, praktik, dan berbagai aktivitas komputasi. Menggabungkan kedua fungsi ini bisa menciptakan konflik yang tak terhindarkan. Suara-suara dari aktivitas di Fasilkom dapat mengganggu mereka yang ingin belajar dengan tenang di perpustakaan. Begitu pula sebaliknya, peraturan yang ada di perpustakaan bisa saja membatasi kreativitas dan interaksi yang dinamis di Fasilkom. Integrasi memang penting, tetapi harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak mengorbankan fungsi esensial dari masing-masing fasilitas.
Ketiga contoh ini, meskipun tampak sepele, adalah gejala dari masalah yang lebih besar, yaitu kurangnya perhatian terhadap detail dan kebutuhan civitas akademika. Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk perbaikan dan pemeliharaan fasilitas tidak memadai atau dialihkan ke proyek lain yang mungkin lebih "prestisius" di mata publik. Akibatnya, kualitas infrastruktur menjadi terbengkalai. Sudah saatnya pihak manajemen kampus tidak hanya fokus pada pembangunan gedung-gedung baru yang megah, tetapi juga memastikan bahwa fasilitas yang sudah ada berfungsi dengan baik dan dapat mendukung misi pendidikan secara optimal. Sebab pada akhirnya, sebuah universitas yang maju tidak hanya diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari seberapa besar infrastrukturnya mampu memfasilitasi setiap individu untuk belajar, berkarya, dan berprestasi.
Nama : Alda Imelda
NPM : 2410631080054
Kelas : 3C
#TugasOpiniMKPK
˚౨ৎ 𖹭 Ulasan Buku ໑ ࿔
Judul Buku: Sambal & Ranjang
Penulis: Tenni Purwanti
Jumlah Halaman: 176 halaman
Setelah selesai membaca kumpulan cerita pendek ini, rasanya ingin sekali menunjukkan kepada dunia kalau ... ada lho, satu buku yang membahas tentang perempuan dengan penyampaian yang apik dan cantik.
Kisah-kisah perempuan dalam kumpulan cerita ini dibawa dengan sederhana. Namun, pesan di dalamnya sungguh penuh makna.
Feminisme, kehidupan, perasaan, kasih sayang, mental ilness, trauma—semuanya tumpah ruah dalam kumpulan cerita pendek 𝘚𝘢𝘮𝘣𝘢𝘭 & 𝘙𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨.
Kalau kata sinopsisnya, sih, “Cerita-ceritanya ibarat sambal, pedas, gerah, tetapi membuat ketagihan minta tambah.”
Top 3 favoritku adalah:
🥇 Sally Sendiri
🥈 Gadis yang Memeluk Dirinya Sendiri
🥉 Surat untuk Anak Perempuanku
Yuk, ikut aku untuk mengulik sedikit potongan-potongan cerita pendek karya Tenni Purwanti. Tenang aja, aku nggak akan kasih spoiler untuk keseluruhan ceritanya, hanya sedikit menyampaikan bagaimana sih, rasanya membaca kumpulan cerita ini sebagai ... seorang perempuan.
— · · ʚ Joyeux Anniversaire:
Kisah yang pertama kali menyambut aku ketika membuka buku ini. Pembukaannya benar-benar bikin hati mencelos setelah tahu kebenaran di dalamnya. Terlebih, aku mencoba untuk turut merasakan euforia yang ada mulai dari halaman 5-7. Mengiringi adegan romantis yang terasa kosong itu dengan lagu Dance For Me Wallis - Abel korzeniowski, sukses membuatku merinding.
Sudah mulai penasaran? Mari, bertemu dengan dua tokoh lain.
— · · ʚ Rosa Alba:
Ini tentang Rosa dan sosok laki-laki yang selalu menunggu pujaan hatinya kembali di Batu Cinta, Situ Patenggang. Perspektif mereka berdua bikin aku melek mata tentang suatu pilihan dalam hidup. Dari pria yang namanya hanya disebut satu kali di penghujung cerita ini, aku dapat pelajaran bahwa nggak semua kehilangan yang tidak adil itu buruk. Kita masih bisa lihat sisi baiknya, kok. Aku juga setuju dengan pendapat Rosa yang realistis di cerita ini, aku pun turut bangga dengan dia yang menggantikan rasa trauma dengan kesuksesan.
— · · ʚ Surat Untuk Anak Perempuanku:
Kisah ketiga ini tentang surat seorang ibu untuk anak perempuan. Bukan sekadar surat, ini berisi kekhawatiran seorang ibu, nasihat, dan fakta kehidupan perempuan yang tak luput dari kekerasan fisik dan nonfisik, trauma, serta patriarki. Surat ini tidak menggurui, malah menuntun kita untuk menjadi perempuan yang aware dengan diri sendiri dan sesama perempuan.
— · · ʚ Sambal di Ranjang:
Dari sini, aku jadi tahu kalau sambal juga termasuk afrodisiak. Aku benar-benar nggak suka dengan pemikiran suami tokoh ‘aku’ dan tingkah lakunya, aku rasa semua perempuan juga tak suka jika sudah membaca kisah ini. Tapi kerennya, di cerita ini ada lho, resep aneka sambal. Tertarik mau coba?
— · · ʚ Menghamili Reisa:
Hah? Maksudnya? Dari judulnya aja udah bikin ternganga, isinya ternyata lebih bikin kaget. Kaget dengan setiap kalimat yang Reisa ucapkan. Selebihnya, silakan baca aja ya. Hehe.
Note: Sosok laki-laki yang hanya disebut ‘mas’ dalam kisah ini patut diacungi jempol.
— · · ʚ Perempuan dalam Pelukan:
Kalimat pembukanya layak cerminan diri bagi seseorang yang hidupnya datar saja. Penyampaiannya manis, membuat kita berandai-andai ada di posisi itu. Awalnya, sih, hanya pembicaraan ringan. Tapi, tahu nggak? Latar belakang perempuan ini ternyata cukup berat. Seperti, patriarki, daddy issue, dan rasa putus asa tentang hubungan yang selalu gagal. Meskipun begitu, kisah ini ditutup dengan romantis, sesuai dengan judulnya.
— · · ʚ Tikus:
Menceritakan tentang kehidupan tikus. Eits, bukan hanya tikus berkaki empat, tapi juga tikus dengan dasi. Sudut pandang tikus berkaki empat ini bikin aku membatin, tikus aja bisa berpikir, masa, tikus yang itu enggak? Aduh. Pesan yang disampaikan tentang sulitnya hidup, kelaparan, dan korupsi. Akhirnya tragis, padahal tikus itu hanya ... lapar.
— · · ʚ Ruang Kosong:
Ini tentang dinding kamar. Terlihat makin random ya, kisahnya? Tapi, ternyata lebih dari itu. Dinding ini tahu betul tentang seorang perempuan yang selalu menguatkan dirinya, mencoba melupakan masa lalu, hingga menjadi lebih baik.
— · · ʚ Candid:
Dari sini, aku jadi tahu sedikit tentang pemotretan dan lebih dari itu. Apanya yang lebih dari itu? Pembahasan Alisia dan tokoh ‘saya’ yang mendalam, terkait dua sudut pandang tentang pernikahan dan perceraian. Ending-nya bikin melongo, senyum, dan merasa hal yang sama dengan kedua tokoh itu.
— · · ʚ Sahabat Sejati:
Ini cerita klasik tentang dua sahabat yang merasa nggak saling mengerti. Mariska memilih untuk pergi tanpa menunggu lebih lama, padahal Diva mengusahakan segala cara agar cepat datang. Ini tentang salah paham yang berakhir kehilangan.
— · · ʚ Gadis yang Memeluk Dirinya Sendiri:
Dari sini aku belajar, kalau mendiagnosa diri sendiri itu ternyata suatu kebodohan luar biasa. Kesehatan mental jadi topik utama cerita pendek ini, menjadikan ini salah satu kisah favoritku.
— · · ʚ Misteri 12 April:
Untuk yang satu ini, aku nggak mau beri tahu lebih. Biar terus menjadi misteri bagi yang belum mengetahuinya. Sebab, rasanya terlalu ... menyakitkan.
— · · ʚ Salma dan Salwa:
Ini tentang depresi berbeda yang dialami kakak beradik kembar. Depresi akan pekerjaan dan pasca melahirkan anak kedua. Benar-benar deep meaning.
— · · ʚ Sang Penghuni:
Awalnya, feeling-ku ini berkaitan dengan nuansa horror. Ternyata, apa yang dialami sosok Mawar lebih menyeramkan daripada gangguan yang dia lakukan kepada Hanako.
— · · ʚ Sally Sendiri:
Akhirnya, sampai di bagian kesukaanku nomor satu. Pesan feminisme dalam kisah Sally ini tipis, tapi sungguh manis. Semenjak baca kisah Sally, aku jadi suka lagunya Peterpan yang berjudul sama. Dari ke-16 cerita pendek Sambal & Ranjang, hanya ini yang berhasil buat aku jatuh cinta. Terasa benar-benar relate.
— · · ʚ Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa:
Ini kisah terakhir yang menjadi penutup paling magis. Apa yang dialami sosok istri sang pemeran utama, amat berat. Tapi, akhirnya berhasil diatasi dengan hangat.
Sekian, ulasan lengkap dari aku untuk Kumpulan Cerita pendek dari Buku Sambal & Ranjang. Semoga jadi penasaran. Terima kasih sudah berkenan menyempatkan waktunya untuk membaca hingga akhir.
Salam,
A.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming